
"Benar juga, kemana si breng*sek Reyhan? Sampai saat ini belum ada menghubungi ku." Dengus Arumi berbicara sendiri, ketika tersadar masalah Reyhan.
Kemudian ponsel Arumi bergetar, notifikasi pesan masuk. "Panjang umur juga, baru saja di bicarakan eh udah ngirim pesan aja." Sebuah pesan masuk dari Reyhan.
"Sayang kamu marah sama aku? Kok gak pernah menghubungi aku?" Deretan pertanyaan dikirim oleh Reyhan.
"Ck. tidak tahu malu." Ketus Arumi setelah selesai membaca pesannya.
"Aku tidak marah, dan akhir-akhir ini aku sedang banyak pekerjaan." Balas Arumi dengan dingin.
Tidak sabaran, Reyhan langsung beralih menghubunginya melalui panggilan, "Aku kangen, sekarang aku pergi ke Apartemen mu ya!" Langsung to the point tanpa berbasa-basi lagi ia berbicara.
"Rey ini sudah sangat malam."
"Tidak apa-apa, aku pergi sekarang." Kekeh Reyhan memaksa. "Sebentar saja ya! Aku kangen kamu, hanya ingin melihatmu saja." Gombal Reyhan.
Arumi bergidik mendengar perkataan Reyhan, kalau dulu mungkin ia akan merasa sangat senang mendengarnya, tetapi sekarang kebalikannya, rasanya mual ingin muntah saja mendengar itu.
"Terserah kau." Jawab Arumi malas.
Dengan menempuh jarak waktu selama dua puluh lima menit. Reyhan tengah sampai di depan Apartemen milik Arumi. Cukup lama bukan? Ya, karena Reyhan sedang berada di tempat yang jauh entah dimana.
Ia berdiri di dekat mobilnya untuk menunggu kedatangan Arumi. Kenapa? karena Arumi tidak pernah mengijinkan nya untuk naik ke atas apalagi masuk kedalam Apartemennya. Dengan alasan tidak baik jika di lihat tetangganya, padahal Arumi enggan dan ada rasa takut di hatinya, takut jika syetan melintas di pikirannya.
Terlihat Arumi tengah berjalan menghampiri Reyhan. Tentu saja Reyhan merasa senang dengan kesanggupannya, "Sayang..." Reyhan merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Arumi dengan erat, berbeda dengan Arumi yang hanya berdiri kaku tidak membalas pelukan Reyhan.
Entah sejak kapan, sepertinya ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka tidak jauh dari sana. Seorang lelaki tampan tengah memegang erat stir mobilnya. Tatapan tajam penuh amarah itu tertuju kearah Arumi da Reyhan.
Benar, ia adalah Daffa, sengaja pergi ke sana untuk melihat keadaan Arumi yang mungkin pikirnya ia sedang terpuruk dan bersedih atau bahkan bisa saja ia sakit. Namun semua kenyataan adalah kebalikan dari pikirannya, justru ia malah melihat Arumi yang sedang berpelukan mesra dengan Reyhan.
Daffa kira Arumi akan meminta putus pada kekasihnya karena kesalahan yang sangat patal itu, tetapi saat ini justru kebalikannya, mereka terlihat sangat mesra. "Apa kau benar-benar sangat mencintai dia?" gumam Daffa dengan tangan yang mengepal dan wajah yang semakin muram.
__ADS_1
"Ck, perjalanan ku masih panjang. Tunggu Arumi, sebelum ada ikatan yang sah di antara kalian, aku tidak akan pernah menyerah." Tekad Daffa, yang kemudian memutar balik mobilnya untuk pergi dari sana.
"Aku gak bisa bernafas," Arumi mendorong Reyhan sehingga pelukannya terlepas.
"Maaf sayang, beberapa hari ini tidak melihatmu aku sangat merindukanmu." Bulsit seorang Reyhan, yang tentu saja Arumi tahu dan tidak akan terpengaruh.
"Benarkah?" Arumi menyunggingkan satu sudut bibirnya.
Reyhan menjawab dengan anggukan dan senyum di bibirnya, "Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar!" Ajaknya.
"Tidak, ini sudah sangat malam." Jawabnya dingin.
