
Duarrrr...
Suara petir yang sangat kencang, dan silau kilat terlihat sangat jelas.
''kyaaaaa...."
Calysta menjerit dan ketakutan membuat Justin panik dan menghampiri nya.
''Sudah tidak apa-apa.'' Justin mengelus kepalanya.
Karena hujan yang deras disertai angin juga petir yang menyambar ke salah satu jaringan listrik di area penginapan itu. Tiba-tiba listriknya mati membuat Calysta semakin ketakutan, dan dia refleks memeluk Justin.
''Nggak apa-apa ada aku di sini, sudah cepat tidur.'' Sembari Justin memeluknya kembali.
''Aku takut, aku nggak bisa tidur.'' Calysta merengek ketakutan.
Justin menghidupkan cahaya ponsel nya, dan berkata,
''Sekarang sudah terang, ayo cepat tidur saat ini juga tidak bisa menghubungi bagian resepsionis atau yang lainnya mungkin semua orang lagi mengurus apa yang sedang terjadi.''
''Aku takut.''
''Aku disini, nggak akan kemana-mana.'' Jelasnya meyakinkan Calysta.
Akhirnya Calysta tertidur, namun dia enggan untuk melepaskan tangannya dari Justin, dia juga tertidur di pelukannya.
Justin membelai rambut Calysta disaat dia tertidur dengan penuh kelembutan dan kasih sayang terpancar di wajahnya.
Waktu semakin malam, membuat Justin merasa mengantuk dan tidak terasa dia akhirnya ikut tertidur bersama Calysta dengan keadaan Calysta masih menggenggam nya.
Terlalu lelah hingga membuat keduanya tertidur sangat nyenyak hingga esok pagi, posisi mereka pun berubah dengan keadaan keduanya berbaring di ranjang yang sama, dan posisi Calysta sedang memeluk Justin.
Calysta yang bangun terlebih dahulu.
Dengan keadaan mata yang masih merem dia bergumam di dalam hatinya,
''Mmm... nyenyak banget aku tidur, hangat dan juga nyaman. Nyaman?''
Kemudian dia tersadar akan kejadian tadi malam, dan langsung terbelalak membuka matanya.
Tampak di hadapan matanya ada Justin yang masih tidur dan juga Calysta dalam keadaan memeluk erat Justin, tangannya yang berada di atas perutnya yang kekar.
''Astaga apa yang aku lakukan, memalukan sekali, popularitas pesona mu menurun Calysta, bisa-bisanya kamu berinisiatif memeluk seorang pria.'' Gumamnya dalam hati.
''Tapi... orang ini badan nya bagus juga, otot perut nya sixpack seperti roti sobek, membuat orang ingin memangsa nya saja.'' Pikirannya yang sudah ngelantur, dan tangan yang dari tadi tidak bisa diam mengelus perutnya Justin.
Ternyata Justin sudah terbangun dari tidurnya dari tadi dan membiarkan Calysta mengelus perutnya itu. Terbangun dari tidur dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah Calysta yang tepat berada di hadapannya, membuatnya semakin bersemangat.
Dia tersenyum,
''Selamat pagi Sayang.''
Calysta terkejut dan menghentikan aksinya yang sedang mengelus perutnya Justin. Dia langsung bangkit dari tidurnya melihat sekujur tubuhnya, karena dia merasa takut kalau-kalau terjadi sesuatu tadi malam.
''Piuhh... masih utuh, baju juga nggak berantakan.'' Pikir nya dalam hati Calysta.
''Hmptt... tenang saja aku tidak melakukan apapun, malahan aku takut kamu yang nggak tahan ingin terus peluk aku dengan erat, atau mungkin melakukan hal lain ketika aku masih tidur.'' Justin menahan tawanya, dan menyindir apa yang tadi telah dilakukan oleh Calysta terhadap nya.
Wajah Calysta seketika memerah, karena kelakuannya yang di luar kendali itu.
''Aku nggak keberatan kok kalau kamu masih ingin mengelus ini.'' Ucap Justin tersenyum sambil memegang perutnya.
''Justin... bisa diam gak, sudah aku mau mandi dulu.'' Teriaknya dan lalu pergi ke kamar mandi.
Justin masih dalam keadaan seperti tadi dan membiarkan Calysta pergi.
