
Malam pun tiba, Farrel dan keluarganya memutuskan untuk menginap di kediaman keluarga Justin. Karena sedari tadi Calysta yang selalu meminta mereka untuk menginap di rumahnya.
Dengan alasan masih kangen karena sudah dua tahun lebih tidak bertemu langsung dengan mereka, hanya melalui panggilan video saja.
Awalnya Farrel enggan untuk menginap di kediaman Justin, karena merasa tidak enak dan tidak ingin merepotkan.
Meski begitu, sekarang Farrel merasa senang karena ada kesempatan untuk mengobrol, bergurau, dan ngopi bareng bersama Justin.
Seolah sedang merayakan reuni bersama sahabat lama. Rindu akan masa lalu mereka yang jika di ingat-ingat sekarang sangat menyenangkan juga penuh tantangan.
Apalagi dengan Rossa, yang selama ini selalu tinggal sendirian di rumahnya jika suaminya sedang pergi bekerja. Hanya ada asisten rumah tangga yang menemaninya. Tidak leluasa untuk bercerita, curhat, ataupun hal semacamnya.
Di sisi lain, di bawah atap yang sama. Arumi dan Sarah tengah mengobrol di dalam kamar yang sudah di sediakan oleh Mam Calysta.
Ya, Arumi juga ikut menginap di sana. Meski awalnya Arumi sangat menolak, dan hampir saja hendak pergi untuk kembali ke apartemen miliknya.
Namun begitu ia menginjakkan kakinya, tiba-tiba saja Sarah datang bersama dengan Alex yang baru pulang dalam perjalanan bisnisnya.
Sarah sengaja ikut bersama Alex, karena ia tahu aunty Rossa dan uncle Farrel sedang berada di kediaman Daffa. Ia hendak menyapa mereka dan memberi salam.
Hingga akhirnya, Mam Calysta memaksa Arumi untuk tetap menginap, dengan alasan Sarah juga ikut menginap disana.
Tidak di ragukan lagi, karena kediaman Justin begitu luas, tentu saja banyak kamar yang tidak di gunakan. Hanya di bersihkan saja setiap harinya oleh asisten rumah tangga di kediaman Justin.
"Apa semua pekerjaannya sudah beres?" Tanya Arumi kepada Sarah yang sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Ya, semuanya lebih cepat selesai karena di bantu oleh Alex." Sarah bangkit dari tidurnya "Tapi aku lapar Arumi," timpalnya sembari memegang perut.
"Hah? Apa kau belum makan?"
Sarah menggelengkan kepalanya.
"Apa Alex tidak mengijinkan mu untuk makan, apa dia tidak membawamu ke restaurant?" Arumi bertanya dengan nada yang tinggi.
"Aku pergi ke restaurant tadi siang, sekarang kan sudah waktunya makan malam," gerutu Sarah.
"Ya ampun Sarah, aku kira kau belum makan dari siang. Kalau itu pasti sebentar lagi ada yang memanggil kita untuk pergi makan malam." Seloroh Arumi.
"Syukurlah kalau begitu," Sarah kembali lagi berbaring.
Tidak lama setelah itu terdengar suara mengetuk pintu di luar kamarnya, dan menyuruh mereka untuk segera turun untuk makan malam.
__ADS_1
Sarah bergegas bangkit dari tidurnya dan turun dengan tergesa-gesa.
Arumi yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol sahabatnya.
.....
Seperti biasanya tertata banyak hidangan mewah di atas meja makan yang besar itu, empat sehat lima sempurna, itu sudah pasti.
"Ayo, ayo silahkan makan." Mam Calysta mempersilahkan dengan ramah.
"Iya, jangan ada canggung lagi." Timpal Justin sembari menepuk bahu Farrel.
Semua orang menikmati makanannya dengan hikmat, apalagi Sarah yang makan dengan sangat lahap.
Secara semua rasa masakannya bak di restaurant bintang lima.
"Oh iya, sengaja aku larang bibi Nah untuk memasak seafood. Karena tadi Arumi mual-mual hanya dengan mencium baunya saja," jelas Mam Calysta saat melihat semua hidangannya tidak ada yang berbau seafood.
