Cewek Penakluk Hati Cowok Cool

Cewek Penakluk Hati Cowok Cool
Part 47


__ADS_3

"Alex, apa menurutmu mereka berkencan?." Tiba-tiba Daffa bertanya di tengah perjalanan mereka menuju ke pertemuan penting.


"Hah? siapa?, oh maksudnya Arumi,


Hm... menurut ku bisa saja berkencan, bisa saja tidak,"


"Aku perlu jawaban pasti." Ujar Daffa dingin dengan penuh penekanan.


"Mana aku tau, sikap mereka seperti lebih dari sekedar teman, tetapi tidak seperti sepasang kekasih." Celoteh Alex mengangkat bahunya.


"Ck, percuma bertanya padamu, pintar soal bisnis tetapi tidak untuk persoalan hubungan." Daffa berdecak kesal.


"Kenapa tidak langsung tanyakan saja pada orangnya." Celetuk Alex menimpali, karena tidak terima ia yang menjadi sasaran kekesalannya.


Daffa melirik kearah nya dengan tatapan tajam, pertanda apa yang di katakan Alex membuatnya tidak senang.


Menyadari itu Alex merasakan hawa dingin yang menusuk membuat badannya terasa kaku. Bagaimana tidak, karena selama ini Alex jarang sekali menerima tatapan seperti itu dari sahabatnya. Kini ia hanya diam tidak berani untuk menyahut pertanyaan nya lagi.


**


Di pertemuan selanjutnya kali ini bertempat di Restaurant yang sudah di janjikan dengan klien penting. Dimana tidak di pungkiri lagi ini adalah kerjasama sama yang sangat menguntungkan mungkin hingga milyaran rupiah.


Suasana hati Daffa sepertinya sedang tidak baik, karena jelas terlihat dari wajah tampannya yang terlihat muram dan sorot mata yang tajam.


Pertemuan kerjasama sama ini tidak ada obrolan basa-basi yang setidaknya membuat suasana santai. Bahkan nada suara Daffa saja terkesan sangat-sangat dingin.


Untung saja klien tidak terlalu mempermasalahkan apalagi keberatan dengan sikap seorang Daffa Alfarizi, mungkin lebih tepatnya terpaksa untuk mengerti dengan keadaan. Jelas saja karena kerjasama ini sangat menguntungkan, sayang sekali kalau tidak terjalin hanya karena sikap Daffa yang entah kenapa.


Kedua belah pihak telah menandatangani kerjasama dan pertemuan yang ke sekian kalinya ini lagi-lagi berjalan lancar.


Bagaimana tidak lancar jika yang bersangkutan adalah seorang Daffa Alfarizi Gull di padukan dengan seorang Alexandros. Mungkin akan menjadi legenda kedua di dunia bisnis setelah papi nya yaitu Justin Gull.


Alex yang dari tadi mencoba menyeimbangi tempramen Bos nya itu. Kini ia sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang selalu marah-marah tanpa sebab.


Alex tidak bisa kalau harus berdiam diri terus, lalu ia bertanya kepada Daffa.

__ADS_1


"Jadi, apa yang membuat mu tidak senang?" Selidik Alex sambil menatap mata Daffa dalam-dalam, siapa tau ia menemukan jawaban di sana.


Melihat tatapan seperti itu dari Alex.


"Apa?" Bukannya menjawab, Daffa malah kembali bertanya. Seolah ia memang tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Alex.


"Hei ayolah... aku sudah bersama denganmu cukup lama, aku mengerti dengan sikap itu! Hanya saja aku tidak tau apa yang menjadi permasalahannya?" Tegas Alex sedikit tidak sabar.


"Tidak apa-apa." Jawaban yang singkat, datar, dingin namun dengan wajah yang masih muram.


"Ish.. terserah" Tukas Alex sedikit menyentak. Tidak ingin dibuatnya pusing lagi karena sikap yang tidak jelas itu, Alex pergi begitu saja meninggalkan Daffa di belakangnya.


brak.


Daffa menutup pintu dengan keras ketika ia tiba di dalam ruangan kantornya.


Ia duduk di kursi tahtanya, bersandar dengan kaki yang menyilang, kedua tangannya yang bertautan memegang keningnya. Diam dan tidak melakukan apa-apa, entah apa yang sedang ia pikirkan.


tok.. tok..


