
Dua hari sebelum menjelang pernikahan. Dunia perbisnisan tengah di gegerkan oleh skandal Daffa yang berpacaran dengan seorang wanita, anak dari klien bisnisnya. Ya, ia adalah Mona.
Telah tersebar foto dimana dirinya tengah berduaan dengannya di sebuah Cafe, dan foto yang sedikit intim karena Daffa tengah memegang tangan Mona. Jagat maya telah berasumsi dari kedua foto yang beredar itu, bahwa Daffa menahan tangan Mona karena ia tidak ingin di tinggalkan olehnya.
Juga fotonya yang sedang berhadapan dengan Mona di sebuah Cafe, menurut para netizen tatapan mereka saling terisi dengan rasa cinta dan kerinduan.
Namun semua orang juga sudah tahu bahwa Daffa akan segera menikah dengan putri dari seorang Farrel sahabat lama Justin. Orang lebih berpikir bahwa Daffa terpaksa akan menikahi Arumi karena paksaan dari kedua orang tuanya, juga karena ikatan dari bisnis.
"Sial!" umpat Daffa setelah mengetahui bagaimana berita tentang dirinya tengah tersebar. Yang membuatnya tidak senang tentu saja semua berita itu hoax.
"Aku sudah memeriksa perusahaan tabloid mana yang telah membuat berita ini. Dan juga telah menekan mereka dengan beberapa serangan untuk kebangkrutan nya." Jelas Alex. Ternyata asisten pribadinya sekaligus sahabatnya itu begitu gesit dan tahu apa yang harus ia lakukan sebelum menerima perintah dari Bos nya.
"Bagus."
"Hanya saja, aku tidak bisa menekan berita yang sudah tersebar di sosial media. Beritanya juga sangat cepat tersebar."
"Oke, tidak masalah."
Tentu Daffa tahu harus menghubungi siapa untuk mengatasi ini.
"Ada apa kau menghubungiku kali ini, apa pengantin wanita mu kabur dan ingin meminta bantuanku untuk mencari keberadaannya." Askar berbicara begitu saja setelah menjawab panggilan telepon dari Daffa.
"Jangan banyak bicara. Kau lihat di sosial media berita ku telah tersebar, tolong bersihkan semuanya." Tegas Daffa.
Tidak membutuhkan waktu lama untuknya mencari informasi tentang berita tersebut, "Aku sudah menemukannya." Askar langsung saja menggunakan jari-jari tangannya yang bergerak tak terbaca itu, menghapus seluruh berita Daffa yang sudah tersebar.
"Selesai."
"Oke, terimakasih!"
"Hei.. baru saja dua hari lagi aku akan bertemu denganmu di acara pernikahan, dan bertemu langsung dengan wanita kesayangan mu itu. Tapi sekarang kau malah membuat skandal, apa wanitamu tidak marah?"
"Entahlah." Jawab Daffa singkat dan mengakhiri panggilannya.
Daffa terduduk di kursi ketakhtaan nya, menautkan kedua tangannya, terdiam dan merenung. "Apakah dia akan peduli?" Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Karena tidak mungkin Arumi tidak mengetahui berita tentangnya, bahkan dari sejak beritanya sudah tersebar Daffa menerima banyak panggilan dari Maminya untuk segera membereskan kekacauan itu.
Uncle Farrel saja yang berada di luar kota sudah menghubunginya dan hampir saja salah paham, untung saja Daffa telah menjelaskan dan segera memberikan bukti padanya.
Namun hanya satu orang yang tidak bertanya atau menghubunginya.
*
*
Sementara itu di tempat lain dimana Arumi dan Sarah berada. Tempat dimana mereka bekerja.
"Apa kau sudah melihat beritanya?" tanya Sarah dengan perasaan was-was.
"Hm." Arumi mengangguk.
"Hm? hanya hm,? Apa kau tidak merasa kesal sebentar lagi kalian menikah!" Sarah kembali meninggikan suaranya, setelah sebelumnya ia sangat berhati-hati untuk bicara.
"Sarah.. Mam Calysta tidak akan membiarkan itu berlarut-larut begitu lama, sekarang beritanya sudah pasti telah di tekan oleh Daffa." Jelas Arumi dengan santai.
