
"Kau cari tau saja sendiri." Tukas Alex.
"Hei ayolah, bukannya aku tidak bisa untuk mendapatkan nomor ponselnya, tetapi bukankah lebih efisien jika memintanya kepada Sarah?" Kilah Daffa.
Alex menghela nafasnya panjang. Sebenarnya ia enggan untuk membantunya karena jika melakukan itu akan menggangu percakapan PDKT nya kepada Sarah. Tetapi apa boleh buat jika orang yang memaksa adalah Daffa.
"Dasar bodoh, Bisanya cuma emosi saja di besar-besarkan. Nomor ponsel kan adalah hal terpenting ketika seseorang baru bertemu." Alex mengumpat kepada Daffa. Tetapi ia kemudian mengirim pesan kepada Sarah untuk meminta nomor ponsel Arumi.
Berhasil mendapatkan nomor ponsel Arumi. Meski tidak mudah, karena banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Sarah.
"Bagaimana?" Tanya Daffa menantikan.
"Ya, sudah dapat." Jawab Alex singkat sambil mengangguk. Mendengar itu Daffa tersenyum dan kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya. "Cepat berikan padaku nomornya!" Daffa tidak sabaran.
"Ini tidak gratis." Ujar Alex datar tanpa ekspresi. "What? come on brother." Daffa sedikit memohon dengan tidak sabaran. Alex hanya diam tak bergeming.
"Oke. oke apa mau mu?" Daffa frustasi dan akhirnya pasrah kepada Alex.
"Hm... entahlah aku belum memikirkannya. Tetapi jika nanti aku telah mengetahui apa yang aku inginkan, kai harus menepati itu." Ujar Alex dengan santai. "Oke." Jawab Daffa dengan cepat yang hampir saja kehilangan kesabaran.
Akhirnya Alex memberikan nomor ponsel Arumi.
*
Hari yang melelahkan. Daffa dan Alex telah sampai di rumah megah keluarga Justin. Daffa masuk kedalam kamar pribadinya, melonggarkan dasi yang ia pakai, kemudian membanting dirinya keatas tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan segala pemikiran yang entah berkelana kemana.
Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Berniat untuk menghubungi Arumi, meskipun hanya sekedar mengirim pesan. Berulang kali ia mengetik, menghapusnya kembali, mengetik lagi, seperti itu ia lakukan berulang-ulang. Bimbang dengan kata pertama apa yang harus ia kirim kepada Arumi.
__ADS_1
Sedikit putus asa akhirnya Daffa mengirimkan pesan singkat, "Hai..."
Lama Daffa menantikan balasan. Ia pikir tidak mungkin Arumi tidak mengenalinya, karena Daffa telah mengubah foto profil dengan foto dirinya, meski sebelumnya Daffa hanya menggunakan foto pemandangan.
Lama Daffa menggenggam ponselnya, setelah berulang kali disimpan dan di lihatnya kembali. Namun belum ada balasan samasekali dari orang yang di harapkan nya.
Sedikit menyerah untuk menunggu, akhirnya ia bangkit dari tidurnya untuk pergi membersihkan badannya. Sampai di depan pintu kamar mandi terdengar suara getar dari ponselnya. Daffa menghentikan langkahnya dan berbalik untuk mengambil ponsel yang ada di atas tempat tidur.
Ketika di buka dan dilihatnya, benar saja ada sebuah pesan masuk. Wajah Daffa seketika menjadi sumringah. Namun itu hanya sekejap, karena ternyata bukan pesan dari seorang yang di nantinya. Melainkan dari Alex, ya Alex. Entah keisengan apa yang ia lakukan, tinggal seatap tetapi mengirim pesan untuknya. "Tes." pesan singkat yang dikirim kan Alex.
"Sialan." Umpat Daffa setelah membacanya dan membanting ponsel keatas tempat tidur. Kemudian melanjutkan niatnya untuk membersihkan badannya.
Keluar dari kamar mandi, Daffa mengeringkan rambutnya.
tok.. tok.. Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Daffa diam tak menghiraukan. Akhirnya terdengar suara Alex yang berteriak memanggil namanya, tidak lupa mengetuk pintu dengan semakin keras.