"Masuk." Jawabnya singkat dan kasar.


Nampak seorang karyawan membuka pintu dan berjalan kearahnya dengan membawa berkas di tangannya. Hawa dingin dan mencekam begitu terasa saat ia menginjakkan kaki di dalam ruangan CEO.


Mengingat dirinya baru pertama kali berhadapan dengan CEO baru di perusahaan tempat nya bekerja. Irwan dengan sangat hati-hati memberikan sebuah berkas di atas meja.


"Ini berkas yang perlu bapak... eh Bos... direktur..." Irwan gelagapan entah dirinya harus memanggil dengan sebutan apa. Melihat seorang CEO yang masih muda, juga takutnya ia salah bicara dan membuat Bos nya itu marah.


Daffa tidak berkomentar, ia mengambil berkasnya untuk di periksa.


Wush...


Daffa melemparkan semua berkas yang di berikan oleh Irwan. Membuat karyawan itu terkejut dan ketakutan. Kesan pertama menemui CEO nya yang baru berujung seperti ini.


"Perencanaan macam apa ini? Kamu becus kerja tidak! Koreksi semuanya saya tidak ingin melihat perencanaan seperti itu." Daffa marah dengan menggebu dengan sorot mata yang menyeramkan.

__ADS_1


"KELUAR." Daffa menunjukkan jari kearah pintu.


"Ba, baik Bos" Irwan bergegas memungut berkas yang berserakan di lantai dan segera bergegas keluar dengan sangat tergesa-gesa.


Di tambah lagi keterkejutannya saat membuka pintu hendak keluar, nampak Alex tengah berdiri dihadapannya.


Irwan hanya menganggukkan kepala bertanda ia permisi untuk pergi.


Alex telah mendengar dan mengetahui apa yang terjadi dengan salah satu karyawannya itu. Bagaimana tidak tau kalau suara Daffa terdengar sampai keluar.


Alex berjalan menghampiri Bos sekaligus sahabatnya itu. Menghela nafas dengan kasar, benar-benar tidak tau apa yang membuat seorang Daffa Alfarizi Gull menjadi seperti itu. Sampai-sampai melampiaskan kemarahannya kepada orang lain.


Alex menatap Daffa dengan diam seribu bahasa. Karena untuk bertanya kenapa, dia sudah melakukannya dan tidak mendapatkan jawaban.


Wajah tampan berkulit putih itu, kini seolah mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya.


Alex yang melihat itu hanya diam dan mencoba menunggu dengan ponsel di tangannya yang sedang bermain game. Ya lebih baik main game, karena bekerja pun percuma hanya akan menambah stres.


Brak...


Setelah lama keheningan di ruangan itu, Daffa menggebrak meja dengan keras.


"Memangnya siapa dia? Apa-apaan bicara begitu akrab. Dan APA? Janji bertemu." Daffa bermonolog dengan dirinya sendiri namun dalam hati.


"Ck. Setelah sekian lama tidak bertemu dan dia malah memilih untuk pergi dengan pria lain." Daffa berdecak kesal, dan masih menggerutu dalam hatinya dengan segala yang di pikirkan nya.


Kepalan tangan yang sedari tadi mengepal di atas meja kini semakin mengerat hingga urat-urat di tangannya terlihat menonjol.


Alex yang melihat itu merasa hatinya semakin tidak tenang. Ketika mengingat lagi kejadian tadi yang menimpa Irwan yang menjadi sasarannya.


Apalagi dengan keadaan sekarang yang sepertinya amarah Daffa semakin memuncak, tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Alex mencoba berfikir untuk memecahkan masalahnya sebelum semua terlambat. Ia mencoba mengingat, mengingat, dan mengingat lagi kejadian sebelum sebelumnya.


Alex merenung dengan kedua alisnya yang bertautan, menandakan ia sedang mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


"Oh iya..." Alex seperti menemukan titik terang. "Kita sempat bertemu dengan Arumi dan Sarah, lalu kita berkenalan dan mengobrol dan kemudian datang si... ya si cowok itu gue lupa namanya, kemudian... " Alex bermonolog di dalam hatinya, dan sepertinya ia sudah menemukan titik permasalahannya.


__ADS_2