
"Ya, hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan." Jawab Daffa dengan wajah datar.
Sementara orang yang jauh di sana sedang sibuk-sibuknya, ya Alex hampir tidak bisa beristirahat karena banyak pekerjaan yang di tinggalkan oleh Daffa.
"Daffa aku mau bertemu seseorang di restauran, apa kamu... juga tetap akan ikut?" Tanya Arumi, meski jawaban yang ia harapkan adalah penolakan. Justru tidak sesuai dengan harapannya, Daffa menjawab dengan sebuah anggukan.
"What?" pekik Arumi meski hanya mulut yang terbuka tanpa suara.
Sampai di sebuah restauran, Arumi celingukan seolah sedang mencari seseorang, tetapi tidak dengan Daffa yang dari tadi mengikutinya ia hanya berdiri dengan wajah yang datar.
Melihat seseorang tengah berjalan menghampirinya dengan senyuman yang memancarkan aura yang bisa menghipnotis para wanita. Arumi membalas senyuman itu dan ikut merentangkan kedua tangannya ketika seorang lelaki tampan menghampiri dan ingin memeluknya.
"Sayang, aku rindu sama kamu..." Ucap Reyhan dengan mengeratkan pelukannya kepada Arumi. "Aku juga..." balas Arumi dengan suara manja.
Daffa terbelalak melihat Arumi yang tengah berpelukan dengan lelaki lain di depan matanya. Sepertinya seribu pertanyaan telah tersimpan di benak Daffa, meski begitu tidak mungkin ia menanyakan nya dan tidak mungkin juga kalau ia masih tetap berada disini mau di taruh dimana itu muka.
"Aku bilang aku akan menjemputmu, sekarang lihat? kamu jadi menyetir sendiri kan," Gerutu Reyhan kepada pacarnya. "Gak apa-apa kamu kan sangat sibuk, sekarang mending kita duduk dan memesan makanan dulu." Ujar Arumi sembari tersenyum.
Teringat sosok yang mengikutinya dari tadi Arumi menengok ke belakang, namun tidak terlihat sosok itu entah kemana.
"Sayang? sayang... sayang.. mata lu peang." Gerutu Daffa yang kini tengah berada di dalam Taxi. Teringat sesuatu, Daffa kemudian menghubungi seseorang dengan ponselnya. "Sial." Umpat Daffa setelah beberapa kali ia menghubungi orang itu tetapi tidak ada jawaban.
Sementara di tempat yang sangat jauh di sana, sengaja untuk tidak mengangkat panggilan dari Daffa. Ia tahu sebelumnya bahwa cepat atau lambat ia pasti di hubungi untuk di marahi. "Rasakan." Ujar Askar merasa puas.
__ADS_1
Ya, kala itu sebenarnya Askar tidak memberitahukan siapa yang menjadi pacar Arumi yang sebenarnya. Ia sengaja melakukannya untuk mengerjai seorang Daffa.
"Bagus. Ternyata kau sengaja Askar Gumilar." Daffa mengepalkan tangannya dengan erat. Sedangkan di tempat yang jauh di sana, Askar tiba-tiba merasakan hawa dingin dan bulu kuduk yang berdiri, "Brrr... kenapa cuaca menjadi sedingin ini." Gumamnya.
* *
Waktu peluncuran produk baru Beauty Cosmetic berjalan dengan sangat lancar dan sukses. Setiap orang bersalaman dan memberi selamat kepada Arumi.
Di sudut ruangan nampak seorang lelaki tampan mengenakan jas berwarna hitam, terdapat buket bunga yang cantik di genggamnya. Seorang Daffa Alfarizi Gull berjalan menuju ke arah dimana Arumi berada, ia hendak memberikan buket bunga yang cantik itu sebagai ucapan selamat.
Ia tersenyum dengan sangat bahagia, bisa di lihat dari raut wajahnya yang berseri. Tetapi ia terlambat satu langkah di belakang seseorang yang berstatus sebagai pacar Arumi.
Reyhan lebih dulu menghampiri pacarnya dan memberikan sebuah buket bunga yang sama cantiknya. Layaknya sepasang kekasih, Reyhan mencium kening Arumi dengan lembut.
