Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 66


__ADS_3

"APA?" Sarah benar-benar terkejut mendengar Arumi bercerita tentang dirinya bersama Daffa semalam. "Lalu kau hanya akan melupakannya begitu saja?"


"Ya, memangnya harus seperti apa lagi."


"Lalu, apa tanggapan Daffa tentang itu?"


"Dia menyetujuinya."


"Benarkah? Bukannya Daffa mencintaimu? dia pernah mengungkapkan perasaannya bukan?" deretan pertanyaan di berikan oleh Sarah.


"Dia memang pernah menyatakan perasaannya, tetapi itu hanya omong kosong saja." Jelas Arumi dengan datar.


"Aku rasa tidak begitu. Coba kau ingat-ingat akhir-akhir ini ia menjadi lebih perhatian padamu."


Arumi tampak berpikir sejenak, "Ya, aku rasa juga begitu."


"Iya kan! bahkan kau memberi tau nya makanan kesukaanmu. Sampai-sampai dia menyuruh asisten rumah tangga untuk mengantarkannya ke sini."


"Aku tidak pernah memberi tau nya?" Arumi menggelengkan kepalanya.


"Tapi dia tau semua makanan kesukaanmu."


Arumi terdiam dan seperti memikirkan sesuatu, "Benar juga, waktu itu dia juga sepertinya tau kalau aku ingin pergi berjalan-jalan dan piknik di tempat yang sejuk dan tenang. Semua itu dia melakukannya!"


"Tapi dia tau darimana?"


"Ah!" Sarah seperti teringat sesuatu. "Bukankah waktu itu kita pernah mengisi biodata di restoran dekat kantor, tempat biasa kita makan siang? Aku ingat membaca apa yang kau tulis dalam kertas itu."


"Apa mungkin....? Apa mungkin itu hanya sebuah alasan saja, dan sebenarnya yang meminta kita mengisinya adalah Daffa?"


"Kau sepemikiran dengan ku!" tukas Sarah.


"Apa dia melakukannya hanya untuk mencari tau apa keinginan ku?" ujar Arumi bingung.


"Yups..."


"Apakah perlu repot-repot seperti itu? dia tinggal tanyakan saja langsung padaku!" tegas Arumi berargumen sendiri.


"Lalu, jika Daffa bertanya langsung padamu apakah kau akan memberitahu nya? sedangkan saat itu kau menolak perasaannya mentah-mentah,"


"Jadi seperti itu," Arumi mengangguk mengerti.


"Sekarang, apa kau mulai tersentuh dan terharu lalu jatuh cinta padanya?" goda Sarah.

__ADS_1


"Apakah aku harus terharu?" Arumi kembali bertanya dengan linglung.


Sarah memakan roti besar yang ada di hadapannya sekaligus, kesal dan malas meladeninya lagi, ia tidak mempedulikan lagi apa yang di bicarakan oleh sahabatnya itu.


**


Hari-hari Arumi lewati seperti biasanya. Meski telah putus dengan kekasihnya, ia malah semakin happy menjalankan kehidupannya seolah tanpa beban dan bebas.


Berbeda dengan Daffa yang tampak semakin dingin dan kejam jika sedang bekerja. Kali ini ia benar-benar memutuskan hubungannya dengan Arumi.


Kerja sama yang berkepanjangan pun dengan Arumi kini telah di tangani oleh Alex sepenuhnya.


Begitupun dengan Alex yang tidak ingin mengurusi masalah pribadi Daffa, ia tidak banyak bertanya dan hanya menjalankan pekerjaannya. Fokusnya hanya kepada berkencan dengan Sarah.


Suatu hari Daffa harus bertemu dengan klien penting di sebuah bar. Ia hanya pergi seorang diri karena Alex ada pekerjaan lain yang juga tidak bisa di tunda.


Di dalam bar, Daffa melihat ke seluruh arah mencari klien yang akan di temuinya.


Seorang wanita cantik seksi dengan tubuh yang bohay, melambaikan tangannya kepada Daffa seolah memberi tahunya bahwa ia ada di sana.


Ya, wanita itu adalah klien penting yang akan ia temui.


"Sudah lama menunggu?" tanya Daffa basa-basi.


Daffa langsung to the point membicarakan tentang pekerjaan dan kerjasama mereka. Hingga sampai di titik bersalaman karena sepakat.


