
"Sarah... Ayo cepat kita bersiap, kita selesaikan pekerjaan saat ini juga," Arumi berteriak di dalam kamarnya, ia kira Sarah masih ada di ruang makan.
"Orang tuaku memberi kabar, bahwa mereka sudah ada di Jakarta," Arumi berjalan keluar dari kamarnya, namun tidak memperhatikan arah depan. Ia sibuk dengan pakaiannya saja yang masih belum rapi.
"Jadi kita harus segera pul..." ia tidak melanjutkan perkataannya, setelah baru sadar hanya ada Daffa di ruang makan itu.
"Kemana Sarah?" tanyanya.
"Sudah pergi."
"Pergi? Pergi kemana?" Arumi mengernyitkan keningnya.
"Menyelesaikan pekerjaan." Jelas Daffa singkat.
"Aduh... Kalau bicara tuh jangan setengah-setengah, jelaskan detailnya!" Arumi merasa tidak sabaran ia menghentakkan kakinya.
"Intinya.. Sekarang kita pulang ke Jakarta, karena pekerjaan sedang di urus oleh Sarah dan Alex." Daffa berdiri dari duduknya dan menghampiri Arumi.
Baru saja Arumi telah membuka mulutnya untuk berbicara, namun tidak jadi karena Daffa lebih dulu memotongnya.
"Apa masih belum mengerti juga Arumi Farentina?" Daffa menyebut nama lengkapnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Arumi.
"Aku mengerti. Aku akan pergi sekarang." tukasnya. "Tapi kenapa kau terus mengikuti ku?" Arumi menghentikan langkahnya karena Daffa yang mengikutinya.
"Memangnya kau akan pulang menaiki apa? Pesan taksi online? Dari jarak yang lumayan jauh ini?"
Karena Daffa sengaja menyuruh Alex untuk memakai mobil Sarah, dan mobil miliknya di urus oleh pegawainya yang lain. Kini hanya tersisa mobil milik Daffa saja.
Setelah Arumi berada di luar penginapan, ia melihat sekeliling. Dan benar saja hanya tinggal satu mobil disana.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Cetusnya sembari menghela napas dengan kasar.
Daffa menarik satu sudut bibirnya, ia merasa telah menang.
"Apa kau akan pulang dengan pakaian seperti itu?" Arumi menatap tajam pada Hoodie yang di pakai Daffa.
"Memangnya kenapa?" Daffa masuk kedalam mobilnya tanpa menghiraukan perkataan Arumi.
*
*
__ADS_1
Dengan menempuh jarak waktu kurang lebih dua jam. Mereka telah sampai di depan Apartemen milik Arumi.
"Apa kau tidak akan mengajak ku untuk masuk? Aku akan menyapa uncle Farrel dan aunty Rossa,"
"Sayang sekali tuan Daffa, mereka tidak ada disini. Mereka menginap di hotel." Arumi pergi kedalam Apartemennya meninggalkan Daffa begitu saja.
Awalnya Daffa ingin berduaan saja dengan Arumi di penginapan, tetapi siapa yang tahu hal ini akan terjadi. Kedua orang tuanya ternyata sudah ada di Jakarta.
Daffa pergi menjalankan mobilnya untuk kembali pulang ke Kediaman keluarga Justin. Dengan jarak tempuh kurang lebih dua puluh menit, Daffa telah sampai di kediamannya.
"Akhirnya kamu sudah pulang..." Mami Calysta menyambut putranya dengan riang.
"Hm, aku mau mandi dulu Mi."
"Oke, oke.. Kau pasti sangat lelah," Mami mengangguk dengan senyum di bibirnya.
"Kak Daffa, mana kak Alex? Dan sejak kapan kak Daffa memakai baju feminim seperti ini?" Cyara mengintrogasi kakaknya dengan deretan pertanyaan, melihatnya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
Mami Calysta yang juga baru menyadari pakaian putra sulungnya, ikut menelisik dan menantikan jawaban dari Daffa.
"Aduh... Kenapa si putri kecil ini begitu cerewet sih!" Daffa mencubit pipi gemoy adiknya. "Kak Alex masih ada pekerjaan di luar sana, dan baju ini-- kakak meminjamnya dari teman." Daffa menjawab satu persatu pertanyaan dari Cyara.
"Teman kak Daffa perempuan?" suara cempreng Cyara lagi-lagi mengintrogasi nya.
