Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 70


__ADS_3

"Tolong, tolong aku," lirih Arumi sembari menghampiri Daffa.


"Kau kenapa?"


"Tadi ada ular di kakiku," menengok kesana kemari mencari keberadaan ular itu.


"Sudah tidak ada." Ujar Daffa.


Arumi menghela nafas dengan lega. "Kau sedang apa disini?" tanya Arumi kemudian.


"Aku mencari mu." Jawabnya datar.


"Mencari ku? Untuk apa?"


Daffa tidak menjawabnya, ia lebih memilih memberikan ponsel miliknya yang sudah terhubung panggilannya dengan Sarah.


"Sarah?" saat dilihat nama dalam layar ponselnya.


"Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan Arumi?" to the point Sarah bertanya.


"Ini aku!"


"Apa? Arumi halo, kau tidak apa-apa, kau baik-baik saja, kau ada dimana?, cepat katakan padaku!" deretan pertanyaan di lontarkan oleh Sarah kepada sahabatnya yang selama ini ia khawatirkan.


"Aduh... satu satu kalau bertanya, aku bingung harus menjawab yang mana dulu." Tukas Arumi.


"Oke, oke.. Apa kau baik-baik saja?" Sarah bertanya, menurutnya hal yang terpenting adalah bagaimana keadaannya.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah... Sekarang kau ada dimana?" pertanyaan selanjutnya yang di lontarkan Sarah.


"Aku..."


Baru saja Arumi hendak menjawabnya, namun tidak sempat karena Daffa lebih dulu mengambil ponselnya lalu memutuskan panggilannya.


"Aku belum selesai bicara." pekik Arumi.


"Nanti saja, lebih baik aku mengantar mu pulang dulu." tegas Daffa dengan datar.


Arumi tidak bisa membantah lagi, karena mendengar suara Sarah tadi sepertinya ia sangat khawatir padanya.


Lebih baik ia segera kembali dan menanyakannya langsung nanti.


*

__ADS_1


Belum juga setengah perjalanan menuju mobil Daffa yang di parkirkan jauh di depan sana, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras.


Reflex Daffa menarik tangan Arumi dan membawanya berlari untuk mencari tempat berteduh.


Untung saja mereka tidak jauh dengan tempat berteduh, meski berdesakan dengan orang lain yang juga berteduh di sana, setidaknya tidak terlalu membuat mereka kebasahan.


Mereka terlambat satu langkah dari orang lain, sehingga Daffa dan Arumi hanya kebagian tempat di pinggir di ujung atap.


Tentu saja akan terkena percikan air hujan, tetapi Daffa tidak membiarkan itu terhadap Arumi.


Ia melindunginya dan membiarkan dirinya yang teriris air hujan.


Dengan posisi Arumi berhadap-hadapan dengan Daffa, karena jika ia membelakanginya justru Arumi akan berhadapan dengan orang lain, tentu saja ia enggan. Jadi memilih berhadapan dengan Daffa.


Sesekali hampir saja Daffa terdorong keluar atap, bisa-bisa ia benar-benar kehujanan dan basah kuyup. Tetapi untung saja Arumi memeluk pinggang Daffa dengan erat, agar ia tidak terlalu tersisihkan oleh banyaknya orang yang berdesakan.


Kini pipinya menempel tepat di dada bidang Daffa. Kalau saja hujannya tidak terlalu deras, mungkin suara detak jantung Daffa akan terdengar.


Tentu saja Arumi peduli, karena demi dia lah Daffa rela terpercik air hujan asalkan bukan Arumi yang terkena air hujan itu.


Harum rambutnya Arumi tercium jelas di hidung Daffa. Begitupun sebaliknya, harum badannya Daffa tercium jelas oleh Arumi.


Seketika pelukan itu membuat Arumi nyaman dan memejamkan matanya, teringat akan tubuh yang ia peluk ini pernah berada di atasnya.


Duar...


Dan berubah menjadi pelukan yang semakin erat, karena ia sangat terkejut mendengar petir.


Begitupun dengan Daffa, yang sekarang telah membalas pelukan Arumi untuk membuatnya merasa lebih tenang dan aman.


Tidak ada yang iri melihat mereka seperti itu, karena sebagian orang yang berteduh di sana telah memiliki pasangannya masing-masing.


