
Hari berganti hari, Minggu berganti minggu, waktu begitu cepat berlalu hubungan Justin dan Calysta masih hanya sebatas pura-pura di depan orang tua mereka.
Sampai suatu hari di hari libur, semua orang di rumah Calysta sedang sibuk memasak.
''Ini ada apa sih Mi, kok masak banyak makanan nggak seperti biasanya?.'' Tanya Calysta penasaran.
''Angel, malam ini kan keluarga Justin akan kesini untuk menentukan hari pernikahan kalian.'' Jelas Maminya.
''APA?.'' Calysta terkejut mendengar ucapan Maminya.
''Mami kok nggak minta pendapat aku dulu, dan nggak ngasih tahu sebelumnya juga?.'' Calysta terlihat kesal bercampur bingung.
''Loh, memang kenapa? kalian sudah cocok satu sama lain dan kita sebagai orang tua juga merestui hubungan kalian, jadi hanya tinggal mempersiapkan semuanya.'' Ucap Maminya sembari sibuk mempersiapkan.
''Tapi Mi aku belum siap untuk ke jenjang itu.'' Calysta menyangkal.
''Mau tunggu apa lagi, kamu sudah waktunya untuk menikah, teman-teman kamu malah sudah ada yang punya momongan.'' Maminya bersikeras membujuknya.
''Calysta, Papi sama Mami sudah tidak muda lagi, Papi berharap ada yang bisa menggantikan kami menjaga kamu, dan lagi Papi sama Mami ingin menikmati masa tua bersama cucu cicit kami.'' Ujar Papi Calysta yang tiba-tiba datang dan ikut bicara.
Calysta hanya terdiam dan banyak yang sedang di pikirkan nya, lalu diapun pergi ke kamarnya.
''Haduh... masalahnya kok jadi semakin rumit gini sih, Justin juga kenapa nggak kasih tahu aku kalau akan ada acara kayak gini.'' Calysta yang berbicara sendiri di dalam kamarnya.
''Aku hubungi dia dulu deh.''
Calysta langsung menelpon Justin untuk bertanya dan mencari solusinya.
Driing... dringg...
Tidak di jawab
''Justin apa-apaan sih nggak jawab teleponnya.'' Calysta terlihat kesal, dan coba menghubungi nya lagi.
Dring... dringg...
''Hallo, ada apa?.'' Jawab Justin.
''Kenapa baru angkat teleponnya, dan kenapa kamu nggak kasih tahu aku soal masalah ini?.'' Calysta berbicara dengan nada kesal.
''Kall aku sedang ada meeting dadakan, nanti aku hubungi kamu lagi ya.'' Ucap Justin.
''Nggak, pokoknya nggak bisa harus di selesaikan sekarang, lagian meeting apa di hari libur.'' Calysta berbicara dengan nada yang tinggi.
Saat itu Justin langsung menyuruh Farrel untuk membereskan meeting nya, sementara itu teleponnya masih tersambung dengan Calysta.
'' I'm sorry sir, I have an emergency. Let Farrel continue (maafkan saya pak, saya ada urusan darurat. Biar Farrel yang melanjutkan)'' Justin berbicara kepada Klien nya yang berasal dari luar Negeri.
Mendengar perkataan Justin dari teleponnya, Calysta baru percaya bahwa dia memang sedang meeting dengan Klien penting.
Akhirnya Farrel yang melanjutkan meeting, sedangkan Justin pergi ke luar untuk melanjutkan obrolan teleponnya.
''Hallo Calysta.'' Justin menyambung obrolannya.
''Iya, sekarang kamu jelaskan.'' Calysta yang to the points.
''Jelaskan? jelaskan apa?.'' Tanya Justin.
''Haishh... kamu kenapa nggak kasih tahu aku kalau nanti malam akan ada acara penentuan tanggal pernikahan?.'' Ucap Calysta meminta penjelasan.
''Hah, tanggal pernikahan? siapa yang akan menikah? kalau ngomong tuh yang jelas Calysta.'' Justin yang kebingungan karena memang dia juga tidak tahu apa yang terjadi.
