
Wajah muram dan dingin membuat semua orang merasa merinding dan ketakutan.
''Kenapa dia?.'' Ucap Aldo yang melirik wajah Justin.
''Hanya Calysta yang bisa membuat suasana hatinya mudah berubah, tiba-tiba senang dan tiba-tiba marah-marah.'' Ujar Danu.
''Tamat sudah, kita semua pasti terkena imbasnya.'' Celetuk Febi.
Tiba-tiba Farrel menghampiri mereka dan mengatakan bahwa semua jajaran direksi ada meeting dadakan.
''Apa gue bilang, benar kan kita bakal terkena imbasnya.'' Ucap Febi lagi membenarkan.
Semuanya bergegas ke ruang rapat dengan tergesa-gesa.
Semua orang berkumpul di ruangan itu, terasa hawa yang sangat dingin dan mencekam, membuat semua orang merasa ketakutan.
Setiap pendapat orang selalu salah di matanya, sehingga memberikan kesibukan untuk mereka dengan alasan yang tidak masuk akal.
Rapat hampir berlangsung selama 3 jam.
Aldo dan ketiga temannya sudah tidak sabar lagi, mereka benar-benar tidak mengerti dengan sikap Boss nya sekarang.
Febi yang dari tadi sudah memainkan ponselnya di bawah meja tidak fokus dengan pekerjaan, Ternyata dia kemudian menghubungi Calysta dengan mengirimkan Chat ke WhatsApp, padahal keberadaan Calysta duduk di sebelah Justin.
Calysta yang dari tadi juga merasa kalau sikap Justin sedikit berlebihan dan dia menyadari mungkin sikapnya yang seperti itu berhubungan dengan kejadian waktu kemarin bersama nya.
Calysta berpikir untuk meminta maaf atas kejadian itu karena memang semua itu juga salahnya.
Melihat semua orang yang juga sepertinya sudah lelah karena meeting tidak kunjung selesai. Bahkan sampai ada salah satu karyawan perempuan yang pingsan saat meeting.
Semua orang menjadi panik dan sehingga membuat keributan, namun
Brakk...
Justin menggebrak meja dengan kerasnya , semua orang kaget dan terdiam suasana kembali hening.
Tetapi Calysta menggenggam tangannya Justin yang saat itu menggebrak meja,
menggeleng kan kepalanya yang bermaksud 'jangan melanjutkan meeting nya lagi'
Calysta mencoba memberanikan diri untuk menghentikan nya dan membujuk nya.
Seketika Justin menjadi luluh dan menuruti nya, meskipun hatinya masih merasa kacau.
''Meeting selesai, bubar.'' Sikapnya yang angkuh sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
''Piuhhh....'' Semua orang menghela nafas panjang, bersyukur meeting nya selesai walau sudah ada karyawan yang pingsan.
''Haishh... Calysta lain kali tolong jangan membuat suasana hatinya menjadi buruk, akibatnya kita semua terkena imbasnya.'' Keluh Febi.
''Benar-benar menakutkan.'' Celetuk Danu.
Calysta pergi untuk menemui Justin.
''Mmm... aku mau minta maaf atas sikap aku yang kemarin, aku nggak ada maksud membuat kamu marah.'' Calysta mencoba meminta maaf dengan tulus.
''Nggak apa-apa, gak ada yang perlu minta maaf.'' Jawab nya dingin, tetap fokus pada pekerjaan nya dan tidak terlalu memperdulikan nya.
Tidak berbuat apa-apa Calysta kemudian duduk di kursi kerjanya.
Suasana yang canggung dan ruangan yang benar-benar sunyi tidak seperti biasanya.
__ADS_1
''Justin biasanya suka banyak nanya, banyak omong, suka perhatian juga sama aku, tapi sekarang dia benar-benar tidak bicara sepatah katapun, dia pasti benar-benar marah.'' Gumam Calysta dalam lamunannya.
Waktu makan siang telah tiba,
Justin yang suasana hati nya sedang tidak ada mood, dia pergi ke ruangan istirahat pribadinya.
''Hah, tuh kan dia benar masih marah, biasanya suka ngajak aku makan siang bersama, dan bawel ngurusin apa yang harus aku makan harus benar-benar higienis, selalu penuh perhatian.'' Keluhnya saat melihat Justin masih mengabaikan nya.
Sementara itu Justin menyendiri di ruangan pribadinya.
''Calysta tidak bisakah kamu memberi ku sedikit saja cinta.'' Renungan nya yang sangat menyayat hati.
tok... tok...
Seseorang yang mengetuk pintu,
''Jangan ganggu saya di jam istirahat'' Suara dingin dan tegas di dalam ruangan pribadinya.
''Ini aku.'' Suara wanita yang sering dia dengar, itu adalah Calysta.
Cklek...
Justin beranjak dan membukakan pintu nya.
''Aku bawain makan siang buat kamu, kita makan sama-sama.'' sembari menaruh kotak makanan di mejanya, dan lalu menyiapkan nya.
''Tidak boleh menolak, aku tahu kamu belum makan.'' Celoteh Calysta sebelum Justin berkata apapun, dia tidak berhenti bicara.
Akhirnya Justin menyetujui dan mereka makan siang bersama di ruangan istirahat pribadinya Justin.
Kali ini sikap kebalikan, Calysta yang lebih perhatian kepada Justin.
Justin memberikan senyuman yang di paksakan.
''Apalagi aku Kall, aku lebih tidak terbiasa lagi menjauh darimu, aku berharap kamu selalu bahagia bersama ku.'' Gumamnya dalam hati Justin.
