
Daffa hanya bisa pasrah, dan sebenarnya ia juga menyukai momen itu. Momen dimana ia bisa berfoto bersama dengan Arumi.
"Selanjutnya kita kemana?" Tanya Daffa masih dengan wajah yang datar.
"Terserah kamu."
"Dari tadi jawabnya terserah terus, kau kenapa tidak seperti biasanya?" Selidik Daffa.
Arumi menghela nafasnya panjang, "Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak ada tujuan. Yang penting bisa keluar dan jalan-jalan."
"Oke." Daffa bangun dari duduknya dan menenteng kembali barang-barang yang ia bawa tadi. "Ayo."
Mereka kini melanjutkan perjalanannya. Suasana menjadi hening di dalam mobil, apalagi Arumi yang teringat kembali kejadian tadi pagi karena Reyhan membatalkan janjinya. Ia hanya menatap keluar jendela dengan segala pemikirannya.
Membuat Daffa bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, tadi saja saat berpiknik ia begitu ceria.
"Stop... stop..."
Sontak Daffa menginjak rem nya, karena tiba-tiba saja mendengar Arumi berteriak.
"Ada apa?" Tanya Daffa penasaran.
Arumi tidak menjawabnya, ia hanya fokus melihat keluar jendela mobil. Yang lalu membuat Daffa ikut melihat ke arah yang di lihat olehnya.
Nampak seorang lelaki yang ia kenal tengah bermesraan di dalam Restaurant bersama wanita cantik dan berpakaian sangat terbuka.
Arumi mengepalkan tangannya dengan erat, seolah tidak bisa membendung lagi amarahnya. Apalagi itu adalah alasan kenapa kekasihnya membatalkan janji mereka. Ya lelaki yang bermesraan dengan wanita lain itu adalah Reyhan kekasih Arumi.
"Breng*sek." Umpat Daffa. "Beraninya dia menunjukan kebejatannya di depan Arumi." Gumam Daffa dalam hatinya. Sebenarnya Daffa sudah tahu sifat bejat seorang Reyhan, tetapi ia tidak segera memberi tahu Arumi karena takut ia tidak akan percaya padanya, dan malah semakin membenci dirinya karena di tuduh memfitnah kekasihnya.
Ya, Daffa menerka-nerka itu. Ia takut jika Arumi membencinya. Tetapi saat ini ia juga merasa kesal karena wanita yang dicintainya di sakiti dengan begitu terang-terangan.
"Aku akan turun untuk menghajarnya." Daffa bergegas hendak turun dari mobilnya. Namun langkah itu terhenti saat Arumi mencegahnya.
"Kita lanjutkan saja perjalanannya." Ujar Arumi dengan raut wajah yang sedih.
"Apa kita pulang saja?" Tanya Daffa lagi.
"Ya, aku ingin pulang dan istirahat." Jawab Arumi dengan suara lemas.
**
Dua hari sudah Arumi hanya berdiam diri di dalam Apartemennya, tidak melakukan aktivitas apapun, apalagi urusan pekerjaannya sudah di serahkan kepada orang kepercayaan nya di kantor.
"Apa, dua hari?" Daffa terkejut mendengar Arumi tidak pergi ke kantor dan hanya berdiam diri saja di Apartemennya. "Apa kamu sebegitu mencintainya, hingga bersedih berlarut-larut seperti ini ." Lirih Daffa.
Daffa menghubungi bibi Nah, menyuruhnya untuk membuatkan makanan kesukaan Arumi, lalu menyuruhnya untuk di kirimkan ke Apartemen milik Arumi. Ya, bibi Nah sudah tahu masakan kesukaan nona Arumi, karena Daffa sudah memberi tahunya waktu itu.
"Arumi... Bodoh..." Sarah berteriak sembari masuk kedalam Apartemennya Arumi. Ia tahu kunci password pintu Apartemennya, sehingga tidak perlu untuk memencet bel lagi.
Terlihat ia di ruang tengah sedang menonton drama Korea kesukaannya, "Ada apa berisik teriak-teriak," sembari bibirnya mengunyah cemilan.
__ADS_1
"Apa kau bodoh? hanya karena laki-laki bajing*an itu kau harus terpuruk dan tidak pergi bekerja." Sarah berkacak pinggang, "Mana Arumi yang tangguh! dulu saja kau ingin menghajar habis-habisan mantan pacarku yang breng*sek, tapi sekarang lihat dirimu." Tiada hentinya Sarah mengomel dengan panjang lebar.
"Aduh berisik... mengganggu saja," Arumi mematikan televisinya. "Siapa yang terpuruk? Aku tidak terpuruk sama sekali."
"Lalu, apa gunanya hanya berdiam diri seperti itu? Tidak melakukan apapun." Celoteh Sarah.
