
"Sudahlah percuma saja bertanya padamu." Ketus Daffa kesal.
"Itu adalah cara yang paling efektif yang selama ini aku lakukan." Ujar Alex dengan percaya diri.
"Kau pikir Arumi cewek macam apa?" Daffa reflex sehingga membuatnya keceplosan.
"Arumi?" Alex mengulangi perkataan Daffa.
"Maksudku... ahh sudahlah." Daffa tidak menjelaskan ataupun mencari alasan, ia bingung sendiri dengan apa yang dilakukannya.
"Maksudmu, wanita yang ingin di kejar oleh temannya, temanmu itu adalah Arumi?" Alex semakin memperumit keadaan, sembari ia menahan tawanya.
"Kau," Daffa tahu kalau Alex sedang mempermainkan nya.
Alex tidak tahan lagi harus menahan tawanya, kini ia sedang tertawa terbahak melihat kekonyolan seorang Daffa.
"Sialan. Berhenti tertawa atau keluar dari sini." Bentaknya dengan tegas.
"Oke, oke... sorry." Alex berusaha membungkam mulutnya untuk tidak tertawa.
Seketika ruangan itu menjadi hening. Daffa seolah sedang berfikir, ia hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.
"Kau kemari," setelah beberapa saat keheningan itu telah buyar, Daffa mengayunkan jari telunjuknya.
Alex mengernyitkan keningnya, entah ada apa ia di panggil dengan tiba-tiba. "Perasaan ku tidak enak." gumamnya dalam hati.
Daffa memberikan perintah dengan suara pelan. "Hah? maksudmu aku harus melakukan hal konyol itu?" Alex bergidik ngeri mendengar ide dari Daffa itu.
"Kau tidak usah banyak omong, cukup laksanakan perintahku." Tegas Daffa.
Alex menghela nafasnya panjang, sembari berjalan gontai keluar ruangan. Ia segera mengcopy banyak sekali kertas, entah apa tulisan yang ada di dalamnya.
Kemudian ia pergi ke Restaurant tempat dimana Arumi sering makan siang di sana. Memberikan setumpuk kertas yang sudah di copy kepada pemilik Restaurant. Ia mengarahkan apa yang harus di lakukan nya.
"Yang ke sekian kalinya, Alexandros mengerjakan hal-hal yang tidak masuk akal." Keluhnya berbicara kepada dirinya sendiri.
**
__ADS_1
Esok harinya, seperti biasa Arumi pergi makan siang di tempat langganan nya, bersama karyawan lain.
Kala itu seorang pelayan membagikan selembaran kertas yang katanya harus di isi oleh para pengunjung yang datang, dengan alasan untuk merealisasi kenyamanan pelanggan.
Dengan senang hati, dan percaya begitu saja, semua orang mengisinya termasuk Arumi.
Dengan pertanyaan identitas, kesukaan entah itu makanan atau tempat, keinginan yang belum tercapai dengan pacar, pacar ideal yang seperti apa, dan lain-lainnya mengenai seputaran hubungan.
Selembaran yang telah di isi, di kembalikan lagi untuk di kumpulkan.
Tidak menunggu hingga sore, setelah Arumi keluar dari Restaurant itu. Alex menyuruh bawahannya untuk mengambil kertas yang telah di isi. Jangan tanya bagaimana Alex tahu kalau Arumi telah pergi dari Restaurant itu, karena tentu saja ia memiliki banyak bawahan yang dapat di percaya untuk memberikan semua informasi yang di butuhkan nya.
Terkecuali hari kemarin, ia sendiri yang memberikan setumpuk kertas itu kepada pemilik Restaurant, karena diperintah langsung oleh Daffa jangan sampai ada kesalahan. Seolah itu adalah hal yang sangat penting.
Alex menyerahkan setumpuk kertas itu di atas meja kerja Daffa. Ya, setumpuk karena sampai setengah hari itu para pengunjung Restaurant lumayan banyak, sehingga banyak yang mengisi kertasnya.
"Kau periksalah," perintah Daffa kembali.
"Apa? apa yang harus ku periksa dari semua pertanyaan konyol ini?" Alex tidak sabaran untuk tidak emosi.