Selesai makan siang bersama, Calysta keluar dari ruangan itu. Berjalan sambil tersenyum sendiri.
''Woy, duh duh, yang lagi kasmaran, tadi diam-diaman sekarang senyum-senyum sendiri.'' Rossa yang dari belakang mengagetkan Calysta.
''Apaan sih bikin kaget saja.'' Ucap Calysta yang masih memancarkan senyuman nya.
'' Sudah baikan nih? dengar-dengar tadi pagi ada yang lagi marahan, sampai-sampai semua karyawan menanggung akibatnya, HAhaa.'' Rossa yang menyindirnya.
''Lu yah, dasar tukang gosip.'' Calysta mencubit tangan Rossa.
''Aawww... sakit tahu, tapi aku ikut bahagia loh melihat kalian.'' Ucap Rossa.
Calysta tersenyum.
''Kamu itu jangan hanya ngurusin hubungan orang lain, gimana tuh hubungan kamu sendiri, kelihatannya Farrel sedang mengejar mu.'' Calysta yang sembari bercanda dengan sahabatnya itu.
''Iih... apaan sih, diam nanti kedengaran oleh orang lain.'' Rossa yang sambil menutup mulutnya Calysta.
''Ok, Ok... nanti aku suruh Justin biar dia nggak ngasih pekerjaan sama Farrel di hari libur nya, biar ada waktu untuk kalian berdua.'' Ujar Calysta.
Rossa tersipu mendengar nya, dan beruntung dia bertemu dengan Calysta, sahabat yang mengerti perasaan temannya.
Waktu berlalu begitu cepat, hari sudah mulai gelap, waktunya semua karyawan pulang kantor.
Saat itu Justin keluar dari ruangannya bergegas untuk pulang.
__ADS_1
''Kok dia nggak ngajak aku pulang bareng sih, biasanya juga ngajakin.'' Ucapnya Calysta yang dari tadi menunggu ajakan nya Justin untuk pulang bersama, namun Justin malah mengabaikan nya.
Calysta bergegas pergi dan mengejar nya,
''Justin.'' Panggilnya dari kejauhan.
Dia menoleh dan berhenti dari langkah nya.
''Kamu ninggalin aku, nggak ngajak aku pulang, kenapa kamu masih marah sama aku? nggak mau maafin aku?.'' Calysta yang tidak berhenti mengomel kepada Justin.
''Ah? aku pikir kamu nanti ada yang jemput, jadi aku nggak ngajak kamu, biasanya juga begitu kan kalau aku ngajak pulang bareng kamu selalu menolak.'' Jelas Justin.
''A...aku.'' Suara yang terputus, bermaksud ingin menjelaskan, namun Justin memotong omongan nya.
''Ayo cepat kita pergi.'' Ucap Justin yang memotong omongan Calysta.
''Aku tidak ingin mendengar alasan yang membuat hati aku sakit Kall.'' Gumam Justin dalam hati nya.
''Iya sih, biasanya aku selalu menolak ajakan nya dan memilih untuk pulang bersama Radit, tapi hari ini aku menolaknya untuk tidak menjemput ku pulang lagi.'' Calysta yang juga bergumam dalam hati nya.
Sampai di parkiran, tampak Farrel sudah menunggu Bos nya di mobil.
Farrel membukakan pintu mobil untuk mereka,
''Calysta ikut pulang bersama?.'' Tanya Farrel kepada Justin, namun Justin hanya diam dan tidak menjawab nya.
''Iya.'' Calysta yang menjawab pertanyaan nya.
''Datang dan pergi semaunya, ck... cukup kejam.'' Farrel yang berbicara pelan, namun tetap Calysta mendengar apa yang di ucapkan nya.
mendengar itu Calysta semakin merasa sangat bersalah, namun apa daya nasi sudah menjadi bubur. Hanya berusaha untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.
''Farrel bagaimana untuk pembukaan cabang baru yang di Inggris?'' Tanya Justin kepada Farrel yang tangan kanannya dan kepercayaan nya.
''Tinggal sepuluh persen lagi, mungkin dalam tiga hari ini kita bisa meresmikan nya.'' Jelas Farrel.
''Ok bagus.''
''Cabang baru? Inggris? kalau begitu Justin akan pindah ke Inggris untuk mengelola perusahaan barunya.'' Gumamnya Calysta dalam hati.
Ingin rasanya dia bertanya, tetapi dia tidak ingin mendengar jawaban yang tidak ingin dia dengar.
Sampai di depan rumahnya Calysta turun dari mobil.
''Mau mampir dulu? Papi bilang dia ingin bertemu dengan kamu.'' Ujar Calysta mengajak Justin.
''Nggak, lain kali saja.'' Jawabnya dingin dan lembut.
''Ayo Jalan.'' Perintahnya kepada Farrel.
''Baik.'' Farrel menjalankan perintahnya.
Farrel yang sedari tadi memperhatikan Bos nya dari kaca depan, merasa sangat kasihan melihat Bos nya yang sedang bersedih.
''Pak, apa sebaiknya beri tahu saja Calysta perasaan yang sebenarnya, agar dia tidak membuat mu seperti barang cadangan.'' Farrel memberikan saran, serta menaburi garam pada lukanya.
''Tidak, kalau aku mengatakan nya, aku takut membuat nya semakin menjauh dan menghindar dari ku.'' Jawab Justin.
Farrel hanya diam dan mengangguk, merasa kasihan kepada Bos nya yang selama ini dia ikuti, juga sangat paham dan mengerti sikap, tingkah, dan perlakuan nya Justin.
Terimakasih sudah setia membaca,.
__ADS_1