"Sebentar saja ya!" Bujuk Reyhan.
"Rey aku lelah dan ingin istirahat." Lagi-lagi Arumi menolak dengan alasan yang masuk akal.
"Baiklah kalau begitu, kita jalan-jalan lain kali saja. Tidur yang nyenyak ya..." Ucap Reyhan sembari mengelus rambut kekasihnya dengan lembut. Sungguh perhatian sekali, kalau saja hati dan perbuatannya sama baik, itu aka menjadi nilai plus.
"Ck, jadi cewek sok jual mahal banget." Umpat Reyhan sembari masuk ke dalam mobilnya.
**
Sudah puas Daffa pergi minum-minum untuk menghilangkan kekesalannya. Padahal selama ini Daffa sudah tidak menyentuh alkohol lagi, tetapi sekarang mungkin hatinya benar-benar tergores meski tidak sampai patah.
Daffa mengendarai mobilnya dengan keadaan setengah mabuk, ia memang kuat jika sudah minum-minum tidak akan sampai kehilangan kesadarannya. Tetapi tetap saja itu sudah melanggar aturan, berkendara dalam pengaruh alkohol.
Meski dengan kepala yang rasanya pening, Daffa telah sampai di rumah dengan selamat. Masuk kedalam rumah dengan jalan yang sempoyongan, sedangkan semua orang yang ada di rumah sudah berada di kamarnya masing-masing, hanya tersisa penjaga saja yang ada di luar. "Tuan anda tidak apa-apa?"
Daffa mengangkat tangannya, yang berarti 'tidak apa-apa', namun penjaganya tetap saja khawatir karena sejak kepulangannya baru kali ini ia melihat tuan Daffa seperti itu.
Ia melempar tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa membuka sepatu atau membersihkan badannya.
__ADS_1
Esok hari di pagi hari, semua orang telah berkumpul mengelilingi meja makan, untuk sarapan bersama.
"Kemana Daffa? tumben sekali belum turun." Mami Calysta merasa ada yang kurang di meja makannya.
Semua orang menggelengkan kepala. "Bi tolong panggilkan Daffa di kamarnya." Mam Calysta menengok kearah bibi Nah.
Tidak lama bibi Nah telah kembali ke ruang makan, "Tuan bilang, duluan saja nanti dia menyusul."
"Apa ada masalah di perusahaan Lex?" Tanya Papi Justin kepada Alex.
Alex menggelengkan kepalanya, "Tidak ada?"
Memang selama ini mereka hanya membahas masalah perusahaan jika sedang berkumpul seperti itu, dan sesekali menggoda Cyara yang doyan makan. Tidak pernah membahas masalah pribadi Daffa ataupun Alex.
Lama Daffa tidak turun juga, sarapan sudah hampir selesai. Cyara yang mengerti dengan keadaan bahwa Mami dan Papi nya merasa khawatir pada kakaknya, ia berinisiatif untuk menenangkan mereka, "Biar aku saja yang panggil kak Daffa." Usulnya sembari bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan menaiki tangga.
"Hwaaa... hwaaa..." Tiba-tiba saja Cyara menangis sekeras mungkin di depan pintu kamar kakaknya. Membuat Daffa yang sedang memakai baju karena baru saja selesai mandi, terkejut dan segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Cyara?" Daffa khawatir dengan keadaan adiknya, bahkan ia belum sempat mengancingkan kemejanya.
"Berhasil." Cyara bergumam namun dalam hatinya.
"Hiks... hiks..." Cyara belum mengangkat suaranya, ia masih menangis tersedu.
Semua orang yang ada di bawah juga bergegas untuk melihat keadaannya, karena suara tangis Cyara benar-benar terasa nyata. Namun mereka mengurungkan niatnya setelah melihat Daffa yang sedang berlutut di hadapan adik cantiknya itu.
Mami Calysta menghela nafasnya panjang, "Putri mu itu sudah pandai berakting."
"Dia juga Putri mu," Tukas Justin kepada istrinya sembari merangkul dan membawanya turun kembali.
Alex menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik perempuan seorang Daffa, "Bagus Cyara, selama ini tidak ada yang berani mempermainkan kakak mu itu. Kecuali kamu dan Arumi." Alex tersenyum puas.
__ADS_1