
Sungguh keberuntungan ada di pihaknya. Seorang pelayan laki-laki tengah berjalan membawa banyak botol minuman, dan sangat kebetulan sekali pelayan itu hendak mengetuk pintu kamar yang tadi di masuki oleh Arumi. Dengan gesitnya Daffa menahan pelayan itu.
Ya benar, Daffa meminjam baju si pelayan agar bisa masuk kedalam, tentu saja itu tidak gratis. Daffa harus mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Meski itu bukan seberapa bagi Daffa, tetapi tidak bagi seorang yang menerimanya, uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Daffa masuk kedalam kamar dengan membawa cukup banyak botol minuman. Tidak lupa Daffa juga memakai topi.
Benar saja apa yang di pikirkan nya tadi, di dalam sana ada 3 orang laki-laki dan 4 orang wanita, tentu saja yang salahsatunya adalah Arumi.
Nampak mereka semua sedang duduk mengelilingi meja, layaknya orang berpesta. Daffa menata botol-botol itu di atas meja, dengan kepala yang menunduk, takut kalau-kalau ada yang mengenalinya.
Tidak hanya itu, Daffa menelisik satu persatu wajah laki-laki yang ada di sana. Tentu saja mereka tidak menyadari hal itu.
Dan satu hal lagi yang membuat Daffa membelalakkan kedua matanya saat melihat wajah dari salah satu lelaki itu. Seketika raut wajahnya menjadi merah karena marah, saat di dapati lelaki itu adalah Reza. Sungguh rasanya ia ingin mencengkeram baju lelaki itu, tapi untung saja ia masih bisa mengendalikan nya.
Dua orang lagi yang belum ia lihat wajahnya. Oke, orang yang nomor 2 lolos. Karena, entah siapa itu Daffa juga tidak tau dan juga di lihat dari wajahnya sangat biasa saja. Sehingga tidak terlalu membuat Daffa merasa tersaingi.
Kali ini laki-laki yang ketiga. Daffa menelisik wajahnya saat orang itu sedang asyik tertawa dan bersenang-senang. Lagi-lagi dan satu hal lagi yang membuat Daffa membelalakkan kedua matanya. Ternyata orang itu adalah Alex, ya Alexandros asisten sekaligus sahabatnya. Kini ia menatap tajam dan menusuk ke arahnya.
Alex yang tiba-tiba merasakan hawa dingin, seketika tawa di bibirnya hilang, ia kembali menatap wajah pelayan itu. Lagi-lagi tidak kalah terkejutnya saat Alex menyadari siapa pelayan itu. glek... dengan susah payah Alex menelan salivanya.
Setelah itu Daffa keluar dari sana. Membuka topi yang di pakainya dengan kasar. Dengan cepat mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Kemudian mengetik sebuah pesan, "Bawa aku ke dalam sana, tanpa membuat orang lain curiga. Kalau tidak kau tau akibatnya." lalu pesan itu ia kirimkan kepada Alex.
Alex yang sudah menduga hal ini akan terjadi, meski keadaan sangat berisik tetapi ia menyadari bahwa ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Mengingat bagaimana tatapan Daffa kepadanya tadi membuatnya bergidik ngeri.
__ADS_1
"Ehem," Alex angkat suara di tengah-tengah keseruan mereka. "Bagaimana kalau aku menghubungi Daffa untuk ikut bergabung bersama kita?" Usul Alex harap-harap cemas.
Sarah melihat ke arah Arumi untuk meminta pendapat. Arumi mengangguk mengiyakan. Sarah dan yang lainnya juga tidak keberatan.
"Padahal tadi aku kesini di antar oleh Daffa, kalau saja aku tau kalau kamu ada disini, aku juga pasti akan mengajaknya." Ujar Arumi sembari melihat ke arah Alex.
"Oke... kau sudah boleh masuk. Tapi pastikan timing nya tepat, karena kau harus berpura-pura menempuh jarak perjalanan dulu." Pesan Alex yang di kirimkan kepada Daffa.
Daffa yang mengerti dengan apa yang dibilang oleh Alex menunda langkahnya yang kini sudah berada di depan pintu, setelah tadi ia pergi mengembalikan baju milik si pelayan.
