Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
part 75


__ADS_3

"Bagaimana kau akan mengatakannya?" Arumi berbisik kepada Sarah yang sedang duduk di kursi belakang.


Sementara Daffa duduk di kursi depan dan Alex yang mengemudi.


"Sudahlah katakan saja," balas Sarah berbisik.


"Oh iya, kalian akan pergi jalan-jalan kemana?" Alex yang baru tersadar harus mengendarai mobilnya kemana.


"Rumah sakit." Jawab Sarah singkat.


"Kau serius? Siapa yang sakit?" Alex mengernyitkan keningnya, sementara Daffa hanya menengok ke belakang menunggu jawaban Sarah.


"Arumi yang sakit." Jawabnya lagi singkat.


"Arumi sakit apa?" Lagi-lagi Alex terus bertanya tiada hentinya. Juga sebenarnya Daffa merasa penasaran Arumi sakit apa.


"Apa karena tadi siang kau yang muntah-muntah itu?" Tanya Daffa dengan suara beratnya.


"Ya." Semakin singkat saja jawaban yang di berikan oleh Sarah. Sementara Arumi hanya diam mengandalkan sahabatnya untuk membantu dirinya.


"Tapi kenapa kalian berbohong pada aunty Rossa?" Alex terus saja mengeluarkan hal yang terlintas di pikirannya.


"Ish, kau jangan banyak tanya. Dan satu hal lagi, kau harus merahasiakan nya kepada yang lain mengerti?" ancam Sarah kepada kekasihnya itu.


Ingin rasanya Alex kembali bertanya dan masih banyak lagi hal yang membuatnya penasaran, tetapi ia menahannya karena tidak ingin menerima amukan dari wanita yang di cintainya.


Daffa juga berpikir dalam hatinya, mengapa hanya memeriksa kondisi Arumi saja harus merahasiakan dari orang tuanya. Apa karena tidak ingin membuat mereka khawatir? pikirnya.


Beberapa menit telah berlalu, Alex telah menempatkan mobilnya di parkiran rumah sakit.


Sebelum turun dari mobil, Sarah mengancam Daffa terlebih dahulu. "Dengar, jika terjadi sesuatu pada Arumi kau harus bertanggung jawab." Tekan Sarah dengan tatapan yang tajam.


Daffa dan Alex mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sarah.


"Memangnya apa yang sudah kau perbuat?" selidik Alex kepada Daffa dengan tatapan yang memicing.


Daffa hanya mengangkat kedua bahunya, bertanda ia juga tidak mengerti.


"Kalau begitu ayo kita ikuti mereka," Alex melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil untuk membuntuti Arumi dan Sarah. Begitupun dengan Daffa.


Sarah membawa arumi menemui dokter kandungan, dan masuk kedalam ruangannya.


Alex dan Daffa saling menatap saat mengetahui mereka masuk kedalam ruangan itu.

__ADS_1


"Sekarang aku mengerti," Alex mendorong Daffa dan menyudutkannya di dinding. "Kau! Telah melakukannya pada Arumi?" selidik Alex dengan mata yang memicing.


"Melakukan? Melakukan apa?" tiba-tiba saja Daffa juga merasa tertekan oleh pertanyaan yang di lontarkan oleh Alex.


"Kau jangan berpura-pura lagi. Jelas-jelas aku mendengar bahwa jika terjadi sesuatu pada Arumi kaulah yang harus bertanggung jawab." Alex kembali mengingat ancaman dari Sarah.


"Aku--" Daffa kebingungan apa yang harus ia katakan.


"Bagus. Trik mu ini sangat berguna." Alex menyeringai penuh arti.


"Maksudmu?" Daffa benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.


"Kau sengaja membuatnya hamil, agar meskipun Arumi tidak menyukaimu dia akan dengan terpaksa meminta pertanggung jawaban darimu dan kau tentu saja harus menikahinya. Bagus bro," Alex menepuk pundak Daffa dengan senyum di bibirnya.


Daffa mentoyor kepala Alex yang pikirannya terlalu bertraveling sangat jauh. "Kau gila! Mana mungkin aku melakukan hal licik seperti itu."


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian?"


"Bukan urusanmu." Tegas Daffa memalingkan pandangannya ke arah pintu pemeriksaan kandungan yang di masuki oleh Arumi dan Sarah.


