
Sudah beberapa hari ini dhita terkurung di ruangan yang cukup besar namun sepi.
Ia bak tahanan tak bisa kemana-mana meskipun semua keperluannya terpenuhi namun tak ada kebebasan.
Entah untuk keberapa kalinya ia harus terkurung seperti ini
dulu sewaktu dhaniel mengurungnya ia masih ditemani dengan para pelayan namun kini ia hanya seorang diri dikamar yang besar dengan dua orang penjaga yang berdiri didepan pintu.
Gagang pintu bergerak dibuka dari luar,tak lama kemudian masuklah pria yang memakai topeng dengan membawa makanan dan beberapa minuman kaleng.
kamar itu cukup lengkap karena ada lemari pendingin didalamnya.
mata dhita nampak mengikuti kemana pria itu melangkah.
dhita mencari kelengahan pria didepannya ini untuk membuka topengnya.
dan saat kesempatan itu datang dengan cepat ia menyambar penutup wajah pria didepannya dan alangkah terkejutnya dhita begitu melihat wajah sang pria yang tak asing untuknya
"Rivan?" dhita seakan tak percaya ia menutup mulutnya dengan tangan mungilnya
"apa maksud semua ini van?"
__ADS_1
"kenapa kamu tega memisahkan aku dan anak-anakku"teriak dhita dengan air mata yang tak mampu ia bendung lagi
"baiklah dhita,karena sudah terlanjur kamu tahu kalau aku yang menculikmu" sejenak rivan terdiam
"aku sangat mencintaimu tha,dari kita masih SMA namun perasaan itu aku pendam,tadinya aku pikir melihatmu bahagia sudah cukup bagiku"
"namun aku menjadi egois tha,aku iri melihat dhaniel kenapa dari dulu hanya ada dia dihatimu,kenapa kamu gak memberi aku kesempatan sekali saja tha"lanjutnya
"dan sekarang aku sudah tak dapat berpikir jernih lagi aku ingin memilikimu seutuhnya tha"lanjut nya sambil menatap wajah dhita yang kini telah dibasahi dengan air mata
"van...aku mohon jangan lakukan ini,bebaskan aku,kasihani anak-anakku,aku mohon"ucap dhita memohon sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Maaf sayang aku tak bisa melepaskanmu"ucap rivan sambil memegang tangan dhita dan mengusap pipi mulus dhita yang dibasahi dengan air mata.
sementara itu rivan tak bergeming sedikitpun baginya pukulan dhita tak terasa sakit.
"maafin aku tha,aku jadi jahat juga gara-gara kamu" ucapnya sambil berusaha mendekap dhita.
"lepassin...lepasinnn van,jangan sentuh aku,aku benci ama kamu" dhita meronta dengan sekuat tenaga ia berusa melepaskan diri dari dekapan rivan.
Rivan pun melepaskan pelukannya
__ADS_1
"istirahatlah setelah semuanya siap kita akan pergi dari sini dan nantinya hanya ada kita berdua disana" ucap rivan sambil mengecup lembut kening dhita
"kita akan pergi?kemana?"tanya dhita sambil mengkerutkan keningnya
"kamu gak perlu tahu sayang,yang jelas nantinya hanya ada kita berdua dan anak-anak kita kelak" jelasnya sambil turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu
"aku harus cari cara untuk kabur dari tempat ini" monolog dhita lalu berjalan kerah jendela
dhita berdiri disisi jendela nampak sedang mengamati situasi
sejenak ia berpikir mencari cara untuk keluar dari ruangan ini.
yaaah yang pertama harus ia lakukan adalah keluar dulu dari kamar ini
dhita nampak frustasi ia belum mendapatkan cara untuk melarikan diri,ia tak mau kalau sampai rivan benar-benar membawanya semakin menjauh dari orang-orang yang dicintainya termasuk dhanil.
ia harus menjaga badannya tetap sehat agar saat ada waktu yang tepat untuk melarikan diri ia mempunyai tenaga yang cukup.
andai saja waktu itu ia membawa ponsel sudah pasti dhaniel dapat dengan mudah menemukannya.
andai saja ia mau mendengarkan ucapan dhaniel yang selalu berpesan agar selalu membawa pengawal pasti hal ini tak akan terjadi
__ADS_1
kini ia hanya dapat menyesali kebodohannya ia berjanji jika ia bisa lepas dari rivan dan berada bersama dhaniel lagi dhita berjanji akan menuruti semua keinginan dhaniel
mungkin karena lelah berpikir akhirnya dhita pun terlelap