Cerita Kita

Cerita Kita
Bab 88


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA


Anti yang merasa kesal melihat Daniel dan Dhita sudah berbaikan nampak begitu kesal.


Iapun meminta kepada Pian untuk mengantar nya pulang.


Namun Pian menolaknya karena sebenarnya ia pun enggan dengan wanita itu.


"Loe kan bisa naik taksi,kalo gak ada uangnya nih gw kasih" Pian mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya kepada Anti.


Anti yang begitu kesal dengan perlakuan Pian yang seakan menghinanya langsung melemparkan uang itu.


"Dhita gw lebih banyak dari yang loe punya" ucap Anti kasar.


"Lah terus kenapa minta anterin sama gw, kan loe bisa naik taksi online kek, atau loe bisa panggil supir loe" balas Pian


"Kalian ya, awas saja nanti tunggu bakal gw bales perlakuan kelian" Anti pun keluar dari rumah peristirahatan Daniel dengan wajah kesal dan begitu merasa dihina.


Didalam taksi ia terus saja ngedumel tidak jelas hingga supir taksi yang ia tumpangi sebentar-sebentar meliriknya melalui kaca spion.


"Sayang banget cantik -cantik kaya orang stres" batin sang supir.


Anti yang tau jika saat ini sang supir sedang memperhatikannya berpura-pura tidak tau dan ia pun tidak mau ambil pusing.


Dhita yang terlalu lelah akhirnya tertidur pulas di salah satu kamar milik Daniel.


Sambil menunggu Dhita bangun mereka bertiga pun membahas soal barang bukti yang akan dijadikan bukti pada saat melaporkan Anti nanti.


Mereka pun memesan makanan untuk makan malam.


Rencananya mereka akan pulang larut.


Daniel pun segera menghubungi Bunda Ipeh dan memberi tahu jika saat ini Dhita sedang bersamanya.


Dhita yang baru saja terbangun dari tidurnya langsung menuju ruang tengah dan melihat Daniel dan teman-temannya sedang membahas sesuatu.


Niat awalnya ia ingin ikut berkumpul namun ia urungkan ia pun hanya mendengarkan saja apa yang mereka bicarakan.


"Jadi bener wanita itu ingin mencelakai ku lalu mengambil Daniel dari sisiku,aku tidak akan menyerah demi anak-anak ku" batin Dhita.


Daniel yang melihat Dhita berjalan menuju dapur langsung menghampirinya.


Saat Dhita sedang minum tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggang nya.


"Astaghfirullah kamu ngagetin aja sih" ucap Dhita memukul tengan Daniel yang masih melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Aku kangen sayang saat seperti ini" sebuah kecupan mendarat di leher Dhita.


Uhukkkk


Dhita yang sedang minum pun tersedak saat ada benda kenyal menempel dilehernya.


"Ish kamu nih" ucap Dhita kesal sambil mengelap air yang tumpah disekitar dagunya.


"Sayang buatin kopi dong, sekalian buat mereka" pinta Daniel.


"iya sebentar, udah sana kamu mendingan tunggu didepan aja" usir Dhita yang merasa risih jika Daniel berada didekatnya.


Malam itu mereka pun makan bersama .


Pian dan juga Pico awalnya ragu untuk meminta maaf soal di kafe kemarin.


Mereka takut jika akan terkena Omelan lagi oleh Dhita.


Karena Daniel memaksa akhirnya mereka pun dengan rasa gugup meminta maaf kepada Dhita.


Namun semua diluar dugaan mereka, Dhita tidak marah sama sekali, justru ia hanya tersenyum sambil memainkan sendoknya.


Keduanya pun terdiam karena bingung kira-kira apa yang akan di katakan oleh istri dari sahabatnya itu.


"Niel, sama kalian berdua aku ingin bicara jujur " Dhita menjeda perkataannya.


"Sebenarnya waktu dirumah sakit aku bisa mendengar semua yangkalianSsiapapuj S bicarakan" ucap Dhita lalu untuk beberapa saat ia pun diam kembali.