"What? kata-kata seperti ini, dia pikir sedang mengusir hantu." Gerutu Alex setelah membaca pesannya. "Hei, dengar Daffa Alfarizi. Tadinya aku ingin mengajakmu untuk bersenang-senang. Tetapi aku batalkan niatku untuk mengajak mu." Teriak Alex dari balik pintu.
Daffa menatap kembali ponsel yang di genggamnya. Banyak notifikasi pesan masuk, apalagi kalau bukan dari mitra kerja atau yang ingin mengajak kerjasama. Tetapi ada satu pesan yang telah lama ia nantikan, ya balasan dari Arumi. "Hello..." Balas Arumi singkat, dengan di akhiri emoticon smile. Tentu saja membuat Daffa merasa senang.
"Sudah tidur?" Daffa membalas lagi
"Belum." Arumi
"Mau keluar untuk jalan-jalan?" Ajak Daffa
"Boleh." Arumi
__ADS_1
"Tunggu aku akan segera tiba di Apartemen mu."
Arumi terbelalak membacanya, kenapa Daffa bisa tau kalau dirinya tinggal di sebuah Apartemen, bukan hanya itu dia juga tau alamat Apartemennya dimana.
Jelas saja Daffa tau, karena informasi yang di berikan oleh Askar waktu itu sangat mendetail.
Setelah menempuh jarak kurang lebih dua puluh menit Daffa telah sampai di depan Apartemen milik Arumi. Ya, Arumi tinggal sendiri di Apartemen nya, karena kedua orang tuanya tinggal di luar kota
*
Arumi masuk kedalam mobil mewah yang di kendarai oleh Daffa. "Kita mau kemana?" Ujar mereka bersamaan.
"Kalau gitu aku ingin mampir dulu di toko buku!" Ujar Arumi berinisiatif. Daffa menuruti keinginan Arumi tanpa banyak bertanya.
"Kita lanjut ke The Suites at Hotel Mulia ya..." Ujar Arumi setelah selesai membeli buku yang ia butuhkan. "The Suites...?" tanya Daffa mengerutkan keningnya. Arumi hanya menjawab dengan anggukan.
"Hotel? apa selama ini dia menjadi barbar seperti ini, tanpa menunggu waktu yang lama dia langsung mengajakku ke hotel?" Gumam Daffa namun dalam hatinya. Sempat ia berpikiran negatif kepada Arumi, namun segera ia buang jauh-jauh pikiran itu. Karena yang terpenting sekarang, yang di bawa Arumi ke hotel adalah dirinya.
Mobil yang mereka kendarai kini telah sampai di depan bangunan megah itu. Daffa tersenyum melihat ke arah Arumi, begitupun sebaliknya. "Makasih ya sudah mau mengantarku!" Ucap Arumi yang kemudian membuka pintu mobilnya untuk turun. "Hati-hati di jalan." lanjutnya sembari melambaikan tangan.
"Ap, apa?" Daffa terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Arumi. Apakah maksudnya dia hanya di anggap sebagai seorang supir?
Tidak tinggal diam Daffa bergegas memarkirkan mobilnya dan kemudian segera membuntuti Arumi. Tangan yang mengepal dan nafas yang terengah-engah menunjukkan betapa kesalnya seorang Daffa. Apalagi jika memikirkan apa yang akan di lakukan oleh Arumi di hotel ini. Dan siapa yang akan dia temui. Argh... membuat Daffa frustasi.
Arumi masuk ke salah satu kamar di sana. Dan Daffa berhasil mengikutinya, tetapi satu rintangan lagi yang ia harus lewati. Yaitu bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke dalam. Tidak mungkin kan kalau terang-terangan menampakkan wajahnya di depan Arumi.
Lama Daffa berdiri di depan pintu kamar dimana di dalamnya ada Arumi. Sempat ia menempelkan telinganya ke dinding pintu untuk menguping pembicaraan yang ada di dalam sana. Betapa terkejutnya dia, saat mendengar ada suara laki-laki di dalam kamar, dan sepertinya bukan hanya satu orang.
__ADS_1
Nafas Daffa semakin menderu, ingin rasanya mendobrak pintu kamar saat itu juga. Untung saja Daffa masih bisa mengendalikan dirinya.