Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
SEASON 2 ( prolog )


__ADS_3

Daffa dan Arumi bersekolah di sekolah yang sama hingga duduk di bangku SMP.


Meskipun kelas mereka berbeda 2 tahun, tetapi mereka selalu berangkat bersama ke sekolah, bahkan saat di rumah pun mereka kerap bertemu.


Daffa sering pergi ke rumah Arumi, entah untuk mengajari Arumi belajar bersama ataupun pergi bermain.


Tetapi saat menginjak usia remaja dan Daffa lulus sekolah menengah pertama, ia menginjak ke tingkat SMA mereka harus berpisah.


Daffa harus melanjutkan sekolah di luar negeri untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya, karena sebagai penerus perusahaan Papi nya, tentu saja Daffa harus memiliki kualifikasi yang bagus.


Daffa adalah anak yang sangat pintar. Semenjak tinggal di luar negeri Daffa tidak pernah berhubungan dengan Arumi lagi, bahkan kontak pun tidak ada.


Awalnya karena jarang memberi kabar karena kesibukan masing-masing, hinga lama kelamaan kehilangan kontak.


Arumi juga tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas. Banyak laki-laki yang mengejarnya, meski tidak menolak secara langsung tetapi Arumi tidak pernah menganggap serius akan hal itu. Dia hanya menjalankan apa yang ingin dia lakukan.


Ayahnya Arumi ( Farrel ) masih tetap bekerja di perusahaan Justin, namun kini dia di tugaskan di anak perusahaannya yang berada di luar kota, sehingga Arumi sekeluarga kini tinggal di luar kota.


Ibunya Arumi ( Rossa ) kini hanya di rumah saja sebagai ibu rumah tangga dan memprioritaskan perkembangan putri semata wayangnya.


Justin dan Calysta telah mempunyai satu orang anak lagi, seorang putri yang cantik seperti Calysta, bernama Cyara Alfarizi Gull.


Gadis kecil yang cantik lucu dan imut ini


berusia 5 tahun, tidak kalah dengan kakaknya,


Cyara adalah gadis kecil yang cerdas dan pintar.


Selalu mendapat peringkat di kelasnya dan banyak prestasi yang dia capai.


Dia juga punya bakat sebagai penari balet, dan menari adalah hobinya.


Di luar sana, Daffa juga sudah belajar mengelola sebuah perusahaan yang juga termasuk cabang perusahaan Papi nya.


Dia memiliki asisten yang pintar dan gesit yang dapat di andalkan, mempunyai nama Inggris Alexandros, dia sering di panggil Alex.


Alex berwajah tampan dan berkulit putih,


matanya berwarna kebiruan.


Meski sikapnya dingin dan sedikit acuh kepada semua orang, tetapi di depan Daffa, dia selalu bersikap kekanakan dan santuy.


Alex bisa berbahasa Indonesia, meskipun pengucapannya sedikit belepotan.


Beberapa tahun tinggal di luar negeri, kini Daffa sudah siap untuk kembali ke tanah air, dan menjalankan perusahaan Papi nya.


Hari ini adalah hari kepulangan Daffa, Alex juga ikut kembali bersama dengannya.


Mami dan Papi Daffa sudah menunggu di Bandara untuk menjemput anak sulungnya.


Berjalan beriringan dengan Alex dengan membawa koper besar di tangannya menuju kedua orang tuanya yang sudah menunggu.


"Kakak...." Cyara berteriak dan sambil berlari merentangkan kedua tangannya.


Saat Daffa juga ikut merentangkan tangannya untuk menyambut adiknya, Cyara malah melewati kakaknya itu dan malah memeluk Alex.


Alex dengan senang hati menyambut Cyara dan menggendongnya dengan sebelah tangan.


"Hei." Seru Daffa dengan wajah malas. Tidak habis pikir dengan adiknya, seolah tidak di anggap keberadaannya itu.


Meskipun baru bertemu, Cyara memang sering berkomunikasi dengan Alex ketika menghubungi kakaknya melalui video call.

__ADS_1


Jadi dia tidak segan lagi dan juga sudah menganggapnya seperti kakaknya sendiri begitupun sebaliknya.


"Wow, Kak Alex memang kuat, tidak seperti seseorang." Kata Cyara saat Alex menggendongnya dengan sebelah tangan, dan sambil melirik kearah Daffa.


"Wahh, sepertinya aku tadi salah membeli oleh-oleh, aku malah membeli satu set perlengkapan menari dari Merk xxx, jadi sebaiknya aku donasikan saja nanti." Celetuk Daffa dengan nada menyindir sambil melirik adiknya yang menggemaskan itu.


Sontak tiba-tiba Cyara melompat dari pangkuan Alex.


"Aku mau di gendong Kak Daffa yang super kuat." Rengek Cyara sambil meranggah tangannya.


"Oh benarkah? cium dulu dong." Ujar Daffa sambil membungkuk dan memberikan


pipinya.


"Muachh...."


Daffa langsung menggendong adik


perempuannya yang menggemaskan itu.


"Nanti oleh-oleh nya buat aku aja ya


jangan di donasikan kalau mau berdonasi uang saja, soalnya kak Daffa banyak uang." Cyara bersikap manis berharap baju perlengkapan menarinya di berikan untuknya.