Tiba-tiba langkah Calysta terhenti, teringat bahwa dia ada di penginapan dan tidak ada baju ganti.
''Aku sudah memesan baju ganti, mungkin sebentar lagi sampai.'' Ucap Justin seakan mengerti apa yang di pikirkan Calysta.
''Benarkah?.''
__ADS_1
''Hmm.'' Justin mengangguk.
Calysta melanjutkan langkahnya dan langsung menuju kamar mandi.
''Orang itu pengertian juga, dan tidak melewati batas, benar-benar dapat di percaya, pantas saja Mami sama Papi menyukai nya.'' Pikirnya Calysta di saat mandi.
Sementara itu Justin sedang menyiapkan sarapan yang di pesan nya, pakaian yang di pesan nya juga telah tiba dan disimpannya di atas kasur.
Calysta yang telah selesai mandi dan keluar dari kamar mandi.
''Hmm harum makanan.'' Ucapnya saat mencium bau makanan yang di pesan Justin.
''Iya, makanan yang aku pesan sudah di siapkan, sekarang gantian aku yang man...di,'' Kata-katanya Justin terputus saat melihat Calysta yang mengenakan handuk dan hanya menutupi setengah badannya.
Kulit putih nan mulus, pinggang yang ramping, pinggul yang agak lebar, juga dada yang berisi. Justin melihat semua itu dan hampir membuat pikiran nya traveling, namun dia secepatnya mengalihkan pandangannya.
''Ehem, bajunya di atas kasur, aku mandi dulu.'' Ucap nya sambil terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.
''Sadar Justin sadar, tahan iman mu. Calysta apa kamu tahu yang kamu lakukan? aku juga seorang lelaki normal.'' Gumamnya saat mandi.
Calysta memakai kaos berwarna putih yang bertuliskan I Love You.
''lumayan.'' Ucap Calysta saat bercermin.
Setelah itu dia pergi ke meja makan dan di lihatnya makanan yang di siapkan oleh Justin.
'' Benar-benar pengertian, tunggu dia selesai mandi deh biar makan sama-sama.'' Gumam Calysta sambil tersenyum.
Cklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Calysta menengoknya dan hendak mengatakan untuk sarapan bersama, namun saat Calysta melihat ke arah Justin,
''Kyaaaaa....'' Teriak Calysta sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Justin terkejut dan langsung menghampiri nya,
''Ada apa, kamu kenapa?.'' Tanya Justin dengan panik.
Justin tersenyum melihat tingkah lakunya yang imut, dia kira terjadi sesuatu padanya ternyata bukan, itu karena melihat Justin yang tidak memakai baju dan hanya mengenakan handuk kecil di pinggang nya.
''Kenapa? bukannya kamu suka?.' Justin menggoda nya sambil menarik tangan Calysta dan menempelkan nya di perutnya. Matanya Calysta masih terpejam.
''Bukannya tadi kamu mengelus nya seperti ini!.'' Sambil di mainkan nya tangan Calysta.
''Justin... stop.'' Teriak nya sambil mendorong Justin.
Namun apa yang terjadi dia malah ikut terjatuh karena Justin masih memegang tangan nya.
Brukk... terjatuh dan
Cup...
lagi-lagi tidak sengaja Calysta mencium bibir Justin, namun kali ini Justin malah semakin memperdalam bibirnya dan berciuman dengan lembut.
Calysta hendak bangun dan melepaskan ciumannya, tetapi Justin yang berada di bawah badannya, memeluk pinggang Calysta dan menahannya untuk tidak bangun.
''Justin kamu-,'' Ucapnya Calysta yang hendak mengomel, namun ucapan nya terhenti karena dia merasa ada yang berbeda di bawahnya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Justin yang masih memeluk pinggangnya berusaha untuk menahan nya dan mengendalikan diri nya.
''Jangan bergerak, kalau tidak aku tidak akan menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya.'' Ujar Justin kepadanya.
Mendengar itu Calysta merasa takut dan mencoba menuruti apa yang di katakan nya. Meskipun keadaan Calysta sama seperti yang di rasakan oleh Justin.
Wajah Justin memerah, melihat Calysta yang semakin imut saat panik.
''Lalu aku harus bagaimana?.'' Ucap Calysta yang kebingungan.
