
Malam yang di tunggu-tunggu Aldo akhirnya telah tiba.
Dia bersiap dan berpenampilan semaksimal mungkin, dengan hati yang begitu senang juga dalam pikirannya ini adalah dinner pertamanya bersama Melisa. Dan akan menjadi dinner yang sangat romantis.
Setelah selesai bersiap kemudian Aldo bergegas untuk menjemput Melisa ke rumahnya.
Melisa juga telah bersiap dan berdandan sangat cantik, tidak berpenampilan seperti hari-hari biasanya.
Sampai di depan rumah Melisa.
Tampak Melisa tengah menunggunya di depan Apartemen milik nya.
Aldo tersenyum dan membukakan pintu mobil mempersilahkan tuan putri nya untuk masuk.
Mereka beranjak pergi dan menjalankan mobilnya.
Hati Aldo semakin berdebar dibuat nya.
Melihat Melisa yang berdandan sangat cantik
juga gaun yang di kenakan nya yang berwarna biru tua disertai manik-manik yang berkilauan.
Membuat kecantikan nya semakin terpancar.
Sampailah di Restoran kelas atas bintang lima paling terkenal di kota itu.
Mereka duduk berdua di kursi yang telah Aldo pesan.
''Malam ini milikmu. Pesan apa saja yang kamu inginkan.'' Aldo tersenyum lembut dengan rasa bangga yang dimilikinya.
''Baiklah.'' Senyuman kemenangan yang sepertinya penuh siasat dari mimik wajah Melisa.
Tiba-tiba!
''Hai.'' Dari kejauhan Calysta menyapa mereka.
''Hai.'' Putri yang juga melambaikan tangan nya berjalan menghampiri mereka.
Mereka berada tidak jauh dari sana
tempat Aldo dan Melisa duduk.
Ternyata Calysta tidak hanya datang berdua saja dengan Putri, tetapi Justin dan Febi juga ikut mendampingi nya.
''Yo. Apakah ini si orang kaya yang akan mentraktir kita makan disini?'' Celetuk Febi mendekati Aldo dan Melisa.
''Apa? Kalian kok ada disini?.'' Tanya Aldo terkejut dengan kedatangan mereka.
''Kita mendapat undangan makan malam dari Melisa.'' Ujar Febi sembari menunjuk dirinya dan yang lainnya.
''Haishh.. Sudah kuduga tidak akan semudah ini.'' Aldo menghela nafas panjang, menggerutu menyadari siasat Melisa.
Tanpa permisi lagi Febi, Justin, Calysta, juga Putri langsung duduk di antara mereka mengelilingi meja bundar yang besar itu.
Melisa tersenyum merasa puas atas rencananya yang berjalan mulus.
Akhirnya mereka berenam makan malam bersama di Restoran bintang lima itu.
Semua bersenang-senang dan berbahagia.
Di penuhi canda dan tawa.
Namun tidak dengan Aldo, terlihat dari wajah tampannya yang terlihat kesal. Bukan karena menghabiskan banyak uang untuk mentraktir mereka, tetapi karena dirinya tidak bisa berduaan dengan Melisa.
Waktu telah larut. Mereka telah puas bersenang-senang dan waktunya untuk pulang lalu beristirahat.
Para lelaki itu mengantarkan pasangannya masing-masing untuk pulang ke rumah.
Aldo terlihat kesal di dalam mobil saat mengantarkan Melisa pulang, wajah yang biasanya menyebalkan itu kini berubah menjadi seperti awan gelap yang menyelimuti petir.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Aldo.
Membuat Melisa menjadi canggung dan juga merasa sedikit bersalah.
''Apa aku terlalu keterlaluan ya? bodo amat ah mending ucapkan terimakasih dulu deh.'' Pikir Melisa dalam hatinya.
__ADS_1
''Mmm... makasih ya untuk makan malamnya.'' Ucap Melisa mencoba membuyarkan suasana.
Aldo mendelik.
''Ck. Tahu terimakasih juga. Lalu bagaimana kamu akan berterima kasih kepada ku!'' Ujar Aldo dingin penuh penekanan.
''Hah?'' Melisa tidak mengerti. Memang nya harus dengan apa Melisa berterima kasih.
Ckiittt!
Aldo mengerem mobilnya dengan tiba-tiba dan berhenti di sebuah jalanan yang sepi.
''Apakah kamu tidak berniat untuk membalas budi padaku?'' Aldo memegang dagu Melisa dan membuatnya mendongak.
''Ma- maksud kamu?'' Melisa terkejut dan sedikit takut padanya.
Tanpa bicara lagi, Aldo mencium bibir Melisa.
''Maksudku ini.'' Ujar Aldo.
Dan dia melanjutkan ciumannya sekali lagi.
Melum*at bibir Melisa dengan lembut dan perlahan.
Membuat Melisa terbuai dengan kelembutannya, dan tanpa terasa tidak ada penolakan untuknya. Melisa pun membalas cium*an nya, seperti menikmati kelembutan itu.
Berciuman begitu lama didalam mobil.
Jari-jari Aldo hampir saja tidak bisa di kendalikan untuk menyentuh yang lain.
Lalu Aldo dengan terpaksa menyudahi aksinya.
''Sekarang aku anggap impas.'' Senyum puas di wajah Aldo. Dia juga merasa senang karena Melisa tidak menolak ciumannya tadi.
Suasana nya menjadi canggung lagi. Aldo menyalakan mobil nya dan melanjutkan lagi perjalanan mereka.
Beberapa saat kemudian sampailah di rumah Melisa. Aldo mengantarkan nya hingga di depan pintu Apartemen nya.