"Iya." Daffa mencubit pipinya yang gemoy.


Justin dan Calysta hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, melihat tingkah laku anak-anaknya.


Sampai di rumah besar, Daffa tengah di sambut dengan banyak makanan enak dan semua adalah makanan kesukaan Daffa.


"Mmm... aku benar-benar rindu suasana di sini, apalagi masakan Mami." Ujarnya.


"Kasian deh, aku malah setiap hari makan masakan Mami." Dengan nada judes nya, lagi-lagi Cyara menggoda kakaknya.


"Oh ya?, kalau gitu siap-siap mulai hari ini kamu nggak bakal kebagian makan masakan Mami, karena aku akan menghabiskan semua nya." Celetuk Daffa membalas adiknya.


"Tidak akan aku biarkan." Cyara bersikeras yang kemudian mengambil kue kue dengan kedua tangannya.


Justin menggelengkan kepala melihat anak-anaknya yang tidak ada henti saling beradu kata.


Senyum bahagia di bibir Calysta dan Justin.


"Sudah, sudah, ayo kita makan dulu." Ajak Justin.


"Alex ayo ikut kita makan bersama dulu." Ujar Calysta


"Baik Tante." Jawabnya mengangguk dan duduk di kursi makan.


Semua orang makan bersama dengan nikmatnya dan penuh rasa kebahagiaan.


Tidak lupa Cyara yang makan dengan mulut penuh seperti takut kehabisan makanan.


Semua orang tertawa melihat tingkah Cyara yang lucu dan menggemaskan.


"Hei, jangan makan terlalu banyak nanti tambah gemuk, dan susah bergerak kalau menari." Celoteh Daffa kepada adik nya.


"Hmph." Cyara membuang muka.


"Nanti Alex gak mau gendong kamu lagi karena terlalu berat." Tambah Daffa menakuti adiknya.


Mendengar itu Cyara tiba-tiba ciut dan menyimpan makanan yang sudah ia genggam di kedua tangannya, lalu dia berhenti makan kemudian minum segelas air.

__ADS_1


"Haha...." Daffa tertawa kecil.


Alex juga tersenyum melihat adiknya Daffa yang menggemaskan.


Selesai makan, Daffa dan Papi nya berbincang di ruang tamu di ikuti oleh Alex.


"Kali ini kamu harus sudah siap untuk mengelola perusahaan Papi, kamu juga adalah satu-satunya harapan Papi." Ujar Justin kepada putra sulungnya.


"Siap Pi." Jawabnya dengan yakin.


"Alex, om juga percayakan sama kamu, tolong bantu Daffa." Ucap Justin.


"Baik om." Jawab Alex juga yakin.


"Semua berkas-berkas penting sudah Papi simpan di atas meja di ruang kerja." Ujarnya.


Kemudian Justin beranjak pergi meninggalkan mereka,


"Ahh... akhirnya aku akan menikmati rasa santuy ku." Sambil pergi menghampiri istrinya dan Cyara di taman belakang rumah.


"Haaahh... Adakah waktu satu hari saja untuk tidak bekerja, aku baru saja meninggalkan pekerjaan di luar negeri, dan sekarang baru datang dan makan dan kemudian di suguhi pekerjaan lagi." Keluh Alex menghembus napas panjang.


puk... puk... Daffa menepuk pundak Alex.


"Yang sabar ya!." Ucap Justin.


"Hei!, ini adalah pekerjaanmu tau." Alex naik darah.


"Kan ada kamu." Dengan santainya Daffa bicara.


Alex menyumpal mulutnya Daffa dengan


buah anggur, sambil pergi meninggalkannya.


Daffa melahap anggurnya dan pergi mengikuti Alex yang menuju ke ruang kerja.


"Kok, lu bisa tau ruang kerjanya ada di sini?." Tanya Daffa.


"Insting." Jawabnya datar.


"Wahh, lihat ini si orang pintar dengan insting yang tajam." Sindir Daffa sambil meledeknya dengan candaan.


"Baiklah, Ayo kita mulai." Alex duduk dan mulai membuka membaca dan mempelajari berkas-berkasnya.


Daffa menggelengkan kepala, dia sudah tahu dengan sifat Alex yang tidak bisa menunda pekerjaannya.


"Ck, lu bilang ingin istirahat walaupun satu hari, sekarang ini gua ijinkan lu untuk bermalas-malasan, sudah tunda dulu perkejaannya." Celoteh Daffa.


"Selesaikan pekerjaan, setelah itu baru gua bersantai sambil mencari cewek lokal." Ujar Alex.


"Terserah lu, gua rindu kamar dan ingin tidur." Sambil pergi ke kamar tidurnya yang dahulu.


Tidak ada yang berubah sedikitpun, kamarnya tetap seperti dahulu.


Dan telah banyak kenangan di dalamnya.


Mami Daffa hanya menyuruh pelayan untuk membersihkan nya, dan tidak untuk merubah apapun.


Daffa menghirup udara di kamarnya,


"Haaahh... penuh kenangan disini, aku juga merindukan nya."

__ADS_1


__ADS_2