
"Daddy ku, Febi Gumilar." Jawab Askar.
"Febi Gumilar?" Daffa mengulangi perkataan Askar, "Apakah Mommy mu bernama Putri Saloka?" Daffa kembali bertanya memastikan nama kedua orang tuanya.
"Bagaimana kau tau nama Mommy ku?" Askar membenarkan perkataan Daffa.
"Oh my god, jadi kamu benar-benar anaknya uncle Febi."
Askar menjawab dengan anggukan.
Mengetahui kebenaran ini, membuat Daffa teringat kembali kejadian tadi saat Askar di ganggu oleh teman-temannya.
"Sialan, mereka berani sekali mengganggumu." Geram Daffa.
"Sudahlah, itu sudah berlalu. Dan lagi aku juga tidak akan diam saja kalau mereka menyiksa ku dengan kelewat batas. Sekarang jelaskan yang tadi?" Askar kembali bertanya tentang bagaimana Daffa bisa mengenal kedua orang tuanya.
"Uncle Febi adalah sahabat dari Papi ku."
"Oh! apakah Papi mu bernama Justin?" Askar kembali bertanya. Teringat Daddy nya suka bercerita tentang semua sahabat terdekatnya.
Daffa menjawab dengan anggukan dan senyum tipis di bibirnya.
"Hei. Aku ingat uncle Febi pernah bercerita kalau anak sulungnya adalah seorang hacker." Selidik Daffa dengan berbisik.
Ya, Askar mempunyai seorang adik laki-laki yang baru berusia 7 tahun.
"Kau jangan banyak bicara." Tukas Askar kepada Daffa, namun membenarkan pertanyaan itu.
Daffa tersenyum puas.
Flashback off
*
"Tidak menyangka aku akan menghubunginya untuk pertama kali demi seorang wanita." Gumam Daffa dengan senyum pahit di bibirnya.
"Ada apa?" Jawab Askar to the point, saat menjawab sambungan panggilan dari Daffa.
"Tolong cari tau seseorang. Apa yang di lakukannya akhir-akhir ini." Perintah Daffa.
__ADS_1
"Ok, kirim fotonya. Akan lebih baik jika kau tau identitasnya dan mengirimkan nya padaku." Ujar Askar dengan nada dingin.
"Ok." Daffa kemudian mengakhiri panggilannya.
Kalau di pikirkan, sikap Askar lebih dingin daripada seorang Daffa. Setidaknya Daffa selalu bersikap lembut kepada Arumi dari semasa kecilnya.
Kemudian ia mengirim pesan singkat kepada Askar "Cari tau laki-laki yang dekat dengannya."
Membaca pesan singkat itu, Askar antusias untuk mengerjakannya. Berharap ini adalah misi yang menantang, setidaknya mungkin tentang mengejar seorang Mafia, atau lawan bisnisnya yang sangat berbahaya, atau menangani sebuah penculikan.
Tidak butuh waktu berjam-jam, 10 menit saja Askar telah mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan.
Tidak sabar, ia segera menghubungi Daffa untuk memberikan hasilnya.
"Bagaimana?" Daffa menjawab panggilan langsung ke intinya.
"Hei, aku yakin kau sudah tau siapa wanita itu. Dia adalah anaknya uncle Farrel." Ucap Askar, "Kalau laki-laki yang sedang dekat dengannya bernama Reza, latar belakangnya tidak ada yang istimewa. Hubungannya dengan wanita itu hanya sebatas senior dan junior di kelas Taekwondo." Jelas Askar panjang lebar.
"Apa informasi itu dapat di percaya?" Tanya Daffa untuk meyakinkan dirinya.
"Hei. kau meremehkan kemampuan ku." Geram Askar
"Tidak. aku hanya memastikan." Sanggah Daffa datar.
"Ok bagus." Jawab Daffa puas.
Askar mengangguk membanggakan dirinya sendiri, meski Daffa tidak melihat itu karena mereka sedang berada di sambungan ponselnya.
"Jadi, apa tantangan dari misi ini?" Tanya Askar bersemangat dan penuh harap.
"Hah, apa?" Daffa bingung dengan maksud yang di tanyakan oleh Askar.
"Jadi apa tujuanmu?" Tegas Askar sedikit menekan.
"Tujuanku? Aku ingin mencari tahu apa hubungan Arumi dengan laki-laki itu dan apakah mereka berkencan atau tidak." Jawab Daffa dengan suara dan wajah datarnya.
