
Acara syukuran telah di laksanakan, keluarga Justin tengah berbagi makanan dan kebutuhan pokok untuk orang-orang yang membutuhkan. Terlebih seperti biasanya, Justin selalu menjadi donatur untuk beberapa panti asuhan di kota itu.
Semua orang memberinya selamat atas kehamilan Calysta. Serta mendoakan yang terbaik untuk mereka.
"Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar." Seru Mami Justin.
Acara telah usai, selanjutnya mereka makan bersama-sama di rumah Justin.
"Oh iya. katanya nanti malam kalian akan barbeque dengan seluruh karyawan kantor?" Tanya Mami Calysta.
"Iya Mi" Jawab Justin.
Maminya mengangguk. "Hati-hati ya, jaga Calysta jangan sampai terlalu kelelahan."
"Pasti Mi." Ucap Justin meyakinkan.
Malam pun tiba seluruh karyawan tengah datang untuk acara Barbeque nya.
Mereka tengah berada di atas gedung kepunyaan Justin. Banyak makanan dan minuman juga bahan peralatan nya telah tersedia di sana.
Semua orang menikmatinya dengan rasa gembira dan senang.
"Sekali lagi selamat ya sahabat ku! Ah, aku iri sekali sampai sekarang aku belum hamil." Ucap Rossa kepada Calysta.
Calysta tersenyum. "Sabar, mungkin sebentar lagi. Aku akan mendoakan kamu agar cepat menyusul untuk segera memiliki Baby." Ujarnya sambil menghibur istri Farrel itu.
Justin menyenggol Farrel "Hey, apa aku bilang. Aku akan lebih dulu punya anak dari pada kamu!" Ujar Justin menyombongkan nya dan bangga dengan pencapaiannya.
"Ck. lihat saja nanti. Sebentar lagi aku akan menyusul." Tegas Farrel.
"Hahaa.. berusahalah teman!"
Justin dan Farrel beralih kepada Aldo dan Febi.
"Kapan kamu akan memberikan status kepada kekasih mu itu?" Farrel bertanya kepada Febi yang sedang memanggang daging.
"Hmm.. Aku juga ingin secepatnya." Jawabannya sedikit bimbang.
"Ya. lebih baik seperti itu kalau tidak nanti kekasihmu keburu hilang di ambil orang." Tukas Justin ikut berkomentar.
"Hei kalian. Berhentilah menyudutkan ku." Ucap Febi sambil memakan daging yang telah ia panggang.
Para wanita itu kelihatan asyik dengan apa yang mereka obrolkan. Sedangkan semua pria sudah di tugaskan untuk memanggang.
Tidak terasa waktu sudah sangat larut.
Mereka juga merasa sangat puas dengan perayaan Barbeque itu. Lelah sudah di rasakan oleh mereka, apalagi besoknya masih harus pergi bekerja.
Lalu mereka memutuskan untuk mengakhiri perayaan nya dan berpamitan untuk pulang.
Apalagi dengan Calysta yang sedang hamil,
dia juga jangan sampai terlalu lelah.
Aldo juga mengantarkan Melisa pulang,
begitu dengan Febi yang mengantarkan Putri pulang ke rumahnya, Setelah bekerja di perusahaan Justin, kini Putri telah membeli rumahnya sendiri. Meski tidak terlalu besar tetapi itu cukup untuk Putri tinggal.
Sampai di rumah Putri.
Febi turun dari mobilnya dan mengantarkan Putri sampai di depan pintu. Saat Putri hendak masuk ke dalam rumahnya, Febi menahan tangannya dan menghentikan langkah Putri.
Putri terhenti dan menoleh.
"Ada apa?" Tanya Putri.
"Aku ingin ngomong sesuatu yang sangat penting." Ujar Febi.
"Hmm? Masuklah." Putri mempersilahkan Febi untuk masuk.
Di dalam rumah di ruang tamu. Febi menggenggam kedua tangannya Putri.
__ADS_1
Tatapan sendu penuh kasih dari sorot mata Febi.
"Sekarang aku sudah mantap untuk menikahi kamu, tabungan ku sudah bertambah cukup banyak untuk kita membesarkan anak kita.
Kamu jangan khawatir aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak kita nanti." Febi mengungkapkan perasaan nya tanpa basa-basi dan penuh keyakinan.
"Putri. Maukah kamu menikah dengan ku?"
Febi menantikan sebuah jawaban.
Putri terharu mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Febi. Matanya berbinar berkaca-kaca.
Putri mengangguk "Iya aku mau"
Senyuman bahagia terlihat dari bibir mereka.
Febi dan Putri saling berpelukan.
"Ya sudah. kamu istirahat sana," Ujar Febi sambil mengusap kepalanya Putri.
Putri tersenyum dan mengangguk.
"Aku pulang dulu ya! Besok aku jemput."
Febi pergi meninggalkan rumah Putri, dan
kemudian pulang ke Apartemen nya.
Aldo juga mengantarkan Melisa pulang,
Namun di tengah perjalanan, Aldo membelokkan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan rumah Melisa.
