
"Bagaimana!" Mam Rossa telah menantikan kedatangan putrinya untuk menanyakan keberhasilan dari kencan buta yang di atur olehnya.
"Eh ada Daffa juga?" lanjutnya ketika melihat Daffa ikut masuk kedalam apartemen.
"Selamat malam aunty, uncle." Daffa menyapa dengan sopan.
Sementara Arumi hanya diam saja dan tidak berkata apapun, terlihat wajahnya yang muram dan bibirnya yang mengerucut.
Papi Farrel menatap kearah Daffa bermaksud untuk menanyakan kenapa putrinya seperti itu.
Daffa hanya mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepala.
"Kamu kenapa sayang?" Mam Rossa mengelus pundak putrinya, mencoba memperhatikan putrinya dengan lembut.
"Mam tega," Arumi marah dengan melepaskan sentuhan tangan Mami nya. "Mam sungguh akan menjodohkan ku dengar orang seperti itu!" sentak Arumi dengan mata yang berkaca.
"Apa maksudmu? Mami tidak..." Mam Arumi tidak mengerti mengapa putrinya berkata seperti itu.
"Apa mam tau kalau lelaki itu gagap. Dengusnya.
Deg,
Semua orang tercengang mendengar apa yang di katakan oleh Arumi, termasuk mami nya sendiri.
"Apa?" tatapan papi Farrel menjadi tajam.
"Mami, mami juga tidak tau. Dia bilang, dia seperti itu karena merasa grogi karena baru pertama kali bertemu." Jelasnya merasa bersalah.
"Jadi kau juga belum pasti mengenalnya lebih jauh?" Farrel meninggikan suaranya.
Mam Rossa menunduk dengan penuh penyesalan, "Tapi ia sepertinya adalah laki-laki yang baik, orang-orang juga berbicara seperti itu."
Farrel mengusap wajahnya dengan kasar, tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang kadang-kadang stupid seperti itu.
Arumi sedikit terisak, pipinya juga sudah basah dengan air mata. Tidak bisa ia bayangkan jika Daffa tidak segera datang, karena lelaki itu seperti seorang posesif yang berkelainan.
"Semuanya sudah berlalu," Daffa mengusap air mata yang ada di wajah cantik Arumi.
"Terimakasih Daffa," ucap uncle Farrel sembari menepuk pundaknya.
Kini Arumi sudah merasa lebih tenang, karena sudah meluapkan emosinya, "Aku mau istirahat." Arumi pergi masuk kedalam kamar tidurnya.
"Maafkan Mami Arumi," ucapnya lirih dan tulus. Papi Farrel juga sudah memakluminya, ia tahu bahwa istrinya juga ingin yang terbaik untuk putri semata wayang mereka. Ia merangkul istrinya dan mencoba membuatnya merasa tenang.
__ADS_1
"Aku pamit dulu uncle."
"Iya, sekali lagi uncle berterima kasih padamu. Hati-hati di jalan!"
*
*
Satu minggu berlalu setelah kejadian hari itu. Mam Rossa tidak lagi ikut campur dalam urusan percintaan anaknya, kini ia lebih memperhatikan kebahagiaan putri semata wayangnya.
Apalagi untuk menebus kesalahan bodoh yang pernah ia lakukan.
Namun sayangnya mereka harus sudah kembali lagi ke tempat tinggalnya yang di luar kota. Karena tidak baik jika meninggalkan pekerjaan terlalu lama.
Ingin mam Rossa membawa putrinya untuk ikut bersamanya, agar ia tidak merasa kesepian disana. Tapi tentu saja tidak bisa, karena putrinya juga memiliki pekerjaan disini.
Berpelukan dan berpamitan dengan kedua orang tuanya, Arumi merasa enggan untuk berpisah dengan mereka.
"Mam percaya kamu bisa menjaga diri," sekali lagi mam Rossa memeluk Arumi dan menitikkan air mata.
"Iya mam, sudah jangan menangis." Ujar Arumi.
Mam Rossa menyeka air matanya yang membasahi pipi, "Farrel..."
"Aku mau tetap tinggal disini saja, kamu sendiri yang pergi untuk mencari uang. Aku akan tinggal bersama putriku." Ujar mam Rossa dengan suara yang mendengung. Ia mengurungkan niatnya untuk pergi bersama dengan suaminya.