Namun baru saja 5 menit setelah Alex mengirim pesan. Daffa sudah mengetuk pintu kamarnya. Salah satu dari tiga pria yang ada di dalam membukakan pintu untuknya, tentu saja terkecuali Alex dan Reza, namanya adalah Robi.
Melihat siapa yang mengetuk pintu Robi mengernyitkan keningnya, pria gagah dan tampan berdiri di hadapannya yang tidak ia kenal.
"Ah, cepat sekali kau sampai disini?" Tanya Sarah sembari menuangkan minuman ke dalam gelas miliknya. Ya tentu saja Sarah juga ada disini. "Ya, kebetulan aku sedang berada di sekitar sini." Jawab Daffa dengan datar dan dingin. Yang pasti mereka percaya begitu saja, atau lebih tepatnya mereka tidak peduli.
Kemudian Alex memperkenalkan Daffa kepada yang lainnya. Dua diantara wanita itu selain Arumi dan Sarah, mereka terkagum saat melihat sosok Daffa.
Melihat seorang lelaki tampan yang sangat gagah, terlihat dari dadanya yang bidang dan punggungnya yang lebar. Bagaimana tidak terlihat, kalau Daffa mengenakan sweater berkerah tinggi dan ngepas di badannya, sehingga bentuk otot lengannya pun sangat jelas terlihat.
Mereka tiada hentinya menatap Daffa sampai-sampai mata mereka tidak berkedip. Sarah melambai-lambaikan tangannya di depan mata mereka, namun tidak ada pengaruhnya sedikit pun. Sampai ketika Sarah mengejutkan mereka dengan berteriak, baru mereka tersadar dari lamunannya.
"Wow... sahabatku ini memang auranya tidak pernah berkurang sedikitpun!" Celetuk Arumi dengan kedua tangan sedang memegang pipinya yang sedikit gemoy.
__ADS_1
"Jadi, Arumi sudah kenal lama ya dengan Daffa?" Seru Robi. "Ya...," Jawab Arumi sambil mengangguk.
"Benarkah! kalau begitu Arumi kasih tahu aku hipnotis apa yang dia gunakan untuk memikat para gadis, sampai-sampai mereka tidak lepas untuk menatapnya?" Celetuk Robi sembari mendekat ke arah Arumi.
Semua orang tertawa geli mendengar celotehan Robi, ah tapi tidak untuk Daffa, ia tetap saja memasang wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Daffa boleh aku meminta nomor ponselmu?" Ujar salah satu wanita itu. "Tidak boleh." Jawabnya singkat dan menekan. Wanita itu menyerah begitu saja.
"Bukan seperti itu caranya kalau meminta nomor ponsel kepada seorang pria yang dingin. Harus sedikit memakai trik," Tukas wanita yang satunya lagi sembari mengedipkan sebelah matanya.
Berjalan menghampiri Daffa dengan berlenggak-lenggok
"Aduh... wanita bego, lu mau ngapain? gak lihat apa raut wajah si Daffa udah kaya kepiting rebus." Gerutu Alex namun dalam hatinya. Menyadari bagaimana ekspresi wajah Daffa yang berbeda di banding dengan saat baru masuk tadi.
Wanita itu mendekati Daffa, sangat dekat sekali. Hampir saja ia akan berinisiatif untuk duduk di pangkuannya. Sayangnya itu tidak terjadi karena Daffa lebih dulu menghentikannya. Tetapi sepertinya wanita itu sedikit keras kepala, tidak menghiraukan larangan Daffa. Ia tetap memaksa dan tiba-tiba menjatuhkan pan*at nya di pangkuan Daffa.
"Bodoh... bodoh wanita bodoh. Mampus lu di tangan Daffa." Alex merutuki wanita itu namun hanya dalam hatinya.
Sejenak Daffa membiarkan wanita itu. Dan sekilas melirik kearah Arumi, ah betapa kecewanya Daffa saat di lihat raut wajah Arumi yang biasa saja tidak ada sedikitpun rasa marah bahkan cemburu.
Tiba-tiba Daffa mendorong wanita bodoh yang duduk di pangkuannya itu, sehingga terjatuh cukup keras di atas lantai, dan hampir saja punggungnya mengenai sudut meja. "Apa gua bilang." Alex bergumam dalam hatinya.
Sarah dan teman wanita itu segera membantunya. "Daffa kamu kasar sekali." Lirih Arumi yang juga hendak membantu wanita itu.
__ADS_1