
Hari berganti hari dan waktu pun telah berlalu. Tiba saatnya di hari pernikahan Justin dan Calysta.
Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun.
Di Aula Gedung yang sangat megah, resepsi pernikahan itu di laksanakan.
Para tamu undangan semuanya sudah datang untuk menghadiri acara pesta pernikahan mereka. Juga termasuk semua karyawan di Kantor dan orang-orang terpandang lainnya, ikut menghadiri pesta megah itu.
Tentu saja, siapa yang tidak tahu
Justin Gull pemilik perusahaan terbesar yang anak perusahaan nya menyebar di berbagai wilayah.
Mempelai Wanita dan mempelai Pria telah di dandani oleh profesional MakeUp.
Dan di layani oleh para pelayan di ruangan yang berbeda dengan mempelai pria.
Kini tiba waktunya pengantin memasuki Aula utama. Justin telah menjemput mempelai
wanitanya di ruangan lain.
Kedua mempelai berjalan bergandengan di karpet merah yang terhampar memanjang hingga ke kursi pelaminan.
Gaun putih yang indah di kenakan oleh Calysta, juga riasan pengantin yang membuat wajahnya semakin cantik bagaikan Bidadari turun dari khayangan.
Setelan Jas putih di kenakan Justin,
juga sangat cocok di kenakan di badannya yang gagah dan kaki nya yang panjang.
Wajah tampan bercahaya bagaikan Pangeran menjemput sang putri.
Pasangan yang serasi.
Tidak sedikit orang yang iri dengan pernikahan mereka. Kenapa? karena banyak perempuan yang mendambakan posisi itu.
Penghulu juga para saksi tengah berada di sana.
Ijab qobul siap di laksanakan.
Ayat-ayat pun sudah di bacakan,
janji suci telah di ucapkan,
dan akhirnya mereka resmi menjadi suami istri.
Kini mereka telah terikat dalam satu ikatan yaitu Keluarga.
Sorak gembira dan ucapan selamat dari para tamu telah mereka sampaikan kepada kedua mempelai.
Wajah bahagia terlihat jelas dari
kedua orang tua mempelai.
''Jeng akhirnya kita menjadi besan!''
Ujar Mami Justin kepada Mami nya Calysta.
''Iya!'' Senyum bahagia memeluk besannya.
Begitu juga dengan Papi Justin dan
Papi nya Calysta tertawa terbahak, bahagia atas pernikahan putra dan putri nya.
Yang mereka harapkan akhirnya terwujud.
Waktu berlalu, hari sudah sangat malam.
__ADS_1
Namun para tamu masih banyak yang berdatangan dan pergi. Meskipun Calysta dan Justin sudah sangat lelah, tetapi tidak mungkin meninggalkan para tamu begitu saja.
''Sayang ini sudah larut. Kasihan kalian pasti sudah lelah. Lebih baik kalian pulang lebih dulu dan beristirahat, biar Mami sama Papi yang menyambut para tamu.'' Ujar Mami Justin dengan wajah yang kikuk seperti ada sesuatu yang di harapkan nya.
Justin memandang wajah Calysta yang memang terlihat sudah lelah.
''Baiklah, aku serahkan semuanya sama Mami. Kita akan pulang lebih dulu.''
Ujar Justin menyetujui usul Mami nya.
''Ayo sayang kita pulang.'' Ajak Justin kepada Calysta yang kini sudah sah menjadi istrinya. Calysta mengangguk dan mereka beranjak untuk pulang.
''Oke boy, bekerja lah dengan baik.'' Bisik Mami nya kepada Justin.
Justin hanya melirik Mami dan berpura-pura tidak mendengar sesuatu.
Kemudian Papi Justin menghampiri istrinya.
''Gimana Mi, mereka sudah pulang duluan?'' Tanya nya.
''Iya. Ah aku sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu.'' Jawab nya dengan antusias. Seolah membuat bayi semudah seperti mengadon bahan roti yang bisa langsung jadi hari itu juga.
Tidak memakan waktu lama, tiba lah di rumah Justin. Kali ini mereka di antar oleh Pak Supir bukan bersama Farrel, karena Farrel masih dalam sebutan pengantin baru, jadi tidak pulang terlalu larut.
Sebelumnya Calysta telah sepakat kalau setelah menikah dia akan ikut bersama suaminya dan tinggal di rumah suaminya.
Mereka berdua memasuki kamar yang disebut kamar pengantin. Dulunya adalah kamar tidur Justin dan sekarang menjadi kamar pengantin mereka berdua.
Tok. tok.
Seorang pelayan rumah mengetuk pintu kamar pengantin itu. Perintah dari Mami Justin untuk mengantarkan pakaian ganti untuk Calysta.
''Tuan muda ini pakaian ganti untuk Nona.''
