
Keesokan harinya di pagi yang cerah, Justin dan keluarganya sarapan bersama termasuk juga Calysta.
Hari itu adalah hari libur. Jadi mereka tidak perlu berangkat ke Kantor.
Namun, meski begitu banyak pekerjaan kantor yang harus mereka selesaikan. Tapi Justin sudah mempercayakan semuanya kepada Febi dan Aldo.
Sedangkan Papi Justin sewaktu-waktu bisa mengerjakan pekerjaan kantornya di rumah. Serta di temani oleh istri tercintanya.
Pagi itu Calysta memakai baju Maminya Justin. Baju baru yang belum di pakai dan masih bersegel. Kali ini bajunya tertutup dan juga sopan.
Selesai sarapan mereka bersantai. Mami dan Papinya Justin pergi ke halaman belakang rumahnya. Di sana tampak banyak tanaman sayuran dan bunga-bunga yang cantik bermekaran.
Mami dan Papinya Justin pergi untuk berkebun.
Kini tinggal Justin dan Calysta di ruangan itu.
Tetapi ada yang berbeda di raut wajah Calysta. Seperti ada sesuatu yang tidak nyaman yang di rasakan olehnya.
''Aduh, kayaknya aku datang bulan. Gak nyaman banget rasanya.'' Dalam pikiran Calysta.
Calysta kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengeceknya. Dan ternyata benar saja tamu bulanannya datang.
''Gimana dong aku nggak bawa pembalut. Mana banyak lagi, jadi aku nggak bisa keluar untuk pergi ke Minimarket.'' Calysta yang panik, masih berada di kamar mandi.
Calysta mencoba menghubungi Mami Justin melalui sambungan ponselnya, kebetulan Calysta membawa ponselnya di saku celana.
''Hallo Mi, Mami punya stok pembalut nggak?'' Calysta bertanya langsung ke intinya.
''Apa? Nggak ada sayang Mami lupa beli. Nanti pulang dari sini Mami akan mampir ke Supermarket.'' Ujarnya.
''Mampir? Memangnya Mami nggak ada di rumah! Bukannya tadi ke halaman belakang?'' Tanya Calysta heran.
''Nggak. Mami hanya sebentar di halaman belakang dan sekarang lagi keluar sama Papi untuk jalan-jalan. Mumpung Papi ada di rumah.'' Jelasnya.
''Oh, kalau begitu selamat bersenang-senang.'' Calysta tersenyum dan mengakhiri panggilannya.
''Ya ampun. Bagaimana ini? Masa aku harus menyuruh para penjaga itu untuk pergi ke Minimarket dan membelinya! Para pelayan wanita semuanya juga pada libur lagi.'' Pikiran kacau tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
Sejenak terlintas di pikirannya Calysta. Bahwa masih ada Justin di rumah ini.
Kemudian Calysta menelpon Justin.
''Hallo! Kenapa harus menelpon segala, kita kan di rumah?'' Justin menjawab teleponnya dan langsung berbicara.
''Justin, aku- aku datang bulan. Tolong belikan pembalut di Minimarket.'' Ujarnya Calysta meminta tolong, meski rasanya malu untuk mengatakan nya.
''(Bluss. wajah memerah) A-apa pembalut?.'' Justin tergagap sekaligus malu mendengarnya.
''Cepetan.'' Tegas Calysta berteriak.
''Iya, iya aku pergi.'' Justin menurutinya dan pergi ke salah satu Minimarket terdekat.
Kebetulan di sana sedang banyak pembeli dan agak ramai. Membuat Justin kikuk dan malu untuk mengambil pembalutnya.
Justin bertingkah seolah-olah sedang memilih sesuatu.
Celingak-celinguk memastikan tidak ada orang yang melihatnya mengambil pembalut.
__ADS_1
Namun pada saat mengambil pembalutnya. Ada saja orang yang melihatnya.
Sekelompok gadis remaja yang sedang berbelanja.
''Hah, apa aku tidak salah lihat?.''
''Pria tampan itu mengambil sebuah pembalut!'' Sambung para gadis itu berkata dan memperhatikan Justin.
''Uwwu.. pengertian sekali. Kalau aku jadi pacarnya pasti sangat bahagia.''
Begitulah, para gadis remaja itu berbincang membicarakannya saat melihat Justin.
Justin tersenyum dengan terpaksa kepada mereka, juga merasa canggung dan malu.
Setelah membayar ke kasir, Justin bergegas pulang.
''Aishh, tidak ada yang pernah membuatku malu seperti ini. Dan kamu adalah satu-satunya Calysta. Maka kamu harus membayar harganya.'' Gumamnya di dalam mobil.
Setelah sampai, Justin langsung menghampiri Calysta yang berada di bathroom kamar tamu dan memberikan pembalutnya dengan menyodorkan satu tangannya melewati celah pintu.
''Ini.'' Ujarnya sambil memberikan.
''Makasih.'' Calysta tersenyum lega.
Tidak lama kemudian, Calysta keluar dari kamar mandi. Dan Justin masih menunggunya duduk di sofa di dalam kamar Calysta.