Seketika raut wajah bahagia nan berseri itu berubah menjadi muram dan gelap. Dengan sedikit perasaan sakit di hatinya, Daffa mengurungkan niatnya untuk mengucapkan selamat. Ia membuang bunganya di tempat sampah yang ia lalui.
Alex yang dari tadi bersamanya, kini telah lepas pandang dari Bos nya itu melihat ke segala sudut mencari keberadaan Bos nya. Masa bodoh kalau ia tidak menemukan Daffa, ia hanya tahu kalau saat ini harus menikmati kesenangan.
Dua minggu berlalu setelah acara peluncuran. Daffa tidak pernah sekalipun bertemu dengan Arumi lagi, dan Arumi juga tidak pernah datang ke perusahaan Daffa. Karena memang urusan pekerjaannya yang semakin ringan dan juga Daffa telah menyerahkan pekerjaan itu kepada Alex.
Daffa tidak lagi mencari-cari alasan untuk bertemu dengan Arumi. Kini ia hanya terlihat fokus dengan pekerjaannya saja.
Entah ini berita bagus atau buruk bagi para karyawan dan juga Alex. Melihat Daffa yang terlalu fokus dengan pekerjaannya membuat para karyawan semakin tertekan bahkan sulit untuk bernafas. Bagaimana tidak tertekan, karena semuanya di periksa ketat oleh Daffa sendiri.
__ADS_1
Dan jika hati Daffa bahagia, ia sering bepergian dan tidak terlalu mengurusi pekerjaannya kecuali jika berkas itu sangat penting baru ia turun tangan. Tetapi dengan hal itu juga membuat Alex kewalahan karena harus mengurus semuanya. Kalau di pikirkan memang sama saja Daffa sangat berbakat dalam membuat orang tertekan.
brak...
Tiba-tiba Daffa menggebrak meja dengan keras, membuat Alex terkejut. Ia mengepalkan tangannya dengan erat ketika mengingat kembali kejadian dimana Arumi bersama dengan Reyhan.
Ya, Daffa tahu kalau lelaki itu bernama Reyhan, karena akhir-akhir ini ia terkenal di antara kolega bisnisnya.
Ingin melepaskan dan menyerah untuk mengejar Arumi, tapi sayang itu bukan sifat seorang Daffa. Kalau yang di inginkan nya harus menjadi miliknya, begitu sifat Daffa selama ini.
"Dengar Askar Gumilar, jika kali ini kau berani berbohong lagi padaku. Kau akan tau akibatnya." Suara voice note yang di terima oleh Askar dari Daffa. Askar bergidik ngeri mendengarnya, suara yang penuh penekanan itu bukan hanya sekedar perintah biasa.
Jelas saja Daffa mengirim voice note, karena sudah lima kali Daffa menghubunginya melalui panggilan, tetapi tidak pernah di angkat olehnya.
Menerima peringatan seperti itu, Askar tahu apa yang harus dilakukan nya. Ia juga tahu kalau Daffa tidak main-main dengan peringatannya, mendengar kabar kabari dari orang lain bahkan dari Daddy nya sendiri bahwa jangan pernah mengusik keluarga besar Justin jika hidupmu masih ingin tenang.
10 menit kemudian ia segera mengirimkan informasi yang di inginkan Daffa. Informasi yang berisi tentang kelakuan baik dan buruknya seorang Reyhan kekasih Arumi.
"Ck, ternyata dia hanya seorang sampah." Daffa berdecak melihat semua informasi yang di terimanya. "Jika begini, aku tidak bisa membiarkan seorang sampah sepertimu bersama dengan Arumi."
Daffa beranjak dari duduknya sembari membetulkan jas yang di kenakan nya, berjalan dengan tegap dan gagah Daffa memasuki lift.
"Apa kalian ada yang tau dia hendak pergi kemana?" Tanya Alex kepada para karyawan, karena biasanya kalau ada urusan di luar jadwal Daffa selalu memberitahukan nya. Semua orang menjawab dengan gelengan kepala.
__ADS_1
"Masa bodoh Daffa kau mau pergi kemanapun asal jangan sampai membuat orang repot," gerutu Alex berharap tidak akan ada yang terjadi.