Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
Teman masa kecil


__ADS_3

Siang itu Calysta hendak pergi ke supermarket untuk membeli keperluannya. Dalam perjalanan tak sengaja dia menabrak seseorang.


Duakk...


''Ah maaf,'' Calysta mendongak melihat sosok yang berbadan tinggi itu, ternyata seorang lelaki yang ia kenal.


Lelaki itu menatapnya dengan tajam dia juga mengenali sosok wanita cantik itu.


''Little Angel,'' Lelaki itu memanggilnya dengan nada yang akrab juga sorot matanya yang berbinar tersirat senyuman dibibirnya.


''Radit!'' Calysta memanggil nama lelaki itu.


Ternyata dia teman masa kecilnya yang sudah lama tidak bertemu, sekarang bertemu lagi saat sudah dewasa.


''Hei, kamu apa kabar?.'' Tanya Radit.


''Kabar baik, kamu kapan balik dari luar negeri?.'' Calysta berbalik nanya.


''Baru satu minggu aku pulang ke kampung halaman, eh, ngobrol nya sambil minum kopi di kafe biar lebih santai bagaimana?.'' Ajak Radit.


''Boleh, kebetulan aku lagi senggang.''


Mereka berdua pergi ke salah satu kafe terdekat yang ada di sekitar sana, lalu mengobrol dengan asyik reuni dengan teman masa kecil.


''Angel, kamu tambah cantik saja.'' Gombalan receh.


''Masa sih, makasih.'' Calysta tersipu.


''Iya, tapi manjanya tetap saja seperti dulu.'' Ucap Radit sembari tersenyum.


Di saat yang bersamaan kebetulan Justin juga ada di kafe itu sedang meeting dengan salah satu Kliennya. Dia juga melihat Calysta berada di sana dengan seorang pria dan terlihat sangat akrab sedang mengobrol dengannya.


Justin bertanya-tanya siapa, dan apa yang sedang di lakukan calon istrinya, kemudian dia mencoba mendengarkan percakapan mereka, dan sepertinya tidak fokus dalam pekerjaan nya. Untung saja masih ada Farrel.


''Angel,''


''Hmm.''


''Kamu sudah menikah?.'' Tanya Radit.


Calysta terdiam sejenak dan menjawab,


''Belum.''


Mendengar ucapan itu, Justin menggerutu di dalam hatinya.


''Angel? pria itu memanggilnya Angel, akrab sekali, siapa sebenarnya dia? kenapa Calysta juga menjawab belum menikah, padahal tanggal pernikahan kita sudah di tentukan.'' Tersirat matanya yang sendu dan hatinya sedikit teriris.


Ada kekesalan dan kecemburuan yang di rasakan Justin.


Tidak sanggup terlalu lama melihat mereka, Justin mempercepat meeting nya dan segera kembali ke kantornya.

__ADS_1


Meski tahu apa yang terjadi, Farrel tidak banyak bicara dan hanya mengikuti Bos nya itu.


Mata yang sendu, wajah terlihat muram berjalan dengan gontai sepertinya sudah tidak ada semangat lagi.


''Farrel, hari ini perintahkan seluruh karyawan harus lembur.'' Perintahnya tegas dengan penuh emosi.


''Baik pak.'' Jawab Farrel sedikit mengeluh, beberapa hari ini dia benar-benar sudah bekerja keras.


''Haishh... Suasana hatinya yang sedang buruk melihat Calysta dengan pria lain, pasti semua karyawan yang kena imbasnya, kamu nggak adil Bos.'' Gumam Farrel sambil pergi meninggalkan nya.


Justin hanya melamun memikirkan apa yang terjadi tadi,


''Calysta sangat bahagia mengobrol dengan cowok tadi, juga tersenyum dan tertawa sangat gembira, bahkan saat bersama denganku Calysta tidak pernah tertawa lepas seperti itu.''


Di tengah lamunannya tiba-tiba ada yang membuka pintu, ternyata itu Calysta yang baru saja masuk ke ruangannya, dia langsung duduk di kursinya.


''Atau aku tanya saja siapa pria tadi yang bersamanya? tapi apa dia akan menganggap ku seperti terlalu ikut campur,'' hatinya yang bimbang ingin sekali bertanya kepada Calysta.


''Mmm... apakah kamu sudah makan siang?.'' Tanya Justin.


''Iya, sudah.'' Jawab Calysta.


Suasana menjadi canggung, mereka melanjutkan pekerjaannya masing-masing.


Waktu berlalu begitu cepat hari sudah mulai gelap saatnya karyawan pulang kantor.