"Kau mau kemana?" Tanya Mona, saat melihat Daffa bangkit dari duduknya. Ya, wanita itu namanya adalah Mona.


"Saya harus pergi, banyak pekerjaan yang harus saya urus." Jawabnya formal.


"Ck, tidak asyik. Apakah tuan Daffa tidak akan menghargai kerjasama menguntungkan ini, meski hanya dengan meminum segelas bir saja?" sindir Mona penuh penekanan.


Daffa duduk kembali ke tempat duduknya, membuat Mona tersenyum penuh kemenangan.


Daffa meminum bir dalam gelasnya hanya dengan satu kali tegukan. Sebenarnya akhir-akhir ini ia jadi sering minum-minuman alkohol lagi, meski tidak terlalu banyak itu membuatnya sedikit menghilangkan stres.


Tidak sadar di tempat yang tidak jauh dari tempat duduknya, ada seseorang yang memperhatikan mereka.


"Coba lihat! apa itu yang kau sebut dia mencintaiku?" Arumi berbicara kepada Sarah saat dirinya melihat Daffa sedang bersama dengan seorang wanita.


"Mungkin dia partner bisnisnya," tukas Sarah.


"Apakah menurutmu terlihat seperti itu?" Arumi menyunggingkan bibirnya ketika melihat penampilan wanita yang sedang bersama Daffa itu. Pakaian seksi dan ketat, menonjolkan setiap lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Ya, entahlah." Sarah pun di bikin bingung olehnya.


Arumi meminum bir yang ada di hadapannya dengan satu kali tegukan.


"Lalu, apa yang mau kau lakukan disini? membawaku kesini dengan paksa!" Gerutu Sarah.


"Aku hanya terlalu lelah bekerja, jadi harus merefresh pikiran sejenak." Jawabnya sembari hendak meminum segelas bir lagi, namun tidak jadi karena Sarah lebih dulu menahannya.


"Kau jangan terlalu banyak minum!"


"Tidak apa, hanya sedikit tidak akan membuat ku mabuk." Sanggah Arumi, lagi-lagi hendak meminum bir dan Sarah melarangnya lagi.


"Kau kenapa sih?" tanya Arumi heran kepada sahabatnya itu.


"Aku... bagaimana jika kau hamil?" ujar Sarah dengan ragu-ragu.


"What? apa yang kau bicarakan!" Arumi mengernyitkan keningnya.


"Aku hanya mengkhawatirkan mu." jelas Sarah merasa tidak enak, dan juga merasa khawatir kepada sahabatnya.


"Sudah, kau jangan bicara yang tidak-tidak." Tegas Arumi. "Ayo kita pergi dari sini."


Meski tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Sarah tadi, tetapi sekarang ia menjadi terus kepikiran dengan perkataannya itu.


Arumi menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran yang menghantui dirinya. "Gak mungkin.. gak mungkin,"


"Kau kenapa?" Tanya Sarah heran melihat tingkah laku aneh sahabatnya.


"Sar dengar, aku tidak mungkin hamil, iya kan! aku hanya melakukannya satu kali. Jadi mana mungkin itu bisa membuatku hamil, iya kan," Arumi tertawa pahit, karena ia juga merasa bingung dan ketakutan.


"Aku harap juga begitu. Tapi jika tidak memakai pengaman siapa yang tau itu bisa membuatmu hamil atau tidak." Sarah menjawab dengan realistis.


"Kau, kenapa malah menakuti ku?" wajah Arumi berubah semakin panik.


Sarah menghela nafasnya panjang, dan menepuk-nepuk pundak Arumi untuk menenangkannya.


"Sudah, sudah jangan di pikirkan lagi, itu belum terjadi. Sekarang kau berpikirlah positif saja, agar tidak membuat mu stres." ucap Sarah menenangkan.


"Memangnya kau pikir, aku jadi berpikiran seperti ini gara-gara siapa? Kalau saja kau tidak berbicara yang tidak tidak, aku sudah pasti tidak akan memikirkan hal yang aneh." Gerutu Arumi.


Sarah lagi-lagi menghela nafasnya dengan kasar, "Tetapi jika itu benar-benar terjadi, apa yang akan kau lakukan?"


"Sarah..." Arumi berteriak dengan sangat kencang. Hingga membuat Sarah menutup telinganya

__ADS_1


__ADS_2