
Hari itu hari yang melelahkan bagi Febi dan Aldo.
Banyak sekali pekerjaan yang mereka urus, mulai dari meeting dengan para Klien juga mensurvei lokasi di berbagai kota yang sedang dalam pengembangan bisnisnya.
Sepulang menyelesaikan pekerjaan.
Aldo hendak pulang ke rumahnya untuk segera beristirahat.
Mandi membersihkan diri lalu minum susu sebelum tidur, begitu pikirnya.
Di tengah perjalanan,
di pelosok jalanan yang sepi, Aldo melihat seorang wanita yang sedang di ganggu oleh segerombolan Preman.
Bergegas dia menancapkan gas dan turun dari mobilnya.
Kemudian menghampiri Preman-preman itu,
Buakk!
Hantaman keras dari tangan Aldo memukul para Preman itu.
Dan terjadi lah pertarungan satu melawan empat orang.
Namun itu tidak membuat Aldo bergeming
apalagi merasa takut.
Semua Preman itu di kalahkan olehnya hanya dengan beberapa pukulan saja.
Jelas saja dia hebat
karena sering berlatih bela diri bersama Justin dan kawan-kawannya.
''Kamu tidak apa-apa?'' Tanya Aldo kepada gadis yang di ganggu oleh Preman tadi.
''Hiks.. hiks,'' Gadis itu tertunduk dan menangis karena rasa takutnya.
Aldo memegang kedua belah pipi gadis itu, dan mengangkatnya hingga terlihat wajahnya untuk melihat keadaannya.
''Melisa!'' Suara kaget saat di lihatnya wajah gadis itu yang ternyata adalah Melisa.
''Huuhuhuhu,'' Suara tangisannya semakin kencang.
''Sudah sudah, sekarang sudah aman.'' Aldo merangkulnya mencoba menenangkan Melisa.
''Hiks, aku takut banget, kalau saja kamu tidak datang menolongku mungkin! mungkin aku.... Huuwaaaa,''
Melisa tidak sanggup melanjutkan omongannya dan malah menangis lagi semakin kencang.
Aldo mengelus rambutnya.
''Memang kamu hendak kemana malam-malam begini berjalan sendirian di jalanan sempit ini?''
''Aku - aku hendak ke Minimarket di depan sana.'' Menjawab terbata-bata sambil menunjuk ke arah yang akan ia tuju.
Aldo menengok ke arah yang di tunjukan olehnya. Dan memang di sebrang jalan sana ada sebuah Minimarket.
''Kamu tinggal di sekitar sini?'' Tanyanya lagi memastikan.
''Iya, aku tinggal di sana.'' Melisa mengangguk sambil menunjuk kearah Apartemen nya.
''Ayo aku antar.''
''Hah?''
''Aku antar ke Minimarket dan setelah itu aku akan mengantarmu pulang.''
''Baiklah.'' Melisa setuju, karena memang dirinya juga masih merasa takut dan belum berani untuk berjalan sendiri.
Sepertinya, setelah beberapa lama bersama Aldo Melisa sudah kembali lega dan tidak merasa ketakutan lagi dan perlahan
__ADS_1
melupakan kejadian tadi.
Di Minimarket, Melisa hendak mengambil suatu barang namun posisi barangnya ada di paling atas sehingga dia kesulitan untuk menggapainya.
Grepp!
Aldo berdiri di belakang punggung Melisa dan mengambilkan barang yang di inginkan Melisa.
deg...
''Kenapa ini? hatiku jadi berdebar?.'' Gumamnya Melisa dalam hati saat merasakan hal berbeda dalam hatinya.
Banyak belanjaan yang di belinya,
mulai dari cemilan dan keperluan sehari-hari juga keperluan bulanannya.
Selesai belanja dan kemudian kembali ke Apartemennya di antar oleh Aldo.
Sampai di Apartemen Melisa.
Aldo mengantarnya hingga di depan pintu.
''Makasih ya sudah mengantar aku pulang.''
''Sama-sama.'' Namun setelah mengucapkan itu. Aldo masih berdiri dan tidak beranjak pergi dari sana.
''??'' Melisa sedikit keheranan.
''Apa maksudnya dia masih belum pergi juga. Jangan bilang dia mau aku mengajaknya untuk masuk ke dalam?'' Gumam Melisa dalam hati.
''Apa kamu tidak akan mengajak ku untuk masuk? dan membuatkan secangkir teh tanda terimakasih mu!'' Ujar Aldo mengungkapkan keinginannya, dengan nada menekan tanpa rasa malu.
Yang di artikan, ingat aku sudah menolong mu dan balas budi lah.
''Ya baiklah, mari masuk untuk minum teh dan setelah itu kamu silahkan pergi.''
''Apa! belum juga masuk, kamu sudah mau mengusirku.''
Aldo mengikutinya dari belakang punggung Melisa.
Kemudian Melisa pergi ke dapur dan membuatkannya secangkir teh.
Dia meletakan teh nya di atas meja, dimana Aldo sedang duduk.
Aldo menyeruput teh nya, dan Melisa masih berdiri tegak di hadapannya sambil memeluk sebuah nampan.
''Aku lihat kamu tadi membeli Mie instan. Aku lapar masakin Mie instan dong.'' Aldo memerintah seperti di rumahnya sendiri.
