Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 76


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Setelah menikah dengan Daniel Dhita pun tinggal bersama Daniel di sebuah rumah milik Daniel.


Kehidupan mereka sangat harmonis.


Tanpa terasa beberapa bulan berlalu, entah kenapa pagi itu badan Dhita terasa begitu tidak nyaman, belum lagi perutnya yang terasa mual.


Daniel sedikit heran karena pagi ini Dhita masih terlihat nyaman di kasur empuknya.


Ia pun langsung menghampiri Dhita


"Sayang bangun, udah pagi nih" Daniel menepuk-nepuk pipi Dhita namun istrinya itu hanya bergerak sedikit lalu kembali tertidur.


"Dhita, bangun sayang kamu kok tumben banget sih biasanya jam segini kamu udah bikin sarapan" ucap Daniel lagi.


"Sayang maaf badan aku gak enak banget, perut aku juga mual banget ini" Dhita berbicara tanpa membuka matanya.


"Kamu kenapa gak bilang kalo sakit, kita ke dokter ya" ajak Daniel.


"Gak lah aku tiduran aja nanti juga sembuh sendiri" tolak Dhita yang memang selalu saja tidak mau jika bertemu dengan dokter.


"Mana ada sih penyakit sembuh sendiri kalo gak di obatin sayang"


"Ayo bangun kita berobat dulu" paksa Daniel.


Akhirnya Dhitapun pasrah, perlahan ia bangun dan mencoba duduk namun belum berapa lama dia duduk tiba-tiba saja kepala terasa sakit dan perut nya pun teraa begitu mual hingga ia pun segera ke kamar mandi.


Karena badan yang lemas hamoir saja ia jatuh, beruntung daniel dengan sigap langsung menangkap tubuh Dhita.


"Kamu kebiasaan sih sayang gak bisa pelan-pelan" Dhanil menggendong tubuh Dhita menuju kamar mandi.


Namun belum juga sempat membuka pintu Dhita yang sudah tidak bisa menahan rasa mual akhirnya mengeluarkan isi perutnya dan mengenai pakaian Danial yang sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.


"Maaf sayang aku udah gak tahan lagi tadi" ucap Dhita merasa bersalah.

__ADS_1


"Gak apa-apa sayang, nanti aku bisa ganti pakaian lagi"


Tiba-tiba rasa mual kembali menyerang Dhita ia pun langsung menuju wastafel dan mengeluarkan semua isi perutnya.


Daniel pun dengan sabar membantu Dhita.


Setelah rapi ia pun menggendong Dhita menuju mobil bermaksud membawa nya berobat.


Tak lama kemudian mereka pun tiba di sebuah klinik yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Setelah melalui beberapa pemeriksaan akhirnya Dhita di nyatakan hamil dan usia kandungannya memasuki 4 Minggu.


Hati Daniel terasa begitu bahagia, ia tidak menyangka akan segera mempunyai anak dengan Dhita.


Sepanjang perjalanan banyak sudah nasihat dan juga larangan yang Daniel buat, hingga tanpa Daniel sadari ternyata Dhita sudah kembali tertidur.


Begitu tiba di rumah Daniel pun baru sadar ternyata dari tadi ia hanya berbicara sendiri.


Dengan perlahan ia pun menggendong Dhita yang masih tertidur pulas dan meletakkannya dengan perlahan diatas kasur.


Ia pun segera menghubungi Mak Ipeh untuk memberitahu kabar bahagia ini.


Karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan istrinya yang sedang mengandung ia pun meminta keluarga Dhita untuk sementara tinggal dirumahnya.


Awalnya Bunda Ipeh sedikit keberatan, karena bujukan Daniel akhirnya ia pun mau tinggal disana begitu juga dengan Niken.


Sheilla dan juga Bayu nampak begitu bahagia saat tau jika mereka akan segera mempunyai adik.


Dhita begitu bahagia bisa berkumpul bersama keluarganya lagi.


Selamat tiga bulan pertama kehamilan Dhita namun begitu lemah hingga Bunda Ipeh tidak berani meninggalkan Dhita sendirian.


Siang itu Dhita sedang asik melihat televisi tiba-tiba saja ia sangat ingin makan seperti yang ada di televisi.


Daniel hanya tersenyum saat Dhita menyampaikan keinginannya untuk makan batagor Bandung.

__ADS_1


"Itu sih gampang sayang di sini banyak yang jual batagor Bandung" ujar Daniel.


"Aku gak mau yang disini sayang"


"Lah terus mau yang dimana?" tanya Daniel


" Aku maunya batagor yang ada di Bandung" lanjut Dhita sambil tersenyum.


"Ya ampun sayang mau makan batagor aja harus ke Bandung?" tanya Daniel seakan tidak percaya


"Iya aku maunya yang ada di sana,ayo cepet nanti keburu anaknya ngiler ini" ucap Dhita.


Karena tidak ingin anak yang di kandungan Dhita nantinya ileran akhirnya Daniel pun memboyong keluarganya untuk ke Bandung membeli batagor sekalian liburan.


Niken bersorak kegirangan saat tau mereka akan menginap di salah satu Villa milik keluarga Daniel.


Karena keinginan Dhita yang tidak ingin lewat jalan tol dengan sangat terpaksa mereka pun lewat jalan biasa .


Entah Dhita yang jail atau memang keinginan bayi dalam perut Dhita yang sebentar-sebentar minta berhenti untuk sekedar jajan atau berfoto-foto.


Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam lama ya akhirnya mereka pun tiba di kota Bandung.


Dhita terlihat sangat bahagia saat melihat gerobak batagor sedang berhenti, ia pun segera meminta Daniel untuk menepi.


Daniel hanya tersenyum kecut saat tau jika yang di inginkan istrinya ternyata hanya batagor yang di gerobak dorong yang sebenarnya di Jakarta ada banyak yang jual.


Bunda Ipeh hanya mengelus bahu Daniel sambil memberikan beberapa nasihat agar ia sabar menghadapi wanita yang sedang hamil.


"Kamu belum berapa batagornya sayang?" tanya Daniel saat Dhita sudah naik kedalam mobil.


"Beli lima ribu sayang, kamu mau?" ujarnya sambil menyodorkan batagor yang ia pegang pada suaminya.


"Gak usah buat kamu aja, yakin gak kekurang beli segitu" tanya Daniel menyakinkan istri nya.


"Segini dulu sayang, nanti kalo pengen lagi kan bisa berhentiin lagi kalo ada Abangnya yang lewat" ucap Dhita dengan raut wajah bahagia.

__ADS_1


Daniel yang tadinya sedkit kesal akhirnya tersenyum bahagia saat melihat wajah Dhita yang berbinar saat memakan batagor.


__ADS_2