
Dua jam, Farrel mengendarai mobilnya hingga sampai di kediaman Justin. Ya, karena Arumi telah di bawa pulang setelah semuanya baik-baik saja dan ia di berikan resep vitamin oleh dokter.
Farrel masuk kedalam rumah, tampak semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Arumi di bawa pulang kesini?" tanya Farrel bertubi-tubi kepada istrinya.
"Sebenarnya... sebenarnya.. Arumi hamil oleh Daffa." Dengan susah payah Mam Rossa memberitahukan kebenarannya.
"Apa?" Farrel terkejut dan langsung menatap wajah Justin dengan tajam.
"Ada apa? Mengapa kau menatapku seperti itu? Aku tidak tau apa-apa." Jelas Justin yang mengerti dengan tatapan tajam itu.
Mam Rossa kemudian menceritakan kembali apa yang telah di ceritakan oleh Arumi dan juga Daffa. Bahwa kejadian yang menimpa mereka adalah karena obat yang di masukan kedalam anggur Arumi oleh Reyhan mantan kekasih Arumi yang brengs*k.
Di satu sisi mereka merasa bersyukur, karena lelaki yang tidur bersama putrinya adalah Daffa. Namun di sisi lain, mereka merasa di sayangkan karena putrinya harus hamil di luar nikah.
"Sekarang kita tentukan saja tanggal pernikahannya." Ujar Mam Calysta.
"Apa? Menikah!" Arumi tiba-tiba saja terkejut mendengar kata itu.
"Iya menikah, memangnya kalian mau kalau anak kalian tidak tumbuh dalam ikatan keluarga," tekan Mam Calysta.
Arumi menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin anaknya harus tumbuh tanpa keluarga yang utuh.
"Tapi... aku tidak mencintai Daffa." Celetuknya dengan ragu-ragu karena takut menyakiti hati Mam Calysta dan juga Papi Justin.
Benar saja, mereka tidak bisa berkata apapun lagi. Kecuali Mam Rossa, "Itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah bayi dalam kandunganmu. Kau tidak ada pilihan lain sekarang." Tukasnya.
Arumi menghela nafasnya panjang, "Baiklah."
"Satu minggu lagi, pernikahan kalian akan di selenggarakan." Tegas Papi Farrel. Karena walau bagaimanapun tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini selain menikahkan mereka.
"Secepat itu?" Ujar Mam Rossa dan Calysta bersamaan.
"Lebih cepat lebih baik kan!" sambung Justin.
Sementara Daffa hanya diam saja mendengar keputusan mereka. Bukan ia tidak ingin untuk ikut berbicara dalam masalah pernikahannya, namun ia berjaga-jaga menahan dirinya karena tidak ingin membuat Arumi semakin tidak menyukai dirinya.
__ADS_1
Biarlah Arumi yang memutuskan semuanya, ia juga tidak ingin memaksa orang yang dicintainya untuk kembali membalas cintanya.
Waktu dan tanggal pernikahan telah di tentukan. Esok mereka mulai mempersiapkan semuanya, mulai dari menyebar undangan dan tempat penyelenggaraan pernikahan.
Alex yang juga berada disana, hanya diam dan melihat apa yang terjadi. Tentu saja ia merasa ikut bahagia karena sahabatnya akan menikah dengan seorang gadis yang dicintainya.
Meski tidak terlihat senyum di wajah Daffa, tapi Alex tau betul bahwa Daffa sangat mencintai Arumi.
Karena hari sudah sangat malam, terpaksa Farrel dan keluarganya menginap lagi di rumah keluarga Justin. Karena Farrel juga sudah sangat lelah, satu hari ini ia telah pulang pergi selama perjalanan 4 jam.
.....
Esok hari kediaman keluarga Justin. semua orang telah selesai dengan sarapannya masing-masing.
Dan tentu saja mereka kembali menjalankan aktivitas seperti biasanya, kecuali Mam Calysta dan Rossa. Mereka kini tengah mempersiapkan keperluan untuk acara pernikahan putra putrinya.
Daffa yang telah mengenakan jas nya karena akan pergi ke kantor, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat Arumi menyapanya, "Kau akan pergi bekerja?"