"WHAT? Are you crazy Daffa. Oh my God" Alex mengusap rambutnya dengan kasar. "Kalau kau hanya butuh informasi mengenai Arumi, setidaknya tanya teman terdekatnya saja, tidak perlu dengan cara serumit ini."
"Itu tidak menjamin kerahasiaan." Jawabnya datar.
Alex menghela nafasnya dengan kasar, "Ini yang terakhir kalinya, aku tidak mau melakukan hal-hal konyol lagi." Ia benar-benar frustasi di buatnya.
Lama Alex mencari nama Arumi dari selembaran itu, hingga hampir habis lembarannya baru terlihat nama Arumi. Ingin rasanya Alex melemparkan kertas itu di depan wajah tampannya Daffa.
**
Beberapa hari berlalu, namun Alex lihat tidak ada yang dilakukan oleh Bos nya sama sekali. Selain hanya bekerja. "Sebenarnya untuk apa kertas yang waktu itu berisi tentang kesukaan Arumi itu?" Gumam Alex dalam hati, lagi-lagi tidak bisa menebak apa yang sedang di pikirkan oleh seorang Daffa.
"Ehem," Alex membuka suara memecahkan keheningan. "Bagaimana perkembangan hubungan mu, apakah sudah ada kemajuan?" Tanyanya basa basi.
Daffa menghentikan aktifitasnya dan lalu menatap Alex. "Sebenarnya aku juga tidak tau harus memulainya dari mana." Jawab Daffa namun hanya dalam hati.
Alex mengernyitkan keningnya, heran mengapa Daffa hanya menatapnya tanpa bicara apapun.
__ADS_1
Daffa kembali menatap layar laptopnya sembari menghembuskan nafasnya dengan panjang, lalu mengangguk dengan penuh keyakinan.
Semakin di perhatikan semakin membuat kepala Alex pusing dengan tingkah laku Bosnya itu. Masa bodoh kali ini dia tidak ingin tahu apa yang akan di lakukannya, karena hanya akan membuatnya semakin pusing saja.
Daffa menutup laptopnya lalu beranjak sembari memakai kembali jas nya dan merapikan dasi yang ia pakai.
Daffa tengah berada di ruang kerja Arumi dan duduk di sofa untuk menunggunya. Tidak usah ditanya bagaimana ia masuk, karena seperti biasanya ia tidak perlu mendapat izin dari siapapun.
"Apakah kali ini untuk mengajakku pergi makan siang bersama lagi?" Untuk kali ini Arumi bertanya to the point.
Daffa menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku ingin menyatakan perasaan ku." Ucapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi, bahkan ucapannya pun tidak membuat Arumi tersentuh.
"Lalu?" Tanya Arumi sama datarnya.
Kemudian Daffa mendekat ke kursi yang diduduki oleh Arumi.
Daffa meraih kedua tangan Arumi sembari berlutut, "Aku menyukaimu, aku mencintaimu Arumi." Ujarnya dengan tulus, tetapi dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi. Jelas saja Arumi tidak bisa merasakan ketulusan itu.
"Tetapi aku sudah memiliki kekasih." Jawabnya datar.
"Aku tidak peduli, kau putus dengannya dan menjadi kekasihku." Ujar Daffa dengan enteng.
"Tapi aku juga tidak mencintaimu." Tegas Arumi sembari menarik kedua tangannya yang di genggam oleh Daffa.
"Mengapa kau tidak mencintaiku? Memangnya apa yang kurang dariku?" Daffa butuh alasan.
"Kenapa aku harus mencintaimu?" Tukasnya.
"Karena aku teman masa kecil mu, dan juga aku sangat perfeck. Selama ini para wanita lah yang selalu mengejar ku, tetapi kau sangat beruntung." Dalih Daffa dengan segala keunggulannya.
"Ck, kau pikir dengan semua itu bisa membuat seseorang jatuh cinta? sangat naif. Tetapi aku merasa tersanjung telah dicintai oleh seorang Daffa Alfarizi." Arumi tersenyum ketir.
"Jadi kau tetap menolak ku?"
"Tentu saja." Jawab Arumi cuek.
Daffa menghela nafasnya panjang, "Baiklah, tetapi aku tidak akan berhenti untuk mengejar mu. Dan satu hal lagi bukalah sedikit saja hatimu untukku." Seloroh Daffa tanpa ekspresi.
__ADS_1