"Yups, kau benar dia adalah calon suamiku yang tidak mencintaiku. Dia bahkan tidak berinisiatif untuk menjelaskannya padaku, jadi menurutmu aku harus berekspresi seperti apa?" Lagi-lagi Arumi bersikap acuh tak acuh. Namun dalam hatinya ia merasa sedikit kesal.
Sarah menghela nafasnya panjang, "Baiklah, terserah kau saja." Sarah sudah malas berdebat dengan Arumi. Ia hendak pergi meninggalkannya.
"Hei kau mau kemana?"
"Pergi." Sarah tidak peduli ia tetap melanjutkan langkahnya.
"Ah ayolah, kau temani aku pergi ke klinik kecantikan ya! Aku kan harus cantik saat acara pernikahan nanti." Bujuk Arumi sembari menghentikan langkah sahabatnya itu.
"Apa itu penting? Aku kira kau tidak peduli dengan pernikahannya."
"Bagaimana mungkin aku tidak peduli. Aku harus tetap menjaga images di depan banyak orang, terutama dengan penampilanku." Tukasnya.
"Ternyata sejak awal kau hanya peduli dengan dirimu sendiri." Gumam Sarah. Namun Arumi tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi sekarang..." Arumi menarik tangan Sarah untuk membawanya ke klinik kecantikan tempat biasanya ia memanjakan diri.
Jika Arumi dan Sarah sedang berada di klinik kecantikan untuk memanjakan dirinya. Sedangkan Daffa dan Alex masih bergulat dengan pekerjaannya, apalagi mereka sengaja mempercepat beberapa jadwal yang sebelumnya sudah tentukan. Agar ketika Daffa mengambil cuti pernikahannya pekerjaan mereka tidak terlalu menumpuk.
Ya, cuti meskipun adalah pemilik perusahaan. Justru tanggung jawabnya lebih besar dibandingkan yang lain.
"Apa kau menunggu telepon dari seseorang? Dari tadi aku perhatikan kau selalu menatap layar ponselmu." Sudah lama Alex ingin bertanya padanya, karena sudah hampir dua jam ia sedikit-sedikit melihat ponselnya. Bahkan ketika sedang rapat pun ia terlihat kurang fokus.
"Tidak ada." Jawab Daffa singkat. Namun terlihat sorot matanya yang seperti kecewa bercampur sedih. Pemandangan yang langka bagi Alex melihat seorang Daffa bersikap seperti itu.
"Alex." tiba-tiba Daffa memanggilnya.
"Ada apa?" Alex menoleh, menantikan apa yang akan dikatakan olehnya.
"Apa Arumi ada menghubungimu, atau Sarah?"
"Kalau Sarah iya, tadi dia bilang sedang berada di klinik kecantikan bersama dengan Arumi. Tapi Arumi tidak ada menghubungi ku. Memangnya ada apa?" Alex mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada." Lagi-lagi jawaban yang sama dan singkat.
"Klinik kecantikan ya! Sepertinya benar-benar tidak peduli." keluh Daffa namun hanya dalam hatinya.
Hari ini mood Daffa sudah benar-benar buruk, sepertinya tidak bisa di bawa terus untuk bekerja. Ia memutuskan untuk pulang sangat awal dari biasanya. Ia menyerahkan pekerjaan yang tersisa kepada Alex.
"Ya, baiklah." Jawab Alex setelah mendapat perintah darinya. "Lagi pula kalau kau tetap disini keadaan malah semakin kacau, bahkan berimbas kepada yang lainnya." gumam Alex namun dalam hati.
Daffa masuk kedalam kediamannya dengan langkah yang sedikit gontai, juga wajah yang terlihat muram.
"Sayang kau pulang lebih awal hari ini?" Mam Calysta menyambut putra sulungnya dengan senyum bahagia.
"Hm."
"Kau kenapa, apakah sakit?" Mam Calysta merasa khawatir melihat putranya yang terlihat murung seperti itu. Ia menghampirinya dan mengukur suhu tubuh Daffa dengan menyentuh keningnya. "Tidak panas."
Setelah itu Daffa tidak mempedulikannya, dan melanjutkan langkahnya menuju ke kamar tidur miliknya.
__ADS_1