''Diam dulu sebentar.'' Jawabnya, Justin seperti sedang mengerjainya.
Calysta terdiam,
__ADS_1
''Nggak, gak bisa seperti ini terus, kalau begini terus akan sulit di kendalikan.'' Pikirnya Calysta dalam hati.
Akhirnya Calysta bergegas bangun secepat mungkin,
''Justin... dasar mesum.'' Teriaknya.
''Cepat pakai baju mu, dan langsung sarapan, aku ingin segera pulang.'' Dengan nada yang sedikit kesal.
Justin tersenyum dan segera memakai pakaian nya. Sedangkan Calysta sudah duduk di kursi meja makan yang membelakangi Justin.
''Ayo kita mulai.'' Bisik Justin dari belakang yang mendekat ke telinga Calysta.
''Iihh, Justin cepat pakai bajunya.'' Lagi-lagi dia berteriak.
''Sudah, aku sudah memakai nya.'' Berjalan dan duduk berhadapan dengan Calysta.
Calysta bingung melihat baju yang di kenakan Justin.
''Bajunya, couple?.'' Tanyanya bingung.
''Hemm, iya samaan.'' Justin menjawab.
''Kamu sengaja?.'' Tanyanya lagi tegas.
''Astaga Calysta, kalau kamu bicara terus kapan kita mulai makannya.'' Celoteh Justin mengeluh.
Melihat Calysta yang cemberut, akhirnya Justin mencoba menjelaskan nya.
''Haishh... ini nggak sengaja, aku menelepon penjual nya dan bilang aku pesan baju satu set untuk laki-laki dan perempuan, lalu penjual nya bertanya 'Buat pasangan mas? Lalu aku jawab lagi 'Iya' dan akhirnya dia malah kirim yang seperti ini.'' Penjelasan Justin yang panjang lebar.
''Pantas saja dikirim nya baju couple , kamu juga jawabnya seperti itu, jadi penjualnya salah paham.'' Tangkas Calysta.
''Memangnya aku salah? kita memang pasangan kan.'' Tanya Justin lemah.
''Bukan begitu, kita memang pasangan, maksud aku agak canggung juga kita keluar bersama dan di lihat semua orang, bajunya samaan pula.'' Jelas Calysta.
''Aku mengerti.'' Jawab Justin tak berdaya.
Mereka memulai sarapannya hingga selesai.
Setelah itu Justin bergegas keluar tanpa mengajak Calysta.
''Aku tunggu di mobil.'' Ucap nya Justin dingin.
''Apa aku sebegitu tidak pantas nya menjadi pasangan mu, sampai-sampai pakaian saja kamu permasalahkan.'' Pikirnya saat berada di dalam mobil saat menunggu Calysta.
Beberapa saat kemudian Calysta sampai di parkiran dan masuk kedalam mobil.
Tanpa banyak bicara Justin menjalankan mobilnya dan pergi dari penginapan itu.
Di tengah perjalanan Justin memberhentikan mobilnya di salah satu pusat perbelanjaan yang kebetulan dia lalui.
''Tunggu sebentar.'' Ucapnya kepada Calysta masih dingin dan tanpa ekspresi.
Calysta bertanya-tanya ada apa dan kenapa dengan sikap nya yang tiba-tiba berubah menjadi dingin, namun dia tidak terlalu memikirkan nya dan menunggu nya di dalam mobil.
Tidak lama Justin kembali dan masuk kedalam mobil dengan pakaian yang berbeda. Rupanya dia membeli sebuah kaos dan langsung mengganti pakaian yang dia pakai tadi.
Calysta yang menyadari hal itu seakan ingin bertanya, namun dia teringat dengan perkataan nya tadi saat sarapan.
Bahwa itu semua karena perkataan nya tadi.
Deg,
''Kenapa hatiku merasa sakit, karena perkataan ku tadi membuat Justin menjadi seperti ini.'' Gumam Calysta dalam hati nya dengan rasa penyesalan.
Justin mengantarkan Calysta ke rumahnya dengan selamat.
Calysta turun dari mobilnya dan hendak mengajak nya mampir ke rumahnya, namun tidak sempat mengatakan itu Justin langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Terimakasih sudah membaca,
__ADS_1
jangan lupa dukungan nya yaa...