"Kau benar," tiba-tiba saja Arumi menggebrak meja yang ada di depannya. "Sebenarnya aku merasa sangat kesal dan tidak terima. Apa-apaan seenaknya berselingkuh dari wanita secantik diriku." Geram Arumi sambil memuji dirinya sendiri.
"Lalu, kau akan mencampakkan nya sambil menamparnya dengan keras!" Seru Sarah.
"Lebih dari itu," sorot mata Arumi yang tiba-tiba menjadi tajam.
"Apa rencanamu?" Sarah tertarik dengan misi Arumi selanjutnya.
"Aku akan membuatnya semakin jatuh cinta padaku,"
"What?"
Arumi mengangkat tangannya, bertanda diam lah, "Dengarkan, jangan dulu mencelah. Aku akan membuatnya lebih sakit hati sekaligus mempermalukan dirinya, menginjak-injak martabatnya." Seringai licik terlihat dari bibirnya.
"Aku tidak yakin," seloroh Sarah malas.
"Ish... kau ini."
Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi. Arumi yang membuka pintunya, "Siapa ya?"
"Nona Arumi?" Tanya wanita paruh baya, dengan pakaian seragam asisten rumah tangga.
"Ini ada kiriman makanan dari tuan Daffa, katanya nona sangat menyukai masakan saya." Senyumnya terlukis dari wajah wanita paruh baya itu.
"Oh? apakah ini bibi Nah?" Tanya Arumi sembari tersenyum.
"Iya nona. Ini silahkan di nikmati makanannya." Bibi Nah memberikan kantong berisi makanan kesukaan Arumi.
"Terimakasih bibi."
Bibi Nah langsung pamit pergi dari sana dan Arumi kembali kedalam membawa makanannya. Ia langsung membukanya di atas meja.
"Apa tuh?" Tanya Sarah.
"Makanan kesukaan ku, tadi bibi Nah yang nganterin." Arumi menghirup aroma wangi makanan yang sedap.
"Bibi Nah?"
"Iya, dia adalah asisten rumah tangga di Kediaman aunty Calysta." Jawabnya sembari mengunyah makanannya.
"Aunty Calysta? maksudmu Mami nya Daffa? Anjim kenapa kau jawabnya ribet banget sih, bilang aja itu makanan dari Daffa." Sarah kesal mendengar jawaban Arumi.
Arumi tidak peduli, ia asyik dengan makanannya. "Ini enak banget..."
"Daffa tau semua makanan kesukaan mu?" Tanya Sarah melihat semua makanan yang terhidang di meja.
__ADS_1
Arumi menjawabnya dengan anggukan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan berhenti mengunyah, "Iya... ya, tau dari mana Daffa makanan kesukaan ku? Aku tidak pernah mengatakannya, apa kau yang memberi tau?" Selidik Arumi kepada sahabatnya.
"Mana ku tau, kalau aku tau aku tidak akan bertanya padamu."
Arumi mengangkat kedua bahunya, seolah malas untuk berpikir dan kembali ke makanannya lagi.
"Perjuangan mengejar cinta ya!" Gumam Sarah sembari tersenyum.
"Apa? Kamu bilang apa, aku gak denger."
"Kamu bisa-bisa menjadi gendut kalau makan sebanyak itu." Tegas Sarah setengah berteriak.
"Gapapa, abis ini aku akan olahraga."
"Menikmati makanannya. Bukankah anda harus berterima kasih nona!" Sindir Sarah.
"Aku sudah berterima kasih kepada bibi Nah tadi." Jawabnya santai.
"Maksudku, berterima kasih kepada orang yang berinisiatif mengirim bibi Nah kesini." Sarah tidak tahan lagi ia berbicara dengan nada sedikit menyentak.
"Iya... iya... bawel."
**
Sebenarnya setelah kejadian hari itu, Daffa tidak pernah menghubunginya meskipun ia ingin, karena Daffa takut menambah suasana hati Arumi bertambah kacau.
^^^^^^Apa kabar? Daffa mengirim pesan^^^^^^
^^^Apa kamu baik-baik saja?^^^
Arumi membuka ponselnya yang bergetar, "Benar juga, aku belum berterima kasih padanya."
^^^Aku baik-baik saja! Terimakasih ya untuk makanannya. Balas Arumi^^^
Mereka berbalas pesan hanya sebatas obrolan singkat seperti itu.
**
**
NOVEL BARU SUDAH UP YA, BERJUDUL 'Rindu Sang RAJA NAGA'...
DENGAN COVER SEPERTI DI BAWAH INI... MOHON DUKUNGANNYA YA🙏 Dan semoga suka dengan karya ku ..
...TERIMAKASIH!!!...
salam dari cici😉🤭
...
__ADS_1
...