Semua orang mengangguk dan mengerti, kecuali Sarah yang komplen akan hal itu.
"Arumi mual? Seafood kan makanan kesukaannya?" Sarah mengernyitkan keningnya dan menghentikan asupan makanannya.
"Iya, Arumi hampir tidak makan siang tadi, karena muntah-muntah." Mam Rossa menjawab pertanyaan Sarah.
Namun Sarah tidak mempedulikan itu, ia hanya fokus dengan pikirannya sendiri. Mendadak saja ia terlihat tidak nafsu makan.
Sarah menatap tajam kearah Arumi, membuat sahabatnya itu menjadi salah tingkah karena merasa tidak nyaman.
"Ada apa sih dengan anak itu? Tiba-tiba saja," gerutu Arumi namun dalam hatinya.
Tidak menunggu lagi sampai semua orang berbincang dan berbasa-basi terlebih dahulu setelah selesai dari makannya. Sarah segera menarik lengan Arumi dan membawanya kembali ke atas ke tempat tidur mereka.
"Katakan padaku yang sebenarnya." Sarah langsung to the point berbicara kepada sahabatnya itu.
"Katakan apa?" Arumi benar-benar tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh sahabatnya itu.
"Apa kau hamil?"
"Apa?" Arumi terkejut dengan pertanyaan yang satu ini, darimana ia bisa berasumsi seperti itu.
"Cepat katakan." Sarah berbicara dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Kau gila! Mana mungkin aku hamil," dengus Arumi sembari duduk di sudut ranjangnya.
"Tapi kau mual-mual Arumi."
"Aku hanya masuk angin, tidak ada hubungannya dengan kehamilan."
Terus saja mereka berdebat dengan keyakinannya masing-masing.
Di sela perdebatan itu, kembali Arumi merasa pusing dan mual. Ia pergi ke kamar mandi untuk membereskannya.
"Tidak bisa seperti ini, ayo kita pergi ke rumah sakit," tegas Sarah setelah Arumi kembali dari dalam kamar mandi.
"Aku bilang aku tidak apa-apa Sarah." Lagi-lagi Arumi membantahnya. Bukan apa-apa, sebenarnya ia juga merasa takut akan kebenaran yang nanti di berikan oleh dokter.
Sarah tidak peduli dengan ocehannya, ia menarik paksa tangan Arumi untuk pergi bersamanya ke rumah sakit.
"Kalian mau kemana?" Tanya Mam Calysta yang melihat mereka menuju ke dekat pintu.
"Kita mau pergi jalan-jalan aunty," kilah Sarah yang sedikit terlihat panik.
"Ini sudah malam, tidak baik untuk anak gadis pergi jam segini apalagi hanya berdua."
"Kita--" Sarah melirik ke arah Arumi untuk meminta bantuannya.
"Kita jalan-jalan di sekitar sini kok Mi," timpal Arumi sembari tersenyum.
"Daffa... Daffa..." Teriak Mam Calysta memanggil anak sulungnya.
Tidak lama Daffa telah muncul menuruni tangga, "Ada Apa Mi?"
"Kamu antar Arumi pergi jalan-jalan, Mami khawatir jika hanya mereka berdua saja yang pergi."
Baru saja Arumi hendak menolaknya, namun terhalang karena Mam Rossa lebih dulu berbicara, "Iya benar, tolong jagain Arumi ya Daffa. Aunty khawatir jika hanya mereka saja yang pergi."
"Baiklah, aku ambil kunci mobilnya dulu." Ujar Daffa.
Ingin rasanya Arumi tetap menolak, tetapi Sarah juga mencegahnya. Karena tidak ada gunanya jika membantah dua aunty itu.
Daffa kembali dengan membawa kunci mobilnya. Mereka langsung saja berpamitan dan pergi.
"Tunggu. Aku ikut," Alex berlari dari arah taman belakang karena melihat mereka hendak pergi.
__ADS_1
"Kau yang menyetir," Daffa melemparkan kunci mobil padanya.
"Oke."