
Malam ini, lagi-lagi Arumi sedang bersama dengan Reyhan, pergi kencan dan makan bersama di salah satu Restaurant ternama. Reyhan memesan tempat private dan membuat suasananya romantis.
Arumi tengah sengaja berdandan dengan cantik, dan pakaian yang sedikit terbuka di bagian atas dadanya. Membuat dua aset yang berharga itu sedikit terlihat menyembul, karena memang kepunyaan Arumi sangat perfeck untuk badannya yang langsing.
Terlihat Reyhan menatapnya dengan tatapan memburu, namun ia mencoba menahannya. Karena selama ini Arumi selalu tertutup padanya. Pernah sekali ia meraba sesuatu yang tidak seharusnya, alhasil ia mendapat tamparan yang sangat keras dari Arumi.
Ya, alasan mengapa Reyhan selalu berselingkuh dan bergonta-ganti pasangan, karena ia pria yang seperti itu. Sementara Arumi bukanlah wanita yang seperti kebanyakan, sehingga membuatnya penasaran dan ingin berusaha untuk mendapatkannya.
Untung saja Arumi cepat mengetahui sifat aslinya, sehingga dapat mengendalikan perasaannya yang sudah melekat di hatinya.
Akhir-akhir ini Arumi dengan sengaja selalu mengajaknya bertemu dan pergi berkencan, bahkan kali ini Arumi selalu nyambung jika obrolan mereka menjurus ke hal-hal yang panas. Jika dahulu, ia selalu menghindari obrolan-obrolan seperti itu.
Maka dari itu, perilaku Arumi yang saat ini membuat Reyhan tergugah dan semakin penasaran ingin segera mendapatkannya.
"Kau cantik malam ini," puji Reyhan kepada wanita yang ada di hadapannya.
"Apakah selama ini aku tidak cantik?" goda Arumi sembari menyelipkan rambutnya ke telinga.
"Malam ini kau... sangat.. sangat.. cantik!" tatapan tajam dan buas itu seolah ingin segera menerkam mangsanya.
"Kau juga sangat berbeda malam ini," Entah dari mana Arumi belajar cara menggoda seperti ini, yang jelas dalam hatinya ia juga merasa jijik dengan dirinya yang seperti itu.
Reyhan mengangkat segelas anggur yang ada di hadapannya dan mengajak Arumi untuk bersulang.
Arumi meneguk anggur itu dengan gaya yang berkelas dan begitu seksi. Lagi-lagi membuat Reyhan dengan susah payah menelan salivanya.
"Rey, sebenarnya ada sesuatu yang penting yang ingin aku katakan padamu," Arumi bangkit dari duduknya, dan menghampiri Reyhan.
"Katakanlah," Reyhan menantikan apa yang ingin di katakan oleh kekasihnya.
Byur,
Tiba-tiba Arumi menyiramkan anggur yang ada di dalam gelasnya keatas kepala Reyhan, membuat wajah dan pakaiannya basah. Hingga membuat wajah tampan itu seketika memerah karena marah.
__ADS_1
Plak,
Di tambah dengan tamparan yang keras melayang di pipinya.
"Aku ingin putus denganmu, aku sangat membencimu, dan aku sudah tau semua sifat buruk mu." Arumi pergi membelakanginya "Dan satu hal lagi jangan pernah sekali-kali menemui ku lagi."
Namun Reyhan malah tertawa dengan nada yang mengerikan "Kau pikir, kau bisa kabur." Reyhan menyeringai dengan sorot mata tajam dan tidak bisa di jelaskan.
Arumi merasa terkejut dan takut dengan sikap Reyhan yang diluar perkiraannya. Ia hendak berlari namun tiba-tiba saja badannya merasa tergontai dan kepalanya yang pusing membuatnya sempoyongan. Jangankan berlari, berjalan saja ia dengan susah payah.
"Sial." Pekik Arumi sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
Mencari kontak yang bisa ia minta pertolongan, dibanding nama Sarah sahabatnya dan Raza sebagai seniornya. Nama yang lebih dulu ia temui adalah Daffa.
Untungnya Daffa langsung mengangkat panggilan dari Arumi, "Tolong aku," Suara Arumi lirih.
"Halo, halo, kau dimana?"
Arumi tidak bisa menjawabnya lagi, tidak ada waktu untuk tetap mengobrol dan ia sedang mencoba tatap mengendalikan dirinya agar selalu tersadar. Merasakan seluruh tubuhnya menjadi panas dan seperti sesuatu menggelitik di seluruh badannya.