"Loh! ini bukan jalan ke arah rumah ku? kita mau kemana?" Tanyanya heran menatap Aldo.
"Nanti juga tahu." Jawab Aldo singkat.
Melisa tidak ingin bertanya lagi meski belum mendapatkan jawabannya.
Aldo dan Melisa turun dari mobilnya.
Melisa bertanya-tanya entah apa yang akan di lakukan oleh Aldo dengan membawanya ke sini.
Kemudian Aldo menutup mata Melisa dengan kedua tangannya.
"Ada apa? kok di tutup segala?" Tanya Melisa.
"Sssttt... kamu nggak boleh mengintip, sekarang jalan lurus ikuti arahan ku." Ujarnya misterius.
Beberapa saat dan akhirnya sampai ke tempat yang Aldo tuju. Aldo melepaskan tangannya yang menutupi mata Melisa.
"Jangan membuka mata dulu sebelum aku menyuruhnya." Tukas Aldo.
Melisa hanya bisa menuruti nya.
"Sekarang buka matamu." Ucap Aldo harap-harap cemas.
Saat membuka matanya, Melisa terpesona melihat apa yang ada di depannya.
Lampu yang membentuk kata I ❤️ U
di sertai hiasan bunga-bunga.
Terdapat tulisan di tengah-tengah Love
'Will you marry me?'
Ternyata Aldo memang sudah mempersiapkan nya untuk melamar Melisa.
Melisa benar-benar merasa tersanjung dengan perlakuan Aldo, dia tidak menyangka bahwa Aldo punya sisi yang romantis.
"Melisa," Nada lembut keluar dari mulutnya Aldo, dia memegang kedua tangannya Melisa.
__ADS_1
"Meski kita menjalin hubungan tidak terlalu lama, tapi hatiku benar-benar merasa yakin kalau kamu adalah belahan jiwaku." Kata-kata gombal yang indah itu keluar dari mulut Aldo.
"Gak usah lebay." Ujar Melisa memotong pembicaraan Aldo.
Aldo berdecak "Ishh... kamu, itu tuh kata-kata romantis. Ya meski terlalu lebay, hehe." Aldo tertawa mengingat apa yang dilakukannya nya.
"Iya, iya itu memang sipat asli kamu." Melisa tertawa melihat tingkah kekasih nya itu.
Kemudian Aldo berlutut dan mengambil kotak cincin dalam saku jas nya.
"Melisa. Will you marry me?"
Sambil memberikan kotak berisi cincin itu.
Melisa terharu dan tersenyum.
Dia mengangguk "Iya aku mau"
Kemudian Aldo memasangkan cincin nya
ke jari manis Melisa. Tampak pas dan sangat indah di jarinya.
Aldo mengecup kening Melisa dengan cukup lama. Keduanya saling bertatapan penuh cinta dan kebahagiaan. Kini keduanya tengah berciuman, di bawah sinar bulan dan cahaya lampu. Dekapan yang sangat erat dan ciuman yang semakin memanas.
Hampir saja Aldo hilang kendali dan tidak bisa menahan nya. Untungnya dia cepat melepaskan bibirnya dari bibir Melisa.
"Ayo kita pulang. Kamu harus istirahat." Ujar Aldo meski enggan untuk pulang.
"Iya." Melisa menyetujui nya.
"Nanti kita bicarakan lagi, waktu dan tempat pernikahan kita akan di selenggarakan dimana!" Kata Aldo.
Melisa mengangguk "Iya, aku serahkan semuanya sama kamu."
Mesin mobil di hidupkan nya dan mobil itu beranjak meninggalkan taman.
Beberapa menit perjalanan akhirnya tiba di rumah Melisa.
Mereka turun dari mobilnya.
Aldo mengantarkan Melisa hingga di depan pintu rumahnya.
"Makasih ya udah nganterin aku pulang." Ucap Melisa basa-basi
"Itu sudah kewajiban aku sayang." Ujar Aldo.
"Hm.. aku masuk ya."
"Eh tunggu. Kamu lupa sesuatu." Aldo mencegahnya untuk masuk dan menghentikan langkah Melisa.
Cup
Aldo lagi-lagi mencium bibir Melisa.
Ciuman itu semakin dalam dan dalam lagi, hingga mendorong mereka masuk kedalam rumah sambil berciuman. Begitu juga dengan Melisa yang membalas ciumannya dan ikut menikmati nya.
Aldo menjatuhkan Melisa di sofa.
Tiba-tiba Aldo melepaskan tautan bibir mereka yang sedang memanas.
"Haish,, hampir saja" Gumam Aldo.
"Kamu kenapa?" Tanya Melisa.
"Ah.. hampir saja aku kelepasan.
Aku ingin segera memiliki mu Melisa."
Cup
Aldo mencium kening Melisa dan berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Meski orangnya sedikit blak-blakan, tapi dia benar-benar menghormati ku. Dia tidak berani melangkah lebih jauh sebelum waktunya." Melisa berbicara dengan dirinya sendiri.