Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 82


__ADS_3

Selesai Daffa membersihkan badannya, ia berbaring di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang kosong, entah apa yang sedang di pikirkan nya. Daffa merogoh ponsel yang ada di atas meja di sebelah ranjangnya.


"Sudah pulang?" Nalurinya tiba-tiba saja ingin mengirim pesan singkat kepada Arumi.


Ting...


Nada notifikasi pesan masuk di ponsel Arumi, ia yang sedang menonton drama Korea kesukaannya, terpaksa melihat ponselnya yang berbunyi.


"Daffa?" Ujarnya merasa tidak terbiasa melihat nama Daffa yang mengirimkan pesan singkat padanya. Padahal selama ini ia tidak pernah berkomunikasi basa-basi seperti ini, hanya sesekali menerima telepon darinya itupun jika benar-benar di butuhkan.


"Sudah, aku sedang menonton drama." Balas Arumi sedikit panjang. Ia sengaja karena penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh calon suaminya itu.


"Apakah seru!"


"What? Dia benar-benar menanyakan hal seperti ini?" Arumi terbelalak melihat balasan dari Daffa.


"Ya," Arumi membalasnya dengan singkat, apakah kali ini Daffa akan melanjutkan chatting nya atau sudah sampai disini saja.


"Apakah tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?"


"Apa? memangnya apa yang harus aku tanyakan," Arumi mengernyitkan dahinya begitu membaca chat dari Daffa. Ia tidak mau mempedulikannya dan kembali melihat drama yang sedang di tontonnya.


Memakan camilan yang sedang di genggamnya, tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.


Drt.. Drt..


Ponselnya bergetar di atas meja di hadapannya. "Siapa sih!" Arumi menjilat jari tangannya yang penuh dengan bumbu dari kripik barbeque.


Terlihat nama Daffa di layar ponselnya. Ternyata karena Arumi tidak membalas pesan darinya, ia kemudian menghubunginya melalui panggilan.


"Halo!"


"Mengapa tidak membalas pesanku." seperti biasa terdengar suara yang datar dan dingin.


"Ah! Aku lupa, aku terlalu fokus dengan dramanya. Memang apa yang kau tanyakan?" ia berbohong karena memang sebenarnya ia tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Daffa.


"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?" Daffa mengulangi apa yang tadi ia kirim melalui pesannya.


"Iya aku sudah bertanya padamu, apa yang kau tanyakan dalam pesan itu?" Arumi menjawab dengan sebuah pertanyaan. Ia sengaja membuat Daffa kebingungan karena Arumi tidak ingin hanya dirinya sendiri yang merasa bingung.

__ADS_1


"Arumi, kau..." terdengar suara Daffa yang sedikit kesal.


"Apa? Kenapa kau marah?" Arumi mengernyitkan dahinya.


"Apa kau tidak ingin bertanya tentang skandal ku?" Daffa terpaksa mengalah, dan menyebutkan apa maksud dari pertanyaannya. Ia juga ingin sekali mendengar jawaban dari Arumi.


"Oh itu! Ya, tidak ada yang perlu aku tanyakan. Lagi pula beritanya sudah tidak ada kan." Jawabnya dengan santai, dan pandangan mata yang tetap fokus pada layar televisi.


"Tidak ada ya," ujar Daffa lirih.


"Apa? Kau bilang apa, aku tidak mendengarnya?"


"Tidak ada." Daffa mengakhiri panggilannya begitu saja.


"Kenapa dia ini?" Arumi bergumam sendiri dan mengangkat kedua bahunya.


Sementara itu Daffa kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Ia melamun dengan pikirannya yang kacau. "Aku kira kebersamaan kita sejak kecil, akan menumbuhkan perasaan suka antara pria dan wanita ketika kita sudah dewasa seperti ini. Tetapi tidak bagimu ya?" Daffa bermonolog dalam hatinya. "Ini tidak adil, mengapa hanya aku yang menyukaimu. Bahkan setelah kejadian malam itu pun kau tatap saja tidak melihat kearah ku."


Daffa menghela nafasnya panjang, memejamkan mata yang tidak kunjung kantuk itu.


