
Daffa menggendong Arumi turun dari sana dan membawanya masuk kedalam mobil. Membiarkannya terbaring di kursi belakang sementara Daffa di depan menyetir.
"Tolong aku..." Lirih Arumi tak berdaya.
"Tahan sebentar Arumi, aku akan segera membawa mu ke Dokter."
Ia dengan sigap segera menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, mencari rumah sakit terdekat di sana, tetapi tidak kunjung melihatnya.
Karena khawatir, ia juga menghubungi dokter pribadi kepercayaan keluarga Justin.
Daffa menanyakan apa yang harus dilakukannya untuk membuat Arumi tenang sebelum di tangani oleh Dokter.
Dengan sesekali Daffa menengok ke belakang, sungguh membuat ia merasa khawatir melihat keadaan Arumi yang sesekali menggelinjang. Sepertinya Arumi benar-benar sangat terangsang.
Bahkan tadi saja ketika Daffa menggendongnya, Arumi kerap menciumi leher Daffa dengan penuh gairah.
Jujur saja siapa pria yang tidak akan tergoda dengan hal itu, hanya saja Daffa tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Daffa, halo," suara Dr. Filliansyah yang menyahut karena sedari tadi tidak mendengar Daffa berbicara.
"Iya uncle, bagaimana?"
"Aku bilang, hal seperti itu tidak ada obatnya. Kalau pun kau membawanya ke rumah sakit, aku tidak akan menjamin ia akan menerkam lelaki siapa saja yang mendekatinya," Dr. Fill mencoba menjelaskan.
"Apa?" Daffa sangat terkejut mendengar pernyataan itu "Apa tidak ada cara lain?"
"Ada dua cara."
"Apa itu?"
"Pertama, kau sendiri yang harus menolongnya jika tidak rela orang lain yang melakukannya. Kedua, kau bisa membuatnya berendam di air dingin sampai badannya sedikit mati rasa dan efek obatnya menghilang. Tentu saja yang kedua itu akan lebih menyiksa karena memakan waktu yang lama untuk membuatnya mati rasa."
Dr. Fill memutuskan panggilannya dari satu arah.
Daffa merasa bingung dan bimbang dengan jawaban yang di berikan oleh Dr. Fill
Apa yang harus ia lakukan, yang pasti sekarang tujuannya bukan rumah sakit ataupun dokter.
Tidak bisa menunggu terlalu lama dan membuat Arumi semakin tersiksa. Daffa memutuskan untuk berhenti di sebuah hotel yang ia lalui, hotel yang masuk standar mewah.
Ia segera menggendong Arumi membawanya keluar dari mobilnya, dan lalu melakukan check-in dan bergegas setelah mendapatkan kartu kamarnya.
"Anak jaman sekarang sungguh tidak sabaran." Seorang wanita paruh baya yang melihat mereka begitu terburu-buru.
__ADS_1
Apalagi ketika melihat Arumi yang sedari tadi menciumi leher Daffa tanpa henti. Bahkan kini sudah ada tanda kemerahan di lehernya.
Di dalam kamar hotel, Daffa langsung membawanya ke bathroom. Ia berencana untuk merendamkan Arumi dalam air yang dingin.
Namun apa yang terjadi ketika Arumi telah berada di dalam bathtub, ia justru menarik Daffa untuk ikut ke dalamnya.
Arumi mencium bibir Daffa dengan paksa dan penuh gairah. Lalu Daffa menolak dan sedikit mendorongnya agar terlepas dari pagutan bibir Arumi.
"Maaf Arumi, aku tidak ingin membuatmu menyesal pada akhirnya." Jelas Daffa, namun entah Arumi mengerti atau tidak.
Bukan menurut padanya, tetapi Arumi malah semakin menjadi. Ia mencoba berdiri meski dengan susah payah keluar dari dalam bathtub.
Tidak banyak bicara, Arumi menarik Daffa yang masih berada di dalam sana.
Memeluk lehernya lalu mencium bibirnya dengan penuh nafsu, melu*at setiap inci bagian bibir Daffa.
Melepas pelukan leher itu dan beralih membuka kancing kemeja milik Daffa satu persatu. Namun Daffa menahannya, dan melepaskan pagutan bibir mereka.