''Eh! kamu masih disini?.'' Tanya Calysta.
''Hem.''
''Makasih ya.'' Ujar Calysta sedikit canggung.
''Ka-kamu mau ngapain?.'' Calysta panik dan terkejut.
''Menurutmu!'' Justin mengangkat dagu Calysta, dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.
''Tunggu, tunggu dulu. Disini, cium disini saja.'' Ucap Calysta sambil menunjuk keningnya sendiri.
''Kamu pikir itu cukup untuk mengganti rasa malu Ku.'' Ujar Justin menyudutkannya.
''Aku, aku akan menggantinya tapi nanti setelah kita menikah.'' Calysta berbicara sembarangan karena saking gugupnya, entah apa yang ia pikirkan.
''Oh. Dengan apa kamu akan menggantinya?'' Justin semakin memojokkan dengan penuh penekanan.
''JUSTIN... berhenti bersikap mesum. Setelah menikah aku akan memberikan semuanya.'' Calysta berteriak dan mencoba mendorong Justin.
''Baiklah, akan aku tunggu hari itu.'' Justin tersenyum puas, dan melepaskan genggamannya.
Padahal dari tadi pikiran Justin tidak menjurus ke sana, ia hanya ingin mencium nya saja. Dan lagi dia ingat kalau Calysta sedang datang bulan, mana mungkin akan berbuat macam-macam.
''Untunglah saat ini semuanya masih bisa dikendalikan. Kalau aku membiarkannya tadi, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.'' Dalam pikiran Calysta.
''Astaga, seandainya karyawannya tahu kalau punya Bos mesum seperti ini. Pasti mereka akan berhenti untuk menyanjungnya.'' Gumam Calysta di dalam hatinya.
Calysta berpikir untuk melakukan sesuatu di hari liburnya, dia memutuskan untuk membuat kue dan pergi ke dapur.
Sementara Justin, setelah mengganggu Calysta, dia lalu pergi untuk berolahraga di ruangan olahraganya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama, kue yang di buat Calysta akhirnya matang.
''Hmm, harum makanan yang manis. Siapa yang memasak? Kan para pelayan sedang diliburkan?.'' Gumam Justin saat mencium bau kue yang dibuat oleh Calysta.
Setelah selesai berolahraga, Justin pergi ke dapur untuk memastikan bau makanan yang dia cium.
''Kamu yang membuat ini?'' Tanya Justin kepada Calysta saat melihat Cake yang dibuatnya.
''Memangnya siapa lagi.'' Jawab Calysta.
Justin mencoba Cake nya. Tekstur yang lembut dan juga rasa manis yang pas di lidah. Membuat Justin ketagihan untuk memakannya.
Karena memang Justin juga suka makanan manis.
''Hei, kamu hampir menghabiskannya. Aku malah belum mencicipinya.'' Tegas Calysta.
''Kan kamu bisa membuatnya lagi.''
''Ck.''
Tiba-tiba salah satu penjaga memanggil dan menghampiri Justin.
''Ada apa?'' Tegas Justin.
''Ini ada kiriman paket katanya untuk Pak Justin.'' Ujar penjaga itu, sambil memberikan bingkisan kotak di tangannya.
Juga ada sebuah surat diatasnya.
^^^''Ini Cake kesukaanmu. Sekarang aku kembali lagi karena aku merindukanmu'' MANOHARA. ^^^
tanda tangan yang berada di surat tersebut.
Itulah isi surat yang ada di atas bingkisan kotak itu. Calysta ikut membaca suratnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi muram dan kesal.
Dibukanya kotak itu, di dalamnya terdapat Cake rasa coklat dan hiasan diatasnya yang begitu bagus.
Namun Justin langsung menutupnya kembali dan memberikannya kepada penjaga itu.
''Nih, kamu saja yang makan.'' Ujar Justin sambil memberikan Cake nya.
''Sayang loh itu kalau dikasih ke orang lain, Cake nya bagus banget. Apalagi yang ngirim juga seseorang yang merindukanmu.'' Ujar Calysta menyindir dan terlihat kesal.
Sambil pergi meninggalkan Justin dengan membawa Cake yang di buatnya tadi ke meja makan.
Justin mengikutinya dari belakang hingga ke meja makan.
Tap,,
Justin mengambil Cake yang dibuat oleh Calysta dan langsung memakannya.
''Ini punya aku. Kamu kan juga punya yang lebih bagus dan mahal.'' Ucap Calysta ketus.
''Aku nggak suka Cake rasa coklat. Aku lebih suka Cake Strawberry yang dibuat oleh istriku.'' Ujar Justin menggodanya. Tanpa ada rasa bersalah.
Namun Calysta masih tetap cemberut dan terlihat kesal.
''Aku senang deh lihat kamu cemburu kayak gitu. Itu tandanya kamu sayang sama aku.'' Ujar Justin tersenyum.
__ADS_1
''Siapa yang cemburu.'' Calysta menyangkalnya.
Entah siapa Manohara itu, sepertinya dari isi surat itu dia akrab dengan Justin.