
Dring... dring...
Telepon Justin berdering, ternyata yang menelpon Maminya.
''Iya Mi.'' Justin menjawab teleponnya.
''Justin hari Minggu besok kamu bawa main Calysta ke rumah ya, Mami kangen sama dia,'' Jelas Maminya yang tidak sabaran.
''Iya.''
''Jangan sampai nggak.'' Tegas Maminya.
''Iya, iya.'' Jawab Justin yang sebenarnya bingung entah Calysta mau atau tidak main ke rumah Maminya.
Teleponnya berakhir, Justin kemudian memberanikan diri untuk berbicara dan mengajak Calysta yang berada di sebelah mejanya.
''Calysta, barusan Mami telepon katanya hari Minggu besok disuruh main, kangen katanya sama kamu,'' Ujar Justin dengan ragu-ragu.
Calysta menengok dan terdiam beberapa saat,
''Pokoknya hari itu kita harus jelaskan semua yang sebenarnya, biar masalahnya nggak semakin panjang dan rumit.'' Calysta berbicara dengan tatapan serius.
Justin hanya diam dan sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan Calysta.
''Hei kok malah diam?.'' Tanya Calysta.
''Iya, kamu saja yang bilang sama Mami tentang semuanya, kalau aku yang ngomong mungkin Mami nggak bakal percaya.'' Jelas Justin.
''Hmm... ya sudah hari minggu besok kita pergi temui Mami sama Papi kamu biar aku jelaskan semuanya.'' Ujar Calysta tegas.
Justin hanya diam dan kembali menggunakan laptopnya untuk bekerja.
''Apa sedikitpun kamu nggak merasa nyaman dekat dengan aku Kall?,'' Gumam Justin dalam hatinya sedikit berharap.
Hari minggu telah tiba, pagi itu Calysta dan keluarganya sedang sarapan bersama.
''Angel ini kan hari libur, kamu nggak pergi main sama Justin?.'' Tanya Mami Calysta.
''Iya Mami benar tuh, atau ajak saja Justin kesini main kerumah, kita Barbeque.'' Sambung Papi Calysta ikut berbicara.
''Nggak Mi Pi, aku sudah janji mau ketemu Maminya Justin.'' Tukas Calysta.
''Hmm... begitu juga bagus.'' Jawab Papinya sembari menyantap makanannya.
''Ya sudah sana kalau sudah selesai cepat siap-siap.'' Kata Maminya.
Selesai sarapan Calysta pergi ke kamarnya untuk bersiap, dia terlihat tidak bersemangat dan seperti ada yang sedang di pikirkan nya.
''Bagaimana ini, sepertinya orang tuaku sangat senang aku berpacaran dengan Justin, ah, ini akan semakin sulit untukku menjelaskan semuanya kepada mereka.'' Calysta berbicara sendiri di kamarnya.
Beberapa saat kemudian, selesai bersiap Calysta turun dari kamarnya, dan tampak di bawah terlihat Justin sudah tiba sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.
''Eh sayang kamu sudah selesai, Justin dari tadi lama nungguin loh.'' Ucap Mami nya.
Justin melihat ke arah Calysta, saat itu juga hati dan perasaannya seakan tak menentu.
''Mami senang deh, melihat kalian sangat serasi sekali, jadi nggak sabar ingin cepat kalian menikah dan kasih kita cucu.'' Ujar Mami Calysta sambil tersenyum.
Papi Calysta hanya tersenyum dan tersirat wajah bahagianya melihat putri semata wayangnya akhirnya bertemu dengan lelaki yang tepat.
Mendengar ucapan itu Calysta dan Justin menjadi salah tingkah.
''Ya sudah kita berangkat ya, Mi Pi'' Ucap Calysta mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
''Hati-hati di jalan.''
''Justin jagain anak Om.'' Timpal Papi Calysta.
''Siap Om Tante.'' Jawab Justin percaya diri.
