
Sebenarnya Tasya tak ingin pulang namun Darandra sudah menyuruhnya mau tidak mau ia pun harus mengikuti apa yang sudah dikatakan lelaki yang ia cintai itu.
Tin..tin..tin
Mendengar suara klason membuat Tasya teringat akan Jhony yang terkadang selalu membuatnya kesal namun selalu menjemputnya secara tiba-tiba.
"Kenapa aku harus mengingat laki-laki brengsek yang membuat hidupku hancur bagai di dalam neraka."
Gerutu Tasha hanya dalam hati sambil terus berjalan.
"Masuklah,!" sebuah suara dan tangan tiba-tiba saja mengejutkannya.
"Kau, kenapa kau selalu saja menagagetkanku, untuk apa juga kau selalu datang menjemputku, aku bisa pulang sendiri,!" ketus Tasya pada Jhony.
"Aku mengikutimu sejak pagi tadi karena aku takut kau kenapa-kenapa," ucap Jhony jujur.
"Heh, kenapa harus sekarang kau menghawatirkan aku kenapa tidak dari dulu di saat aku mencintaimu,? dan kenapa sekarang kau hadir sebagai penghalang kebahagiaan ku, apa kau kira dengan segala perhatianmu itu aku akan kembali luluh dan mencintaimu lagi,? tidak, itu tidak akan pernah terjadi lagi, cukup dulu, aku mencintaimu dengan segala kebodohanku," Geramnya.
"Apa sebenci itu kau padaku, aku ini suamimu Sya,?"
"Hahaha...suami kau bilang, suami yang mana? apa kau lupa, kau menikahiku tanpa cinta, tapi kau menikahi dengan jebakan murahanmu itu, sekarang turunkan aku biarkan aku berjalan kaki sendiri, aku tak sudi untuk pulang bersamamu karena aku muaq dengan semuanya."
"Tidak aku tidak akan mengikuti keinginanmu ini kita harus pulang dan berbicara baik-baik dirumah, Oma sudah menunggumu, untuk beberapa hari kedepannya Oma akan tinggal bersama kita jadi aku harap kau bisa menjaga sikap dan tingkahmu selama Oma tinggal bersama kita,"
"Apa? Oma akan tinggal bersama kita? kenapa kau baru memberitahuku apa kau sengaja melakukannya,?"
"Aku saja baru tahu hari ini setelah Oma tiba di rumah,"
Baik Tasya maupun Jhony kini terdiam, tak ada yang saling berbicara, bahkan Tasya memilih menetap jalan yang di sampinya dari pada harus melihat kearah suaminya itu.
"Kita sudah sampai tur__"
Ucapan nya terjeda saat melihat Tasya terlelap dengan dengkuran halusnya, Jhony yang melihat istrinya tertidur pulas hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Ternyata kebiasaan mu ini tidak pernah hilang dari dulu Sya," Jhony lalu mengangkat tubuh wanitanya itu dan membawanya masuk di dalam rumahnya."
__ADS_1
"Apa istrimu itu tertidur hingga kau harus menggendongnya,?" seru wanita baya yang mengejutkan Jhony.
"Iya Oma, sepertinya dia kecapean, Oma juga istirahat ya, karena seperti nya aku mau membawa Tasya dulu, kasihan dia pasti sedang capek,"
"Baiklah,, Oma turut senang karena akhirnya kau menikah dan berbahagia dengannya, berjanjilah pada Oma kalau kau akan tetap seperti ini hingga maut memisahkan kalian,"
"Tentu saja Oma, Jhony akan melakukannya, Jhony tidak akan pernah membuatnya merasa bersedih atau terluka, Jhony akan terus membuat Tasya bahagia, hinga sampai akhir waktuku," Setelah berucap Jhony pun pamit undur diri.
Ceklek.
Perlahan Jhony merebahkan tubuh Tasya yang ada dalam gendongannya itu, lalu ia pun segera berbalik hendak beranjak pergi.
"Jangan pergi..."
Deg.
"Jangan pergi tinggal kan aku, tetaplah disini aku mencintaimu," Jhony begitu terkejut karena tiba-tiba saja Tasya menarik dan menahan tangannya begitu kuat hingga membuatnya terjerembab di atas tubuh wanitanya itu.
"Aku juga mencintaimu Tasya, aku berjanji tidak akan pergi hingga waktu itu tiba," ujar Jhony menatap lekat wajah wanita yang sangat dicintainya itu.
