Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 53


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, setiap harinya Arumi selalu pulang pergi ke perusahaan Daffa. Karena masalah pekerjaan itu mengharuskan untuknya pergi ke perusahaan Daffa.


Sampai di Apartemen miliknya Arumi membanting badannya ke atas tempat tidur. Arumi menghela nafasnya panjang, "Ah... lelah sekali. Beberapa hari ini tenagaku benar-benar terkuras."


"Besok pekerjaan ku tidak terlalu banyak, bisa bersantai dulu dan berangkat agak siang." Gumamnya sambil tersenyum.


Esok harinya, benar saja Arumi belum juga bangun sedangkan jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Ia masih saja tertidur pulas. Namun sayang suara dering ponselnya mengganggu mimpi indah Arumi.


Tangan yang meraba-raba mencari keberadaan ponselnya dengan mata yang masih terpejam. "Halo," Arumi menerima panggilan tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Apa kau sudah tidak berniat untuk bekerja lagi?" Tegas Daffa to the point.


Arumi memaksakan untuk membuka matanya, dengan mata yang berkedip-kedip ia melihat nama Daffa di layar ponselnya. Arumi menutup panggilannya dengan kesal. "Daffa Alfarizi...." Teriak Arumi, menggegerkan seluruh ruangan.


Tetapi Arumi tetap saja bersantai, setelah membersihkan badannya, ia memakan roti dan segelas susu sebagai sarapan. Tidak menghiraukan ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti berdering. Entah ke berapa puluh panggilan tak terjawab.


Terdengar suara bel Apartemennya berbunyi. Ternyata Reza bertamu sepagi ini. Menenteng kantong makanan di tangannya.


"Alex, coba cari tau apa yang sedang di lakukan Arumi." Perintah Daffa, yang sedari tadi duduk dengan gelisah.


"What?" Alex tidak habis pikir dengan sikap Daffa yang menjadi sangat posesif.


"Tunggu apalagi?" Bentak Daffa melihat dengan tatapan tajam, karena Alex masih mematung di tempatnya.


Alex mengeluh, menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bagaimana mungkin seorang pembisnis yang handal, harus mengurusi urusan seperti ini.


"Kau masih saja tidak pergi?" Tegas Daffa, saat melihat Alex malah mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Alex membalas tatapan tajam itu, dan kemudian ia duduk di sofa dengan kaki yang menyilang.


Ingin rasanya Daffa meluapkan amarahnya, namun ia menahannya karena ia tahu sifat Alex yang kadang-kadang absurd.

__ADS_1


"Lihatlah," Ujar Alex sembari memberikan ponsel miliknya. "Hanya itu yang bisa aku ketahui." Sambungnya.


Ternyata Alex memberikan sebuah rekaman CCTV yang menunjukkan di sekitar Apartemen milik Arumi. Nampak seorang lelaki berada di depan pintu Apartemen nya dan masuk setelah di bukakan pintu oleh pemilik Apartemen.


Daffa menggebrak meja dan berdiri dari duduknya, bergegas pergi entah kemana.


*


Ketenangan Arumi ketika menikmati sarapannya bersama Reza, saat ini terganggu oleh suara bel yang berbunyi tiada hentinya.


Arumi sampai tersedak ketika di dapati orang yang berada di luar adalah Daffa. Arumi segera sigap dan membukakan pintu untuknya.


Sudah dilihat wajah Daffa yang kini stay cool, meski sebelumnya ia terlihat sangat emosi. Arumi mengangguk memberi salam padanya. Daffa tersenyum kikuk ketika mereka hanya berdiam diri saja diluar.


"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" Ujar Daffa. "Hah?" Arumi linglung, ia pikir Daffa hanya sebentar kesana untuk menyampaikan pekerjaannya.


Tanpa menunggu jawaban, Daffa nyelonong masuk begitu saja. "Rumi siapa yang datang?" Tanya Reza ketika mendengar suara langkah kaki tanpa mengangkat kepalanya.


Daffa duduk meski tidak di persilahkan. Arumi canggung dengan keadaan ini, sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh partner bisnisnya itu.


"Sepertinya tuan Reza sangat senggang sekali, pagi-pagi begini sudah menumpang sarapan di rumah orang." Sindir Daffa yang sedari tadi duduk dengan kaki menyilang.