Mobil mewah itupun melaju meninggalkan rumah Calysta.
Justin dan Calysta hendak pergi untuk berkunjung ke rumah Mami dan Papinya Justin.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di depan rumah Justin.
Rumah mewah dengan halaman yang luas, dan bangunan yang tinggi terdapat banyak tanaman hias, membuat rumah besar itu terlihat sangat indah dan nyaman untuk di tempati.
''Benar-benar orang kaya.'' Gumam Calysta dalam hatinya.
Karena memang rumah Calysta tidak semewah rumah Justin.
Turun dari mobil, Justin langsung berinisiatif menggandeng tangan Calysta.
Membuat Calysta keheranan dengan tingkahnya, karena biasanya yang lebih dulu menggandeng adalah Calysta.
Mereka berdua berjalan hendak memasuki rumah itu, dan tampak Mami Justin sudah menunggu di depan pintu rumahnya.
''Sayang akhirnya kamu datang, Mami sudah lama nungguin kamu loh.'' Sambut Mami Justin sambil tersenyum ceria.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, di sana terdapat banyak barang-barang dan benda-benda mewah juga antik. Calysta terpana melihat semua yang ada di dalam, memang cocok dengan gaya Mami Justin yang Glamor.
''Calysta sini-sini duduk di sebelah Mami.'' Ucap Mami Justin sambil menepuk sofa di ruang tamu.
Calysta pun menurut dan duduk di sebelahnya. Sedangkan Justin dan Papinya duduk di sofa sebelahnya.
''Calysta sayang kamu sudah makan?.'' Tanya Mami Justin.
Mendengar Calysta memanggil dirinya dengan sebutan Tante. Mami Justin pikir, mungkin Calysta belum terbiasa.
''Hmm, Calysta mulai sekarang kamu panggil Tante sama Om, Mami dan Papi ya sama kayak Justin. Rasanya kurang enak didengar kalau manggil Tante terus.'' Ujar Mami Justin dengan nada memohon.
''Tapi Tante...,'' Calysta hendak menyangkal namun omongannya terpotong oleh Mami Justin.
''Sssstttt... Nggak boleh menolak, toh sebentar lagi kamu akan menjadi menantu kita,'' Ucap Mami Justin sambil memegang tangan Calysta dengan penuh kasih sayang layaknya seorang Ibu kandung.
Calysta hanya tersenyum canggung dan sesekali melirik Justin, maksudnya untuk meminta bantuan agar bicara yang sebenarnya kepada orang tuanya. Namun Justin selalu berpura-pura tidak tahu dan tidak mengerti apa yang di maksudnya.
''Tante...,'' Calysta hendak melanjutkan omongannya namun Mami Justin menatap nya dengan tajam, yang artinya bahwa Calysta tidak boleh memanggilnya Tante lagi.
''Eh, Mami, sebenarnya ada hal yang mau aku katakan sama Mami sama Papi.'' Ucap Calysta mencoba memberanikan diri.
''Mami juga, ada yang mau Mami beri tahukan sama kamu.'' Ucap Mami Justin dengan wajah yang serius, dan langsung melanjutkan perkataannya.
''Calysta, jujur Mami sama Papi bahagia sekali kamu akan menjadi menantu kami dan juga menjadi istri buat Justin. Kami tidak pernah sebahagia ini sebelumnya, terimakasih ya kamu sudah masuk ke keluarga kita.'' Raut wajah sayu dan mata yang berbinar, ucapan tulus untuk Calysta dari Mami Justin.
Mendengar perkataan itu, hati Calysta tersentuh dan seakan membuat luluh hatinya. Yang tadinya Calysta mau berbicara dan mengatakan semua kebohongannya yang berpura-pura pacaran dengan Justin, namun kini dia merasa enggan untuk memberi tahukannya.
''Oh iya, kamu tadi mau bicara apa sayang?.'' Tanya Mami Justin.