*


*


"Daffa kamu mau bekerja?" Tanya papi Justin saat melihat putranya menuruni tangga dan sudah berpakaian lengkap.


"Iya pi, memangnya kemana lagi." Jawabnya datar.


Pap Justin hanya diam dan melirik kearah istrinya yang berada di sampingnya.


"Apa?" Mam Calysta nampak terkejut, "Daffa besok adalah hari pernikahan mu, kau masih akan tetap pergi bekerja?"


"Iya aku tau itu. Memangnya apa yang harus kulakukan jika tidak pergi bekerja?"


"Lakukan apapun itu selain bekerja. Kau benar-benar tidak mengurusi hal apapun tentang pernikahan kalian, bahkan mahar saja apa kau sudah menyiapkannya?" Mam Calysta mengomel dengan nafas yang menggebu.


"Sudah." Jawabnya malas sembari hendak melanjutkan langkahnya.


"Lalu kau pikir itu sudah cukup? Apa kau akan menikah dengan wajah yang seperti itu, lingkaran hitam di matamu sangat terlihat jelas sekali."

__ADS_1


Daffa jadi memiliki mata panda karena semalaman ia tidak bisa tidur, ia hanya merenung dan melamun tanpa arah.


"Kembali ke kamarmu!" Tegas mam Calysta sembari menunjuk ke kamar atas. "Jika kau tetap bersikeras, lebih baik tidak usah menikah saja."


"Apa? Gak bisa begitu lah mi, kalau bicara jangan seenaknya." Akhirnya Daffa berbicara dengan sedikit panjang, setelah sebelumnya hanya perkataan singkat saja.


"Kau yang seenaknya." Mam Calysta kembali meninggikan suaranya. "Cepat kembali sekarang, dan turuti semua perkataan Mami."


"Ck." Daffa berdecak kesal, ia menuruti apa yang di katakan oleh Mami nya dan kembali ke kamarnya yang ada di lantai atas.


Ia membuka jas yang di kenakan nya dan dasi yang melekat di lehernya, kini hanya tersisa kemeja putih di badannya.


Kurang lebih dua puluh menit Daffa berbaring dengan mata yang masih melek, tanpa melakukan apapun. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


Tok.. Tok..


Terdengar di balik pintu kamarnya suara orang mengetuk pintu.


"Daffa buka pintunya." Suara Mam Calysta terdengar dari balik pintu.


Daffa membuka pintu kamarnya dengan malas "Ada apa Mi?"


Tanpa menjawab pertanyaan darinya, Mam Calysta menerobos masuk kedalam kamar anaknya dengan paksa, dan di ikuti beberapa orang di belakangnya.


"Apa-apaan ini?" Daffa mengernyitkan dahinya, melihat apa yang di lakukan oleh Maminya.


"Jangan banyak protes." Tegas Mam Calysta.


"Kalian cepat urusi dia, mengerti kan apa yang harus kalian lakukan!" ujar Mam Calysta kepada tiga orang laki-laki pegawai dari salon langganannya, tentu saja tidak hanya terkenal saja juga ini salon dengan kualitas dan pelayanan yang bagus.


"Baik nyonya."


Ya, sengaja Mam Calysta memanggil seorang pegawai salon laki-laki. Karena tentu saja tidak ingin membuat menantunya salah paham dan merasa kecewa jika ia mengetahui itu.


Daffa sempat menolak dan berontak dengan ide Mami nya itu. Bagaimana tidak, ia benar merasa jijik kalau para pria itu menyentuhnya. Meski sekedar memijat dan merawat kulitnya.


"Kalau kau tidak ingin mereka yang bekerja, maka aku akan menyuruh para wanita yang mengerjakannya. Biar Arumi tau apa yang sedang kau lakukan." Ancam Mam Calysta setelah mendapat penolakan dari putranya.


Mau tidak mau Daffa menuruti perintah dari Maminya, dengan syarat Mam Calysta juga harus menemaninya di dalam. Tidak meninggalkannya membiarkannya berada satu ruangan dengan para laki-laki pegawai salon itu.

__ADS_1


"Padahal aku tau, aku tidak perlu takut Arumi akan salah paham, karena ia sama sekali tidak akan peduli." lirih Daffa dalam hatinya.


__ADS_2