"Aku tau Anti itu jahat, ia ingin mencelakai aku agar ia dapat mengambil Daniel dari aku" lanjut Dhita.


"Aku pun setuju dengan kalian untuk memberi Anti pelajaran, tapi aku tidak tau jika rasanya akan begitu menyakitkan buat aku"


"Wanita manapun pasti tidak ingin jika suaminya memegang tangan wanita lain, walaupun itu niatnya untuk balas dendam"


"Kalian kan bisa mencari cara lain tanpa harus menyakiti aku" ucap Dhita sambil tertunduk.


D


Raut wajahnya yang tadinya sudah biasa saja kini kembali muram.


Daniel yang melihat perubahan di wajah Dhita langsung memeluknya.


"Maafkan aku sayang, aku gak bermaksud bikin kamu sakit hati" ucap Daniel penuh rasa bersalah.


"Kita juga sudah sepakat untuk memasukkan Anti kepenjara dalam waktu dekat"lanjut Daniel.

__ADS_1


"Itu lebih bagus Niel" jawab Dhita cepat


"Iya Maafin aku ya sayang, dalam hati aku dari dulu sampai saat ini dan nanti tidak akan ada wanita lain selain kamu Tha" ucap Daniel tulus.


"Kami juga minta maaf ya Tha, bukannya kita sengaja buat jauhin kamu sama Niel, tapi rencana semula kita mau cari bukti lain, soalnya ada info jika perusahaan Daniel yang kemarin bermasalah ada campur tangan dia juga" ucap Pian menjelaskan.


"Apa? kok bisa? memangnya dia siapa sampai bisa membuat kantor anak cabang perusahaan Niel goyah" tanya Dhita penasaran.


"Sebenarnya itu yang ingin kita cari tahu Tha, tapi karena kondisi sudah membaik dan malah kamu jadi salah faham lebih baik hal itu gak usah diambil pusing lagi" ujar Pian.


"Maaf kalau soal itu aku gak tau" ucap Dhita merasa menyesal karena sudah berburuk sangka pada mereka.


"Udah jangan merasa bersalah, mendingan sekarang kamu buatin kita kopi, setelah itu nanti kita pulang, kasihan anak-anak dirumah" ucap Daniel.


Dhitapun langsung menuju dapur untuk membuatkan kopi lagi.


Daniel mengambil ponsel Dhita yang ia tinggalkan diatas meja.


Ia lalu mendial nomornya di ponsel Dhita dah terlihatlah jika no Dhita berbeda dari yang ia save .


"Pantesan aja gak bisa ditelpon ponsel sama nomornya beda" guman Daniel.


"Kamu beli hp baru ya sayang" tanya Daniel begitu Dhita tiba dengan membawa tiga cangkir kopi.


"Iya" jawab Dhita singkat sambil meletakkan kopi diatas meja.


"Yang lama kemana, terus ganti nomor kok gak bilang sama aku" ucap Danil


"Yang lama udah hancur, kalau soal nomor kan waktu itu aku lagi marah sama kamu" ucap Dhita dengan polosnya.


Pian dan Pico nampak menahan tawanya.


"Pantesan aja aku nelpon gak pernah nyambung Yank, ternyata kamu ganti nomor"


Dhita hanya tersenyum mendengar ucapan Daniel.


Hampir jam 22 Danil dan Dhita kembali kerumah.


Bunda Ipeh yang masih terjaga saat mereka tiba.


"Alhamdulillah akhirnya kalian pulang, bunda pikir kalian mau bulan madu lagi pasca baikan"ucap Bunda sambil tersenyum.


"Apa sih bunda, anak aja udah tiga pake bulan madu" jawab Dhita malu-malu.


Daniel hanya tersenyum mendengar ucapa Dhita.

__ADS_1


"Bulan madunya dirumah aja Bunda, emangnya bunda mau nambah cucu?" tanya Daniel sambil tersenyum ke arah Dhita.


"Dih Bunda sama Niel pada kenapa sih" Dhita langsung masuk kedalam meninggalkan Bunda Ipeh dan Daniel yang tertawa melihat Dhita yang tersipu malu.


__ADS_2