
''Farrel apa benar akan ada peresmian cabang perusahaan?.'' Tanya Calysta.
''Hmm... iya, besok pemberangkatan penerbangan nya, target kita untuk membuat perusahaan menjadi lebih pesat dan juga menjadi perusahaan terbesar, Bos memperkirakan hanya cukup 2 tahun untuk mewujudkan nya.'' Penjelasan Farrel.
''Besok? selama 2 tahun?.'' Calysta kaget sehingga membuat nya menjadi bengong.
''Iya, sudah ya, aku ada sesuatu yang harus di urus.'' Farrel pergi meninggalkan nya.
''Kenapa Justin tidak memberi tahu aku kalau dia akan pergi ke luar negeri selama 2 tahun?, padahal dia berjanji untuk menikahi ku.'' Gumam Calysta.
Seharian Calysta menjadi murung dan banyak melamun, membuat dia tidak fokus akan pekerjaan nya.
''Calysta kamu nggak apa-apa kan? dari tadi aku lihat kamu murung terus, apa tidak enak badan?.'' Rossa yang memperhatikan sahabatnya, karena kebetulan Calysta ada pekerjaan di luar ruangan nya yang dekat dengan meja kerja Rossa.
''Nggak, aku gapapa.'' Jawabnya.
''Rossa, aku harus bagaimana?.'' Lanjut Calysta bertanya.
''Ada apa? katakan Calysta kepada ku apa yang terjadi.'' Tegas Rossa.
''Justin akan pergi besok ke cabang perusahaan nya, dan dia perlu 2 tahun untuk mengurus nya, padahal tinggal menghitung hari kita akan segera menikah, tapi Justin tidak memberi tahu aku.'' Jelas Calysta.
''Hah?.'' Rossa bingung mendengar nya, karena dia tahu kalau yang akan mengurus cabang baru adalah Danu dan Beni.
Rossa menahan senyumnya dan berpura-pura tidak tahu.
''Begitu ya, mungkin Justin menyerah untuk mencintai kamu, karena kamu tidak pernah membalas cinta nya, apalagi dia sering melihat kamu jalan bersama Radit.'' Rossa yang berpura-pura tidak tahu dan malah membuat nya semakin gundah.
''Tapi aku dan Radit hanya teman tidak ada hubungan lainnya, dan lagi bagaimana aku membalas cintanya, dia tidak pernah menyatakan perasaannya padaku.'' Ujar Calysta.
''Calysta semua orang tahu dari sikap nya Justin memperlakukan mu, dia benar-benar sayang sama kamu, mungkin dia belum menyatakan cinta karena takut kamu tidak bisa menerima nya, apalagi dengan melihat kamu jalan bersama pria lain.'' Rossa yang semakin membuat nya merasa tidak nyaman.
''Jadi aku harus bagaimana?.'' Tanya Calysta dengan wajah seperti bingung, takut dan sedih.
''Itu tergantung hati kamu, mumpung belum terlambat pikirkan baik-baik Calysta.'' Tegas Rossa.
Calysta semakin memikirkan nya, membuat hatinya menjadi semakin tidak tenang.
Justin yang dari tadi tidak ada di kantor karena mengurus beberapa hal, sekarang dia baru datang lalu menemui Calysta.
''Ayo pulang.'' Ajaknya sambil menarik tangan Calysta.
Calysta tidak berbicara apapun, dia hanya mengikuti nya. Dia berpikir mungkin sekarang Justin akan memberi tahunya soal penerbangan itu. Dalam perjalanan Calysta hanya diam banyak yang di pikirkan nya dan menantikan penjelasan dari Justin.
Justin sesekali melirik nya yang dari tadi dia hanya diam saja.
''Apa yang sedang di pikirkan gadis ini?.'' Gumamnya dalam hati.
''Memikirkan pria lain kah? haishh... aku sudah gila karena nya.'' Pemikiran nya seperti boomerang bagi Justin.
Namun sepanjang perjalanan, Justin tidak berani bertanya padanya begitu juga sebaliknya, Calysta tidak bicara sepatah kata pun sampai tiba di depan rumahnya.
''Makasih.'' Ucap Calysta setelah turun dari mobil.
Justin tersenyum.
''Mmm... Justin apa tidak ada hal yang ingin kamu katakan padaku?.'' Calysta memberanikan diri untuk bertanya.
''Hah? Oh, selamat beristirahat Calysta.'' Sembari tersenyum dan tidak tahu apa yang di maksud Calysta bukan lah hal itu.
Calysta malah semakin kesal dan langsung pergi ke dalam rumah nya.
''Farrel coba katakan apa maksudnya Calysta, dari tadi hanya diam dan sekarang bertanya pada ku, aku jawab tapi dia seperti marah?.'' Kebingungan dan meminta pendapat nya.
__ADS_1
''Mungkin Bos ada melakukan kesalahan?.'' Farrel yang juga tidak mengerti.
''Entahlah, tapi aku merasa Calysta selalu memberi jarak sehingga aku tidak bisa meraihnya.'' Menundukkan kepalanya seperti penuh ke putus asaan.
''Farrel, aku akan menyerah demi kebahagiaan nya, aku tidak ingin membuat nya seperti di kekang karena ikatan perjanjian pernikahan denganku.'' Ucapan yang membuat hatinya sendiri merasa sakit.
Farrel hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa.
Di sisi lain Calysta yang masih kesal, bingung bercampur sedih, dia hanya mengurung dirinya di kamar.
''Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Rossa, Justin tidak menyatakan perasaannya karena aku selalu dekat dengan pria lain.'' Pikirnya sembari berbaring di tempat tidur.
