
"What?" Alex menganga melihat ke arah Daffa. "Dia cemburu!." Ia terkekeh menyadari semua itu. Bagaimana tidak, seorang Daffa Alfarizi Gull yang terkenal cuek dan dingin kepada wanita, justru saat ini dia sedang merasa cemburu.
Meski kini sudah tau apa penyebab marahnya seorang Daffa. Alex tidak berkata atau berkomentar apapun kepada sahabatnya. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju keluar ruangan.
Oh dan apa yang di lakukan oleh Alex setelah berada di balik pintu. Ternyata ia sedang cekikikan karena tidak kuat menahan tawa sewaktu di dalam tadi. Mengetahui sisi Daffa yang lain yang ternyata juga bisa merasakan cemburu, karena biasanya ia hanya melihat Daffa marah-marah kalau berurusan dengan pekerjaan, juga jika bertemu klien dan orang-orang yang licik.
"Ok... ok cukup tertawa nya Alex," Alex berbicara kepada dirinya sendiri. "Untuk hal ini aku tidak akan ikut campur dan tidak akan membantumu Daffa Alfarizi, aku ingin melihat sisi lain lagi darimu. Dan melihat gimana serunya menyaksikan seorang Daffa yang cemburu, marah-marah tidak jelas karena seorang wanita." Gumam Alex namun dalam hatinya, tetapi tetap saja tawa di bibir Alex masih terlihat begitu jelas.
Setelah itu Alex pergi menemui para karyawannya. Kenapa, karena ia tidak ingin orang lain menjadi sasaran kemarahan seorang Daffa.
Semua di instruksikan untuk melaporkan berkas-berkas yang mereka kerjakan, karena dia sendiri yang akan meninjau nya.
Tidak lupa Alex menginformasikan kepada seluruh karyawannya, bahwa Bos mereka yaitu Daffa sedang tidak bisa di ganggu, jadi berkas yang harus di tinjau olehnya harap di serahkan dahulu kepada Alex.
Bukan apa-apa, Alex tidak ingin hasil kerja keras mereka di hempas sia-sia seperti tadi contohnya Irwan.
Padahal Alex sudah mengeceknya kembali, bahwa laporan yang di bawa Irwan tidak ada masalah sama sekali. Karena ia tau bahwa letak kesalahan yang sebenarnya ada pada si kutub es itu, begitulah Alex menjuluki seorang Daffa.
*
Semakin di pikirkan semakin membuat Daffa kesal dan gelisah. Tidak bisa kalau hanya diam saja seperti ini.
Daffa tidak kehabisan akal, ia kemudian teringat untuk menghubungi seseorang yaitu seorang hacker yang ia kenal dengan baik.
Bagaimana Daffa bisa kenal baik dengan seorang hacker. Tentu saja ada cerita di baliknya.
Flashback on
Pada saat tinggal di luar negeri, Daffa menghadiri acara perayaan sekolah dimana ia di undang sebagai alumni sekolah yang paling berprestasi dari berbagai mata pelajaran maupun di akademik.
Daffa menyampaikan kata sambutan dan memberi arahan-arahan yang sangat membangun, semoga membuat para juniornya termotivasi.
__ADS_1
Kala Daffa telah selesai dan turun dari panggung, kemudian ia hendak pergi ke ruang istirahat yang sudah di sediakan di sana. Namun di tengah perjalanan langkahnya terhenti saat melihat sekelompok siswa laki-laki di lorong bangunan sedang berkerumun menganiaya teman sebayanya.
"Ehem."
Mendengar suara Daffa, mereka sontak segera menghentikan aksinya.
"Sedang apa kalian?" Tanya Daffa dengan penuh penekanan dan suaranya yang berat.
"Kami... kami hanya sedang bermain dan bercanda. Benarkan teman-teman!" Jawab bohong dari salah satu siswa dan tidak lupa meminta bantuan teman-temannya untuk membenarkan apa yang di ucapkan nya.
"i... iya benar." Jawab yang lainnya dengan suara terbata.
Sementara siswa yang paling tampan di antara mereka hanya tertunduk diam tak bergeming. Ya mungkin siswa itulah yang mereka aniaya.