''Ck, kalau bukan karena menolongku tadi, Aku tidak akan meladeninya. Ahh... sudahlah anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih.'' Gerutunya sambil membuatkan Mie instan.
Aldo tersenyum merasa menang melihat Melisa yang terlihat kesal tetapi tetap menuruti keinginan nya.
''Rasain aku kerjain.'' Melisa tersenyum licik sambil menambahkan sesuatu kedalam Mie nya.
''Silahkan, Mie spesial ala-ala Melisa.'' Tersenyum sambil menyimpan Mie yang telah di masaknya di atas meja di hadapan Aldo.
Aldo menerima nya dan baru saja hendak memakannya.
''Bagus, cepat makan biar kamu kepedesan, karena aku sudah memasukkan cabe yang di haluskan dan sedikit saus agar kamu tidak menyadarinya.hehe,'' Gumamnya dalam hati dengan seringainya yang terlihat senang.
''Duduk sini.'' Aldo menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Dan membatalkan niatnya untuk memakan Mie tadi.
''Untuk apa?'' Tanya Melisa heran dan sedikit merasa tidak aman.
''Temani anu makan'' Jawab Aldo datar.
''Tinggal makan saja kenapa harus banyak ini itu sih. Ck.. ya sudah aku turuti biar kamu cepat memakannya.'' Gerutu Melisa dalam hatinya namun tampak terlihat jelas di wajahnya yang sedang kesal.
Aldo tersenyum puas melihat Melisa yang sudah duduk di sebelahnya.
''Nah, karena ini spesial, kamu juga harus merasakannya... aaaa,'' Aldo menyodorkan sesendok Mie hendak menyuapinya.
__ADS_1
''Tidak - tidak usah, ka- kamu saja yang memakannya. Aku- aku sedang diet.'' Melisa yang terbata-bata saat mencoba menolak tawaran Aldo.
''Tidak apa-apa hanya satu suap saja.'' Perintah Aldo memaksa dengan mimik wajah datar.
''Sialan! apa si brengsek ini tau kalau aku mengerjainya. Sudahlah cuma satu suap aku akan menahannya.'' Pikirnya dalam hati.
''Aaaaa,'' Aldo mengulurkan sesendok Mie ke mulut Melisa.
Melisa mangap dan memakanny, dengan senyum terpaksa di wajahnya.
''Enak?'' Tanya Aldo.
''Enak, enak banget dong,'' Tersenyum yang di buat-buat, padahal wajah Melisa sudah memerah karena kepedesan.
''Baiklah, aku akan menghabiskan nya.'' Ujar Aldo sambil memakan Mie nya dengan penuh hikmat.
''Sialan! sudah tidak tahan lagi.'' Teriaknya dalam hati sambil meneguk segelas air yang tadinya di suguhkan untuk Aldo.
''Kamu kenapa?'' Tanya Aldo melihat tingkah Melisa.
''Uhuk,uhukk.. Aku tidak apa-apa. Akan aku ambilkan minum yang baru.'' Ujarnya sambil pergi untuk mengambilkan air.
Aldo tersenyum dan kemudian menghabiskan makanannya.
''Bedebah itu. Mengapa tidak kepedesan sama sekali.'' Kesal Melisa sambil menendang tembok.
''ssshhh.. sakit,'' Pekiknya.
Kembali ke meja Aldo dengan kaki pincang.
Aldo meminumnya dan meletakkannya kembali ke atas meja.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Aldo yang melihat Melisa berjalan sedikit pincang.
"Ah, tidak apa-apa aku hanya tersandung tadi." Jawabnya.
''Ohh.. Makasih ya Mie instan nya, oh iya ini enak banget loh, kok kamu bisa tahu aku suka makan pedas!'' Ujar Aldo dengan seringai kemenangan.
''APA?'' Ungkapan Aldo membuat Melisa terkejut dan tidak habis pikir, ternyata rencananya gagal.
''Sudah selesai kan? Sekarang sudah sangat larut silahkan anda segera pergi dan pulang ke rumah anda.'' Kata Melisa sedikit kesal terlihat di wajahnya yang memaksakan untuk tersenyum.
''Aaihh.. baiklah terimakasih untuk malam ini.''
"Sama-sama."
''hei seharusnya kata-kata seperti itu tidak tepat. Berterima kasihlah untuk makanannya.'' Gerutunya dalam hati.
Aldo sudah keluar dan Melisa mengantarnya sampai di depan pintu, dan ketika Melisa sudah berbalik untuk kembali kedalam, Aldo memanggilnya
''Melisa,''
Melisa menoleh saat Aldo memanggilnya.
Tiba-tiba, tanpa berkata apa-apa
Cup!
Aldo mencium bibir Melisa sebentar namun sedikit menyesap nya, hingga bibir Melisa pasti merasakan itu.
Melisa kaget dan mematung tidak bisa berkata-kata.
Aldo tersenyum lalu pergi, sebelum Melisa menyadarinya dan mengomel kepadanya.
Melisa tersadar.
''Apa! apa itu tadi. Dasar cowok kurang ajar, itu adalah ciuman pertamaku.''
"Kyaaaa..." Berteriak sekeras mungkin.
Aldo yang belum jauh dari sana, mendengar teriakannya.
__ADS_1
Dia tersenyum puas, karena dia mengambil ciuman pertamanya dari wanita yang disukainya.