
Untung saja sudah mendapatkan gambar-gambar dan clip yang bagus, sehingga meskipun sudah di bubarkan mereka tidak terlalu pusing.
"Akhirnya selesai juga," Arumi meregangkan otot tubuhnya yang seolah kelelahan. Berjalan hendak menghampiri Sarah yang sedang mengobrol dengan beberapa orang.
"Apa menurut kalian namanya sesuai dengan tingkah lakunya?" tanya Daffa kepada Sarah dan juga Alex.
"Hah? Apa?" mereka terlihat kebingungan, entah apa maksud dari pertanyaannya.
"Arumi. Nama yang bagus dan juga feminim, tetapi tidak dengan tingkahnya yang sedikit barbar." Jelas Daffa sembari menatap orang yang di bicarakan nya sedang menuju ke arah mereka.
"Haha...?" Sarah dan Alex tertawa bodoh, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu, Arumi yang baru menyadari bahwa orang yang di sekeliling Sarah adalah Daffa dan asisten pribadinya. Merasa terkejut dan juga bingung, karena sejak kejadian saat itu Arumi tidak pernah benar-benar bertemu dengan Daffa secara langsung.
"Aduh... Bagaimana ini?" pekik Arumi yang menjadi salah tingkah, "Tidak mungkin aku kembali lagi, sedangkan mereka sepertinya sudah melihatku."
"Rumi disini." Sarah mengangkat tangan memanggilnya.
"Tuh kan, punya sahabat yang satu ini tidak peka banget sih," gerutunya sembari berjalan untuk menghampiri Sarah. "Sudahlah Arumi bersikap biasa saja oke," ucapnya kepada diri sendiri.
Arumi menarik napasnya dengan dalam, "Hai.. kalian juga disini?" senyum profesional dari bibirnya.
"Arumi, lama tidak bertemu!" sapa Alex sembari mengulurkan tangannya.
"Iya. Apa kabar?" Arumi menerima salam dari Alex.
"Seperti yang kamu lihat," Alex tersenyum dan memperlihatkan dirinya yang terlihat sangat baik.
Sedangkan Daffa hanya diam dan mematung memperhatikan wanita yang pernah tidur bersama dengannya, dengan tatapan tajam dan wajah yang datar tanpa ekspresi. "Ck, wanita yang kejam. Benar-benar tidak terjadi apa-apa ya." Gumam Daffa namun hanya dalam hati.
Mereka menyadari bahwa tatapan tajam itu tidak biasa, makanya Sarah mencoba menghangatkan suasana.
"Ah! bagaimana kalau kita pergi untuk minum kopi." Usulnya. "Disana ada cafe yang cukup populer disini," ujarnya sembari menunjuk arah.
Semua orang setuju dan pergi bersama. Duduk mengelilingi meja menunggu kopi yang mereka pesan.
"Loh? Daffa!" Sapa seseorang yang terlihat sangat akrab. Wanita itu tersenyum saat sudah memastikan bahwa lelaki itu benar-benar adalah Daffa.
"Pertemuan kedua yang tidak di sengaja, kita memang berjodoh," ujarnya sembari duduk di sebelah Daffa, meskipun tidak ada yang mempersilahkan nya.
Benar, dia adalah Mona. Wanita yang kemarin bertemu dengan Daffa saat menandatangani kerja sama di sebuah bar.
__ADS_1
"Wanita jal*** ini lagi." Ucap Arumi sinis namun dalam hatinya.
"Hai Mona! ada keperluan apa disini?" sapa Alex basa basi.
"Tidak ada, aku hanya sedang berlibur akhir-akhir ini tempat ini begitu populer jadi aku ingin mencobanya." Jawab Mona dengan gerakan tangan yang centil.
"Masa sih?" Sarah menyunggingkan bibirnya, memperlihatkan bahwa dirinya tidak menyukai Mona.
Bagaimana mau suka, kalau Mona telah membuat mood sahabatnya menjadi rusak dari sejak kemarin. Meskipun Arumi tidak memperlihatkan nya, tetapi sebagai sahabat ia sangat mengerti apa yang sedang di rasakan olehnya.
Dengan sombong Mona hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.
......................
"Apa kau mau mencoba kopi punyaku?" Mona mengulurkan kopi miliknya kepada Daffa, dengan sengaja sembari mendekatkan tubuhnya kepada Daffa, sehingga aset kembar yang berukuran wow itu menempel ke lengan Daffa.