"Jangan salahkan aku, karena kau yang menginginkannya." Bisik Daffa di telinga Arumi.
Lalu ia dengan penuh nafsu menciumi Arumi dengan sangat menuntut, mengeluarkan nafsunya yang selama ini selalu ia tahan.
Membuka resleting baju Arumi yang masih tersisa setengah. begitu juga sebaliknya, Arumi melepas kemeja yang di kenakan oleh Daffa.
Dan di bawah sana mahkota yang paling berharga yang selalu ia jaga, dan masih tertutup oleh kain segitiga.
Mereka kembali berci*man dengan sangat panas, dan kini saling membalas karena di inginkan oleh keduanya.
Berjalan keluar dari bathroom, menuju tempat tidur tanpa melepaskan pagutan bibir mereka.
Mereka menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dan melanjutkan aksinya. Arumi berada di bawah badan kekar Daffa yang masih berci"man dengannya.
Kini tangan Daffa tidak tinggal diam, ia melepaskan kain yang masih menutupi aset yang menyembul itu.
Terlihat sudah semuanya, si kembar yang sangat menggugah gairah.
Kemudian tangan itu memainkannya dengan lembut, membuat Arumi merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan.
Emph,
Arumi tidak tahan untuk mengeluarkan desahannya.
Daffa melepaskan pagutan bibir mereka, lalu mencium setiap lekuk lehernya dan turun hingga sampai di puncak yang menyembul itu.
__ADS_1
Menyesap dan memainkannya dengan lembut.
Emph... ahh...
Arumi sungguh tidak tahan lagi dan sangat menikmati itu.
Apalagi di bawah sana sudah terasa sesuatu yang keras menyentuh mahkotanya yang masih tertutup kain segitiga.
Arumi hendak membuka sabuk yang masih terpakai di pinggang Daffa, namun karena keduanya sudah tidak tahan lagi.
Daffa bangun dan melanjutkan untuk membuka celananya, kini ia berdiri tanpa sehelai benangpun yang menutupi seluruh tubuhnya.
Terlihat di bawah sana senjata yang sudah menegang dengan sempurna. Sungguh bukan main kepunyaan Daffa.
Ia kembali mengungkung Arumi di bawahnya "Apa kau siap!" Bisiknya.
Arumi menjawabnya dengan anggukan yang sangat pasti.
Lalu Daffa melepaskan kain segitiga yang menjadi penghalang satu-satunya.
Daffa kembali menatap wajah Arumi dengan penuh kasih "Aku tidak akan mundur lagi."
Perlahan Daffa memasukan senjatanya sedikit demi sedikit dengan susah payah, dan mencabutnya kembali.
Karena ini baru pertama kalinya bagi keduanya, Daffa melakukan nya dengan sangat lembut, karena tidak ingin membuat Arumi terkejut dan sakit yang berlebih.
Kembali Daffa memasukan senjatanya sedikit demi sedikit, semakin dalam dan semakin sempit, semakin susah untuk menebusnya, Daffa menariknya kembali keluar.
Saat ini Arumi tengah menggelinjang dan mendesah dengan apa yang di lakukan oleh Daffa.
Daffa melakukannya sekali lagi, memasukan senjatanya semakin dalam, semakin dalam, semakin sempit, dan semakin susah untuk menembusnya.
Namun kali ini Daffa tetap melanjutkannya dan menghentakkan, hentakan lagi, dan sekali hentakan lagi.
Akh...
Mereka bersamaan mengeluarkan suara sakral itu. Jika Daffa mendesah karena merasa menikmatinya, karena kepunyaannya kini telah tertanam dengan sempurna.
Tetapi tidak dengan Arumi yang mendesah karena merasa perih di bagian mahkotanya. Namun semua itu bukan masalah, karena gejolak gairah terlalu besar untuk merasakan sakit.
Saat ini Daffa menggenjotnya dengan perlahan dan penuh kelembutan, membuat jalan itu kini tidak lagi sesempit saat pertama di lalui.
Suara sakral khas bercinta telah memenuhi sudut ruangan.
__ADS_1