Melihat itu Daffa tidak tega, dan jika di biarkan begitu saja, siapa yang tau para siswa berandal itu akan membuat onar lagi.
"Kalian pikir aku buta!" Setelah sejenak Daffa melirik si siswa tampan itu. "Kalian menindas dia dan main keroyokan." Tegasnya sambil menunjuk si siswa tampan.
"Sudah jangan banyak alasan, aku tau kebenarannya dan telah merekam semua perbuatan kalian. Semua bukti ada di tangan ku." Ujar Daffa dengan penuh keyakinan dan memberi tatapan tajam kepada mereka.
Mereka tampak panik dan kebingungan, setelah melihat Daffa mengeluarkan ponsel di saku celananya.
"Iya... iya kami mengaku. Tolong jangan laporkan kami." Mereka terpaksa mengaku, dan sepertinya sangat ketakutan juga.
Mereka bersiap untuk melarikan diri dan kabur dari sana. Namun dengan sigap tangan Daffa tengah menarik kerah baju belakangnya, menentengnya seperti seekor kucing.
"Minta maaf kepadanya, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi." Tegas Daffa dengan penuh penekanan.
Dengan terpaksa mereka menuruti apa yang di perintahkan oleh Daffa. Meminta maaf kepada Askar. Ya Askar adalah nama siswa tampan yang mereka aniaya.
"Apa alasan kalian sehingga menindasnya hah?" Selidik Daffa penasaran.
__ADS_1
Mereka terdiam sejenak, meski enggan untuk menjawabnya tetapi mereka tidak punya pilihan lain, karena merasa takut akhirnya memberi tau alasannya.
"Kami... kami butuh uang, dia kan orang kaya jadi kami hanya memintanya sedikit." Jelasnya sembari gemetar.
"Ck. aku yakin kalian tidak kekurangan uang, melihat orang tua kalian bisa menyekolahkan anak-anaknya disini, kalian bukan kalangan orang miskin." Jelas Daffa panjang lebar.
Mendengar itu mereka hanya diam, karena apa yang di katakan Daffa adalah benar adanya.
"Kali ini aku maafkan kalian, tetapi jika sekali lagi mendengar di sekolah ini ada yang berani menindas temannya. Aku tidak akan segan-segan lagi, mengerti?" Perkataan Daffa yang lagi-lagi penuh penekanan.
Mereka mengangguk, dan kemudian pergi dengan rasa takut. Namun Askar masih berdiri tegak di tempatnya tanpa menengok kemana mereka pergi.
"Aku yakin ini bukan pertama kalinya mereka melakukan itu padamu." Ujar Daffa menghampiri Askar.
Askar hanya diam tak bergeming.
Kemudian Daffa membawanya pergi untuk mengobati luka kecil yang ada di sudut mata Askar.
"Kenapa kau diam saja di perlakukan seperti itu?" Tanya Daffa sembari mengobati luka Askar.
"Hei, hargailah sedikit pertolongan ku ini, jangan hanya diam seperti itu." Tegas Daffa karena lagi-lagi Askar tidak menjawab dan hanya diam.
Askar menghela napasnya dengan kasar.
"Aku pernah melawan mereka. Tapi... setelah aku mengalahkannya, mereka tidak terima dan melaporkan ku. Karena mereka berkelompok jadi bekerja sama untuk menyalahkan ku dan menjadi saksi mata." Jelasnya panjang lebar dengan tangan yang terkepal karena merasa kesal.
"Siapa guru yang ikut menyalahkan mu, dan malah membela mereka tanpa menyelidiki kebenaran nya." Daffa sedikit tersulut emosi.
"Aku tidak ingin mengadu kepada orang tuaku. Karena kalau Daddy tau, bisa di bayangkan kemarahannya. Mungkin tidak akan membiarkan hidup mereka aman. Tidak lucu kan kalau masalah kecil akan menghancurkan kehidupan beberapa orang itu."
Daffa mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Siapa orang tuamu?" Mendengar penjelasan Askar sepertinya orang tuanya bukan orang sembarangan.