''Mmm... itu... Nggak ada apa-apa kok, cuma mau menyampaikan salam dari Mami sama Papi.'' Ujar Calysta mencoba menutupi kebenaran.
''Oh, ya ampun, begitu saja kamu kok wajahnya serius begitu.'' Ucap Mami Justin.
Sedangkan Justin yang mendengar percakapan mereka, merasa senang karena perkataan Maminya membuat Calysta enggan untuk berbicara tentang kebenarannya.
''You're the best Mom,'' dalam hati Justin bergumam sambil menyembunyikan senyumnya.
__ADS_1
''Kalian asyik mengobrol, sampai-sampai kita di lupakan.'' Ucap Papi Justin.
''Oh ya ampun, Mami kira patung ternyata orang toh.'' Mami Justin menggoda sambil cekikikan.
''Iishh... mentang-mentang ada temannya Mami jadi sombong, nanti juga kalau Calysta pulang pasti baik-baikin Papi.'' Ucap Papi Justin dengan nada sombong.
Calysta tersenyum melihat mereka yang seperti kucing dan tikus, sedangkan Justin sudah terbiasa melihat orang tuanya bersikap kekanak-kanakan seperti itu.
''Kalian pasti lapar, Mami siapin cemilan dulu ya.'' Mami Justin hendak pergi ke dapur.
''Dari tadi ke-.'' Kata Papi Justin.
''Mami aku bantuin ya.'' Ucap Calysta sambil mengikutinya.
Calysta pun membantu Mami Justin membuat sesuatu di dapur, namun tiba-tiba Mami Justin mendapat telepon dan terpaksa meninggalkan Calysta sendiri di dapur.
''Justin, Mami angkat telepon penting dulu, kamu bantuin Calysta di dapur kasian sendirian.'' Suruh Maminya.
Tanpa banyak bicara, Justin pergi ke dapur untuk membantu Calysta.
''Ngapain kesini?.'' Tanya Calysta.
''Di suruh Mami.'' Jawab Justin dingin, menutupi perasaannya.
Justin melihat-lihat apa yang sedang dibuat oleh Calysta.
Saat Calysta hendak mengambil sesuatu, tiba-tiba kaki Calysta tersandung,
Aaaw...
Brukk!
Calysta terjatuh hingga menimpa Justin, kini Calysta berada di atas tubuhnya Justin dan tanpa sengaja bibir Calysta menempel di bibir Justin.
Sejenak mereka saling menatap dan tidak melepaskan satu sama lain, sampai akhirnya...
''Ehem... hem.'' Tiba-tiba Mami Justin muncul dan melihat keadaan mereka.
Justin tersenyum dan...
''Kamu berat.'' Candaan Justin kepada Calysta yang masih berada di atas tubuhnya.
Bergegas Calysta bangun, wajahnya menjadi memerah karena malu.
''Ada yang sakit gak, atau terluka?.'' Tanya Justin.
''Nggak ada, Aku nggak apa-apa.'' Jawab Calysta dengan canggung.
''Sial, tadi itu ciuman pertama aku, kenapa harus sama dia sih, mana ketahuan lagi sama Mami.'' Gumam Calysta kesal dalam hatinya.
''Mami suruh bikin cemilan, eh kok malah mesra-mesraan.'' Ucap Mami Justin sambil tersenyum.
''Tadi Calysta kakinya kesandung Mi.'' Jelas Justin sembari tersenyum.
''Oh, kamu nggak apa-apa kan sayang?.'' Tanya Mami Justin kepada Calysta.
''Nggak apa-apa Mi.'' Jawab Calysta masih tersipu.
''Ya sudah biar Mami saja yang siapin, kalian tunggu di ruang tamu ya.'' Ucap Maminya.
Mereka semua mengobrol dengan asyik sambil menikmati cemilan yang di buat tadi.
Tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat, hari sudah mulai sore. Justin pun mengantar Calysta pulang.
__ADS_1