"APA?" Mendengar jawaban Daffa sontak membuat Askar berteriak.
"Dengar ya Daffa Alfarizi. Kamu tahu, aku menantikan misi yang menantang darimu. Tapi apa? Kamu menghubungiku dan meminta bantuan dariku untuk pertama kalinya. Hanya untuk kebucinan mu kepada seorang wanita?" Askar mengoceh tiada hentinya dan meluapkan kemarahannya. Karena telah di khianati oleh harapannya sendiri.
__ADS_1
"Itu... itu," belum sempat Daffa melanjutkan perkataannya, panggilannya telah di putuskan dari sebelah pihak.
"Itu... juga hal yang sangat penting bagiku." Gumamnya pelan melanjutkan perkataannya yang terputus tadi.
Akan tetapi di balik semua itu, Daffa seketika merasa lega. Telah mengetahui kebenaran yang ia inginkan bahwa Arumi bukan pacar dari Reza.
*
Alex kembali kedalam ruangan CEO untuk memastikan apa yang sedang di lakukan oleh Bosnya selama ia pergi. Apakah ada perkembangan atau sebaliknya kemarahan yang semakin menjadi.
Alex menelisik dalam raut wajah Daffa. Seperti yang ia lihat sepertinya kemarahan sudah tidak terlihat di wajahnya. Tetapi justru kini yang ia lihat adanya wajah yang sedang kebingungan.
Alex menghela nafasnya dengan kasar. Menggelengkan kepala tidak habis pikir oleh sikap seorang Daffa. Lagi-lagi Alex memilih untuk diam dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu sambil memainkan ponsel.
Alex senyum-senyum saat melihat ponsel yang sedang di genggamnya, seolah sedang mengetik sebuah pesan.
Daffa yang menyadari hal itu dan melihat tingkah laku sahabatnya. Kini merasa teralihkan dan kemudian berjalan untuk menghampirinya. "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya datar.
Alex mendelik kearahnya "Tidak ada." Jawabnya singkat sembari kembali menatap ponsel yang di genggamnya.
Karena keingintahuan Daffa sangat besar. Ia merebut ponsel milik sahabatnya itu.
"Hei," Alex terkejut saat di dapati ponselnya tengah di rebut oleh Daffa.
"Sarah?" Ujar Daffa saat melihat nama yang ada didalam ponsel Alex. Ya ternyata Alex sedang berbalas pesan dengan Sarah.
Daffa menautkan kedua alisnya, nampak ia sedang berfikir. Ia merasa pernah mendengar nama itu tetapi entah dimana.
Setelah lama berfikir dan mengingat-ingat akhirnya dia ingat juga. Sarah adalah nama wanita yang bersama dengan Arumi saat berjumpa dengannya.
"Kau... memiliki nomor ponselnya?" Selidik Daffa kepada Alex.
"Kalau tidak? Kau pikir aku sedang berkhayal berbalas pesan dengannya!" Alex menjawab dengan sedikit ketus. "Kembalikan ponselku, kau sangat mengganggu." Ketus Alex sambil menyodorkan tangannya untuk meminta ponselnya kembali.
Dengan sigap Daffa menghindar, "Sebentar," Ujarnya. Kemudian ia menyentuh layar ponsel yang di genggamnya, entah apa yang di lakukan Daffa. "Kalau kau punya nomor ponsel Sarah, berarti kau juga memiliki nomor ponsel Arumi juga!"
"Ck. tidak ada" Alex berdecak malas dengan menjawab singkat.
Daffa menatapnya tajam dengan sorot mata yang mengintimidasi. Alex yang menyadari itu kemudian menjelaskannya, "Aku tidak punya. Lagi pula aku hanya tertarik kepada Sarah bukan Arumi, jadi untuk apa aku memiliki nomor ponselnya?" Menjelaskan dengan panjang lebar.
__ADS_1
Daffa yang percaya mendengar penjelasan dari sahabatnya itu, kemudian hendak mengembalikan ponsel itu kepadanya. Akan tetapi, "Ka, kalau begitu. Tanyakanlah nomor ponsel Arumi kepadanya." Ujar Daffa dengan nada memerintah, namun sepertinya sedikit malu untuk mengatakan itu.
Alex menyunggingkan sudut bibirnya sambil mengambil ponsel yang berada di genggaman Daffa.