
"Amara menatap paper bag yang di berikan Darandra untuknya, la pun lalu mengangkat tubuhnya agak tinggi untuk sedikit bersandar, agar bisa menggapai paper bag tersebut, dengan perlalahan dan penasaran la pun membuka bungkusan tersebut, dan saat melihat isi di dalam nya la pun terkejut sambil mengerutkan alisnya, saat melihat dengan pasti barang yang di berikan oleh Darandra itu.
'Bukankah ini Dres yang aku lihat dan ingin aku ambil di Toko waktu itu?' Gumamnya dengan membolak balik dres yang berwana verdigris atau yang biasa di sebut dengan warna kerak terusi.
'Jadi Kak Andra membelikan baju ini untukku, tapi mimpi apa dia membeli dan memberikan nya, jika rasa cinta dan kasih sayang nya bukanlah untuk kami.' Lirihnya sambil menatap perutnya yang masih rata itu.
"Sayang,, maafkan Papimu jika tanpa sengaja hampir membuatmu celaka, dan berjanjilah untuk selalu kuat di dalam sini seperti Mami yang selalu kuat bertahan untuk mu sayang," lirihnya kembali, Amara kembali memasukkan dres tersebut, lalu mengusap buliran bening yang sempat hendak tumpah di sudut matanya, kalau saja la tidak mengingat pesan dokter David.
Tok..tok..tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Amara pun segera kembali membaringkan tubuhnya seperti semula, setelah sebelum nya ia terlebih dahulu menyimpan paper bag pada tempatnya semula.
''Maaf,, Amara...aku sedikit mengganggu,''
"Tidak apa-apa suster susan, aku tidak merasa terganggu kok, malah aku senang jika kau selalu menemaniku, atau hanya sekedar mengunjungi ku," timpal Amara.
"Bagaimana kabarmu dan pasaanmu hari ini?"
"Alhamdulillah aku merasa sedikit agak baikan Sus..."
"Baguslah, aku akan segera membawamu keluar untuk melakukan pengecekan, untuk itu segera persiapkan dirimu." Ujar Susan lagi memberi informasi.
Amara pun kembali mengangkat tubuhnya, Namun Suster susan dengan segera menahannya.
"Biakan Aku yang akan membantumu."
"Baiklah terima kasih suster Susan,"
"lni sudah menjadi tugasku tak perlu sungkan seperti itu." Ujar suster Susan.
*
__ADS_1
Di Ruang Pemeriksaan.
Amara tak henti-hentinya menetikkan air mata saat mengetahui kalau dia sedang mengandung anak kembar, itulah yang di sampaikan dokter kepadanya sesaat lalu.
"Lihatlah Nyonya anda bisa melihatnya ada dua titik disini itu menandakan kalau anda tidak hanya mengandung seorang bayi tapi dua orang Bayi,"
Amara mengelus perutnya seakan masih tak percaya, la yang tumbuh sebagai gadis manja dan egois kini tengah mengandung anak kembar.
"Mami sudah tidak sabar ingin memeluk kalian berdua sayang," dan sesaat kemudian la kembali terisak saat mengingat penyakit yang sedang mengancamnya.
"Jika suatu saat Mami melupakan kalian berdua maka Kalian harus bisa membuat kalau Mami adalah Mami kalian okey sayang," lirihnya lagi berbicara pada perutnya.
"Sekarang kau jangan terlalu memikirkan sesuatu yang bisa membuat fikiranmu tertekan, karena ada mereka yang harus kau jaga dengan penuh cinta dan kasih sayang," Ucap suster Susan begitu membawa kembali tubuh Amara yang di dorong nya memakai kursi roda.
"lya suster kau benar sekali, aku harus kuat demi mereka," timpalnya sambil tersenyum.
"Aku suka Amara yang seperti ini, ayo sebaiknya kau istirahat sekarang,!"
Suster Susan pun membantu Amara kembali untuk berbaring di atas jangkarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kalian tidak ingin mampir dulu sejenak?" tanya Amara dengan antusias.