Tidak lama mereka telah keluar dari ruang pemeriksaan itu. Terlihat wajah Arumi yang kini sedang tersenyum, begitupun dengan Sarah.


"Lihatlah, apa maksud dari senyuman mereka itu?" Alex antusias untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Ayo cepat kembali ke mobil, sebelum mereka sampai duluan." Ajak Daffa.


"Apa benar Arumi telah mengandung anakku?" Daffa bergumam dalam hatinya.


.....


Seolah tidak ada yang terjadi, Alex dan Daffa tengah berada didalam mobil lebih dulu daripada Arumi.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" Tanya Alex menantikan jawaban dari mereka.


"Tidak ada yang serius, hanya asam lambung Arumi sedang tinggi. Itu sebabnya ia mengalami mual-mual." Jelas Sarah.


"Benarkah? Apa pemeriksaannya tidak salah, apa tidak ada hal yang lain?" deretan pertanyaan keluar dari mulut Alex.


"Memangnya apa yang kau harapkan?" Ujar Arumi dengan nada yang ketus.


"Ah! Tidak, tidak ada. Syukurlah kamu tidak memiliki penyakit serius." Ucap Alex dengan sembarangan.


"Benarkah ia hanya asam lambung? Jika hamil pun ia pasti meminta pertanggung jawaban kan? Seperti apa yang di katakan oleh Alex," Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1


"Aku lega sekarang." Celetuk Sarah kepada sahabatnya sembari tersenyum.


"Kau ini, apa aku bilang. Itu tidak mungkin terjadi." Ujar Arumi dengan percaya diri.


"Apa kau sebenarnya --?" Sarah menghentikan ucapannya, dan kembali berbicara setelah mendekatkan mulutnya di telinga Arumi "Apa Daffa menggunakan pengaman saat itu?" Bisiknya.


"Tidak."


"Lalu kenapa kau begitu yakin tidak akan hamil?" selidik Sarah masih berbisik-bisik.


"Setelah waktu itu kau menakuti ku karena takut hamil, aku mulai meminum pil kontrasepsi."


"Apa? Tapikan waktu itu sudah lewat 9 hari dari kau melakukannya dengan Daffa, apa mungkin itu akan berguna?" Sarah sedikit ragu mendengar pernyataan dari Arumi yang menurutnya sedikit tidak masuk akal.


"Buktinya sekarang aku tidak hamil." Ujar Arumi sambil tersenyum.


Sarah menghela nafasnya dengan panjang, ia tidak ingin berdebat lagi dengan Arumi. Meski dalam hatinya tetap saja merasa tidak enak.


Sementara itu Alex dan Daffa saling melirik, melihat Arumi dan Sarah sedang berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan.


Beberapa menit di perjalanan, mereka telah kembali ke Kediaman Justin. Semua lampu kamar tidur sudah tidak menyala lagi, itu artinya semua orang juga telah tertidur.


Arumi dan Sarah kembali ke kamar tidurnya, begitupun dengan Daffa yang tengah membuka pintu kamar miliknya, tapi tiba-tiba saja dengan cepat Alex menerobos dan ikut masuk kedalam kamar Daffa.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku belum bisa tidur jika belum mendengar kebenarannya!" Alex cengengesan di hadapan Daffa.


Daffa memicingkan matanya, melihat kelakuan Alex.


"Bagaimana kau bisa tidur bersama dengan Arumi?" to the point saja Alex bertanya.


"Kau sudah bosan tinggal di Indonesia?" Tegasnya.


"Ah, ayolah.. Aku ingin mendengar pengalaman pertamamu," goda Alex, sembari membayangkan malam pertama Daffa bersama Arumi.


Namun Daffa mengusap wajah Alex dengan kasar, "Hapus semua pikiran mesum mu itu."


Alex mengerucutkan bibirnya karena telah gagal membujuk Daffa untuk bercerita tentang malam panas bersama Arumi.


"Tapi.. Apa menurutmu bisa menumbuhkan benih di rahimnya meski hanya melakukannya satu kali?" saat ini Daffa bertanya dengan serius pada Alex.


"Aku rasa mungkin," Alex mengangguk dengan memberikan jawaban yang kurang memuaskan bagi Daffa.

__ADS_1


__ADS_2