''Kamu juga tidak tahu? haishh... ya sudah mendingan kita sekarang ketemu dan bicarakan semuanya, aku tunggu kamu di taman kota.'' Ajak Calysta.
''Iya aku berangkat sekarang.'' Ucap Justin.
__ADS_1
Merekapun mengakhiri obrolannya, dan sama-sama bergegas untuk bertemu di taman kota.
Tak lama Calysta sampai di taman kota dan tampak Justin sudah tiba lebih dulu.
Mereka duduk di bangku taman dan memulai pembicaraan.
''Jadi kamu benar-benar tidak tahu?.'' Tanya Calysta.
Justin menggelengkan kepalanya, karena dia memang benar-benar tidak tahu.
''Okeh, jadi nanti malam itu Papi Mami kamu mau ke rumah untuk menentukan tanggal pernikahan kita.'' Calysta mencoba menjelaskan.
''Serius?.'' Justin tidak percaya, namun dia berkata sambil tersenyum.
''Kok kamu malah senyum gitu?.'' Tanya Calysta dengan nada ngegas.
''Ehem, nggak aku pikir kamu bercanda makanya aku senyum.'' Justin mencari alasan. Padahal sebenarnya dia memang senang mendengar itu.
''Jadi apa yang harus kita lakukan.'' Lanjut Justin bertanya.
''Itu dia aku juga bingung?.'' Calysta mengeluh.
''Ya sudah kita turuti saja kemauan mereka.'' Ucap Justin dengan santainya.
''Apa kamu bilang, memangnya kamu mau hidup bersama orang yang nggak kamu cintai, kalau aku sih maunya nikah sama seseorang yang benar-benar aku cintai.''
Mendengar itu Justin merasa sakit hati,
''Apa sedikitpun aku tidak ada di hatimu Kall,'' Keluhnya dalam hati
''Mau bagaimana lagi, toh aku juga nggak bisa dekat-dekat sama wanita lain kecuali kamu, Ya... meskipun kamu cerewet dan juga rata.'' Jawab Justin dengan wajah datar.
''Apa kamu bilang, eh dengar ya secara pisik wajah aku itu cantik, imut, lucu, dan juga kamu sebut aku rata, apa kamu tidak lihat ukuran ku di atas rata-rata.'' Calysta tidak berhenti mengomel karena tidak terima dengan apa yang di katakan Justin.
Justin melongo mendengar apa yang di ucapkan oleh Calysta.
''Ehem... baiklah lupakan itu, kita lanjut ke permasalahannya.'' Ucap Calysta sedikit malu dengan kepolosan nya.
''Jadi kamu tidak punya solusi lain untuk hal ini?.'' Lanjutnya.
''Hmm... aku terserah kamu saja.'' Jawab Justin.
Calysta pun terdiam dan kebingungan, tidak terasa Calysta menyenderkan kepalanya di bahu Justin.
''Hah aku bingung.'' Keluh Calysta.
Wajah Justin memerah dan detak jantungnya tidak terkendali.
''Justin santai Justin, jangan sampai Calysta mendengar suara detak jantungmu, piuhh... tenang tenang tenang.'' Gumamnya dalam hati dan menarik napas panjang.
Sementara itu Calysta yang bersandar di bahunya memikirkan apa yang akan dia lakukan.
''Kalau di pikir-pikir aku juga nggak punya kekasih, Justin orangnya juga ganteng sudah mapan pula, sejauh ini sih nggak ada kekurangan selain penyakitnya itu, tapi ada untungnya juga sih penyakit kayak gitu jadi dia nggak bakal main-main sama cewek lain.''
''kalau aku menikah sama dia nggak ada ruginya juga, Mami sama Papi juga pasti bahagia.''
Banyak hal yang di pikirkan Calysta dan mempertimbangkan untuk menuruti kemauan orang tuanya.
''Kalau di pikir-pikir...,'' Calysta mulai membuka mulutnya dan berbicara.
Justin meliriknya dan mencoba mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh Calysta.
''Nggak ada salahnya aku menikah sama kamu, lagipula aku juga nggak punya kekasih,'' Calysta mencoba meyakinkan untuk menyetujuinya.
