Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 78


__ADS_3

Kurang lebih tiga puluh menit perjalanan menuju rumah sakit, kini mam Rossa dan mam Calysta telah sampai.


Terlihat Daffa yang sedang menunggu di luar ruangan dimana Arumi berada.


"Daffa." Panggil mam Rossa.


"Bagaimana keadaan Arumi?"


"Dokter masih memeriksa keadaannya." Jawab Daffa sedikit merasa cemas. Bagaimana tidak, Arumi pingsan di lobi perusahaan miliknya ketika hendak menemui Alex untuk membahas bisnis kerjasamanya.


Daffa bergegas setelah mendapat laporan dari karyawannya bahwa Arumi tiba-tiba saja pingsan.


Bahkan Daffa sampai meminta Alex untuk mengirimkan Cctv tempat kejadiannya. Menunjukkan Arumi yang tiba-tiba saja berjalan sempoyongan sembari memegang kepalanya dan tiba-tiba jatuh pingsan.


Klik,


Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. "Apa anda suaminya?" ujar dokter melihat kearah Daffa begitu keluar dari sana.


"Saya Mami nya dok," mam Rossa lebih dulu menjawab pertanyaan dokter. Karena tahu mungkin dokter telah salah paham terhadap Daffa.


"Selamat nyonya anda sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu," ucap dokter kepada mam Rossa sembari tersenyum ikut merasa bahagia.


"APA?" mam Rossa begitu terkejut bukan main, hatinya yang tiba-tiba berdebar kencang, dan napas yang tersengal.


"Mak, maksud dokter.. putri saya.. putri saya.." bahkan mam Rossa tidak sanggup untuk mengungkapkannya.


"Benar, putri anda telah hamil. Saya permisi dulu, masih banyak pasien yang harus di tangani."


Rossa terduduk lemas di kursi tunggu, "Calysta, apa aku tidak salah dengar?"


Calysta hanya menggelengkan kepalanya, juga ikut merasa terkejut bercampur khawatir.


Juga entah perasaan seperti apa yang di rasakan oleh Daffa saat ini, yang pasti ia juga masih berdiri mematung tidak melakukan apapun.


"Tenangkan dirimu dulu ya! Kita harus melihat keadaan Arumi." Bujuk Calysta kepada sahabatnya.


Rossa menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. Hingga ia merasa lebih tenang dan kini berjalan masuk ke ruangan dimana Arumi di rawat.


Sementara itu Arumi yang baru siuman dan baru tersadar sudah berada di ranjang pasien. Melihat maminya berjalan menghampirinya dengan tatapan sendu.


"Mam, aunty?" panggil Arumi.

__ADS_1


Aunty Calysta menggenggam tangan Arumi penuh dengan kasih sayang, sementara mam Rossa hanya berdiri mematung menatap nanar wajah putrinya.


Daffa yang berdiri di sebelah aunty Rossa juga sama tidak melakukan apapun, hanya berdiam diri dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ada apa aunty? Mami kenapa?" tanya Arumi lirih bercampur takut karena melihat sikap Maminya yang seperti itu.


"Hiks.. Maafin mami, karena mami kurang memperhatikan mu," mam Rossa memeluk putrinya dengan air mata yang menetes di pipinya. "Hiks.. gara-gara mami, sampai kamu tumbuh di lingkungan yang bebas."


Arumi semakin tidak mengerti apa yang di katakan oleh maminya.


"Tidak apa-apa, mulai saat ini mami akan memperhatikan mu dan menjagamu dengan baik." Tekad mam Rossa.


"Sayang, katakan apakah kamu masih mengingat wajah laki-laki yang menghamili mu?" ucap mam Rossa dengan lembut, agar tidak membuat putrinya merasa tertekan.


"Ap, apa?"


"Katakan sayang, tidak peduli laki-laki itu telah kabur jauh sekalipun, aunty akan menemukannya sampai dia bertanggung jawab terhadapmu." Timpal aunty Calysta.


Arumi terbelalak mendengar ucapan-ucapan dari dua orang wanita cantik paruh baya itu. Ia perlahan menyaring semua perkataan dari mereka.


"Aku, aku hamil?" Arumi menunjuk dirinya sendiri.


Semua orang mengangguk, kecuali Daffa yang mengusap wajah tampannya dengan kasar.


Rossa dan Calysta menatap dengan mata yang berkaca-kaca.


