Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
bercak merah


__ADS_3

Sementara di bawah sana Daffa sedang bergerak sambil merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan, dan tangan Daffa yang tidak tinggal diam ia memainkan dua aset kembar milik Arumi.


Membuat wanitanya mendesah kenikmatan, dan meminta lebih. Daffa mempercepat gerakannya di bawah sana, lagi dan lagi hingga sedikit lagi sampai di puncaknya.


Dan tangan yang masih memainkan aset kembar itu, membuat Arumi mengerang memejamkan matanya dan, akh...


Ia telah sampai di puncaknya, lalu meminta jeda kepada Daffa.


Hanya sebentar saja, Daffa yang belum sampai di puncaknya kembali bergerak di bawah sana.


Hingga beberapa menit, ia semakin mempercepat gerakannya,


Akh...


Daffa menjatuhkan badannya di atas tubuh Arumi lalu mencium keningnya yang basah karena berkeringat.


"Emph.. kau berat," Arumi mendorong dada bidang itu meski tidak bertenaga.


Lalu Daffa menggulingkan badannya di samping Arumi, dan melepaskan persatuan mereka.


Tanpa terasa keduanya telah tertidur dengan lelap.


*


*


Esok harinya, cahaya mentari tengah menyinari wajah Arumi melalui celah jendela.


Perlahan ia membuka mata karena silaunya. Ia hendak bangkit namun sesuatu terasa berat di bagian perutnya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat ada tangan yang tengah memeluknya, lalu menengok ke arah si pemilik tangan.


Dan lagi-lagi membuat matanya terbelalak saat melihat Daffa yang masih tertidur berada di sampingnya. Kemudian ia beralih menatap dirinya sendiri sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Benar saja, ia tidak memakai pakaian sehelai pun. Arumi mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, namun sulit untuk berfikir.


Untuk saat ini ia lebih baik bangun dan pergi membersihkan badan sebelum Daffa terbangun.


Perlahan ia menurunkan tangan Daffa yang masih ada di atas perutnya. Lalu ia hendak bangkit dan berniat untuk turun dari tempat tidurnya "Ssshh..," sesuatu terasa sakit di bagian mahkotanya, di tambah kakinya yang terasa lemas.


Ia kembali membaringkan tubuhnya "Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Gumam Arumi.


Ia mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin atau pun semalam. Berawal pergi kencan bersama dengan Reyhan di sebuah Restaurant, dan kemudian ia menyiramkan segelas anggur ke atas kepalanya.


"Anggur!"

__ADS_1


Seolah Arumi teringat sesuatu ketika mengingat kata anggur. "Benar anggur, pasti ada sesuatu dalam minuman itu," Arumi mengepalkan tangannya "Sial, dasar Arumi bego." Ia mengumpat pada dirinya sendiri sambil memukul kepalanya.


Ia tidak pernah berpikir sampai ke sana, tidak pernah menduga jika Reyhan akan berbuat hal yang menjijikan seperti itu. Yang Arumi fokuskan hanyalah balas dendamnya saja kepada dia, tidak terkira malah ia sendiri juga terkena jebakan.


Beruntung ia tidak jatuh dalam pelukan pria brengs*k itu. Tetapi saat ini, bagaimana ia akan menghadapi masalah yang sudah pasti begitu rumit.


"Apa yang harus kulakukan?" Pekiknya lalu menoleh kearah Daffa.


"Apa yang kau pikirkan?" Ternyata Daffa sudah bangun sejak tadi, dan cukup lama memperhatikan Arumi yang sedang melamun dan berdialog sendiri.


"K.. ka.. kau sudah bangun!" Arumi begitu terkejut hingga bicaranya saja terbata. "Aku... aku hanya hendak pergi ke kamar mandi," Arumi hendak turun dari ranjangnya "Sshh..." lagi-lagi Arumi meringis merasakan sakit di bagian mahkotanya.


Daffa bangkit lalu turun dari ranjangnya menghampiri Arumi.


"K.. ka.. kau mau apa?"


Tentu saja Arumi merasa terkejut dan gelisah. bagaimana tidak, jika Daffa berjalan ke arahnya tanpa memakai baju sehelai pun.


Ia menggendong Arumi yang masih tertutup dengan selimut, membawanya masuk kedalam kamar mandi dan menurunkan nya di dalam bathtub.


