Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 67


__ADS_3

"Apa lagi yang harus kubawa? perlengkapan semuanya sudah ku masukkan ke dalam koper. Biar ku cek kembali, takut ada yang tertinggal," Arumi sedang sibuk mengemas barang-barangnya untuk di bawa besok. Ia akan pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.


"Rumi, kita mau bekerja oke. Bukan untuk berlibur ke luar negeri, banyak sekali barang yang kau bawa!" celoteh Sarah saat melihat koper besar milik sahabatnya itu yang penuh dengan barang-barang yang tidak penting.


"Ish, kita harus menikmati setiap momen dan manfaatkan itu. Jangan hanya tau bekerja dan bekerja, kita juga harus menikmati hidup ini," Arumi menepuk-nepuk masker yang di tempelkan di wajahnya.


"Terserah kau saja," Sarah menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan kedua matanya.


**


Esok harinya Arumi dan Sarah telah tiba di kota A, dimana kota tersebut terdapat banyak sekali tempat wisata yang di gemari pengunjung, termasuk pengunjung dari berbagai kota bahkan ada yang dari luar negeri.


Di sebuah penginapan yang telah mereka pesan untuk beberapa hari ini, Arumi dan Sarah sedang membereskan barang yang mereka bawa.


"Kemana dulu tujuan kita selanjutnya?" tanya Arumi sembari menyimpan ****** ***** di dalam lacinya.


"Kita ke arena pantai dulu, setengah jam lagi kita berangkat," jawab Sarah yang juga sama sedang membereskan pakaiannya.


"Apa? setengah jam, itu bahkan tidak cukup untuk kita istirahat!" pekik Arumi dengan bibir yang mengerucut.


"Memangnya kau butuh berapa lama untuk beristirahat? selama di dalam mobil bukannya kau hanya tidur, apakah masih kurang." Omel Sarah.


"Ck. itu beda lagi," keluhnya dengan berdecak pasrah.


"Lagi pula, model yang di panggil oleh perusahaan kita hanya punya waktu satu jam untuk pemotretan disini," tukas Sarah menjelaskan kepadanya. Mengingat bagaimana susahnya membujuk sang model untuk sebuah pemotretan iklan produk perusahaannya.


"Ck, sombong sekali. Memangnya dia artis?" gerutu Arumi sembari mengerlingkan matanya.


"Memang dia artis. Artis yang sangat populer dan juga tampan," terang Sarah sembari mendekatkan wajah ke depan wajah Arumi "Itulah mengapa kau harus memeriksa seluruh pekerjaan di perusahaan mu, jangan hanya mengandalkan orang kepercayaan saja."


"Tapi aku benar-benar sangat percaya padamu." Arumi menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, ayo kita pergi."


Dalam menempuh jarak waktu kurang lebih dua puluh menit, mereka telah sampai di sebuah pantai yang cukup indah dan yang pasti sangat bersih lingkungannya.


Arumi dan Sarah telah berganti pakaian hawai, tidak sampai memakai baju renang yang seksi ataupun semacamnya.

__ADS_1


Mereka memiliki batas dan juga sadar bahwa mereka bukan sedang liburan melainkan sedang bekerja.


"Itu dia," tunjuk Sarah ke arah kerumunan orang yang sedang melakukan pemotretan.


Arumi menaikan kacamata hitamnya ke atas kepalanya. "Ayo kita ke sana."


"Bagaimana hasilnya?" Sarah bertanya ke petugas bagian pemotretan.


"Bagus... hanya saja ia begitu arogan. Ia tidak mau berfoto bersama dengan seorang wanita, padahal kita juga harus melakukan clip pendek," keluh seorang pemotret dan kru lainnya.


"Kita bisa mengeditnya kan!"


"Memang bisa, tatapi hasilnya tidak akan begitu maksimal."


"Kenapa dia tidak mau berfoto dengan seorang wanita?" tanya Arumi dengan ketus, karena merasa jengkel mendengar alasan yang tidak masuk akal seperti itu.


"Katanya model wanita yang kita panggil, tidak sebanding dengan selera yang ia inginkan. Bahkan membuat wanita itu pergi sambil menangis mendengar perkataan pedas darinya."


Sarah sampai tidak bisa berkata apa-apa mendengarnya, ada orang yang begitu sombong seperti itu.