Tentu saja semua perkataan yang di ucapkan oleh Cyara membuat Mami Calysta berpikiran kesana kemari.
.....
Sore hari kediaman keluarga Justin, terdengar suara bel berbunyi.
Asisten rumah tangga di sana membukakan pintunya dan mempersilahkan tamu itu masuk, karena sepertinya mereka terlihat akrab.
"Sepertinya semuanya sedang bersantai." Farrel menyapa Justin dan keluarganya yang sedang menonton acara televisi yang mereka sukai, terutama itu adalah acara kesukaan Cyara. Karena yang mereka tonton adalah film kartun.
"Rossa..." Calysta menyambut sahabatnya dengan sangat gembira, peluk kangen di berikan olehnya. Begitupun dengan Justin dan Farrel.
"Kenapa tidak kasih kabar lebih dulu? Coba lihat, kita tidak ada persiapan apapun!" Calysta melihat ke sekelilingnya.
"Tidak apa, kali ini kita sengaja menyenggangkan diri. Jadi masih banyak waktu," Rossa tersenyum dengan gembira.
"Aunty Arumi..." Cyara yang baru menyadari kedatangannya, berlari menghampiri Arumi dan memeluknya.
__ADS_1
"Cyara..." Arumi menyambut pelukan dari Cyara.
"Ini Arumi?" ucap Calysta dan Justin bersamaan.
Rossa dan Farrel menjawabnya dengan anggukan dan senyum di bibir mereka.
Kemudian Arumi memberi salam kepada kedua orang tua Daffa.
"Ayo duduk..."
Sementara itu Calysta memanggil bibi Nah, untuk menyiapkan makanan yang di sukai oleh sahabatnya itu.
"Baik nyonya," bibi Nah setengah membungkuk menuruti perintah majikannya.
"Sayang, makanan apa yang kamu suka?" tanya Calysta kepada Arumi.
Belum sempat Arumi menjawabnya, bibi Nah lebih dulu menyebutkan apa saja makanan kesukaan Arumi.
Arumi tersenyum mendengar semua itu, karena memang benar semua yang di sebutkan bibi Nah adalah makanan kesukaannya.
"Kamu sudah tau bi?" tanya Calysta heran, begitupun dengan yang lainnya.
"Iya Nyonya bibi sudah tau, waktu itu tuan Daffa yang menyuruh bibi membuatkannya dan di antarkan ke Apartemen nona Arumi." Setelah itu bibi Nah kembali ke dapur untuk mempersiapkan makanan yang telah mereka sebutkan tadi.
Bibi Nah kemudian memimpin beberapa asisten rumah tangga yang lainnya, yang bertugas di dapur.
Farrel dan Rossa tidak pernah mengira bahwa Daffa seperhatian itu kepada putrinya , karena yang mereka tahu Daffa juga baru kembali ke tanah air.
Kecuali Cyara dan kedua orang tuanya yang sudah tahu bahwa Daffa telah mengejar Arumi.
Mereka menyembunyikan nya melalui senyum di wajah. "Jadi benar apa yang di katakan oleh Cyara waktu itu, Putraku menyukai Arumi? Aku pikir itu hanyalah pemikiran Cyara saja yang masih kecil, ternyata benar ya!." Gumam Calysta dalam hatinya.
"Ini Cyara ya! Ya ampun... Lucu sekali" Rossa gemas melihat Cyara yang sangat imut.
"Cyara sudah kenal ya dengan Aunty Arumi?" Lanjut Rossa bertanya padanya.
"Em..." Cyara mengangguk dengan mulut yang sedang memakan ice crime, "Cyara pergi ke taman hiburan dengan aunty," ungkapnya.
"Begitu ya!..." Rossa lagi-lagi mencubit pipinya karena tidak pernah merasa bosan melihat Cyara yang lucu.
Sedari tadi Arumi telah celingukan kesana kemari, seperti sedang mencari seseorang. Namun kedua orang tuanya tidak menyadari hal itu.
__ADS_1
Hanya Mami Calysta saja yang peka. "Cyara tolong panggilkan kak Daffa di kamarnya," perintah Mami Calysta dengan suara yang lembut.
"Baik Mami," Cyara turun dari sofa dan lalu pergi ke lantai atas dengan membawa ice crime yang belum juga habis.