
Cyara menggedor-gedor pintu kamar kakaknya, "Kak Daffa... Kak Daffa..." teriak Cyara memanggilnya di balik pintu.
Lama Daffa tidak membuka pintu, namun tidak membuat Cyara menyerah untuk membuat kakaknya keluar.
Klik..
Terdengar suara pintu terbuka, "Ada apa Cyara? Kakak lagi tidur," Daffa yang masih setengah sadar mengusap wajahnya, dan mata yang masih menyipit.
"Ayo turun," Cyara menarik lengan kakaknya dengan kuat.
"Ada apa? Aku masih mengantuk!" dengus Daffa.
"Dengar baik-baik, apa kau tau yang di bawah itu siapa?" Cyara berbicara bak orang dewasa kepada kakaknya.
"Aku tidak peduli," Daffa berbalik hendak kembali lagi tidur di kamarnya. Namun tentu saja lagi-lagi Cyara menahannya.
"Di bawah sana, ada aunty Arumi dan orang tuanya." Bisik Cyara.
Sontak membuat mata Daffa terbelalak, "Kau tidak bercanda?"
Cyara tidak menjawabnya, justru ia lebih dulu turun dan kembali ke ruang tamu.
Daffa bergegas kembali ke kamarnya untuk mencuci muka dan mengganti celananya yang sedang memakai boxer saja.
Beberapa menit berlalu, Daffa turun menyusul Cyara.
"Uncle.. Aunty.." Daffa menyalami kedua orang tua Arumi. Lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Arumi.
"Ah, apa tadi yang ingin kau katakan? Hampir saja lupa karena terpotong oleh kehadiran Daffa," Mam Calysta menanyakan apa kelanjutan perkataan dari Mam Rossa yang sempat terputus tadi.
"Iya. Karena aku selalu merasa kesepian di rumah, jadi alangkah baiknya jika ada seorang anak kecil yang menemaniku," ucap Mam Rossa sembari tersenyum.
"Oh begitu, kalian tinggal bikin adik saja buat Arumi," celetuk Mam Calysta.
"Inginnya begitu, tetapi aku sudah di periksa oleh Dokter, katanya tidak akan bisa mengandung lagi." Jelasnya sendu.
Calysta memegang tangan sahabatnya untuk membuatnya merasa lebih tenang. Dan ikut merasa iba.
"Maka dari itu, sepertinya Arumi sudah cocok jika menikah dan memiliki seorang bayi," ujarnya sembari tersenyum melirik anak semata wayangnya.
"Mam..." pekik Arumi.
__ADS_1
"Iya, iya benar. Usia anak kita memang sudah cocok untuk menikah," Mam Calysta ikut menimpali dan merasa senang.
Mam Rossa mengangguk mengiyakan, "Jadi aku sudah memilihkan calon untuknya, meski mereka belum saling mengenal. Aku rasa Arumi akan menyukainya, karena pemuda itu selain tampan dia juga baik!" Mam Rossa seolah sedang membayangkan betapa tampan dan baiknya pemuda yang akan di kenalkan dengan putri semata wayangnya itu.
Seketika mimik wajah Mam Calysta berubah, yang tadinya tersenyum dengan sumringah kini menjadi dingin tanpa ekspresi.
Berbeda dengan Daffa yang tidak berubah, memang sedari tadi ia selalu memasang wajah datar tanpa ekspresinya.
Mam Calysta melirik kearah anak sulungnya dengan tatapan tak terbaca, "Dasar bodoh, kenapa wajahmu biasa saja seperti itu, apa kamu tidak menyukainya?" gerutu Mam Calysta dalam hatinya.
"Tapi, apakah tidak apa-apa itu kan sama saja dengan di jodohkan? Apalagi anak jaman sekarang sangat menentang dengan perjodohan," Mam Calysta mencoba memprovokasi.
"Tidak, aku juga tidak akan memaksa anak ku, jika memang dia tidak menyukainya." Tukas Mam Rossa.
"Ah iya," Mam Calysta tersenyum namun sangat di paksakan.
"Apakah Daffa juga sudah punya calon untuk hidup bersamanya?" Mam Rossa kembali bertanya. Melirik ke arah Daffa yang sedang di isengi oleh Cyara adiknya.