Arumi menghela nafasnya dengan kasar, "Apa kalian sudah memastikan bahwa pemeriksaannya benar tidak ada kesalahan?"


"Apa? Benar juga, jangan-jangan dokter salah mendiagnosis." Ucap mam Rossa, sembari menekan tombol darurat memanggil dokter.


"Ada masalah apa nyonya?" Dokter terengah-engah karena berlari menuju kesana.


"Apa kau tidak salah memeriksa putri ku?" Tegasnya.


"Apa? Tidak mungkin."


"Kau pasti salah kan!" mam Rossa begitu terkekeh.


"Ini dokter," suster yang baru memasuki ruangan itu memberikan sebuah map kepada dokter.


"Saya lupa tadi untuk memberitahu nyonya, ini adalah hasil USG putri anda," Dokter memberikan map berisi hasil USG dimana menunjukkan rahim Arumi telah tumbuh pembuahan yang baru terlihat kantung bayinya saja.

__ADS_1


Tidak bisa menyangkalnya lagi, bukti itu sudah terlalu jelas. Bahkan Arumi sendiri merasa terkejut, ternyata ia benar-benar telah hamil.


Setelah sepuluh hari lamanya, sejak ia diperiksa karena asam lambungnya yang naik. Kini yang di khawatirkan terjadi juga.


"Oke, sekarang kita secepatnya harus mencari ayah dari anak ini." Ujar aunty Calysta.


"Iya. Sayang katakan siapa ayah dari anak ini?" mam Rossa mengelus perut putrinya, sementara itu Arumi masih bengong dengan tatapan kosong melihat langit-langit rumah sakit.


"Ya ampun sayang, hiks.." mam Rossa kembali menangis melihat keadaan putrinya yang seperti itu. "Apa kamu tidak mengenali ayah dari anak ini? Hiks..."


Tidak tahu harus berbuat dan berkata apa, Daffa hanya berdiri mematung melihat Arumi.


Tiba-tiba saja tangan Arumi bergerak dan menunjuk kearah Daffa, tanpa mengalihkan pandangannya ia berkata "Dia ayahnya."


Calysta dan Rossa menengok kearah Daffa bersamaan.


"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Jangan karena gara-gara kamu tidak mengenali ayah dari bayi ini, kamu tega mengorbankan orang lain." Sanggah mam Rossa menggenggam tangan putrinya.


"Arumi benar." Daffa mengangkat suaranya memberikan kebenaran.


"Apa?" mam Calysta terkejut mendengar pernyataan dari putranya.


"Daffa, kamu tidak boleh seperti itu nak. Hanya karena kamu mengasihani Arumi," lagi-lagi Rossa masih menyangkal pengakuan dari mereka.


"Aku adalah ayah dari bayi yang ada di dalam kandungan Arumi Mam." Sekali lagi Daffa mengungkapkan pengakuannya.


"Kalian..." mam Rossa baru percaya setelah melihat pengakuan Daffa yang begitu serius.


"Kau," mam Calysta begitu saja memukuli punggung putranya dengan bertubi-tubi, "Kenapa sebagai laki-laki kau malah tidak bertanggung jawab," tiada henti mam Calysta memukulinya, tidak peduli anaknya mengaduh kesakitan.


"Bukan seperti itu mam," sanggah Daffa membela diri.


"Aku akan segera memberi tau Papi mu."


Tidak lama setelah Calysta menghubungi suaminya yang sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang harus di tangani langsung olehnya. Justin telah berada di rumah sakit, mendengarkan apa yang sedang di ceritakan oleh istrinya.


Sementara itu Farrel yang baru saja memasuki ruang meeting harus menyerahkan pekerjaan kepada asistennya untuk memimpin jalannya meeting.


Awalnya ia enggan untuk kembali lagi ke Jakarta, karena baru saja dirinya sampai dan langsung bekerja, tidak mungkin harus bolak-balik lagi.


Namun setelah Rossa memberi tahunya bahwa putri mereka telah hamil, Farrel baru merasa terkejut dan bergegas pergi tanpa memedulikan apapun lagi.

__ADS_1


Ia hanya berpikir bagaimana itu terjadi dengan putri semata wayang kesayangannya. Tapi Rossa telah menegaskan bahwa itu adalah kesalahannya karena kurang memperhatikan putrinya dengan baik.


__ADS_2