''Kamu serius!?.'' Justin tiba-tiba menjadi sangat gembira mendengar apa yang di katakannya.
__ADS_1
''Iya.'' Jawab Calysta.
''Aku akan mencoba yang terbaik untuk membuat kamu bahagia.'' Justin memeluk erat Calysta.
''Hmm, aku pegang janji mu.'' Ucap Calysta.
''Pasti sayang.'' Justin meyakinkan Calysta dengan penuh keseriusan.
''Orang ini ekspresinya, seakan-akan benar-benar berjanji kepada kekasihnya penuh ketulusan, lembut sekali.'' Gumam Calysta dalam hati.
Setelah itu Justin mengantar Calysta pulang kerumahnya, karena tadi Calysta ke taman dengan diantar oleh pak Satpam.
Sampai di depan rumah Calysta,
''Aku pulang ya.'' Ujar Justin.
''Ya sana, ngapain minta ijin dulu.'' Jawab Calysta.
''Siapa tahu kamu nggak rela berpisah sama aku.'' Canda Justin sambil tersenyum.
''Nggak, sudah sana pergi.'' Calysta mengusirnya.
''Sampai ketemu nanti malam sayang,'' Justin berkata sambil menjalankan mobilnya.
Calysta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah laku Justin.
Malam pun tiba, saat itu Justin dan orang tuanya tengah bersiap-siap untuk segera pergi ke rumah Calysta.
''Mi, aku sudah ganteng belum? baju aku cocok nggak? parfum aku wangi kan? rambut aku sudah oke nggak?.'' Banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh Justin kepada Maminya.
Dia menjadi salah tingkah karena akan bertemu dengan kekasih hatinya.
''Iya sudah, anak Mami memang yang paling tampan.'' Ucap Maminya.
''Kenapa dia Mi, nggak seperti biasanya, kelihatan bahagia sekali.'' Papi Justin yang ikut bicara.
''Apalagi kalau bukan karena akan bertemu dengan kekasihnya, padahal Mami belum kasih tahu dia, kita mau ke rumahnya Calysta, tapi sepertinya dia sudah tahu. Tadinya sih Mami mau kasih kejutan.'' Jelas Istrinya.
''Ya sudah, apa sudah siap semuanya?.'' Tanya Papinya.
''Sudah, Justin ayo kita berangkat.'' Panggil Maminya.
Mobil mewah itu melaju ke tempat tujuannya.
Terpancar kebahagiaan di wajah mereka, terutama Justin dia sangat bahagia karena Calysta mau menjalin hubungan bersamanya.
''Calysta, meskipun kamu belum mencintai aku, tapi aku akan berusaha agar kamu bisa mencintai aku sampai tidak rela untuk berpisah dengan ku.'' Gumam Justin dalam hatinya.
Sampailah di rumah Calysta. Mereka semua turun dari mobil dan nampak orang tua Calysta sudah menyambut kedatangan mereka di depan pintu rumahnya.
Mereka bersalaman termasuk Justin mencium tangan kedua orang tuanya Calysta untuk memberi salam.
''Mari silahkan masuk.'' Ajak Mami Calysta.
Semua orang masuk kedalam dan sudah di arahkan untuk makan malam bersama terlebih dahulu.
Meja makan yang penuh dengan hidangan-hidangan enak yang sudah di persiapkan oleh mereka.
''Mi, Calysta kok belum turun, coba panggil.'' Perintah Papinya Calysta.
''Calysta...'' Teriak Maminya Calysta.
Tidak lama kemudian Calysta keluar dari kamarnya dan menuruni tangga.
''Itu dia Calysta.'' Ucap Mami Justin sambil tersenyum melihat ke arah Calysta datang.
__ADS_1
Justin ikut menengok ke arah Calysta dan betapa sangat terpana melihat Calysta yang sedang menuruni tangga, dengan mengenakan gaun yang indah serta riasan wajah yang tidak terlalu tebal membuat dia semakin mempesona seperti Bidadari yang turun dari khayangan.
Next