Driing... driing...


''Hallo,''


''Angel, kamu sudah pulang kantor? aku akan mengantarmu pulang sekalian aku lewat, sekarang aku tunggu di bawah.'' Ujar seseorang yang menelpon, yaitu adalah Radit.


''Ah, hmm... baiklah aku segera keluar.'' Jawabnya yang kebingungan untuk menolak teman kecilnya itu.


"Kalau aku menolak nya, tidak enak kan, dia sudah berada di bawah juga menunggu ku." Pikir Calysta


Obrolan telepon itu terdengar oleh Justin, tadinya dia akan mengantarkan Calysta pulang bersamanya, tetapi mendengar percakapan di telepon itu dia mengurungkan niatnya.


Calysta bergegas keluar dan menemui Radit di bawah, saat itu Justin hanya melihatnya dari kejauhan.


''Farrel.''


''Iya pak.''


''Cari tahu siapa lelaki yang bersama Calysta itu, secepatnya.'' Perintahnya.


''Baik pak.''


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Farrel mencari tahu tentang itu, dia sudah menemukannya siapa lelaki itu sebenarnya dan langsung memberi tahukannya kepada Justin.


''Jadi dia pria itu teman masa kecilnya, hubungan mereka juga baik saat itu, berpisah saat masuk universitas, dan sejak saat sekolah dia sudah mengejar Calysta.'' Gumam Justin setelah mengetahui kebenaran itu.

__ADS_1


''Calysta aku tidak akan melepaskan mu, aku akan membuatmu selalu ingin bersamaku.'' Tekad Justin dengan ambisi nya.


"Aku ingin melarang nya untuk tidak berdekatan dengan laki-laki lain, tetapi apa daya ku, meskipun aku adalah calon suami nya, tetapi dia juga tidak mencintai ku." Mata sendu tak berdaya.


Sampailah Radit di depan rumah Calysta, dia juga mampir ke rumahnya untuk berkunjung kepada Papi dan Maminya Calysta.


Kedua orang tua Calysta bengong, mengapa bukan Justin yang mengantarkannya pulang.


''Om Tante, apa kabar?.'' Sapa Radit.


''Kabar baik, kamu siapa ya?.'' Tanya Mami Calysta.


''Aku Radit Tante, Radit Yudistira.'' Menepuk dadanya sambil meyakinkan Mami Calysta.


Sejenak Mami dan Papi Calysta mencoba mengingat nya.


''Oh, ya ampun Radit teman bermain nya Calysta sejak kecil, pangling loh Tante melihatnya, kamu semakin tampan saja.'' Ujar Mami Calysta sambil tersenyum.


''Ayo masuk minum dulu.'' Ajak Maminya.


Sementara Papi Calysta hanya memasang wajah datar dan tidak bicara sepatah katapun.


Mereka mengobrol sambil menikmati teh,


tiba-tiba Ponsel Calysta berdering.


''Hallo,''


''Sayang, kamu sudah sampai rumah belum?.'' Ternyata itu adalah Justin.


''Iya sudah.'' Jawab Calysta.


''Syukurlah, aku khawatir tadinya aku mau nganterin kamu pulang tapi aku cari-cari kamu sudah nggak ada.'' Jelas Justin.


''Hmm... iya aku tadi pulang lebih dulu, maaf tidak memberi tahu mu.'' Ucap Calysta yang merasa tidak enak karena telah mengabaikan nya.


''Baiklah cepat istirahat.'' Justin langsung menutup panggilannya.


"Calysta, nada bicara nya masih saja begitu dingin kepada ku." Keluh Justin.


Tidak banyak yang di bicarakan lagi, setelah itu Radit berpamitan pulang.


Calysta juga pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Sementara di kediamannya Justin tidak bisa tidur dan ataupun beristirahat, banyak sekali yang dia pikirkan nya, bercampur aduk gelisah dan rasa takut kehilangan selalu menghantui pikirannya.


''Calysta, bisakah sedikit saja kamu memberikan cinta untukku.'' Gumamnya di tengah kegelisahan yang menyelimuti hatinya.


Malam yang sunyi sepi, langit tak berbintang mewakili perasaannya yang sedang gundah.


Justin menghabiskan malam itu hanya dengan bergadang dan menatap langit, berharap ada bintang yang menemani sang bulan meski hanya cahaya kecil.

__ADS_1


''Akan ku jadikan yang pertama dan terakhir untuk menjadi pendamping hidupku, Calysta, berikan aku cahaya sedikit saja untuk menerangi jalanku untuk mengejar mu.''


__ADS_2