"Artis macam apa tidak profesional seperti itu, pilih-pilih lawan main. Biar aku yang turun tangan." Arumi berjalan dengan langkah lebar untuk menghampirinya.


Tanpa terasa pria itu mengangguk, dengan mata yang masih menatapnya tanpa berkedip. Entah ia terhipnotis sorot matanya yang tajam namun indah atau memang ia benar terpikat oleh kecantikan Arumi.


Arumi menarik satu sudut bibirnya dengan rasa penuh kemenangan.


*


*


Sementara itu di tempat yang sama namun di sisi yang berbeda, dua orang laki-laki tampan bersetelan jas sedang memantau proyek pembangunan hotel di sekitar pantai.


"Kau menipuku?" tatapan tajam dan suara penuh penekanan itu tertuju kepada Alex.


"No... aku, aku tidak menipumu. Ini benar-benar proyek yang perlu ka pantau langsung. Karena... karena..." Alex tidak melanjutkan perkataannya, sebab ia kehabisan kata-kata dan alasan.


"Apa kau sudah bosan tinggal di negara ini, apa kau ingin aku kirim ke tempat terpencil di Afrika!" Daffa semakin menekan dan mengancamnya.

__ADS_1


Dengan cepat Alex menggelengkan kepalanya. "Aku, aku akan membawamu ke suatu tempat yang tidak akan kau sesali."


"Ingin menipuku lagi?" bentak Daffa dengan sorot mata yang masih tajam.


"Aku serius, ayo kita pergi sekarang." Alex mengacungkan dua jarinya, sembari melangkah untuk pergi.


Berharap apa yang di katakan oleh Alex adalah benar, Daffa mengikutinya dari belakang.


Mereka menuju ke arah pantai, dan berjalan kurang lebih sepuluh menit dari proyek pembangunan hotel ke pantai, dimana banyak orang sedang berlibur, bermain, bercanda, dan orang yang sedang bekerja pun ada.


"Itu dia!" Alex menunjuk ke arah dimana ada banyak orang berkerumun. Begitu juga Daffa yang melihat ke arah yang di tunjuk oleh Alex.


"Kau membawaku ke tempat ramai seperti itu?" lagi-lagi tatapan tajam yang di berikan.


"Kau sabar dulu lah, atur emosi mu dan kita lihat dulu kesana." Bujuk Alex yang sebenarnya ia juga bergetar.


Hingga tinggal lima kaki kearah orang berkerumun itu "Sarah... my baby!" Alex memanggil Sarah dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan dari Sarah.


Ya, Alex di beritahu oleh kekasihnya bahwa mereka akan pergi ke kota A untuk melakukan pemotretan.


Sementara Alex dan Sarah sedang berpelukan dan tersenyum bahagia, tetapi tidak dengan Daffa yang tiba-tiba sorot matanya semakin tajam daripada saat sebelumnya.


Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, kalau saja Alex tidak segera menyadari itu. Entah apa yang akan terjadi di lokasi tersebut, mungkin saja semuanya akan di hancurkan.


"Oh my God! kenapa seperti itu," Alex memegang kepalanya dengan kedua tangan. "bo, bos itu mungkin Arumi melakukannya karena pekerjaan," akhir-akhir ini Alex yang gagah dan cerdas sering kali berbicara dengan terbata-bata.


"Benar kan sayang?" Alex mencari pembelaan dari kekasihnya.


"Iya benar." Sarah mengangguk dan menolong kekasihnya.


Bagaimana tidak, Daffa seketika berubah menjadi menakutkan. Karena wanita yang di sukainya sedang berfoto bersama pria lain dengan pose pose yang sedikit intim.


"Siapa yang memberi ide pose foto-foto itu?" Tegas Daffa.


Sarah menunduk ketakutan, karena ia juga ikut andil dalam pose foto itu. Namun ia pikir itu hanyalah pose foto yang wajar, dimana mereka hanya saling berpegangan tangan dan menempelkan pipi satu sama lain.


Sebenarnya tidak ada hal yang spesial, karena ini untuk produk kecantikan jadi wajar-wajar saja.

__ADS_1


Tetapi pandangan mata Daffa berbeda, maka dari itu ia meminta Sarah untuk menyudahi pemotretan saat itu juga.


Tentu saja Sarah segera melakukannya, lagi pula siapa yang berani melawan perintahnya.


__ADS_2