Suara pelayanan perempuan di balik pintu kamarnya.
Pelayanan rumah membungkukkan setengah badannya untuk berpamitan dan permisi.
Kala itu Calysta sedang mandi untuk menyegarkan badannya setelah acara yang melelahkan.
Cklek!
Calysta membuka pintu bathroom dan telah selesai mandi. Mengenakan handuk yang di siapkan oleh pelayan sebelumnya.
''Sudah selesai?'' Tanya Justin.
Calysta mengangguk menjawab pertanyaan Justin.
''Itu pakaian ganti nya. Mami yang kirimkan tadi.'' Ujar Justin sambil menunjuk sebuah tas belanja yang di antarkan oleh pelayan tadi.
''Hmm. besok aku akan mulai berkemas untuk membawa pakaian dan barang-barang keperluan aku kesini.'' kata Calysta.
Justin mengangguk ''Aku akan membantu.''
kemudian giliran Justin untuk mandi.
Percakapan yang sedikit kaku, mungkin karena status mereka yang baru, yaitu sepasang suami istri.
Sementara itu Calysta berpakaian dan memakai pakaian yang dikirimkan tadi
pemberian dari Mami nya Justin.
Srrash. srrash.
Suara gemercik air yang mengalir dan membasahi tubuhnya Justin.
__ADS_1
Hingga beberapa lama, Justin telah selesai dan keluar dari kamar mandi. Memakai handuk setengah badan yang melingkar di pinggangnya.
Terlihat tubuhnya yang gagah dan kekar.
Juga otot perut yang menonjol bagaikan
roti sobek.
Tetesan air yang jatuh dari rambutnya yang basah, menyusuri pipi, dagu hingga ke lehernya yang panjang dan jakun yang menonjol. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
Tanpa terasa Calysta bengong melihatnya,
mengagumi ciptaan Tuhan yang indah itu.
''Sayang, tolong keringkan rambut ku yaa!'' Ujar Justin sambil memberikan handuk kecil kepada Calysta.
''Ah, Eh iya sini.'' Seketika Calysta tersadar dari bengong nya.
Lalu Justin pun duduk di atas kasur.
Calysta mengikutinya tepat di belakang Justin dan berada di balik punggungnya yang lebar.
Calysta menggosok-gosok kepalanya Justin untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil.
Kala itu, tidak sengaja Justin menengok cermin yang berada tepat di samping tempat tidurnya.
Dan melihat bayangan dirinya bersama Calysta yang sedang mengeringkan rambutnya, dengan posisi setengah duduk karena menyeimbangi badan Justin yang tinggi.
Tampak terlihat Calysta yang memakai gaun malam ( baju tidur sexy ) yang tipis menerawang. Sehingga membuat lekukan tubuhnya yang indah terlihat.
Pinggang yang ramping, pinggul yang lebar, dan dada yang menonjol. Membuat wajah Justin memerah saat melihatnya.
Justin mengusap wajahnya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Astaga. Mami benar-benar tau apa yang akan terjadi, jika aku melihat Calysta yang memakai gaun malam seperti itu.'' Gumamnya dalam hati.
''Kamu kenapa?'' Tanya Calysta yang melihat Justin seperti sedang gelisah.
Justin menghela napas panjang 'Piuhh'
''Aku gak apa-apa.'' Justin menjawab sambil berbalik menghadap Calysta.
Calysta menatapnya. Entah apa yang akan di lakukan oleh Justin ia pun tidak tahu.
Hingga beberapa saat mereka saling menatap satu sama lain. Suasana yang berubah menjadi hening dengan pemikiran mereka masing-masing.
Dan kemudian, Justin mendorong tubuh Calysta perlahan, hingga terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh Justin yang menindih nya.
Tanpa suara sepatah kata pun. Justin melanjutkan langkahnya. Mencium bibir Calysta yang manis dengan lembutnya,
turun ke lehernya yang panjang Justin mengecup nya dengan penuh gairah.
Aroma harum yang terpancar di tubuh Calysta, membuat Justin semakin bersemangat dan menjadi candu nya.
Kecupan itu turun dan turun lagi,
hingga di atas dadanya yang berisi.
Saat itu ******* lembut Calysta mulai terdengar. Tangan Justin yang tidak bisa diam, mulai menggerayangi tubuh Calysta.
Suasana menjadi semakin panas.
''Calysta, kamu siap.'' Lirih Justin di telinga istrinya.
Calysta mengangguk pelan.
__ADS_1
Justin kemudian melanjutkan untuk menunaikan hasrat nya. Melakukan nya dengan penuh kepastian, mengingat ini adalah yang pertama kalinya bagi mereka berdua.
Malam pertama itu menjadi malam yang panjang bagi pengantin baru.