Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 76


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah kejadian hari itu dimana Arumi telah di periksa oleh Dokter kandungan.


Mereka juga sudah tidak menginap di kediaman keluarga Justin lagi. Melainkan sekarang tinggal di apartemen miliknya, bersama dengan kedua orang tuanya.


Hari-hari ia jalankan seperti biasanya, penuh semangat dan keceriaan. Namun sepertinya sejak pemeriksaan malam itu Arumi lebih ceria lagi, seperti tidak ada beban dalam hatinya.


"Apa sih Mi, pake acara kencan buta segala. Pokoknya aku gak mau pergi," dengus Arumi ketika di suruh oleh Mami nya untuk pergi bertemu dengan seorang laki-laki yang di pilih olehnya.


"Mami hanya menyuruhmu untuk bertemu saja dengannya, siapa tau kamu nanti menyukainya dan kalian bisa cocok." Tekan Mam Rossa.


"Pi..." rengek Arumi menoleh kearah papi Farrel untuk meminta bantuannya.


Namun papi Farrel hanya menghela nafasnya, entah apa yang harus ia perbuat. Jika membela putri semata wayangnya, sudah pasti sang istri tercinta akan mengomelinya tiada henti.


Tapi ia juga merasa kasihan kepada Arumi putri semata wayang yang sangat di sayanginya.


Farrel melihat kearah istrinya, semoga bisa sedikit saja merasa luluh.


"Pi, ini demi kebaikan putri kita, daripada ia bertemu dengan laki-laki yang tidak baik yang berselingkuh di belakangnya." Mam Rossa tau apa yang terjadi pada putrinya saat di sakiti oleh Reyhan.


Mendengar dan mengingat hal itu papi Farrel juga merasa sangat di sayangkan, putri kesayangannya yang paling cantik di sia-siakan oleh lelaki macam Reyhan.


"Sekali ini saja Arumi. Kapan Mami meminta sesuatu kepadamu, jadi untuk kali ini tolong turuti keinginan Mami."


Jika sudah mendengar kata-kata seperti itu, anak mana yang akan tega menolak permintaan orang tuanya.


Arumi telah setuju untuk bertemu dengan laki-laki yang akan kencan buta bersamanya.


*


*


Jam delapan malam cafe true love. Arumi tengah berhadapan dengan seorang laki-laki yang wajahnya lumayan, dan berpenampilan rapi.


Sedangkan Arumi, tanpa sepengetahuan Mami nya ia telah berdandan seadanya, bahkan berpenampilan layaknya gadis desa yang tidak mengerti modis. Sengaja ia lakukan agar teman kencan buta nya merasa ilfil, dan tidak menyukainya.


"Ka.. kamu mau pe.. pesan apa?" tanya lelaki itu kepadanya, dengan suara yang gagap.


Tanpa menjawab dan acuh tak acuh, Arumi telah memesan minuman yang ia sukai.


"Ka.. kamu tidak memesan ma.. makanannya?" lagi-lagi berbicara dengan gagap.


"Aku gak laper." Jawab Arumi singkat. "Anjir.. dia beneran gagap bukan karena grogi aja!" umpat Arumi dalam hatinya. Sepertinya malah ia sendiri yang merasa ilfil.

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh lelaki itu kepada Arumi. Ia tiada hentinya untuk tetap bisa mengobrol dengan Arumi, dan mencari-cari topik pembicaraan.


Meski Arumi selalu menjawabnya dengan singkat dan apa adanya, tetap saja ia tidak peka bahwa gadis yang ada di hadapannya tidak menyukainya.


Ingin rasanya Arumi cepat kabur dari sana, namun ia teringat dengan nama baik kedua orang tuanya.


Pernah Arumi mencari alasan untuk pergi, tetapi tidak bisa karena lelaki itu selalu mencegahnya.


Arumi juga menghubungi Sarah untuk datang menolongnya, namun sahabatnya itu sedang kencan juga bersama Alex. Tidak mungkin Arumi merusak kebahagiaan mereka.


Arumi duduk dalam kegelisahan, matanya melirik kesana kemari karena tidak ingin bertatapan langsung dengan lelaki itu.


Sekelebat Arumi melihat seseorang yang ia kenal di balik dinding kaca. "Bagus, semoga saja dia kesini." harap Arumi dalam hatinya.


