
Beberapa bulan telah berlalu, kehamilan Calysta pun sudah membesar. Hanya tinggal menghitung minggu untuk segera menjadi seorang ibu.
Febi dengan Putri juga sudah menikah, kini mereka menjalin ikatan keluarga, hubungan yang harmonis mereka jalin. Hari-hari bahagia dan sedih mereka lewati bersama.
Begitu juga dengan Aldo dan Melisa. Mereka menikah sebulan sebelum Febi dan Putri menikah.
Tetapi, akhir-akhir ini Calysta sering mendapat teror dan kiriman paket yang isinya selalu menjijikkan. Entah bagaimana itu terjadi, satpam dan para penjaga di luar pun selalu lengah, sampai-sampai terkena amukan Justin karena mereka di anggap tidak becus.
Dan lebih menjengkelkan lagi, paket itu selalu datang bila Justin sedang tidak ada di rumah.
Calysta hanya tinggal dengan 3 orang pelayan rumah.
Mami Justin juga sedang berada di luar negeri bersama suaminya, untuk menjalankan bisnis dan sesekali sambil liburan.
Calysta tidak tega untuk memberitahu kan nya kepada mereka.
Sejak kejadian itu, Mami Calysta kini menginap di sana untuk menemani 'Angel' kesayangannya itu.
Dan penjagaan pun semakin di perketat.
Justin tidak tinggal diam saja atas apa yang telah terjadi kepada istrinya, dia telah membayar seorang penyelidik yang cukup hebat, untuk menyelidiki siapa yang berani berbuat seperti itu kepada istrinya.
Semua orang khawatir akan hal ini, apalagi dengan keadaan Calysta yang tengah hamil besar. Jangan sampai hal buruk mempengaruhi suasana hati dan pikirannya.
Dalam 2 hari, penyelidik telah memberikan info kepada Justin tentang orang yang meneror istrinya itu. Segala hal yang di lakukan oleh peneror itu telah tercatat rinci dalam laporannya.
"Kurang*jar, lagi-lagi dia orang nya, tidak pernah jera." Justin geram setelah tahu siapa yang meneror istri tercintanya.
Ia segera menghubungi Farrel, "Segera ke rumah ku sekarang!" lalu menutup ponselnya.
Tanpa banyak berpikir, Farrel bergegas menuju ke rumah Justin. Tidak memakan waktu lama, Farrel telah sampai di rumah Justin. Karena selain jago berbisnis dia juga pengemudi yang handal, memang pantas menjadi kaki tangan Justin di perusahaan.
Farrel menemuinya di ruang kerja, di rumah Justin.
Tak! Justin melemparkan berkas berisi informasi itu ke hadapan Farrel, lalu dia membuka dan melihat isinya.
"Ck, ternyata Manohara, setelah dia keluar dari rumah sakit ternyata dia masih tidak kenal ampun." Ujar Farrel.
"Ya, kali ini jangan kasih ampun lagi." Ucapnya dengan nada dingin dan kesal.
"Oke, aku akan mengirimnya ke tempat yang jauh dan aku pastikan dia tidak akan di terima di negara ini lagi." Farrel ikut geram.
"Lakukan." Tegas Justin.
Farrel beranjak pergi dari sana untuk menjalankan misinya.
*
Suatu hari Calysta mengajak Justin untuk berjalan-jalan bersama nya,
"Badan ku terasa kaku, mungkin dengan berjalan-jalan akan membuatku merasa lebih baik!." Ujar Calysta kepada suaminya.
Justin menyetujui permintaannya, dengan catatan Calysta tidak boleh terlalu lelah dan dia sendiri yang akan mengantar nya untuk pergi jalan-jalan.
Mereka berjalan-jalan ke sebuah Mall dan sekalian untuk membeli perlengkapan bayi yang di butuhkan nya.
__ADS_1
"Ini lucu sekali!" Ujarnya saat melihat baju bayi bermotif boneka.
"Sayang, bayi kita kan laki-laki." Sanggah Justin.
( Saat pemeriksaan USG, memang bayi mereka adalah laki-laki )
"Iya aku tau, cuma gemes aja kok sayang." Jawabnya sambil membelai pipi suaminya.
Kemudian Calysta memilih pakaian untuk bayi laki-laki yang ada di dalam rahimnya.
"Sayang, menurut kamu bagus yang mana! ini atau yang ini?." Tanyanya kepada Justin sambil mengacungkan kedua set pakaian bayi.
"Hm? Terserah kamu mana yang disuka." Ujar Justin bingung untuk memilih.
"Mmm... tapi aku suka semuanya." Ucap Calysta sambil memilih.
"Ya sudah, beli semua yang kamu suka." Ujar Justin dengan santai nya.
Banyak pakaian dan barang-barang yang dia beli, mulai dari baju, sepatu, kupluk, kaos tangan, kaos kaki, dll.