''Terimakasih sudah mengantar ku pulang.''
''Melisa.'' Aldo memanggilnya dengan suara berat.
''Hm?'' Melisa menoleh dan berbalik.
Grepp!
Aldo menyudutkan Melisa hingga terpojok di dinding tertekan oleh badannya Aldo dan melingkarkan kedua tangannya.
''Aku butuh ciuman selamat malam.''
Aldo langsung menciumnya tanpa mendengar dulu persetujuan dari Melisa.
Lagi-lagi ciuman yang begitu lembut tapi pasti, membuat Melisa terbuai. Tak sadar tangannya merangkul leher Aldo.
''Melisa aku mencintaimu, Menikah lah dengan ku.'' Ungkapan isi hati Aldo setelah melepaskan cium*an nya, menatap penuh keseriusan membuat hati Melisa berdebar.
''Mm.. apakah ini sebuah lamaran?.'' Bukan nya langsung menjawab tetapi Melisa malah balik bertanya untuk memastikan keseriusan nya.
''Iya, aku sudah meyakinkan hatiku untuk menikahi mu. Aku tidak ingin menundanya terlalu lama.'' Jawab Aldo lirih dan tulus.
''Tapi, apakah kita tidak pacaran dulu?''
''Apa yang kamu bicarakan. Kita akan berpacaran sampai hari pernikahan kita, dan seterusnya.'' Jelas Aldo.
Melisa terdiam sejenak.
Hatinya juga tidak menyangkal kalau dia juga mencintai Aldo. Meski sedikit terburu-buru, Melisa tahu kalau Aldo orang yang baik.
''Kamu harus berjanji padaku. Selalu mencintaiku, menyayangiku, dan hanya aku wanita satu-satunya yang ada didalam hatimu.'' Tegas Melisa.
Aldo tersenyum.
''Aku janji. Kamu satu-satunya.'' Ungkap Aldo dengan suara lembut.
''Hm, cepat lah pulang sudah malam.'' Pukas Melisa.
__ADS_1
''Jadi, kamu menerima lamaran ku!''
Aldo memastikan.
''Iya.''
''Yes. Selamat tidur calon istri.'' Setelah berpamitan Aldo pergi meninggalkan Melisa dengan perasaan bahagia memenuhi hatinya.
''Piuhh, hari yang melelahkan. Tidak ku sangka secepat ini dia melamar ku. Dan aku! aku suka itu.'' Melisa tersenyum dan bergumam sendiri di kamarnya.
Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Melisa. Aldo tengah berdiri didepan pintu rumahnya menjemput Melisa untuk pergi ke kantor bersama.
''Selamat pagi cintaku.'' Ucap Aldo setelah melihat Melisa.
''Ada apa sepagi ini sudah di rumahku?'' Bukannya menjawab , Melisa malah balik bertanya.
''Hm.. kita berangkat ke kantor bersama.'' Jawab Aldo datar.
Melisa melihat dari atas kepala hingga ke ujung kakinya Aldo. Rambut yang rapi, Stelan Jas yang begitu gagah, dan wangi parfum yang segar menyelimuti badannya.
''Ini hari Minggu Bambang.'' Melisa mengerlingkan matanya, sedikit tidak percaya dengan apa yang di lakukan pacarnya itu. Ya tapi dia tau kalau itu adalah Aldo.
Jleb!
Aldo sama sekali tidak ingat kalau ini hari Minggu. Yang dia pikirkan hanya ingin bersama Melisa.
''Sudah ya, aku mau bersantai menikmati hari libur ku ( aku mau tidur lagi ).'' Melisa hendak kembali dan menutup pintunya tanpa mengajak Aldo.
Tetapi Aldo menahannya.
''Mmm.. setidaknya biarkan aku masuk dan menikmati teh hangat ( dan lagi ini adalah hari pertama kita menjadi sepasang kekasih )'' Aldo sedikit memohon.
Melisa menghela napas.
''Masuklah.''
Aldo mengikuti langkahnya.
Melisa duduk bersandar di sofa sambil menyalakan televisi.
''Buat saja sendiri teh nya.'' Ujar Melisa.
"Sebenarnya aku masih ingin tidur" pekik Melisa namun dalam hatinya.
Kemudian Aldo menuruti perkataan Melisa, dia membuat teh nya sendiri.
''Kamu tidak mandi dulu?'' Tanya Aldo.
''Males, nanti saja.'' Ujarnya sambil menonton televisi.
Aldo hanya tersenyum dan menghampirinya,
menemaninya menonton film kesukaan Melisa.
''Pasti kamu juga belum sarapan.''
''Hm iya,''
''Biarkan aku memasak sesuatu untuk kita makan.'' Ujar Aldo dengan tulus, sambil melangkah kan kakinya untuk pergi ke dapur.
Melisa meliriknya, dan tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
Beberapa saat kemudian, Aldo kembali dengan membawa nasi goreng yang ia masak.
''Di lihat dari hidangan nya kayak nya enak. Tapi entah rasanya seperti apa'' Gumam Melisa dalam hati.
Dengan penuh ragu-ragu Melisa mencicipi makanan nya.
Hap.. Melisa mengunyah dan terdiam sejenak merasakan makanan yang ada di mulut nya.
Nyam, nyam, nyam.
''Ini enak banget, nasi goreng yang aku selalu beli malah tidak seenak buatannya.'' ungkap Melisa lagi lagi hanya dalam hati.
Aldo tersenyum melihat Melisa yang memakan makanan yang ia buat, dengan sangat lahap.
__ADS_1