"Kau tau aku itu dokter, jadi aku sangat sibuk tak banyak waktu yang bisa aku habiskan untuk bersantai dan bersenang-senang.'' Timpal Dokter David.
"Baiklah kalau begitu aku akan masuk dulu, terima kasih karena sudah mengantar ku pulang sampai di Rumah, dan satu lagi kalian menikah tidak menikah saja, karena aku lihat kalian pasangan yang cocok." Amara menatap Suster Susan yang duduk di sampingnya, sedang mata suster susan kini menatap ke arah kaca sepion sambil tersenyum, disaat itu tatapannya bersibobrok dengan mata milik dokter David lalu tatapan mereka pun saling mengunci.
Namun suster Susan memilih memutuskan tatapannya disaat ia menyadari kalau Amara sudah turun sambil melambaikan tangan kearah mereka.
"Kau jangan terlalu mendengarkan apa yang Amara katakan tadi, kau tau kau adalah suster dan sekaligus merangkap jadi Asisten ku mana mungkin kita saling jatuh cinta iyakan,?" tanya dokter David membuat suster Susan merasa gugup.
__ADS_1
"I-iya Anda benar sekali Dok.!" Jawab nya dengan suara terbata.
dokter David pun melajukan mobilnya pelan meninggalkan halaman Rumah Amara.
Amara sendiri melangkah masuk kedalam Rumah, yang begitu sepi dan pengab itu. la melangkah masuk kedalam kamar nya dan tujuannya kini adalah kamar mandi, yah karena hari sebentar lagi akan mulai gelap ia pun buru-buru karena selain ia merasa lengket la juga merasa lapar, ia akan mandi lalu memasak bahan makan yang di belinya tadi perjalanan pulangnya, ia sempat singgah di sebuah pasar di pinggir jalan.
Kurang lebih lima belas menit la pun keluar dari kamar mandi dengan hanya menjadikan handuk sebagai kemben, dan begitu ia berjalan menuju lemari pakainya la di kejutkan dengan sebuah tangan yang melingkar di pinggang nya.
Dan ia merasa ada bulu-bulu halus yang mengenai tengkuk nya saat tengkuknya di kecup dengan lembut, dan bahkan sudah berkali-kali, sesaat la pun terbuai dengan apa yang di alaminya itu, hingga ia pun terkejut saat menyadari kalau ia hanya sendiri di dalam rumah.
Dengan gerakan cepat ia memutar tubuhnya dan hendak memukul orang yang telah berani berbuat tidak senonoh kepadanya itu.
"Kau,, sejak kapan kau kemari dan kau kenapa selalu membuatku terkejut, apa kau sengaja melakukan nya?"
"Aku hanya ingin meluahkan rinduku, bukan membuatmu terkejut dan aku hanya ingin mengembalikan ini dan memberikan ini untuk mu Maaf Aku salama satu minggu kemarin ada di luar kota, jadi aku baru bisa mampir untuk menjengukmu."
"Kau baru pulang dan langsung kemari,? kenapa kau tak langsung menemui ibu dari anakmu?"
"Maksudmu Caterine?"
"Tentu saja siapa lagi."
"Kau ini, suami mu datang untuk mu tapi kenapa kau membahas Caterine?"
"Tentu saja aku membahasnya dia juga kan calon istrimu bahkan dia sedang hamil anakmu,"
"Aku tau itu, tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bertemu denganmu, bahkan kepalaku selama satu minggu ini sangat sakit sekali saat aku tak bisa mencium aroma tubuhmu, untuk itu biarkan aku memelukmu," Amara pun membiarkan Darandra memeluknya kembali, karena ia juga sama selalu merindukan lelakinya itu meski ia tahu kalau hatinya selalu akan berakhir kecewa dan terluka.
"Kau tahu selama satu minggu ini aku sangat menghawatirkanmu, aku takut terjadi sesuatu padamu, aku takut Amara...aku takut kehilangan mu, karena mimpi itu selalu mengahantuiku,"
"Mimpi,?" tanya Amara bingung.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...