Saat itu Calysta sedang melihat-lihat dan memilih gendongan bayi. Entah dari mana dan sejak kapan, ternyata Manohara telah mengikuti mereka.
Saat Justin lengah, Manohara bergegas berlari ke arah Calysta dan mendorongnya hingga terjatuh, membuat Calysta meringis kesakitan.
"Masa bodoh, kalau pun aku tertangkap oleh orang-orangnya, setidaknya aku telah membuat Mu hancur, hahaa." Pekik Manohara dengan seringai kemenangan nya.
Ternyata dia sedang dalam kejaran Farrel dan anak buahnya, tetapi tetap bertekad untuk melukai Calysta.
Saat itu tidak lama Manohara telah tertangkap oleh Farrel dan orang-orangnya.
Lalu di laporkan kepada polisi atas tuduhan percobaan pembunuhan. Kemudian dia di penjarakan di tempat yang asing.
dia menangis kesakitan, banyak orang yang menghampiri dan menolong nya, segera Calysta di bawa ke rumah sakit.
"Dokter... dokter." Justin berteriak ketika baru saja memasuki rumah sakit.
Dokter dan perawatnya telah siaga dengan peralatan yang akan mereka gunakan.
Calysta di bawa keruangan persalinan.
Dokter segera menangani nya,
"Silahkan tunggu di luar Pak." Ucap Suster.
*
"Bagaimana dok?" Tanya salah satu suster.
Dokter mengangguk, "Dia akan melahirkan, dan masih bisa melahirkan dengan normal, persiapkan semuanya."
"Baik."
"Tarik napas dalam-dalam Bu." Ujar salah satu suster.
Calysta sedang berjuang untuk melahirkan secara normal. Sekuat tenaga Calysta lakukan, keringat bercucuran hingga membasahi baju nya.
__ADS_1
30 menit berlalu , dan terdengar hingga keluar suara tangisan bayi.
"Oe... oe... oe..."
Suster kemudian keluar, dan mempersilahkan Justin untuk masuk. Bergegas Justin menghampiri istrinya dan melihat keadaannya.
Saat itu Calysta terlihat pucat dan lelah,
"Istri dan Bayi anda baik-baik saja." Ujar Dokter. "Untung saja anda segera membawanya kesini, sehingga tidak terjadi pendarahan terlalu banyak."
"Terimakasih Dokter." Ucap Justin.
"Bayi anda laki-laki." Ujar seorang Suster sambil menggendong Bayi nya di hadapkan ke wajah Justin.
"Alhamdulillah..."
Justin segera mengumandangkan adzan di telinga bayinya.
Perasaan bahagia dan terharu, tersirat dari wajah Justin.
"Sayang ini Bayi kita." Ujar Justin sambil melihatkan Bayi nya kepada Calysta.
Bibir pucat itu tersenyum "Dia mirip kamu!." Ujarnya lirih.
"Kamu akan memberinya nama apa?." Justin meminta pendapat istrinya.
"Mm... menurut kamu bagaimana?"
"Hm, banyak nama yang aku pikirkan! tapi untuk sekarang kesehatan mu lebih penting." Ujar Justin sembari mengelus kepala istrinya.
"Iya, Mami sama Papi udah di kasih tau belum kalau Bayi kita sudah lahir?" Tanya Calysta.
"Sudah, mungkin sebentar lagi mereka tiba."
"Angel, kamu baik-baik saja kan sayang?." Begitu datang Mami nya segera menanyakan kabar anak semata wayangnya, karena yang mereka tahu Calysta di dorong oleh Manohara dan mengalami pendarahan.
"Aku baik-baik aja Mi, lihat sendiri kan!." Ujar Calysta tersenyum.
Di dapati anak nya baik-baik saja, ia baru bernafas lega dan menoleh ke arah si Jabang bayi.
"Cucu kita Pi," Ujarnya sambil menggendong cucu mereka.
"Ganteng ya Pi, sangat menggemaskan." Ujarnya lagi sambil menatap cucu nya.
"Iya, siapa dulu dong Kakek nya." Menunjuk dirinya dengan bangga.
"Hish, tidak tahu malu." Gumam nya pelan.
"Oh iya, kalian kasih nama apa?" Tanya Mami.
"Belum Mi, kita berencana memberi nya nama setelah semuanya berkumpul." Justin menjawabnya.
"Mami dan Papi kamu sudah di beri kabar baik ini?." Tanya Mami Calysta.
"Mereka tengah dalam penerbangan kembali." Jawab Justin.
__ADS_1
"Setelah mendapat kabar pun, mereka segera bergegas memesan tiket untuk segera kembali kesini." Sambung Justin lagi menjawabnya.
"Bagus, sebentar lagi kita akan berkumpul bersama kembali dan menjadi bertambah satu orang lagi di sini." Mimik wajah yang sangat bahagia tersirat di wajah Mami Calysta.