
"Apa ada tempat lagi yang mau kau kunjungi?" tanya Daffa setelah mereka selesai memilih gaun untuk pernikahannya.
"Kenapa? Apa kau akan kembali ke perusahaan?" cetus Arumi sambil mendelik.
"Tentu saja."
"Ck, kalau begitu kau pergilah. Aku akan menghubungi Sarah." Arumi berdecak kesal melihat calon suaminya itu tidak ada basa-basi sama sekali, bahkan selalu memasang wajah yang datar.
"Oke." Daffa pergi begitu saja.
"What? Dia benar-benar pergi meninggalkan ku disini," Arumi menggerutu dengan bibir yang mengerucut.
"Ya kau pergilah bekerja lebih keras lagi, karena mulai sekarang aku akan menghabiskan uangmu." Arumi berteriak sebelum Daffa masuk kedalam mobilnya, tidak peduli orang lain menatapnya seperti apa.
Daffa tersenyum tipis mendengar teriakkan Arumi, hingga berada di dalam mobil pun ia masih saja tersenyum.
Membuat pak supir yang melihat menjadi ikutan tersenyum karena bahagia.Bagaimana tidak bahagia jika majikannya sedang merasa senang maka ia akan menjadi lebih mudah dalam berkerja juga tentu saja akan mendapatkan bonus.
Arumi kemudian pergi ke cafe yang ada di sekitar sana sembari menunggu kedatangan sahabatnya yang sudah ia hubungi untuk menjemput dan menemaninya.
"Sedang apa kau disini?" Sarah langsung saja bertanya begitu ia sampai.
"Baru saja fitting baju." Jawabnya singkat.
"Ah benar, aku sudah mendengarnya dari Alex. Selamat ya kau sebentar lagi menjadi seorang istri dan seorang ibu." Sarah tertawa puas mengatakan itu.
"Kau jangan meledek ku."
"Sorry-sorry.. Kau pergi fitting baju sendiri?" Sarah celingukan mencari seseorang yang siapa tau mengantar Arumi.
"Aku pergi dengan Daffa, dia sudah pergi ke perusahaannya." Jelasnnya.
"Dia meninggalkan mu sendiri disini?" Sarah mengernyitkan keningnya.
"Begitulah.. Maka dari itu mulai sekarang kau jangan berbicara kalau dia benar-benar mencintaiku, kau sudah melihatnya sendiri kan." Arumi meminum minuman yang sudah di pesannya.
__ADS_1
"Iya," Sarah menjawabnya dengan ragu.
"Dia yang waktu itu hanyalah mengatakan omong kosong, mungkin ia merasa tidak terima karena teman masa kecilnya lebih dekat dengan pacarnya."
"Ya, mungkin seperti itu. Jadi apa rencanamu kedepannya?"
"Biarkan saja mengalir apa adanya, aku tidak ingin ambil pusing. Hanya saja aku tidak akan membiarkan anak ini hidup tanpa keluarga yang lengkap." Ujarnya dengan datar dan santai.
"Rupanya Arumi sudah dewasa..."
"Kau jangan meledek ku."
Arumi ikut kembali bersama Sarah pergi ke perusahaannya. Ia mengerjakan sesuatu yang telah tertunda.
Sebenarnya Sarah sudah melarangnya, karena kemarin saja ia sampai pingsan. Namun ia tetap saja terkekeh dengan alasan sudah di beri vitamin oleh dokter jadi tidak akan terjadi apa-apa padanya.
Karena tidak ingin di salahkan, Sarah segera menghubungi Daffa sebelum terjadi sesuatu kepada Arumi.
Ia memberi tahunya bahwa Arumi tetap ngeyel untuk pergi bekerja, ia tidak ingin di salahkan jika sampai terjadi sesuatu lagi padanya.
Arumi dan para karyawan disana merasa terkejut saat tiba-tiba saja muncul beberapa orang wanita berpakaian hitam-hitam dan masuk begitu saja kedalam perusahaan.
Setelah tahu bahwa mereka di kirim oleh Daffa. Arumi menentang mereka dan menyuruhnya untuk kembali lagi, namun mereka tidak ada yang mendengarkan sama sekali.