Sementara Daffa membersihkan dirinya menggunakan shower di sebelah bathtub yang di pakai Arumi.


"Kau tidak pergi keluar?" Tanya Arumi heran, sembari menutup matanya dengan tangan.


"Maksudku... apa kau tidak malu mandi di hadapanku seperti itu!"


"Untuk apa malu? kau sudah melihat dan merasakannya." Lagi-lagi jawaban yang datar tanpa ekspresi.


"Ck, tidak tau malu." Arumi berdecak dan memalingkan wajahnya.


Daffa telah selesai membersihkan badannya, ia melingkarkan handuk di pinggangnya.


"Kalau kau sudah selesai panggil aku saja, nanti aku akan membantumu." Ia kemudian pergi keluar dari kamar mandi.


"Aku tidak membutuhkan bantuan mu." Teriak Arumi dengan suara yang cempreng.


Daffa memungut pakaiannya yang berserakan sembarangan di lantai, tidak sengaja melihat bercak merah di atas kasur dimana Arumi tidur semalam.


Tidak hanya pakaian miliknya, pakaian Arumi pun sama berserakannya, malah pakaian milik Arumi sepertinya sudah tidak layak di pakai karena terlalu lecek akibat aksinya semalam dan juga terlalu seksi.


Sementara di dalam sana Arumi merasa frustasi, karena setelah kepalanya di basahi untuk berkeramas. Ingatan-ingatan semalam dirinya bercinta bersama dengan Daffa mulai muncul satu-persatu hingga ia mengingat kejadian semuanya.


"Gila. benar-benar gila, Arumi mau di taruh dimana mukamu itu," pekiknya sambil mengusap wajah dengan kasar.


Teringat bagaimana dirinya yang menggoda Daffa dan menginginkan semua itu, bahkan menciumi lehernya di depan banyak orang sebelum check in disini.

__ADS_1


Arumi bergidik mengingat dirinya yang seperti itu.


"Sudahlah, anggap ini tidak pernah terjadi," ia tidak mau ambil pusing, kemudian bangkit dari dalam bathtub.


"Aw..."


Tiba-tiba terdengar suara jeritan Arumi di dalam kamar mandi.


Daffa bergegas masuk kedalam dan melihat keadaannya, benar saja nampak Arumi sedang duduk tergeletak di atas lantai.


"Kau kenapa?" Daffa segera memapah membantunya untuk berdiri.


Arumi diam saja tidak menjawab, ia terlalu malu untuk mengatakan bahwa ia terpeleset karena mencoba untuk memaksakan berjalan.


Daffa menggendongnya dan membawanya hingga ke atas tempat tidur.


Terlihat sprei yang sudah di ganti oleh pelayan kebersihan hotel, juga terdapat tas belanjaan berisi pakaian.


"Itu baju ganti mu." Daffa menunjuk ke tas pakaian itu.


Tidak banyak bicara, ia segera mengenakan baju yang sudah di belikan oleh Daffa, lebih tepatnya Daffa menyuruh seseorang.


Kali ini pakaian yang lebih sopan daripada sebelumnya.


"Semalam..."


Deg,


Daffa menantikan apa yang akan di katakan oleh Arumi tentang kejadian semalam bersama dengan dirinya.


"Kita lupakan saja kejadian tadi malam, anggap saja itu tidak pernah terjadi. Kita juga sudah sama-sama dewasa dan kau pasti mengerti itu." Jelasnya.


"Dan satu hal lagi, aku juga sangat berterima kasih padamu karena telah menolong ku!" ucapnya.


"Ya, bukan masalah," sesingkat itu jawaban Daffa, meski hatinya sedikit merasa kecewa.


"Aku akan pergi ke kantor, apa kau mau ikut sekalian?" tanyanya datar.


"Tidak apa-apa, aku akan menghubungi Sarah." Jawab Arumi dengan santai.


Lalu Daffa pergi meninggalkannya di sana tanpa berkata apapun lagi.


Mobil sport yang semalam ia kendarai seperti sedang balapan, hari ini pun tidak jauh beda ia mengendarainya.


Daffa mencengkram erat stir mobilnya, "Terimakasih. Lupakan dan anggap tidak pernah terjadi. Ck, semudah itu kau mengatakannya," Daffa berdecak kesal mengingat apa yang di katakan oleh Arumi.

__ADS_1


__ADS_2