"Aku sih terserah padanya saja Ros, sejauh ini dia belum mengenalkan seseorang pada kami, tapi entah jika di luaran sana berapa banyak kekasih yang di milikinya," ujar Mam Calysta sembari tertawa kecil.
"Kak Daffa tidak memiliki seorang kekasih Mam," timpal Cyara sembari mencolek pipi kakaknya dengan coklat.
"Cyara, anak kecil jangan ikut campur masalah orang dewasa," sanggah Daffa sembari membersihkan pipinya yang belepotan oleh coklat.
"Cyara lucu sekali, untung tidak seperti Papi nya yang dingin dan cuek seperti itu." Celetuk Farrel ketika melihat tingkah laku Cyara.
.....
Hidangan yang telah di masak oleh bibi Nah dan asisten rumah tangga yang lainnya, kini sedang dibawa dan di susun di atas meja makan besar.
"Nyonya makanannya sudah siap." Ujar bibi Nah memberi tahu.
"Terimakasih bi."
Semua orang telah berkumpul di ruang makan dan mengelilingi meja yang penuh dengan makanan lezat.
Daffa yang duduk bersebelahan dengan Mami nya, dari tadi merasa risih. Karena sedikit-sedikit Mam Calysta menyenggolnya seolah memberi kode.
"Apa sih Mam?" bisik Daffa yang dari tadi tidak mengerti apa yang di inginkan oleh Mami nya.
"Ambilkan makanan kesukaan Arumi, bodoh." Tekannya berbicara dengan gigi yang terkunci.
__ADS_1
Daffa menarik napasnya dengan dalam, lalu menuruti apa yang di katakan oleh Mami nya.
"Makanlah lebih banyak," Daffa menyodorkan sepiring makanan kesukaan Arumi ke hadapannya.
"Terimakasih." Ucap Arumi canggung.
Mam Calysta merasa tidak puas akan hal itu, darimana itu bisa di sebut romantis dan perhatian. "Ck, memang anak sama bapa sama saja." gerutunya.
"Ini juga seafood kesukaanmu," Mam Rossa menambahkan seafood di atas piring nasi putri semata wayangnya.
"Oh iya, apa Daffa juga suka seafood? Mau tambah?" Mam Rossa hendak menambahkannya juga di atas piring nasi milik Daffa.
"Daffa tidak pilih-pilih makanan kok!" tukas Mam Calysta.
"Terimakasih aunty," ucap Daffa setelah Mam Rossa menambahkan seafood diatas piring nasinya.
"Eump..." tiba-tiba saja Arumi menutup mulutnya, seolah menahan rasa ingin muntah saat seafood itu masuk kedalam mulutnya.
"Maaf aunty..." ucap Arumi dengan tangan yang masih menutup mulutnya, lalu ia bergegas pergi ke belakang.
Huek.. Huek..
Terdengar di belakang sana suara Arumi yang sedang muntah-muntah. Di bantu oleh bibi Nah yang juga sedang berada di sana.
"Non tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Aku gapapa bi, mungkin masuk angin saja." Arumi mengusap bibirnya dengan tisu. Lalu ia kembali lagi ke ruang makan.
Semua orang bertanya tentang keadaannya, dan Arumi hanya menjawabnya dengan gelengan kepala "Aku gapapa Mi Pi, mungkin hanya masuk angin karena semalam sedikit terkena hujan," ujarnya sembari duduk kembali.
Namun Arumi tidak berniat untuk melanjutkan makannya, ia menyuruh asisten rumah tangga untuk membereskan sisa makanan miliknya.
Terutama seafood itu harus di jauhkan dari hadapannya, karena jika tercium baunya saja Arumi sudah merasa mual.
"Sebaiknya Arumi di periksa saja ke dokter." Ujar Mam Calysta.
Begitupun dengan kedua orang tuanya yang merasa sangat khawatir kepada putri semata wayangnya. Hendak beranjak dan akan membawanya pergi ke rumah sakit.
"Gak perlu Mam, sekarang aku udah gapapa!" tukas Arumi mencegah kedua orang tuanya.
"Kalau ada yang gak enak jangan di biarkan saja." Ujar Daffa dengan wajah datar.
__ADS_1
"Daffa benar sayang, lebih baik ke rumah sakit saja," timpal Mam Calysta.
"Aku benar-benar gak apa-apa aunty."