"Apa? Tapi sayang. Nanti aku sama siapa? Apalagi aku selalu merindukanmu, aku gak bisa berada jauh darimu," tiba-tiba saja mimik wajah Farrel berubah menjadi panik bercampur galau.
"Kamu pulang kesini setiap satu minggu sekali setiap hari libur." Cetus Rossa.
"Kamu tega?" Farrel memasang wajah puppy eyes.
"Dengar, setiap orang jika merasa rindu maka akan semakin sayang dan harmonis dalam hubungannya. Jadi kita akan mencoba tahap itu, oke!"
Farrel menghela nafasnya dengan lemah, mau tidak mau ia harus menuruti keinginan istrinya.
"Baiklah," dengan lemas Farrel menyetujuinya. "Nanti aku harus bicara dengan Justin tentang pemindahan kantor cabang." Gumamnya sambil membetulkan dasi yang di pakainya.
Farrel pergi sendiri ke luar kota tanpa di temani istrinya.
"Mam aku juga sudah harus pergi bekerja," Arumi ikut berpamitan setelah kepergian Papi nya.
"Hati-hati sayang."
__ADS_1
Meskipun kini Rossa hanya sendirian di apartemen, tetapi ia tidak akan merasa kesepian. Karena tentu saja ia bisa pergi ke kediaman Calysta untuk mengajaknya belanja bersama ke salon bersama.
"Aku mau kasih kejutan ah, tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa kasih kabar lebih dulu." Gumam Rossa dengan tersenyum, membayangkan bagaimana dirinya memberi kejutan kepada Calysta.
Sampai di depan pintu kediaman keluarga Justin.
"Calysta ada?" tanya Rossa ketika yang membukakan pintu adalah asisten rumah tangga.
"Nyonya ada di taman belakang, beliau sedang menata bunga-bunga," jawab sang asisten sembari menunjuk ke arah yang ia maksud.
"Calysta..." Rossa berteriak memanggil nama sahabatnya.
"Hai, bukannya tadi pagi kau seharusnya sudah kembali ke luar kota?"
Rossa menggelengkan kepalanya dan menceritakan semua apa yang terjadi. Tentu saja membuat Calysta ikut senang mendengarnya.
Lumayan lama mereka mengobrol bercerita kesana kemari, dan memutuskan untuk pergi ke salon bersama, body spa, nail art, dan sebagainya untuk memanjakan diri mereka.
Mereka pergi dengan mobil pribadi Calysta dan seorang supir, jangan tanya dimana Cyara karena jadwal Cyara lebih padat dari orang dewasa.
Sepulang sekolah ia melakukan banyak les, entah itu kepribadian, pelajaran, dan sekolah menarinya. Di balik itu semua adalah keinginan Cyara sendiri, di banding anak seusianya Cyara lebih suka mengerjakan hal-hal yang berguna terutama itu adalah hobinya.
Calysta dan Rossa tengah berada di klinik kecantikan ternama yang sering di kunjungi oleh kalangan atas.
Mereka benar-benar menikmati me time nya, mempercantik seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
Drt... Drt...
Ponsel Rossa bergetar, terlihat di layarnya seseorang tengah menghubunginya.
"Ada apa Sarah?" yang menghubungi Rossa adalah Sarah sahabat dari putrinya.
"Aunty, Arumi pingsan dan sekarang berada di rumah sakit,"
"Apa?" mam Rossa yang sedang di pijat refleksi, tiba-tiba bangun karena terkejut. Membuat Calysta juga bertanya-tanya ada apa sebenarnya.
"Maaf aunty aku tidak bisa menemaninya karena aku sedang berada jauh dan bertemu dengan klien penting. Aku mendapat kabar dari Daffa, mungkin ia tidak tau kalau aunty ada di sini." Jelas Sarah dengan panjang lebar.
"Iya Sarah, terimakasih ya!" mam Rossa mengakhiri panggilannya dan menyudahi aktivitasnya yang sedang merefleksi tubuh.
Setelah ia menjelaskan kepada Calysta dan mengetahui putrinya di rawat di rumah sakit mana. Mereka pergi dengan segera untuk melihat keadaan Arumi.
"Ayo cepat pak." Perintah Calysta kepada pak supir.
__ADS_1
Pak supir pun menuruti perintah dan menambah kecepatannya.