"Hm." Jawab Daffa singkat.
"Ck. Apa dia benar calon suamiku," gumamnya dengan pelan, meski masih terdengar di telinga Daffa.
"Bisakah kau menunda pekerjaanmu dulu? Aku ingin mengajakmu untuk fitting baju pernikahan kita." Ujar Arumi dengan tegas namun biasa saja.
Daffa terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu "Baiklah."
"Oke, ayo kita berangkat." Arumi menenteng tasnya lalu keluar mendahului Daffa.
Kali ini Daffa menggunakan seorang supir untuk mengantarkan mereka. Sengaja karena ia masih tetap harus bekerja meski sedang berada di dalam mobil.
Daffa duduk di kursi belakang bersama dengan Arumi.
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di Boutique ternama yang sangat terkenal, bahkan kualitasnya pun sudah terkenal hingga ke luar negeri.
"Aku ingin gaun pernikahan yang sangat mewah dan bagus." Ujar Arumi kepada pelayan Boutique yang melayaninya.
Sementara pelayan sedang menyiapkan pesanannya, Arumi duduk bersebelahan dengan Daffa di sofa tunggu.
__ADS_1
Meski matanya tidak diam melirik kesana kemari melihat-lihat koleksi disana, berbeda dengan Daffa yang kembali menatap layar laptopnya untuk bekerja.
"Ck, apa harimu tiada hari dengan bekerja." Arumi berdecak kesal dan meliriknya dengan malas.
"Memangnya apa yang harus kulakukan?" tanya Daffa mengalihkan pandangannya ke wajah Arumi yang menurutnya terlihat sangat cantik meskipun sedang marah.
"Apa aku hanya menikah seorang diri? bukanya kau juga harus memilih pakaianmu!" dengus Arumi.
"Aku pikir kau tidak menyukai pernikahan kita, tetapi sepertinya kau begitu antusias memilih pakaian yang akan kita pakai." Ujar Daffa menelisik.
"Kau jangan salah paham. Meskipun begitu aku juga harus tetap terlihat cantik, aku juga tidak mau memiliki foto-foto pernikahan yang jelek. Apa kata dunia jika Arumi terlihat jelek di pernikahannya." Kilah Arumi panjang lebar.
"Oh my God... bahkan aku tidak ingin membayangkan nya," pekik Arumi ketika membayangkan bagaimana dirinya jika terlihat jelek dan di katai oleh teman-temannya.
"Hfft..." Daffa tertawa kecil melihat tingkah laku Arumi yang seperti anak kecil baginya.
Beberapa saat gaunnya telah di siapkan, "Ini adalah rancangan design terbaru dari kita, ini sangat mewah dan elegan. Nona pasti cocok mengenakan nya." Ujar pelayan sembari menunjukan gaunnya.
Arumi pergi untuk mencobanya, gaun mewah berwarna putih dengan banyak hiasan manik di setiap sudutnya dan juga terbuat dari bahan yang begitu bagus sehingga nyaman di pakai olehnya.
"Bagaimana!" Arumi meminta pendapat kepada Daffa setelah ia keluar dari ruang ganti.
Ia tersenyum dan berputar-putar memperlihatkan gaun yang di kenakan nya.
Sampai-sampai membuat Daffa tidak berkedip bahkan berkomentar apapun. Ia sungguh terpana oleh kecantikan paras Arumi.
Ehem,
Setelah kembali sadar Daffa baru mengangkat suaranya, "Lumayan." Ujarnya datar dan singkat.
"Apa?" pekik Arumi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh calon suaminya itu.
Daffa melangkah mendekatinya, menyentuh gaun di bagian dadanya yang berbentuk v yang sedikit rendah. Sehingga membuat mahkota kembar itu terlihat menyembul karena milik Arumi itu begitu pas ukurannya.
"Bisa tolong jahitkan kembali untuk bagian ini agar tidak terlalu rendah!" Ujar Daffa kepada sang pelayan.
"Baik tuan."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita ambil yang ini." Daffa menyetujui bahwa gaun itu cocok di kenakan oleh calon istrinya, hanya harus sedikit merubahnya di bagian dada.