Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 62


__ADS_3

Sampai di taman hiburan, dengan riangnya Cyara berlari menuju wahana-wahana permainan.


"Ayo aunty, ayo kak kita naik bianglala," Cyara menarik kedua tangan orang yang bersamanya. Mau tidak mau mereka menuruti keinginannya.


"Kakak tunggu di bawah aja ya, Cyara naik sama aunty." Tukas Daffa.


Tanpa menjawab apa yang di katakan oleh kakak nya, Cyara mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu cemberut dan puppy eyes.


Membuat sang kakak tidak bisa menolak keinginan, ia hanya menghela nafas panjang.


3 orang dalam satu ruangan bianglala, perlahan naik memutar dan hingga berada di puncaknya membuat semua orang ceria. Tetapi tidak, ketika bianglala itu turun membuat jantung tidak aman dan suara jeritan yang histeris namun happy.


Hanya satu orang yang tidak berekspresi, siapa lagi kalau bukan Daffa. Ia hanya fokus melihat keceriaan kedua gadisnya.


"Sekarang kita kemana?" Arumi dengan bahagia mengajak Cyara.


"Komedi putar?!" Ujar Cyara sama bahagianya.


"Oke..." Arumi menuntun Cyara menuju arena komedi putar.


"Kak ayo naik," lagi-lagi Cyara mengajak Daffa untuk ikut naik bersamanya.


Daffa menggelengkan kepalanya "Aku sudah puas hanya dengan melihat kalian bermain." Ujarnya datar.


Cyara tidak lagi memaksanya atau mengeluarkan jurus andalannya. Mereka berdua menaiki komedi putar dengan gembira, melambaikan tangan kearah Daffa ketika mereka melintasinya.


Puas mereka bermain dengan menaiki banyak wahana. Kini mereka tengah duduk di sebuah tempat makan yang sederhana yang ada di sekitar sana dan sedang menunggu makanan yang mereka pesan.


Banyak pelanggan lain yang juga sedang mengantri. Meski tempat yang sederhana namun di sana terkenal dengan makanannya yang enak.


"Bahagia sekali melihat pasangan muda itu! Mereka sepertinya sangat saling menyayangi ," ujar salah satu pelanggan yang juga sedang mengantri.


"Iya benar, Istri yang cantik dan suami yang tampan. Ah... di tambah lagi putri yang sangat cantik dan juga lucu,"


Hampir semua orang di sana memperhatikan Daffa, Arumi, dan juga Cyara, menganggap mereka adalah keluarga dengan ikatan orang tua dan anak.


Arumi dan Daffa merasa canggung mendengar itu semua, tingkah mereka menjadi kikuk dan kaku. Percuma saja jika menjelaskan bahwa mereka bukan pasangan suami istri, karena Cyara telah masuk dalam dramanya. Dari tadi ia sengaja menyebut kakaknya dengan sebutan Daddy, dan memanggil Mommy kepada Arumi.


Asyiknya mereka bermain membuat lupa waktu, hingga tidak terasa hari sudah gelap, jarum jam menunjukkan waktu 19:15

__ADS_1


"Sudah malam Cyara, ayo kita pulang!" ujar Daffa membujuk adiknya yang tidak ada bosannya terus bermain.


"Mm... sebentar lagi," rengek Cyara menggelengkan kepalanya.


"Aunty harus kerja besok, ia harus beristirahat." Tegas Daffa.


"Baiklah. Maaf ya aunty"


Arumi hanya tersenyum kepadanya sembari mengelus rambut Cyara.


Dengan jarak waktu lima belas menit, mereka telah sampai di depan Apartemen milik Arumi. Setelah berpamitan diantara mereka, kemudian Daffa melanjutkan perjalanannya menuju ke kediaman keluarga Justin.


Jarak tempuh yang hampir sama kurang lebih dua puluh menit, Daffa telah sampai di kediamannya.


"Bagaimana sayang jalan-jalannya, apakah menyenangkan?" begitu datang Cyara langsung di sambut oleh kedua orang tuanya.


"I'm very... very.. happy!" dengan antusias Cyara menjawabnya.


"Really? ah.. Mami kira kakak mu tidak akan asyik jika di ajak bermain bersama." Sindir Mami sembari melihat anak sulungnya.


"Sangat tidak asyik," Cyara menekankan setiap kalimatnya "Untung saja Cyara bertemu dengan aunty Arumi."


"Aunty Arumi?" Mami Calysta mengulangi apa yang di katakan Cyara.


