
"Kenapa? katakan padaku siapa yang membuatmu menangis?" Daffa mengelus rambutnya dengan lembut.
"Aku, hiks... aku ingin pergi jalan-jalan bersama kakak," celoteh Cyara sembari melap ingusnya.
Sungguh tidak masuk akal alasan Cyara ini, menangis dengan sangat keras hanya karena ingin pergi berjalan-jalan bersama kakak nya "Tapi kakak tidak bisa Cyara, kakak harus pergi ke kantor."
"Tapi ini kan tanggal merah hiks..., kenapa kau selalu bekerja?" rengek Cyara dengan air mata yang masih tersisa.
"Mami dan Papi kan ada di rumah, Cyara jalan-jalan bersama mereka saja." Daffa mengalihkan keinginan Cyara agar tidak ingin pergi bersamanya.
"Hwaa... hwa..." Cyara kembali menangis dengan keras "Kakak tidak sayang Cyara, kakak lebih sayang dengan perusahaan hwa..."
"Sudah, sudah Cyara jangan menangis terus."
"Hiks... hiks..." Cyara masih menangis dengan tersedu.
"Oke, kakak temani Cyara ya! Cyara gak boleh menangis lagi." Daffa mengusap air mata yang ada di pipi Cyara "Sekarang Cyara pergi mandi sama bibi, dan dandan yang cantik." gemas Daffa mencubit pipinya yang gemoy.
"Siapp..." dengan gembira Cyara melompat dan tidak lagi menangis.
Daffa menghubungi Alex, memberinya kabar bahwa ia tidak akan pergi ke perusahaan karena menemani adiknya. "Kerja bagus Cyara, dengan begitu kak Alex ini juga bisa bersantai dan menikmati hari libur."
Setengah jam kemudian, Daffa telah selesai bersiap. Ia memakai celana jeans dan kaos santai yang berlogo sebuah merk terkenal. Jam tangan branded yang melekat di pergelangan tangannya, rambut yang sedikit acak-acakan seperti aktor-aktor Korea. Sungguh ketampanan yang tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
"Cyara... sudah siap belum?" Teriak Daffa karena adiknya itu belum juga turun.
"Aku sudah siap!" Cyara berlari dengan riangnya menghampiri Kakak nya. Rambut ikal panjang yang di kuncir dua, memakai baju dress berwarna merah muda bergambar boneka di depannya, sangat lucu di kenakan oleh Cyara.
"Apakah Cyara cantik!" ia berputar-putar di depan semua orang di ruang tengah.
"Sangat cantik..." Jawab Mami dan Papi nya dengan senyum di bibir mereka. Sementara Daffa dan asisten yang lainnya juga ikut tersenyum melihat tingkah laku Cyara yang menggemaskan.
"Ayo kita berangkat." Ajak Daffa sembari memberikan tangannya untuk menuntun Cyara.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan ya!" Mereka melambaikan tangannya.
Mobil mewah itu melaju dengan perlahan, dengan kecepatan standar untuk menjaga keamanan adiknya. Ya, Daffa tidak pernah menggunakan seorang supir, dengan alasan lebih puas jika menyetir sendiri. "Cyara mau pergi kemana?"
"Cyara mau pergi ke taman hiburan yang besar sekali," dengan mengangkat kedua tangannya keatas bertanda bahwa itu sangat besar.
"Ini masih pagi, taman hiburan belum buka Cyara." Ujar Daffa dengan lembut.
"Hm... iya ya, kalau begitu kita pergi ke Mall saja!"
"Mall? memangnya Cyara mau membeli apa?" Daffa menoleh ke arah adiknya.
"Ish, banyak nanya. Pokoknya ikutin aja kata Cyara." dengus Cyara sembari menyilangkan kedua tangannya di atas dada, dan bibir yang mengerucut.
"Oke, oke" Daffa pasrah, daripada nanti ia mendengar tangisannya lagi yang sangat memekakkan telinga. "Apakah Mall adalah tempat favorit para wanita? tidak Mami, tidak Cyara, semuanya sama." pikir Daffa dalam hati.
Dalam waktu dua puluh menit, mobil Daffa telah tersusun di parkiran. Baru saja Daffa mematikan mesin mobilnya, tiba-tiba dengan secepat kilat Cyara turun dari mobil dan lalu berlari ke tengah kerumunan orang banyak. Daffa sangat terkejut lalu ia segera berlari dan menyusul Cyara, untung saja tidak kehilangan jejaknya.
