
Daffa menarik tangan Arumi, lalu memeluk pinggangnya. Tidak peduli dengan baju ganti yang di bawanya telah terlempar ke atas lantai.
Ia menatap wajah Arumi dengan intens, dari jarak yang begitu dekat.
"K, kau mau apa?" Arumi mendorong dada bidang itu untuk menjauhkan nya, tetapi sama sekali tidak berguna.
Jantung Arumi tengah berdebar tak karuan, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Daffa.
Daffa semakin mempererat pelukan di pinggangnya, membuat tubuh kecil Arumi semakin tertekan kedalam pelukannya.
"Le, lepaskan..." lagi-lagi Arumi mendorong dada bidang itu. Tetapi kali ini justru Daffa mencium bibirnya dengan lembut.
"Kau..." belum sempat Arumi untuk berbicara, mulut itu tengah kembali di tutup oleh bibir Daffa.
Daffa menciumnya semakin dalam dan semakin intim, ******* bibir manis Arumi dengan penuh nafsu. Entah sejak kapan bibir itu menjadi candunya.
"Eumph..." napas Arumi tersengal karena ciuman yang begitu menuntut dari Daffa.
Tapi bukannya melepaskan pagutan bibir mereka, Daffa malah semakin menikmatinya dan bermain dengan bibir manis itu.
"Eumph..." sekali lagi Arumi kesulitan untuk bernafas, memukul mukul dada bidang Daffa, memintanya untuk berhenti.
Baru setelah ini Daffa melepaskan pagutan bibir mereka. "Apa kau bodoh! Mengapa tidak bernafas?" Daffa menyentuh bibir Arumi yang basah karenanya.
"Bagaimana aku bisa bernafas," pekik Arumi sembari memalingkan wajahnya.
Daffa tersenyum penuh kemenangan, "Kenapa wajahmu memerah?"
Arumi menyentuh pipinya dengan kedua tangan "Wajahku tidak memerah." Bantahnya. Ia kemudian berlari pergi keluar dari kamar itu, lalu menuju ke kamar tidurnya dimana Sarah sedang tertidur disana.
Arumi menyentuh dadanya yang sedari tadi berdetak lebih cepat, dan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Tenang Arumi, ayo kita tidur dan beristirahat." ujarnya kepada diri sendiri sembari menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
*
*
Esok hari di pagi hari, nampak Arumi yang masih berbaring di atas tempat tidur, namun dengan mata yang sudah terbuka dan lingkaran hitam terlihat jelas disitu.
"Kau sudah bangun?" ucap Sarah yang baru membuka matanya. Tidak seperti biasanya sahabatnya itu bangun lebih dulu daripadanya.
Arumi menatap dengan tatapan kosong, "Lebih tepatnya aku tidak bisa tidur," ujarnya lemas.
"Memangnya apa yang kau lakukan semalam, sampai-sampai tidak bisa tidur?" Sarah turun dari ranjangnya lalu menuju ke kamar mandi, tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.
__ADS_1
"Ya, lebih baik aku mandi dan sarapan, agar otak ini bisa berfikir dengan benar." Ia kemudian menyusul Sarah masuk kedalam kamar mandi.
"Apa kau gila! Masuk sembarangan." Sarah berteriak di dalam sana.
Arumi tidak meladeni atau menggubrisnya, ia fokus saja sendiri membersihkan badan.
.....
"Ayo kita pergi sarapan, aku sudah memesan makanannya tadi. Mungkin sebentar lagi akan sampai." Ujar Sarah setelah mereka selesai mandi dan bersiap.
"Oke."
Mereka pergi menuju ke meja makan, tapi langkahnya terhenti saat melihat ada seseorang tengah duduk di meja makan mendahului mereka.
Juga banyak makanan yang tersaji di atas meja, terutama makanan itu kebanyakan kesukaan Arumi.
"Kau ada disini?" Tanya Sarah kepada Daffa, sembari melangkahkan kakinya lagi. Begitupun Arumi mengikutinya dari belakang.
Ia hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Sarah menatap tajam menelisik ke arah Daffa, memperhatikan Hoodie berwarna merah muda yang di pakainya olehnya. Seolah tidak asing melihat pakaian itu.