"Dan sepertinya tuan Daffa juga sangat perhatian sekali kepada seorang partner bisnis, sampai-sampai datang secara pribadi ke kediamannya." Reza menekankan kata itu, bahwa status mereka adalah hanya sebagai partner.


Daffa menyunggingkan bibirnya, "Tentu saja."


"Apakah tuan Reza masih belum selesai dengan makanannya? ah, sepertinya sudah habis ya, jadi silahkan anda untuk segera pergi karena saya akan membicarakan bisnis dengan Rumi." Ujar Daffa dengan menekankan setiap kalimat dengan penuh arti.


Arumi tidak bisa berkata-kata ataupun untuk melerai perdebatan mereka, lebih baik ia sesegera mungkin memisahkan mereka berdua. "Mm... maaf kak ada yang harus aku urus dengan Daffa jadi--," sebenarnya Arumi merasa tidak enak jika harus mengusir kak Reza.

__ADS_1


"Aku mengerti." Tukas Reza sembari bangkit dari duduknya, "Lain kali aku akan kesini lagi." Sambungnya.


Arumi mengambil tab nya untuk membahas pekerjaan dengan Daffa. "Jadi bagaimana?" Tanya Arumi setelah ia panjang lebar berbicara mengenai proyek yang sedang di kerjakan nya. "Oke, sesuai dengan rencanamu saja." Jawab Daffa dengan wajah datar.


"Jadi tidak ada yang perlu di tambahkan, atau koreksi semacamnya?" Arumi memastikan. "Tidak ada." Jawab Daffa sambil mengangguk.


Arumi ikut mengangguk dengan senyum yang di paksakan karena kesal. "Kalau tidak ada yang ingin kau komentari kenapa harus jauh-jauh datang kesini dasar psikopat." Umpat Arumi namun dalam hati.


Beberapa lama mereka berhadapan dengan diam tanpa melakukan apapun. "Jadi apakah masih ada yang perlu di bahas?" Tanya Arumi setelah menunggu beberapa saat. "Tidak ada." Jawab Daffa dengan wajah datar.


Arumi mengangkat bahunya seolah bertanya, begitupun sebaliknya Daffa membalas dengan mengangkat bahunya.


"Lalu kenapa kau masih disini, tidak pergi-pergi juga?" Gerutu Arumi.


"Masa bodoh lah, kalau tetap mau disini. Aku akan berganti pakaian dan pergi jalan-jalan untuk merilekskan tubuhku ini yang sudah kelelahan bekerja." Gumam Arumi dalam hati, sembari beranjak pergi menuju kamarnya.


Memakai pakaian santai tidak mengurangi kecantikan Arumi sama sekali, ia berjalan menuju pintu keluar dengan membawa sebuah tas.


"Kau mau kemana?" Tanya Daffa saat melihat dirinya tidak di hiraukan ataupun di ajak. "Jalan-jalan." Jawab Arumi santai.


"Lalu aku?" Daffa menunjuk dirinya sendiri. Arumi mengangkat kedua bahunya, "Terserah." Lalu melanjutkan langkahnya.


Karena tidak ingin di tinggal sendirian di rumah orang lain, Daffa bergegas menyusul Arumi.


Arumi memencet tombol kunci mobilnya. "Kau mau kemana?" Lagi-lagi Daffa bertanya sembari mengikuti langkah Arumi. "Aku bilang aku mau pergi jalan-jalan." Tegas Arumi dengan penuh penekanan.


"Maksudku... biar aku mengantarmu jalan-jalan, mobil ku ada di sana," Usul Daffa sembari menunjuk kearah dimana mobilnya di pikirkan. "Tidak, terimakasih." Tolak Arumi yang kemudian masuk ke dalam mobil miliknya.


Tanpa pikir panjang Daffa ikut masuk dan duduk di kursi sebelahnya. Arumi mengerutkan keningnya melihat tingkah laku seorang Daffa. "Turun sekarang, atau aku bawa pergi." Tegas Arumi.

__ADS_1


"Bawa aku pergi." Jawabnya dengan pasti. Arumi menghela nafasnya panjang. Namun sembari menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas pergi dari sana.


"Apakah tuan Daffa sangat senggang hari ini sehingga ingin ikut bersamaku untuk pergi jalan-jalan?" Tanya Arumi di tengah perjalanan mereka di dalam mobil.


__ADS_2