
Entah dari kapan Justin mulai sangat posesif terhadap Calysta, semakin lengket dan tidak mau berpisah. Kemanapun dia pergi Justin selalu mengikuti nya atau menyuruh anak buahnya mengikutinya.
Hari ini seperti biasanya semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, namun berbeda dengan Justin yang selalu menggoda Calysta.
''Sayang apakah kita seharusnya pergi liburan agar kita punya waktu untuk berdua?'' Ucap Justin kepada Calysta.
''Cukup ya, setiap hari kamu ke rumahku, pagi-pagi menjemput aku, di kantor kita selalu bersama, pulang kamu anterin aku dan mampir ke rumah ku hingga malam baru pulang. Sekarang waktunya bekerja kamu serius lah.'' Calysta yang malah mengomeli nya.
''Aku tidak bisa lepas dari pandangan mu walau hanya sebentar saja Calysta.'' Gombalan dengan sikap manjanya Justin.
''Iya aku tahu, mana mungkin dengan pesona ku ini kamu sanggup untuk berpaling dari ku.'' Ujar Calysta narsis sambil mengibaskan rambutnya.
''Benar aku tidak sanggup menahan godaan dari mu.'' Justin berbisik di telinganya Calysta.
''A-apa yang kamu lakukan?'' Calysta dibuatnya tidak bisa berkutik.
Justin semakin menyudutkan nya.
''Jangan tunjukkan sikap seperti tadi kepada lelaki lain jika tidak aku akan memberi mu pelajaran, mengerti!.'' Tegas Justin.
''Iyaaa.. sekarang cepat lepaskan aku.'' Calysta mencoba mendorong nya, namun sedikitpun tidak berguna.
''Kasih aku ciuman, nanti akan aku lepaskan.'' Justin kembali menggodanya.
''Dasar mesum.'' Calysta berteriak.
''Oh aku bisa lebih mesum lagi, apa kamu mau mencobanya.'' Ujarnya semakin menyudutkan.
Tidak bisa dengan cara seperti ini untuk membuat nya berhenti, Calysta mengganti rencana lain.
''Oh benarkah aku jadi ingin mencobanya.'' Ucap Calysta sedikit menggoda nya, dengan tatapan penuh siasat.
Seketika wajah nya memerah mendengar ucapan itu dari mulut Calysta membuat Justin salah mengerti.
''Apakah kamu serius dengan apa yang kamu katakan?'' Tanya Justin.
Calysta tersenyum,
''Tapi aku lebih suka posisi di atas.'' Suara lirih Calysta membisikkan nya di telinga Justin.
''Baiklah ini kamu yang meminta nya.'' Ujar Justin.
Seketika Justin melepaskan Calysta dari lingkaran tangannya.
Kemudian dengan cepat gadis itu melarikan diri dari nya.
''Wlee.. tertipu. Dasar mesum!'' Calysta menjulurkan lidahnya meledek Justin merasa tipuan nya berhasil.
''Hei, berani ya kamu!'' Justin mengejar nya hingga mereka bermain kejar-kejaran di dalam ruangan.
Cklek...
Febi membuka pintu ruangan Justin dan nyelonong tanpa permisi.
''Aduduh... begini rupanya kesibukan Presdir kita yaa!'' Ucap Febi menyindir Bos nya.
Sekejap ekspresi Justin berubah menjadi sangat serius dan menghentikan aksi kejar-kejaran nya.
''Lain kali kalau masuk ke ruangan saya ketuk pintu dulu.'' Ucap Justin serius, namun tetap salting.
''Kenapa? takut kepergok bahwa Presdir kita kerja nya sangat sibuk sekali.'' Lagi-lagi Febi menyindir dan menggodanya.
Calysta hanya tersenyum melihat Justin yang ketahuan oleh bawahan nya sekaligus sahabat nya itu.
''Ehemm.. apa liburan mu belum cukup?.'' Tanya Justin mengalihkan pembicaraan.
''Kenapa, mau menyogok ku lagi? Aku mau merekrut karyawan baru.'' Febi menjelaskan tujuan nya.
__ADS_1
''Karyawan lagi, Apakah kali ini yang kamu rekrut semacam manusia kaleng, setelah kemarin merekrut wanita aneh?'' Pertanyaan Justin dengan ekspresi serius, dan sedikit tidak percaya apa yang akan di lakukan oleh Febi.
''Tidak, kali ini benar-benar normal dan wanita imut.'' Jelasnya dengan wajah memerah dan senyum di bibirnya.
Justin mengernyitkan dahinya melihat tingkah Febi yang aneh.
Tiba-tiba Aldo muncul dan langsung angkat bicara.
''Saat liburan kemarin dia memungut kucing kecil dan membawa nya kesini.''
''Kucing kecil? bukannya dia suka macan tutul.'' Ujar Justin datar namun membawa arti.
''Hei berhenti kalian jangan meledek lagi.'' Ucap Febi agak kesal.
''Baiklah, lakukan apa yang menurut mu baik.'' Ujar Justin menyetujui permintaan sahabat nya yang ia percayai.
''Siap Bos.'' Febi tersenyum.
Setelah itu Febi membawa Putri untuk melapor.
''Selamat siang Pak Bu.'' Ucap Putri memberi salam kepada Justin dan Calysta.
''Baiklah, kamu langsung saja bekerja lakukan yang terbaik untuk perusahaan.'' Tegas Justin datar.
Dia sudah mempercayakan semuanya kepada Febi, tentang pekerjaan yang akan ia berikan kepada Putri.
''Terimakasih Pak, saya permisi dulu.'' Ucap Putri sopan dan pergi meninggalkan ruangan.
''Gadis kecil yang imut.'' Ujar Calysta.