''Tapi, masa harus aku yang menyatakan duluan?''
''Tunggu, apa? menyatakan perasaan ku? Jadi, tanpa sadar aku sebenarnya menyukainya dan tidak ingin berpisah dengan nya''
''Aahhh... bodoh banget sih Calysta kenapa perasaan sendiri kamu tidak mengerti.'' Calysta yang dari tadi banyak berpikir dan berbicara dengan dirinya sendiri.
''Aku harus menghubungi Justin sebelum terlambat.''
''Kenapa tidak aktif? Farrel, aku coba hubungi Farrel saja,'' saat mencoba menghubungi Justin namun tidak tersambung.
''Hallo.'' Jawab Farrel.
''Farrel penerbangan untuk ke Inggris jam berapa?.'' Calysta.
''Oh, penerbangan nya di majukan malam ini sekitar satu jam lagi.'' Jawab Farrel.
''APA? satu jam.'' Calysta mematikan ponselnya dan bergegas pergi ke Bandara.
Calysta menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia takut akan terlambat bertemu dengan Justin dan ingin menyatakan perasaannya.
Akhirnya tidak lama tiba lah di Bandara,
Terlihat dari kejauhan Justin berdiri dengan Farrel dan Aldo geng.
''Justin....'' Teriak Calysta sambil berlari.
Grepp...
Calysta memeluk Justin dengan erat.
Justin yang tidak mengerti namun tetap membalas pelukan nya.
''Jangan tinggalin aku, aku sadar aku sayang sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, aku ngga mau pisah sama kamu.'' Ucap Calysta yang menangis di pelukannya Justin.
''Aku juga sayang sama kamu.'' Justin tersenyum.
Calysta mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Justin.
Justin mengusap air matanya dengan lembut dan kasih sayang.
''Ingus kamu nempel di baju aku.'' Candaan Justin sembari tersenyum.
''Biarin.'' Manjanya Calysta sambil bibirnya cemberut.
''Jadi sekarang kamu batalin penerbangannya, dan kita pulang ya!.'' Ujar Calysta dengan manjanya.
''Nggak bisa dibatalin sayang, ini sudah rencana kita dari awal.'' Bujuk Justin.
''Katanya kamu juga sayang sama aku, dan sebentar lagi kita akan menikah, kamu mau mengingkari janji?.'' Calysta marah-marah, ngomel-ngomel.
''Siapa yang mau ingkar janji, yang berangkat juga Danu sama Beni, aku disini untuk mengantarkan mereka.'' Ujar Justin.
__ADS_1
''Apa, mengantar mereka? jadi sejak awal kamu tidak akan pergi?.'' Tanya Calysta.
Justin mengangguk,
''Wkwkwkwkwk....'' Yang lainnya tertawa melihat tingkah Calysta.
''Jahat... kenapa gak bilang dari awal.'' Calysta memukul Justin.
''Siapa yang tahu, memang siapa yang bilang aku akan pergi?.'' Tanya Justin.
''Nggak ada.'' Calysta menggeleng kan kepalanya.
''Calysta saking takutnya di tinggal Justin pergi ke luar negeri, sampai-sampai nggak sadar tuh, cuma memakai piyama dan sandal tidur kelinci.'' Febi menertawakan nya.
Yang lain ikut tersenyum melihatnya.
''Iihh sebal.'' Calysta cemberut dan memukul dada bidangnya Justin.
"Jadi, dari tadi kamu menangis dan menyatakan perasaan kamu padaku, itu karena mengira aku akan pergi?." Justin bertanya sambil tersenyum, terharu, dan merasa bahagia.
"Diam." Calysta malu, memalingkan wajahnya.
''Iya, iya, sudah jangan menangis lagi, aku gk kemana-mana ko, ayo sebentar lagi pesawatnya lepas landas.'' Justin menyentuh kepalanya Calysta.
Danu dan Beni bersiap untuk pergi,
''Wwuuaaaaa... Danu kamu jangan lupakan janji mu padaku.'' Febi pura-pura menangis.
''Tenang aku tidak akan melupakannya.'' Jawab Danu.
''Drama di mulai.'' Celoteh Aldo sambil ngupil.
''Kamu harus kirimkan yang terbaik untuk ku.'' Febi yang masih berpura-pura sedih.
''Oke tenang saja, aku berangkat ya.'' Jawab Danu sambil berpamitan.
''Ya sudah hati-hati, doa ku menyertai mu.''
Pesawat pun lepas landas.
Tersisa Justin, Calysta, Farrel, Aldo, dan Febi.
''Memang apa yang di janjikan Danu kepada Febi sampai-sampai seperti itu?.'' Calysta bertanya.
''Paket cewek bule.'' Jawab Aldo
''???.'' Calysta tidak bisa ungkapkan dengan kata-kata.
''Farrel bawa mobilnya, aku akan mengantarkan Calysta pulang.'' Perintah Justin.
''Baik pak.''
Justin dan Calysta memasuki mobilnya.
''Kenapa kamu tersenyum seperti itu?.'' Tanya Calysta, melihat Justin yang terus tersenyum.
''Aku bahagia, kamu bergegas menemui ku sampai lupa mengganti pakaian.'' Sembari tersenyum.
''Iihhh... jangan meledek terus.'' Sambil memukul dadanya Justin, lalu Justin menggenggam tangan Calysta.
Cup...
Justin mencium bibir Calysta dengan lembut nya, kali ini Calysta membalas ciumannya Justin.
__ADS_1
Kalau mobil bisa ngmong, "Woy cepat kendarai aku."