Tidak perlu di tanyakan bagaimana rapat saat ini berlangsung, karena sudah pasti Alex yang menanggungnya.
Sementara menuruni lift, Daffa segera menghubungi Askar untuk mencari tahu keberadaan Arumi.
Askar sudah mengerti jika menyangkut dengan urusan Arumi ia harus benar-benar bergegas. Hanya dengan waktu tiga menit, Askar sudah mengirimkan lokasi keberadaannya.
Mobil sport yang di kendarainya berkecepatan seolah sedang balapan di arena yang memperebutkan juara dunia. Dengan lihainya menyalip banyak kendaraan di depannya, tidak peduli telah melanggar aturan atau menerobos lampu merah, itu urusan belakangan biar Alex yang urus.
Begini alasan Daffa tidak pernah ingin memakai seorang supir.
Sementara itu Arumi tengah bersusah payah untuk kabur lari dari sana dan menjauhi si baj*ngan Reyhan. Namun tentu saja itu sangat sulit, jalan saja ia dalam setengah sadar yang di paksakan, belum lagi Reyhan yang menghadang di hadapannya.
"Kau mencoba menghubungi siapa? percuma saja karena tidak akan ada yang bisa menolong mu," senyum kemenangan tersirat di wajahnya.
__ADS_1
Reyhan membelai wajah Arumi dengan lembut "Memang sangat cantik,"
Arumi menolak mengibaskan tangan itu "Jangan sentuh aku baj*ngan," meski sebenarnya sentuhan itu membuat badannya terasa tergelitik.
"Kau sangat galak sekali," Reyhan mencengkram dagu Arumi dengan erat. "Berteriak lah jika bisa."
Arumi dengan sekuat tenaga menahan hasratnya dan menggertakkan giginya dengan kuat.
Kini ia tersudut ke dinding karena Reyhan mengurungnya dengan kedua tangannya. "Lari lah jika kau bisa," lagi-lagi gelak tawa yang terdengar mengerikan keluar dari mulutnya.
Reyhan kembali menyentuh pipi Arumi dengan lembut, lanjut menyusuri ke tengkuk lehernya "Bagaimana! kau suka," Reyhan berbisik di telinganya.
Sungguh gejolak yang sulit untuk di kendalikan, wajah Arumi semakin memerah dan tubuhnya yang semakin terasa panas.
Satu tangan Reyhan telah berada di pinggangnya yang langsing, menyentuh dan mencoba membuka resleting di bagian belakang tubuhnya.
Arumi masih berusaha untuk menolak dan menyingkirkan nya, meski ia menepis tangan Reyhan dengan sangat lemah.
Namun sepertinya itu semakin membuat Reyhan tertarik untuk mempermainkan nya.
Ia kembali menyentuh punggung Arumi dan dengan perlahan menurunkan resleting bajunya, hingga sedikit demi sedikit bra yang di kenakannya kini telah terlihat meski tidak seluruhnya.
Sungguh dua aset milik Arumi yang sangat unggul, putih mulus dan sangat menantang.
Hampir saja Reyhan akan menyentuhnya juga, namun tiba-tiba hantaman keras mengenai tepat di wajahnya, membuat ia terpelanting dan berdarah di sudut bibirnya.
Ya, untung saja Daffa segera datang dengan tepat waktu meski mungkin sedikit lagi ia akan terlambat.
Daffa membuka jas yang di pakainya untuk menutupi tubuh Arumi yang terlalu terbuka.
Dan belum puas ia menghajar sampai membuat Reyhan babak belur. Daffa benar-benar murka padanya, dimana ia sangat menghormati gadis yang disukainya tetapi ia malah dengan mudahnya mempermainkan dia.
Reyhan sampai di bikin tidak bisa berkutik dan di hajar habis-habisan oleh Daffa. Jika saja tidak mengingat kondisi Arumi, ia mungkin hampir membunuhnya.
__ADS_1
Arumi yang sudah terkulai lemas dan wajah yang memerah, sungguh terlihat tidak berdaya, ia benar-benar harus segera di tolong.
Tetapi ia masih beruntung, jika bukan karena keahliannya dalam ilmu beladiri mungkin ia sudah terjerumus sejak lama, dan tidak akan sanggup untuk bertahan sampai sekarang.