''Tidak ada yang imut dan secantik kamu.'' Ucap Justin serius dan datar.
Calysta mendelik melihat calon suaminya yang entah sejak kapan selalu berbicara manis meskipun tanpa ekspresi di wajahnya.
Lalu Febi yang sedari tadi belum keluar kemudian menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi dan apa yang dialami oleh Putri.
''Iya, maka dari itu aku ingin melindunginya.'' Jelas Febi.
''Sebentar lagi kita adakan rapat, hanya kita berlima.'' Tegas Justin.
''Mendadak sekali, ada apa?'' Tanya Febi.
Calysta juga bertanya-tanya.
''Nanti saya jelaskan, kamu cepat panggil Farrel dan Aldo.'' Perintahnya kepada Febi.
Mereka berlima telah berkumpul di ruangan rapat.
''Karena beberapa hari lagi Farrel akan menikah dan mengambil cuti nya, jadi untuk masalah pekerjaan harap segera di selesaikan agar nanti tidak banyak pekerjaan yang tertunda.'' Justin berbicara langsung kepada intinya.
Semua orang mengangguk dan mengerti.
''Saat Farrel mengambil cuti nya, saya percayakan pekerjaan nya kepada kalian.'' Justin melanjutkan pembicaraan nya dan melihat ke arah Aldo dan Febi.
Calysta melamun memperhatikan Justin yang sedang bicara.
''Kalau sedang serius begitu Justin benar-benar tampan dan sangat mempesona.'' Gumam Calysta dalam hatinya.
''Baiklah meeting selesai.'' Ujar Justin mengakhiri rapatnya.
Semuanya bubar dan kembali mengurus pekerjaan kecuali Calysta yang masih melamun.
''Apa kamu belum puas melihat nya.'' Justin mendekatkan wajah nya sangat dekat kepada Calysta.
''Iihh dasar mesum.'' seketika Calysta tersadar dan juga langsung pergi dari ruangan itu.
Justin tersenyum melihat tingkah Calysta yang menurut nya lucu.
__ADS_1
*
Arah jarum jam telah menunjukkan waktunya untuk beristirahat dan makan siang.
Semua karyawan pergi ke kantin termasuk Justin dan juga Calysta mereka berencana untuk makan siang bersama dengan Aldo dan yang lainnya.
Justin dan Calysta tengah menunggu teman-temannya di salah satu meja kantin.
Datang kedua calon pengantin itu Farrel dan Rossa juga di belakang mereka menyusul Febi dan Putri.
''Haii.'' Mereka langsung duduk di kursinya masing-masing yang bersebelahan.
''Aldo mana?.'' Tanya Febi.
''Kita kira dia bareng kamu.'' Ujar Calysta.
''Hai,'' Dari kejauhan Aldo melambaikan tangannya.
Ternyata Aldo tidak sendiri dia bersama dengan Melisa.
Kemudian menghampiri mereka di meja yang sama.
''Wah gerak cepat juga kamu, tau tau sudah menggandeng Melisa.'' Celetuk Febi kepada Aldo.
''Kalau tidak, aku disini akan sendirian menjadi jomblo.'' Jawabnya.
Semuanya tersenyum melihat mereka berdua.
Mereka mengobrol sambil menikmati makan siang nya.
''Ah kalau begini aku jadi rindu sama Danu dan Beni, ingin kumpul sama-sama seperti ini.'' Ujar Febi di tengah obrolan mereka.
''Tenang saja, mereka lebih menikmati hidup nya di sana.'' Ucap Justin.
''Tuh kan baru juga di omongin orangnya sudah menghubungi, Danu VC nih.'' Justin memperlihatkan ponsel nya.
''Yo, kalian lagi ngumpul? Febi mana aku mau pamer cewek bule sama dia.'' Ujar Danu dalam VC ( video call ).
''Aku gak tertarik lagi, sekarang sudah ada wanita imut yang mengisi ruang hatiku.'' Jelas Febi menjawab Danu sambil melirik Putri.
''Aihh imutnya nemu dimana tuh.'' Celetuk Danu.
''Hei dia bukan anak kucing, nada bicara mu jangan seperti itu.'' Febi tidak terima.
''Baiklah Febi kecil, selamat untuk mu yaa.'' Ucap Danu.
''Eh ngomong-ngomong Beni mana.'' Tanya Aldo.
''Oh dia sedang mengurus sesuatu.'' Jawab Danu.
''Kalau bicara tuh yang jelas.'' Aldo kesal.
''Mmm, sebenarnya aku juga ingin mengatakan ini pada kalian tapi-, ah bagaimana menceritakan nya ya?'' Ujar Danu terlihat bingung.
''Hei cepat katakan dengan jelas.'' Febi tidak sabaran.
''Beni sudah menikah, awalnya ada Klien kita, dia seorang perempuan dan cukup terpandang disini juga kaya. Mereka sama-sama gila kerja mungkin karena sering bersama entah bagaimana tau-tau Beni menikahi nya. Aku bahkan tidak tahu kalau mereka pacaran aku kira hanya sebatas kerja sama.'' Jelas Danu panjang lebar.
''APA!.'' mereka serentak berteriak.
''Tapi bukan karena Beni kebablasan kan?'' Tanya Febi memastikan.
''Nggak lah, dia bukan orang seperti itu. Ini benar-benar saling suka.'' Danu meyakinkan nya.
''Syukurlah, disini juga Farrel beberapa hari lagi akan menikah dengan Rossa.'' Febi memberi tahu Danu.
''Aku tahu, sudah ya aku sibuk dulu. Bye...'' Danu mengakhiri panggilan nya dengan cepat. Seperti nya banyak sekali pekerjaan yang harus ia kerjakan.
__ADS_1