Cukup lama hujan turun mengguyur bumi, hingga tak terasa waktu hampir saja tengah malam.


"Aku ingin pulang," rengek Arumi masih dalam pelukan Daffa.


"Iya, hujannya sudah hampir reda, hanya tinggal sedikit gerimis. Kita berlari saja ke mobil." Ujar Daffa.


Arumi menengadah melihat wajah tampan itu, menatapnya dengan tatapan terpesona. Rambut yang sedikit basah, warna bibir yang berubah karena hawa dingin, tetapi justru semakin membuatnya terlihat seksi dan menggoda orang untuk menggigitnya.


Hampir saja Arumi lupa diri dan kehilangan kendali, untung ia cepat tersadar.


Daffa melepaskan pelukannya dan juga melepaskan jaket yang di kenakan nya, untuk menahan gerimis sebagai pengganti payung.


Mereka berlari beriringan menerobos gerimis hingga sampai masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Daffa menjalankan mobilnya untuk membawa Arumi kembali ke penginapan.


Sesekali Arumi melirik ke arah Daffa yang sedang menyetir, terlihat bajunya yang sebagian telah basah, berbeda dengan dirinya yang terlihat baik-baik saja meskipun hanya mengenakan pakaian santai.


"Pasti dia kedinginan kan?" gumam Arumi namun hanya dalam hatinya. Menatap Daffa dengan penuh kasih.


*


Beberapa menit saja mereka telah sampai di penginapan. Daffa turun dan mengantarkan Arumi sampai masuk kedalam penginapannya.


Untuk memastikan bahwa ia telah mengantar Arumi dengan selamat sampai di dalam penginapannya.


"Akhirnya..." ucap Arumi senang setelah berada di dalam penginapan.


Daffa berbalik begitu saja setelah melihat Arumi masuk, pergi tanpa berkata-kata ataupun berpamitan.


"Tunggu," Arumi mencegahnya, membuat Daffa menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahnya.


"K, kau sebaiknya mampir dulu, mengeringkan badanmu," ucap Arumi meski agak canggung dan malu, namun ia juga punya hati tidak akan membiarkan penolongnya jatuh sakit. Meski tahu Daffa tidak selemah itu.


Daffa kembali berjalan ke arah Arumi, tanpa menjawab atau basa-basi apapun. Ia membuka sepatunya yang basah dan lalu masuk ke dalam penginapan tanpa permisi.


"Setuju begitu saja?" gumam Arumi sangat pelan.


"Disini tidak ada pakaian pria untuk mengganti bajumu yang basah, tetapi aku punya beberapa Hoodie untuk kau kenakan."


"Oke," lagi-lagi Daffa setuju begitu saja "Dimana aku boleh mandi?" tanyanya.


"Sebelah sana!" Arumi menunjuk kearah kamar yang kosong, yang di dalamnya juga terdapat kamar mandi.


Daffa pergi untuk membersihkan badannya. Sementara Arumi pergi ke kamarnya untuk mengambil Hoodie yang akan di kenakan oleh Daffa.


Baru saja ia membuka pintu, tampak Sarah tengah tidur dengan sangat nyenyak. Bahkan suara Arumi yang memanggilnya pun tidak terdengar olehnya. Ya, seperti kejadian sore tadi.


Ternyata itu sifat asli Sarah jika sudah tertidur.


"Tadi saja seolah kau benar-benar mengkhawatirkan ku, tapi apa orang yang khawatir akan tidur dengan nyenyak seperti itu." Gerutu Arumi kesal melihat sahabatnya.


"Arumi sudah aman bersama Daffa, aku akan tidur dengan nyenyak," Sarah mengigau dalam tidurnya.


Arumi tersenyum mendengar perkataan sahabatnya saat mengigau seperti itu. Karena mungkin saja itu adalah kata-kata yang paling jujur.


Kemudian Arumi kembali ke tempat dimana Daffa tadi akan pergi mandi. Dengan membawa Hoodie miliknya.


Klik,

__ADS_1


Arumi membuka pintu kamar itu, betapa ia terkejut saat melihat Daffa telah selesai mandi dan kini bertelanjang dada hanya mengenakan handuk saja.


Terkejut namun menikmati pemandangan itu. "Ini... Ini, baju gantinya."


__ADS_2