"Maksudnya Arumi putri dari Farrel?" Papi Justin ikut bertanya.


"Hm." begitu jawab Daffa dengan singkat.


"Ya ampun... benar juga Pi, kita sudah lama sekali tidak bersilaturahmi dengan mereka. Sekarang kamu juga tidak Sibuk kan, kenapa tidak membuat jadwal bertemu dengan mereka!" ucap Mami Calysta mengingat berapa lama mereka tidak bertemu bertatap muka, hanya sebatas panggilan telepon, dan dari video call, itu pun hanya sesekali.


"Baiklah, nanti kita hubungi mereka. Dan tanya kapan mereka senggang."


"Mami..." Cyara mencolek lengan Mami nya karena merasa di cuekin "Kak Daffa di tolak sama aunty," bisik Cyara.


"Ah! benarkah?" seolah terkejut sembari melirik anak sulungnya.


"Kak Daffa stupid, ia tidak berani menyatakan perasaannya Mami.." Dengus Cyara.


"Ck, lagi pula siapa yang akan menyukai wajah datar seperti itu, seperti Papi kalian." Celoteh Mami Calysta sambil pergi menuntun putri bungsunya ke kamar.

__ADS_1


Daffa hanya menghela nafasnya dengan panjang, dan juga pergi menuju kamar tidurnya.


*


*


Beberapa hari berlalu, Daffa telah menjalani hari-harinya seperti biasa. Hanya sebatas bekerja dan bekerja, kali ini ia jarang sekali menghubungi Arumi bahkan mungkin tidak pernah sama sekali jika bukan masalah pekerjaan, mengirimnya hadiah pun tidak.


Ia bertekad untuk tetap mengejar Arumi, tetapi ia pun bingung harus memulainya dengan cara yang seperti apa.


Terlebih Daffa sedang mendamaikan hatinya dahulu, mengingat bagaimana Arumi begitu mencintai Reyhan. Walaupun sudah di sakiti seperti itu Arumi tetap bersamanya.


Meski belum lama ini ia juga pergi jalan-jalan bersama dengan Arumi dan tertawa bersama dengannya, tetapi itu karena kehadiran Cyara.


Apalagi selama beberapa hari ini, sebenarnya ia telah menyuruh Askar untuk memantau keberadaan Arumi dan apa yang sedang dilakukan olehnya. Dan benar saja Arumi selalu bertemu dengan pacarnya, bahkan mereka semakin terlihat mesra.


Daffa menghembuskan nafasnya dengan kasar, mengusap rambutnya dengan kasar, dan kini memijat pangkal hidungnya dengan mata yang tertutup. Teringat dengan kata-kata yang di lontarkan oleh Mami nya malam itu, tentang dirinya yang belum menyatakan perasaan pada Arumi.


Sebenarnya, bukannya belum, tetapi Daffa pernah menyatakan perasaan itu hanya saja Arumi tidak pernah menganggapnya serius dan justru ia ditolak dengan terang-terangan.


Bukan tidak ada niat untuk menyatakan nya lagi, tetapi di lihat dari situasi sekarang, sepertinya ia akan menerima penolakan lagi dari Arumi.


Brak,


Tiba-tiba Alex menggebrak meja kerja Daffa.


"Ada apa?" Tanyanya dingin.


"Tidak ada," jawab Alex sama singkatnya.


"Bagaimana perkembangan hubungan kalian? kau dan Arumi sudah ke tahap mana?" Lanjut Alex bertanya.


"Bukan urusanmu." Lagi-lagi jawaban yang sangat dingin.


"Ya sudah. Aku hanya ingin memberi tau mu, bahwa aku dan Sarah sudah resmi jadian. Ya, kita adalah sepasang kekasih." Jelas Alex sembari menautkan kedua tangannya, dan senyum penuh arti.


"Secepat itu?" Daffa sedikit terkejut, yang tadinya berwajah muram kini berubah menjadi tatapan heran.


"Kamu pikir aku berbohong!. Kenapa? Apa hubunganmu dengan Arumi tidak ada kemajuan?" selidik Alex dengan tatapan yang tajam.

__ADS_1


Melihat bagaimana Daffa tidak ada reaksi dengan perkataannya "Sepertinya memang begitu ya?" semakin dalam Alex menatapnya.


"Kau diam lah," Daffa menjauhkan wajah Alex dari wajahnya. Karena walaupun ia bercerita kepada Alex seperti yang sudah-sudah, itu hanya akan membuatnya bertambah pusing saja.


__ADS_2