"Cyara hati-hati jangan jauh-jauh dari kakak ya!" Daffa meraih tangan adiknya itu, dengan nafas yang sedikit terengah. Cyara hanya menjawabnya dengan anggukan.
Kadang Cyara juga minta di gendong karena merasa kelelahan. Tidak sedikit mata yang memandang Daffa, beranggapan bahwa ia adalah seorang duda beranak satu. Bahkan ada beberapa wanita yang menggodanya untuk menjadi ibu sambung Cyara, atau lebih tepatnya menjadi istri Daffa.
"Gadis kecil, apa kamu mau menjadi anak aunty?" seorang wanita tersenyum dengan bibirnya yang merah merekah, mencoba merayu gadis kecil anak dari seorang duda.
"Aku tidak mau, aunty make up nya sangat tebal, dan bibirnya..., " Cyara tidak melanjutkan perkataannya karena Daffa lebih dulu mencubitnya "Aw..." pekik Cyara sembari mengusap lengan atasnya "bibir aunty seperti seorang pemain debus," Cyara melanjutkan omongannya tanpa memperdulikan kakaknya itu.
Huft,
Daffa mencoba menahan tawanya, lalu memalingkan wajah agar tidak membuat malu wanita itu, karena di tertawakan olehnya.
"Ayo Daddy kita pergi" ucap Cyara dengan manja sambil tangan yang menengadah minta di gendong.
"Hah? iya." Daffa menuruti kemauan Cyara, lalu kemudian melanjutkan langkahnya, dan berlalu dari wanita merah merekah itu "Permisi nona." pamit Daffa.
__ADS_1
"Cyara gak boleh jahil, kasian dia," ujar Daffa namun dengan tawa yang sedikit terbahak.
"Biar saja, wanita seperti itu tidak pantas bersamamu." Ketusnya "Ah benar juga! apa kak Daffa sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Cyara menantikan jawaban kakaknya.
Daffa termenung sejenak, "Tidak ada." jawabnya singkat.
"Apa kau terlalu banyak memilih? karena tidak mungkin jika tidak ada yang menyukaimu!" tukas Cyara.
"Itu bukan urusan anak kecil." Daffa mencubit hidung adiknya "Sekarang apa sudah selesai belanjanya?"
Cyara mengangguk "Sekarang aku ingin ice crime!" seolah lidahnya meneteskan air liur.
"Baiklah, kita beli ice crime" Daffa menambah kecepatan langkahnya.
Tiba-tiba ponsel Daffa bergetar di dalam saku celananya, "Cyara turun dulu, kakak akan menjawab panggilan." Daffa menurunkan Cyara dari gendongannya.
Sebentar saja Daffa mengalihkan pandangannya dari Cyara, ia sudah hilang dari pandangan matanya.
Daffa benar-benar terkejut, berlari ke sana kemari untuk mencari adiknya, mencoba mendatangi penjual ice crime, namun tetap saja tidak menemukan nya.
"Astaga Cyara, dimana kamu." Daffa mengusap rambutnya dengan kasar. Mencoba lagi dan lagi untuk mencarinya.
Sementara di sisi lain, di bawah atap gedung yang sama. Cyara berdiri di tengah banyaknya orang, ia celingukan mencari kakaknya namun tidak melihatnya.
"Kamu kenapa gadis kecil?" Tanya seorang pria dewasa memakai jaket hitam dan celana jeans.
"Aku... aku tidak apa-apa," Cyara berlari menjauhi pria itu, mengingat pesan Mami nya jika bertemu dengan orang yang tidak di kenal dan berwajah seram, ia harus segera lari dan mencari bantuan.
"Aunty..." Cyara berteriak dan tiba-tiba memeluk seorang gadis cantik di depannya.
"Kamu siapa?" Tanya gadis itu dengan lembut dan berjongkok untuk menyeimbangi nya.
"Aunty cantik, tolong Cyara! Cyara terpisah dari Daddy." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Gadis itu termenung sejenak "Cyara? dimana aku mendengar nama itu ya?" gumamnya dalam hati, namun tetap saja tidak mengingatnya.