Bahkan dengan sengaja ia sedikit menggesek-gesek nya.
Daffa hanya diam tak bergeming, "Aku tidak mau." Tolaknya dengan datar.
"Aku tidak mau." Arumi mengulangi ucapan Daffa dalam hatinya dengan nada meledek. "Tidak mau. Tetapi kau diam saja dan menikmati sentuhannya?," mimik wajahnya seketika berubah menjadi muram dan terlihat kesal.
Sungguh tidak bisa di sembunyikan lagi wajah yang terlihat kesal itu, apalagi pada Sarah yang langsung tahu dengan perasaan sahabatnya.
"Silahkan." Namun Arumi bangkit dari duduknya dan lalu pergi dari sana.
"Dia kenapa?" tanya Alex kepada Sarah, melihat kepergian Arumi yang tiba-tiba tanpa berpamitan.
"Mungkin dia kelelahan." Jawab sarah datar.
"Ah, aku jadi merasa tidak enak telah membuat si cantik pergi dari sini. Kalau begitu aku juga permisi." Tukas si artis sembari beranjak dari sana.
"Daffa, mau mampir ke hotel ku!" Mona tidak peduli dengan semua orang, ia hanya fokus kepada dirinya sendiri.
Namun Daffa tidak menjawabnya, dan malah beranjak lalu pergi dari sana begitu saja.
"Sial" umpat Mona kesal lalu pergi juga.
"Sayang, sekarang hanya tinggal kita berdua!" goda Alex kepada kekasihnya.
"Lalu?"
__ADS_1
Alex menjawabnya dengan senyuman penuh arti, yang anehnya Sarah juga mengerti apa maksud dari senyuman itu.
"Jangan berpikiran yang ngeres, dasar otak mesum," Sarah menyentil dahi Alex.
"Hei, memangnya apa yang aku pikirkan!" Alex tertawa "Tapi sayang, apa kau tidak ingin mencobanya denganku?"
"Sama sekali tidak," Sarah meninggalkan Alex begitu saja, bukan karena apa-apa. Tetapi Sarah teringat dengan sahabatnya dan hendak menghiburnya.
Baru beberapa langkah ia pergi, Sarah kembali lagi menghampiri Alex. "Apa kau mau mengantarkan ku kembali ke penginapan?"
"Hah?" Alex tampak terkejut, namun hanya satu detik ia kembali tersenyum "Dengan senang hati."
Ya, karena mobil yang mereka pakai pasti telah di bawa oleh Arumi.
Sarah tengah khawatir dengan segala pemikirannya, entah apa yang sedang di lakukan oleh Arumi sekarang, mungkin dia sedang menangis atau semacamnya.
Tetapi berbeda dengan pemikiran Alex, yang pikirnya mungkin itu hanyalah sebuah alasan Sarah saja, karena padahal yang sarah inginkan adalah sesuatu yang lebih.
"Mengapa kau senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang lucu?" Sarah mengernyitkan keningnya bertanya-tanya.
"Tidak ada," Alex kembali menutup mulutnya.
Dalam menempuh jarak waktu kurang lebih lima belas menit, mereka telah sampai di depan penginapan yang ditinggali oleh Arumi dan Sarah.
"Kalian tinggal disini hanya berdua?" Tanya Alex sembari membuka sabuk pengamannya.
Sarah menjawabnya hanya dengan anggukan.
"Di tempat sebesar ini?" Alex rasa tak percaya.
"Iya, sudah jangan banyak tanya aku mau turun." Sarah membuka pintu mobilnya lalu turun tanpa mengajak Alex.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sarah kembali saat melihat Alex turun dari mobil mengikutinya.
"Apa aku tidak boleh masuk kedalam?"
"Tidak boleh... kau cepat pergi saja," Sarah mendorong Alex kembali ke mobilnya, lalu membukakan pintu mobil agar ia masuk kembali.
Cup,
Sarah mengecup bibir Alex dengan lembut. "Hati-hati di jalan," Sarah melambaikan tangannya.
__ADS_1
Alex mematung dengan bibir yang tersenyum dan tangan yang hanya di angkat saja tanpa dilambaikan.
Begitu saja dia sudah merasa senang, karena biasanya Sarah tidak pernah berinisiatif.