Jhony terus saja berbicara pada istrinya yang masih tertidur pulas itu, karena saat inilah yang ia tunggu untuk lebih dekat dengan istrinya dan tiba-tiba saja tangan Tasya memeluknya begitu erat, dan itu membuat jantungnya dua kali berdegup lebih kencang, apalagi di saat wajahnya diterpa oleh hembusan halus nafas dari sang wanitanya tersebut, membuat sesuatu yang ada dalam dirinya kini bergejolak.
"A-aku apa aku bisa?_" Jhony terkejut dengan reaksi yang di alaminya tubuhnya saat ini, ketika ia begitu dekat dengan Tasya, ia merasakan sendiri desakan di bawah sana.
"Beb-berarti A-aku masih sehat dan normal" Gumamnya lagi.
"Ia pun mencoba untuk memberanikan diri untuk menautkan bibirnya.
"Bismillah..." dengan jantung yang kembali berdegup kencang ia memejamkan mata meresapi apa yang akan terjadi kembali pada tubuh nya dan benar saja ia merasakan hal yang sama di saat, bibirnya bersentuhan dengan Tasya.
"Ya Allah aku benar-benar sudah sembuh dan normal," tak terasa Jhony menumpahkan air mata bahagianya.
'Trima kasih istriku kau adalah wanita yang bisa membuatku merasa menjadi lelaki yang sempurna' Jhony lalu mencium pucuk kepala sang istri sebelum ia kemudian menyelimuti Tasya lalu ia pun memilih untuk keluar meninggalkan istrinya itu.
Sementara itu di dalam kamar Tasya sejak tadi sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya, ketika ia merasakan sesuatu kenyal menempel di bibirnya dan benar saja, ia merasakan sebuah benda kenyal itu adalah bibir dari pria yang sangat di bencinya itu, namun ntah mengapa ia merasakan ada cinta yang tulus di dalam kecupan itu walaupun itu hanya sesaat ia bisa merasakan magnet yang terkandung di dalamnya.
__ADS_1
Deg.
'Ada apa dengan jantungku, kenapa aku berdebar-debar,?' Tasya menyentuh jantungnya yang berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
'Sebaiknya aku membersihkan diri sebelum lelaki itu masuk kembali,' Gumamnya lalu bangkit membuka selimutnya.
Setelah selesai dengan aktifitas mandinya Tasya pun segera memilih pakainnya karena ia akan segera menemui Oma.
"Kau sudah bangun,?" sapa Jhony yang baru saja masuk di kamar yang memang niatnya ingin membangunkan sang istri karena istrinya itu belum makan.
"Bisa tidak sebelum masuk kau mengetuk pintu dulu, apa kita akan terus berdebat setiap hari hanya karena masalah ini," kesal Tasya membanting pintu lemari.
"Maafkan aku, tadi aku menyangka kau masih tertidur jadi_"
"Jadi apa? apa jika kau mendapatkan ku sedang tertidur pulas lalu kau akan memperkosaku begitu maksudmu,!" cecarnya menjeda kalimat Jhony.
"Sya...aku tidak ada maksud seperti apa yang kau tuduhkan itu," Sahutnya membela diri.
"Oh...ya, apa kah semuanya itu benar? itu berarti kau bukan lelaki yang normal," sindir Tasya.
"Terserah, apa tanggapanmu tentang ku Tasya, lebih baik sekarang kita kelur untuk menemui Oma." Ajaknya dari pada dia akan berdebat karena sesuatu yang tidak bermanfaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haaaiiii gaaayyysss yuk kepoin juga karya Author di bawah ini👇Dan jangan lupa budayakan Like,komen,vote,dan hadiahnya agar Author bersemangat untuk tetap berkarya😘😘😘selamat membaca semoga terhibur.
Nomor 28
Dara Respati, gadis cantik dan seksi. Gadis impian bagi Dicky. Dicky, yang sejak awal tahu bahwa mereka memang bukan saudara kandung, memendam cinta pada adiknya tersebut.
Dicky selalu menemani Dara disaat Dara susah maupun senang. Apalagi disaat Dara terpuruk, dikhianati oleh kekasihnya, Dicky yang selalu menemaninya.
Akankah Dara membalas cinta sang kakak, ataukah dia akan menikah dengan pria lain?
__ADS_1