Saat ini apapun yang di perlukan Arumi selalu mereka yang menyiapkan, sehingga Arumi tidak di biarkan sedikitpun untuk beranjak dari kursinya.
Tapi tentu saja Arumi pasti merasa risih dan kesal. Meski begitu ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena para pengawal itu tidak akan pergi sebelum Daffa yang memerintahkan mereka.
Kemanapun Arumi pergi bahkan ke toilet sekalipun ia selalu di ikuti oleh salah satu pengawal yang di utusnya.
"Daffa Alfarizi..." Arumi berteriak kesal dengan perlakuannya yang berlebihan seperti ini.
Arumi menghubunginya melalui sambungan telepon.
"Halo, apa ada yang kamu butuhkan?" Daffa langsung to the point saat menerima panggilan dari Arumi.
__ADS_1
"Kau, jika kau tidak segera membawa para pengawal mu pergi dari sini aku akan--"
"Akan apa? Dan jika kau bersikeras tidak mau untuk di layani, lebih baik kau diam saja di rumah mengerti!" tegas Daffa mencelah perkataan Arumi.
"Ck. Bagaimana mungkin kau memperlakukan ku seperti ini?" Terdengar suara Arumi yang sangat kesal.
"Itu sangat mungkin."
"Kau..." pekiknya. Arumi sudah benar-benar kehabisan kata untuk melawan Daffa. Dengan sangat kasar ia menutup panggilannya.
"Sudah, lebih baik kau pulang saja. Lagi pula pekerjaan tidak ada yang perlu di khawatirkan aku bisa mengatasinya." Ujar Sarah yang menyaksikan percakapan Arumi dengan Daffa dalam sambungan ponselnya.
Arumi menghela nafasnya dengan kasar, "Terimakasih, kau memang yang terbaik. Tapi aku juga merasa bosan jika seharian selalu berada di dalam rumah." Keluhnya.
"Nanti kau juga akan terbiasa. Dan ini sudah sore lebih baik kau cepat pulang."
Arumi menuruti apa yang di katakan oleh sahabatnya, ia kembali pulang ke apartemen miliknya. Namun tentu saja para pengawal wanita itu tetap mengikuti Arumi.
Dua orang pengawal berdiri di luar menjaga pintu, dua lainnya ikut kedalam. Mereka berusaha tidak mengganggu kenyamanan Arumi saat berada di apartemen, pengawal itu bersikap seolah tidak ada orang disana. Mereka hanya memantau keamanan Arumi.
Lagi-lagi Arumi menghubungi Daffa, "Kau bilang jika aku berada di rumah mereka akan kau bawa kembali dan tidak mengikuti ku terus." Arumi berbicara dengan suara yang meninggi.
"Apa kau pulang ke kediamanku? Apa saat ini ada orang lain di sisimu? Jika tidak seperti itu maka mereka akan tetap mengikuti mu." Tegas Daffa dengan penuh penekanan.
"Tapi-- oh apa jangan-jangan kau memang mesum Daffa Alfarizi, memaksa ku untuk tinggal di rumahmu sebelum hari pernikahan kita." Arumi mencoba membalikan keadaan.
"Ya, apa kau ingin tau si mesum yang sebenarnya seperti apa?" Daffa menyeringai meski Arumi tentu saja tidak melihatnya.
"Kau.. Kau.." Arumi bergidik ngeri tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Lagi-lagi ia menutup panggilannya lebih dulu tanpa menghasilkan apapun.
Benar, Arumi kini hanya sendirian di apartemennya. Mami nya tentu sedang asyik menyiapkan kebutuhan pernikahan bersama dengan aunty Calysta bahkan ia berniat untuk menginap lagi disana, sedangkan Papi Farrel telah kembali lagi untuk bekerja.
Tapi jika sudah malam, Arumi telah memberi tahu sahabatnya untuk kembali menginap di apartemennya sembari menemaninya.
"Baiklah, sebelum menunggu kedatangan Sarah aku akan tidur. Seharian ini aku merasa lelah." Arumi bergumam sendiri sembari menyelimuti tubuhnya. Ia merasa lelah padahal tidak terlalu banyak aktivitas yang ia lakukan.
__ADS_1