Benar saja harapannya terkabul, Daffa tengah berjalan menuju pintu cafe untuk masuk kedalamnya.


Kebetulan yang di sengaja. Ya, sebenarnya Daffa tahu Arumi ada di sana dari Mam Calysta, ia datang kesana karena juga di suruh oleh Mami nya.


Flashback on,


Daffa yang masih bekerja meski waktu sudah malam, tengah menerima panggilan dari Mami nya.


"Ada apa Mi?" jawab Daffa dalam panggilannya.


"Iya," tangan Daffa masih sibuk dengan laptopnya.


"Ya ampun... Ini sudah malam Daffa. Cepat sekarang kamu pergi ke cafe true love." Mam Calysta langsung saja to the point.


"Apa? Untuk apa Mi, aku masih sibuk."


"Arumi sedang kencan buta disana dengan seorang lelaki yang tampan dan baik hati, apa kamu tidak takut Arumi akan terpikat olehnya." Ujar Mam Calysta dengan penuh penekanan.


"Apa lebih tampan dari ku?" seorang putra dari Justin Gull yang narsis tiada obat.


"Entahlah Mami juga tidak tau, hanya mendengarnya dari Rossa tadi ia menghubungi Mami dan bercerita soal kencan butanya Arumi. Tapi sepertinya ketampanan anak Mami tiada duanya." Jelasnya panjang lebar.


"Bagus kalau begitu."


"Aduh... itu bukan intinya. Bagaimana kalau Arumi juga menyukainya, pasti Rossa akan langsung menjodohkan mereka. Kamu tidak akan ada kesempatan, cepat pergi sana..." Mam Calysta merasa tidak sabaran dan menekan anaknya.


Daffa hanya menghela nafasnya panjang, lalu memutuskan panggilannya.


"Ish, anak ini. Tapi dia pasti pergi kan? Gak mungkin dia hanya diam dan terus bekerja kan?" Mam Calysta bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Flashback off,


Daffa melangkahkan kakinya di pintu cafe, menengok kearah kirinya, lalu menengok kearah kanannya,


"Sayang disini..." Arumi melambaikan tangannya menunjukkan keberadaannya.


Daffa yang melihat dan mengenali suara itu, lalu menghampirinya dengan berjalan bagaikan seorang model profesional.


Wajah tanpa senyum di bibir, tetap saja terpancar aura ketampanannya. Membuat para wanita yang melihat selalu terpikat bahkan ingin memilikinya.


"Sayang kamu lama banget sih," ucap Arumi sembari tersenyum manis kepadanya.


"Aku banyak pekerjaan, maaf ya..." Daffa menyentuh pipi Arumi dengan lembut, dan tersenyum meskipun senyuman yang tipis.


"Terimakasih sudah menemani kekasih ku." Ucap Daffa kepada lelaki itu. Ia lalu menggenggam tangan Arumi dan membawanya pergi dari sana.


"Bye..." Arumi melambaikan tangannya sembari berlalu dari sana.


.....


Piuh...


Arumi menghela napas dengan lega setelah berada didalam mobil milik Daffa, "Untung saja." Celetuknya.


"Oh ya, kok kamu bisa ada disini?" Tanya Arumi penasaran dengan kedatangan Daffa yang sangat tepat waktu.


"Hanya kebetulan." Jawabnya singkat dan datar. Ia menjalankan mobilnya dengan perlahan.


"Oh."


"Kau tidak menyukainya?" Daffa bertanya tanpa menoleh kearahnya, yang berada disamping kursi pengemudi.


"Apa yang harus di sukai darinya..." Arumi bergidik ngeri mengingat lelaki yang tadi bersamanya di dalam cafe.


Daffa mengangkat satu alisnya, "Karena kurang tampan?"


"Bukan hanya itu... Ah sudahlah," Arumi tidak melanjutkan apa yang akan di katakan nya.


Beberapa menit di perjalanan, mereka telah sampai di depan Apartemen.


"Terimakasih ya," Arumi turun dari mobil. "Apa mau mampir sebentar?"


Daffa termenung sejenak, menyaring sebentar apa yang di katakan oleh Arumi apakah ia tidak salah mendengarnya.

__ADS_1


"Oke," Daffa membuka sabuk pengamannya lalu turun mengikuti Arumi untuk masuk ke apartemennya.


__ADS_2