Hoodie berwarna merah muda milik Arumi di kenakan oleh Daffa, tapi terlalu pas di badannya karena ukurannya yang kecil di tubuh Daffa.
Meski seperti itu, Hoodie yang melekat di badannya terlihat sangat bagus dan tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya. Bahkan seperti aktor aktor Korea.
Ingin rasanya Sarah bertanya apa yang telah terjadi di antara mereka dalam waktu semalam saja. Tetapi ia mengurungkan keinginan itu, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
"Semua ini kamu yang pesan?" Sarah melihat ke seluruh hidangan yang ada di atas meja.
"Hm." Jawab Daffa singkat.
"Oke, aku tidak akan sungkan." Sarah memakan makanan yang di pilihnya.
Meski sedikit merasa canggung, Arumi juga ikut makan bersama mereka.
"Kalian masih berapa lama lagi disini?" Daffa bertanya dengan suara yang datar.
Arumi hanya diam saja, dan membiarkan Sarah yang menjawab pertanyaannya, "Nanti sore kita baru akan pulang, karena siang ini masih ada sedikit pekerjaan yang harus di urus."
Ting.. Nung..
Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi, membuat Sarah harus menghentikan kegiatan makannya, untuk membukakan pintu.
"Mungkin makanan yang sudah ku pesan tadi baru datang." Ujarnya sembari pergi kearah pintu utama.
__ADS_1
Kini hanya tinggal Arumi dan Daffa yang duduk berhadapan.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Daffa menatap wajah Arumi.
"Ya, sangat nyenyak." Jawabnya dengan kecut. "Nyenyak apanya, bahkan aku tidak bisa tidur sama sekali." gerutu Arumi namun dalam hatinya.
"Baguslah," Daffa tersenyum dengan penuh arti.
"Yo.. Kau tidak kembali semalaman dan ternyata enak-enak disini?" Alex tiba-tiba saja muncul dan menyapanya seperti itu.
Ya, ternyata itu bukan seorang kurir yang mengantarkan makanan, tetapi Alex lah yang datang.
"Bajumu bagus," tunjuk Alex ke baju yang di pakai oleh Daffa. Ia juga langsung menyadarinya, karena tidak pernah melihat seorang Daffa memakai pakaian berwarna cerah, apalagi warna merah muda.
Daffa tersenyum penuh arti mendengar perkataan dari Alex.
"Aku sudah selesai," Arumi beranjak dari duduknya dengan wajah yang terlihat memerah.
Bagaimana tidak memerah, jika sejak tadi yang di bahas adalah pakaian berwarna merah muda yang di kenakan oleh Daffa.
.....
"Apa kau senggang hari ini?" tanya Daffa kepada asisten pribadi sekaligus sahabatnya itu.
"Hm," Alex mengangguk sembari memakan sarapannya.
"Bagus, kalau begitu kau bantu Sarah menyelesaikan pekerjaannya." Tegas Daffa.
Alex melirik ke arahnya dengan tatapan tanya.
"Apa kau tidak mengerti dengan apa yang aku maksudkan?" Daffa menekankan perkataannya.
"O, oke aku mengerti." Ia melihat kearah Sarah meminta persetujuannya.
"Baiklah," Sarah menyetujuinya. Walau bagaimanapun ia akan membantu Daffa untuk dekat dengan Arumi, karena sebagai sahabat ia tetap merasa khawatir padanya.
Mengingat apa yang telah terjadi di antara mereka, bukan berarti tidak akan membuahkan hasil.
"Oke aku sudah selesai, apa kita bisa berangkat sekarang?" ajak Sarah kepada Alex.
"Ya, lebih cepat lebih baik!" Alex berdiri dari duduknya dan mengancingkan jasnya agar terlihat lebih rapi.
Sementara itu, Arumi yang masih berada di dalam kamarnya, tidak tahu tentang jadwal yang mendadak di ubah ini.
Sedangkan sebelumnya ia sudah berjanji dengan Sarah untuk pergi bekerja agak siang nanti.
__ADS_1
Kini ia tidak tahu kalau hanya tinggal dirinya dan Daffa yang saat ini berada di dalam penginapan.